Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrak Palsu di Buku Lelang
Ancaman pemecatan dari Kirana dan mundurnya Ibu Nina secara publik adalah titik didih dalam konflik. Kirana kini telah kehilangan kendali atas aset finansial (Yayasan), sosial (Ibu Nina), dan persahabatan (Ibu Siska dan Rina).
Namun, ancaman pemecatan itu memberikan Nadia jendela kesempatan yang sempit. Nadia harus menanam bom waktu terakhirnya di Booklet Lelang sebelum ia diusir dari Komite.
Nadia menghabiskan seluruh malamnya di depan laptop, mengedit final draft Booklet Lelang Konsultasi Eksklusif Kirana Widjaja. Booklet ini akan diserahkan kepada pemenang lelang di Gala Dinner sebagai simbol hak mereka mendapatkan "Rahasia Sukses Vanya".
Nadia tidak mengubah pujian berlebihan yang ia tulis untuk Kirana. Ia membiarkan persona Kirana terlihat sempurna, bahkan menambahkan kutipan inspirational palsu tentang 'ketenangan batin' (yang ia tahu akan membuat Kirana curiga pada Taufik).
Serangan Nadia disisipkan dalam satu halaman yang sangat teknis di bagian akhir booklet: Klausul Kontrak dan Tax Deduction.
Nadia sengaja menambahkan klausul yang sangat spesifik, yang ia ambil dari perjanjian legal asli Kirana dengan sekolah The Golden Bridge (yang ia temukan di arsip curian). Klausul itu berbunyi:
"Pemenang lelang berhak mendapatkan Sesi Konsultasi Khusus (Aset Personal Kirana Widjaja). Sesuai Undang-Undang Yayasan No. 28 tahun 2004 Pasal 5 ayat (3), segala aset personal yang disumbangkan untuk kegiatan amal, jika terjadi sengketa atau penarikan sepihak oleh penyumbang, harus diganti rugi kepada Yayasan sebesar lima kali lipat dari nilai jual aset tersebut, atau nilai kontrak maksimal, mana yang tertinggi."
Nadia telah berhasil mengubah self-branding Kirana menjadi risiko finansial yang terikat hukum.
Kirana telah menolak ide Nadia untuk mengikat lelang dengan kontrak legal di Bab 9. Kirana ingin lelang ini hanya menjadi aset personalnya. Namun, Nadia mengambil undang-undang nyata tentang aset personal yang disumbangkan ke yayasan dan meningkatkan denda hingga lima kali lipat. Kirana pasti tidak akan membaca detail klausul legal yang membosankan ini; ia hanya akan melihat bahwa booklet ini terlihat "profesional" dan "legal."
Jika Kirana memecat Nadia setelah booklet ini dicetak, dan jika Kirana kemudian memutuskan membatalkan lelang (karena paranoia atau kecurigaan), Yayasan akan menuntutnya lima kali lipat dari nilai lelang yang diperkirakan akan mencapai ratusan juta.
Ini adalah bom waktu hukum yang diletakkan Nadia di tangan Kirana sendiri.
Pagi berikutnya, Nadia datang ke kantor Komite untuk menyerahkan booklet final. Ia bertemu dengan Rina di koridor, yang kini menjadi sumber informasi front-line yang sangat tegang.
"Bu Nadia, Kirana sudah menyiapkan surat pemecatan Anda. Dia akan menyerahkannya hari ini," bisik Rina, matanya melirik gugup ke ruang Komite. "Dia bilang, Anda adalah virus di Komite ini."
"Bagus," balas Nadia dengan tenang. "Saya datang untuk mengundurkan diri, bukan dipecat. Tapi sebelum itu, saya harus menyelesaikan tugas saya."
Nadia berjalan menuju ruang Kirana, meninggalkan Rina yang terkejut.
Nadia mengetuk pintu ruang Komite. Kirana duduk di meja mahoni, mengenakan kemeja sutra yang terlihat mahal, tetapi wajahnya menunjukkan kelelahan luar biasa. Di depannya, tergeletak surat pemecatan Nadia yang sudah dicetak.
"Bu Kirana," sapa Nadia, suaranya tenang. "Saya datang untuk menyerahkan final draft Booklet Lelang Eksklusif. Dan saya juga ingin menyampaikan, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Komite, efektif hari ini."
Kirana terkejut. Nadia telah merampas kekuasaan Kirana untuk memecatnya.
"Mengundurkan diri?" tanya Kirana, alisnya terangkat dengan nada mencemooh. "Tentu saja Anda mengundurkan diri. Karena Anda tahu saya sudah menemukan Anda, si virus di gaun hitam."
"Saya mengundurkan diri karena saya sudah menyelesaikan tugas saya, Bu Kirana," balas Nadia, menyodorkan booklet itu. "Saya berterima kasih atas kesempatan ini. Tapi Aksa membutuhkan perhatian saya lebih dari Komite."
