"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Putri saya sangat mencintai nak Tomi. Waktu saya tidak lama lagi, dan saya akan pergi dengan tenang jika sonia telah menikah." Tangis Sonia semakin pecah mendengar permintaan Daddy-nya sedang kritis di rumah sakit, kepada pria yang sudah setahun terakhir dicintainya secara diam-diam. Ya, diam-diam, sebab Sonia tidak pernah mengutarakan perasaannya terhadap pria itu kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya.
Sonia memang sangat mencintai pria yang merupakan bosnya tersebut, akan tetapi Sonia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti itu. Ia ingin berusaha menaklukkan hati Pria bernama Tomi tersebut tanpa permintaan atau paksaan dari pihak manapun. Namun kondisi Daddy-nya yang sedang sekarat membuat Sonia tak tega untuk banyak berkata-kata, apalagi untuk menolak.
Akankah pernikahan Sonia berjalan layaknya pernikahan bahagia pada umumnya, atau justru kandas ditengah jalan, mengingat Tomi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Sonia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.
Setibanya di kamar mandi, Sonia menyandarkan tubuhnya pada daun pintu, memejamkan kedua mata, Sementara tangannya nampak memegangi dadanya.
"Ya Tuhan...Apa mungkin suatu saat nanti mas Tomi bisa membalas cintaku padanya? Atau mas Tomi justru akan membuang ku begitu saja dari kehidupannya?."Lirih Sonia bibir bergetar menahan tangis.
Cinta memang Indah tetapi cinta yang bertepuk sebelah tangan malah terasa begitu menyakitkan bagi seorang Sonia Margaretha. Mencintai Tomi sejak setahun lalu membuat Sonia sadar bahwa sesuatu yang dipaksakan tidak akan berakhir dengan indah, sama halnya dengan pernikahannya dengan Tomi. Begitu banyak rintangan yang harus di lalui oleh Sonia, bukan hanya berjuang untuk mendapatkan hati Tomi, tapi kini ia juga harus menghadapi kenyataan bahwa mantan tunangan Tomi telah kembali.
Usai membersihkan tubuhnya, Sonia nampak keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi. Ia mendapati Tomi masih mengenakan handuk, tengah duduk di sofa sembari menatap layar ponselnya.
Masuk ke ruang ganti untuk mengenakan pakaiannya, menjadi pilihan Sonia ketimbang menanyakan apa yang sedang dilakukan oleh Tomi. Karena, tidak menutup kemungkinan pria itu akan marah jika ia terlalu banyak ikut campur dalam urusan pribadinya.
"Mau ke mana?." Rupanya sejak tadi Tomi menyadari keberadaan Sonia meskipun matanya tertuju pada layar ponselnya.
Sonia lantas menoleh pada Tomi. "Mau ke ruang ganti." Jawab Sonia apa adanya.
"Kenapa tidak di sini saja? Lagipula aku sudah melihat semuanya, lalu untuk apa lagi harus malu?."
Deg.
Apa-apaan ini? Kenapa Tomi harus mengucapkan kata-kata yang membuatnya kembali teringat akan sesuatu yang telah terjadi di antara mereka semalam, setelah wanita dari masa lalunya kembali? Bukankah seharusnya Tomi melupakannya begitu saja, mengingat pria itu melakukannya tanpa dasar cinta?.
Sonia masih dia terpaku, dan reaksinya tersebut menyebabkan Tomi bangkit dari duduknya kemudian melangkah ke arah Sonia.
"Mas mau ngapain?." Sonia tersentak menyadari tangan besar Tomi hendak menyingkap jubah mandi yang dikenakannya.
"Mas_." Sonia tak dapat melanjutkan kalimatnya saat Tomi sudah membungkam mulutnya dengan sebuah ciu-man. Sonia spontan meletakkan kedua tangannya pada dada bidang suaminya, tubuhnya pun semakin menegang saat tangan besar Tomi mulai tak dapat dikendalikan.
Sebagai seorang istri Sonia hanya bisa patuh saat Tomi kembali mengulangi kejadian semalam, menikmati setiap Inci tub-uhnya dengan begitu lembut dan memabukkan. Di satu sisi tentunya Sonia merasa dibutuhkan oleh suaminya, namun di sisi lain Sonia bertanya-tanya, apakah Tomi hanya menjadikannya dirinya sebagai pelampiasan naf-su semata? Apapun yang kini ada dibenak Tomi, tentu saja Sonia tak tahu dengan pasti. Kalaupun benar, Tomi hanya menjadikan dirinya sebagai pelampiasan bir-ahi semata dan dikemudian hari ingin membuangnya begitu saja, setidaknya selama menjadi istri dari pria itu, ia sudah melakukan kewajibannya dengan ikhlas, begitu dalam hati Sonia.
Karena kelelahan, bukan hanya melewatkan janjinya untuk mengobrol bersama Zira, namun Sonia juga telah melewatkan makan malamnya. Wanita itu terlelap hingga pagi menjelang.
Keesokan paginya di perusahaan.