Kirana mengambil booklet itu. "Bagus. Ambil barang-barang Anda dan jangan pernah muncul lagi. Komite ini tidak butuh drama dari ibu-ibu yang mencari perhatian." Kirana melirik surat pemecatan yang kini tidak lagi relevan. Ia merasa sedikit menang karena Nadia telah pergi.
"Saya jamin booklet ini sempurna, Bu Kirana. Silakan dicek semua klausul legalnya sebelum dicetak," kata Nadia, sengaja menekankan kata-kata kunci tersebut.
Kirana, yang terlalu terburu-buru dan meremehkan Nadia, mengangguk. "Saya tidak punya waktu untuk membaca fine print Anda. Saya akan serahkan ini ke sekretaris saya. Sekarang, silakan keluar."
Nadia berjalan keluar dari The Golden Bridge untuk terakhir kalinya sebagai anggota Komite. Di jalan keluar, ia berhenti di depan Gerbang Mahoni utama sekolah.
Gerbang itu, yang dulu terasa kokoh dan melambangkan kekuasaan tak tertembus, kini terasa rapuh dan dingin. Nadia telah menemukan retakan di fondasi, ia telah membuat retakan di permukaannya.
Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ibu Siska, yang kini telah menjadi sekutunya yang dendam.
"Bu Siska, selamat. Anda telah terbebas dari tiran. Saya sudah keluar dari Komite," kata Nadia.
"Lalu apa selanjutnya, Bu Nadia? Kirana akan menang," balas Siska, suaranya penuh kekecewaan.
"Tidak, dia tidak akan menang. Sekarang kita punya kendali penuh atas informasi. Saya ingin Anda menjadi perantara informasi saya. Saya akan memberikan Anda informasi, dan Anda akan menyebarkannya ke jaringan sosial yang lebih luas, terutama ke media sosial yang bersifat anonim."
Nadia memberikan instruksi terakhirnya. "Siska, Anda harus mengirimkan e-mail anonim ke Grup WA Inner Circle yang Rina tinggalkan, yang berbunyi: 'Saya baru dengar Kirana membatalkan lelang perhiasan berlian biru, padahal itu sudah direncanakan. Mengapa dia membatalkan lelang berlian yang disewanya? Mungkinkah dia takut kebohongannya terungkap di Gala Dinner?'"
Serangan ini akan meledak di malam Gala Dinner. Ibu-ibu akan menghadiri acara itu, mata mereka mencari Kalung Berlian Biru yang sengaja dibatalkan Kirana, dan mereka akan tahu Kirana telah berbohong tentang statusnya.
Saat malam Gala Dinner tiba, Nadia ada di rumah, menonton berita di TV.
Gala Dinner berlangsung megah, persis seperti yang direncanakan Kirana. Foto-foto di media sosial menunjukkan kemewahan yang berlebihan. Namun, Nadia tahu, di balik senyum Kirana, ia sedang terbakar.
Rina, yang hadir sebagai mole terakhir Nadia, mengirimkan laporan singkat melalui pesan suara saat acara berlangsung:
Kirana tidak mengenakan Kalung Berlian Biru. Ini adalah konfirmasi bahwa gossip tentang sewa perhiasan telah menyebar dan Kirana mundur dari kebohongannya.
Lelang Konsultasi berlangsung sukses. Pemenangnya adalah seorang pengusaha properti dari luar kota yang tidak mengenal Kirana—ia hanya tertarik pada branding eksklusif. Kirana menyerahkan Booklet Lelang dengan senyum paksa.
Bapak Wijaya tidak hadir di acara amal. Ini adalah konfirmasi final bahwa rumah tangga mereka sedang kacau akibat leak Vila Uluwatu.
Kirana mungkin mengira dia telah menang, tetapi bom waktu sudah ditanam. Nadia telah menunggu momen ini selama dua tahun, dan kini saatnya menggunakan senjata nuklir: Memo Asli Mr. Taufik.
Nadia membuka file terakhir di laptopnya. Ia merancang e-mail final, ditujukan kepada Dewan Sekolah The Golden Bridge, semua wali murid, dan media massa lokal yang kredibel. Ia menyertakan e-mail Putra Widodo Raharja (Arief) dan Ibu Siska dalam CC, sebagai saksi moral dari luar sistem.
Isi e-mail itu adalah pernyataan resmi dari anonymous yang mengaku sebagai mantan karyawan Komite, berisi tiga lampiran yang mematikan:
Lampiran A: Foto Memo Asli Mr. Taufik yang membuktikan Aksa tidak plagiat, tetapi Kirana memaksa berbohong.
Lampiran B: Korespondensi Kirana tentang pengorbanan Rizky dan dana 3% Yayasan.
Lampiran C: Perjanjian Kerahasiaan Widodo Raharja yang membuktikan Kirana membangun The Golden Bridge di atas aib.
Nadia mengirimkan e-mail itu tepat pada pukul 21:00, saat Gala Dinner mencapai puncak acara, ketika Kirana sedang memberikan pidato penutup tentang Integritas dan Nilai-Nilai Keluarga.
The Elegi Telah Dimulai.