"Selamat pagi, Nona Sonia." Mendengar seseorang menyebut namanya, Sonia lantas mengangkat pandangan dari berkas dihadapannya, menatap wanita cantik yang kini berdiri di depan meja kerjanya.
"Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu Nona Pricilia?." Tidak mungkin kedatangan wanita itu hanya sekedar untuk menyapanya, pasti Cili memiliki kepentingan, begitu kesimpulan Sonia.
"Oh iya, saya hanya ingin menyampaikan bahwa siang ini anda yang ditugaskan membantu saya dalam persiapan pengambilan video iklan."
Sonia lantas mengeryit bingung. Pasalnya, ia bekerja sebagai sekretaris CEO dan belum pernah sekalipun ia diperintahkan untuk mengurus keperluan apapun dalam pembuatan iklan produk, lalu mengapa bagian marketing tiba-tiba memintanya melakukannya? Bukan karena tidak sanggup melakukannya, namun menurut Sonia tidak etis rasanya jika ia harus mengerjakan sesuatu yang bukan merupakan tugasnya, terlebih tanpa ada pemberitahuan apapun sebelumnya.
"Maaf Nona Pricilia, saat ini saya sedang sibuk, masih banyak pekerjaan yang harus segera saya selesaikan." Bukan sekedar berdalih tapi faktanya saat ini ia memang sedang sibuk memeriksa beberapa laporan sebelum nantinya di serahkan pada Tomi.
"Begitu rupanya. Baiklah, kalau begitu akan saya sampaikan pada Nona ambar bahwa anda menolak perintah dari tuan Tomi Andrean."
Mendengar Cili menyebut nama Tomi membuat tubuh Sonia terpaku seketika.
"Apa maksud kamu dengan memintaku mengurus pekerjaan yang ada hubungannya dengan wanita ini, mas? Apa kamu sengaja agar aku bisa sadar diri jika aku tidak ada apa-apanya dibanding wanita ini di hati kamu?." Batin Sonia.
"Baiklah Nona Pricilia, saya akan mengurus semuanya. Silahkan menunggu di ruang pembuatan iklan, sebentar lagi saya akan segera menyusul!." Tutur Sonia hingga Cili pun langsung melebarkan senyumnya.
"Terima kasih banyak atas profesionalitas kerja anda, Nona Sonia." Wajah tanpa dosa, senyuman dibuat senatural mungkin sanggup membuat Sonia merasa semakin tidak ada apa-apanya dibanding dengan wanita itu. Padahal faktanya dari segi kemampuan dan paras pun, Sonia jauh diatas Cili, tapi karena Cili merupakan wanita yang pernah menyandang mantan tunangan dan pernah begitu dicintai oleh Tomi membuat Sonia merasa dirinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Cili.
Beberapa saat kemudian, Sonia pun menyusul Cili.
"Di mana Sonia, kenapa dia tidak ada di meja kerjanya?." Tanya Tomi melihat dari dinding kaca, meja kerja Sonia kosong tak berpenghuni.
Dengan sangat menyesal, Asisten Azam menggelengkan kepalanya, karena faktanya ia pun tak tahu kemana perginya Sonia, sementara saat ini masih jam kerja.
Di ruang khusus pembuatan iklan, Sonia terlihat sedang membantu Cili mengenakan dress yang akan dikenakannya dalam pembuatan iklan produk yang baru diluncurkan oleh Andrean Group, dan salah satunya adalah produk kecantikan, maka dari itu Cili harus terlihat perfect.
"Aku yakin, Tuan Tomi hanya merasa kecewa padamu. Lambat Laun beliau pasti akan kembali membuka hati dan memaafkan kesalahanmu di masa lalu. Apalagi jika beliau tahu alasan sebenarnya sampai kau pergi meninggalkannya dihari pernikahan kalian." Kalimat yang terucap dari mulut asisten pribadi sekaligus sahabat baik Cili berhasil menancap hingga ke jantung Sonia. Rupanya wanita itu masih berharap bisa bersama dengan suaminya, Tomi.
"Apa yang dikatakan oleh asisten pribadi anda benar Nona, Cili. Nona Cili dan tuan Tomi sangat serasi, dan kalian pantas bersama." Ambar yang baru saja tiba di ruangan tersebut tiba-tiba ikut berkomentar. Dari ratusan pegawai Andrean Group hanya Ambar yang masih menyetujui hubungan Cili dan Tomi kembali terjalin. Ambar merupakan kepala divisi marketing.
"Benarkah?." Intonasi Cili terdengar manja dan juga malu-malu.
"Jadi ini maksud dan tujuan mas memintaku mengerjakan semua ini, agar aku bisa mendengar komentar orang lain bahwa kalian adalah pasangan yang serasi." Dalam hati Sonia. Ia tidak habis pikir Tomi tega melakukannya.
Cili menoleh pada Sonia. "Ohya, nona Sonia, terima kasih banyak atas bantuan anda. Sekarang anda boleh melanjutkan pekerjaan anda!." Tutur wanita itu.
"Baik, Nona." Tanpa banyak basa-basi Sonia langsung berlalu hendak kembali ke meja kerjanya.