Berawal disalahpahami hendak mengakhiri hidup, kehidupan Greenindia Simon berubah layaknya Rollercoaster. Malam harinya ia masih menikmati embusan angin di sebuah tebing, menikmati hamparan bintang, siangnya dia tiba-tiba menjadi istri seorang pria asing yang baru dikenalnya.
"Daripada mengakhiri hidupmu, lebih baik kau menjadi istriku."
"Kau gila? Aku hanya sedang liburan, bukan sedang mencari suami."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kunay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Nakal
Greenindia dan Lizbet turun dari rooftop hampir satu jam kemudian. Tomi dan Rex masih berada di ruang tamu kecil itu. Tomi berdiri, bersandar di dekat sofa, tangannya terlipat di dada, sementara Rex masih duduk di kursi roda.
Suasana dingin mencekik, bahkan bagi ruang tamu yang sempit itu.
Lizbet segera menghampiri Rex. Wajahnya yang garang menunjukkan ia sudah siap berperang.
"Dengar, Tuan Carson!" Lizbet menunjuk Rex dengan jari telunjuknya, jarinya hampir menyentuh hidung Rex. "Aku sudah mendengar semua cerita gila ini, dan aku tidak peduli kau Ketua Mafia atau apa. Jika kau menyakiti Green sedikit saja—secara fisik, emosional, atau mental—aku sendiri yang akan mendorongmu dari tebing itu! Mengerti? Kami akan membuat kecelakaan itu terlihat alami."
Rex menatap Lizbet, matanya memancarkan sedikit kekaguman atas keberanian bodoh wanita itu. "Ancaman yang lucu, Nona Lizbet. Tapi aku tidak berniat menyakitinya. Justru aku yang menjadi korban di sini. Dan aku sarankan kau turunkan volume suaramu sebelum aku menuntutmu karena ancaman pembunuhan."
Lizbet mendengus, tetapi dia mundur. Walau mengancam, ia jauh lebih lunak daripada Tomi. "Baiklah. Aku terima kau sebagai 'suami darurat' Green, tapi kau harus janji tidak akan memaksa hal apa pun yang tidak dia inginkan. Dia butuh kedamaian, bukan paksaan."
Rex mengangkat bahu, "Aku janji akan membiarkannya 'damai' sesuai caranya."
Setelah memastikan Lizbet agak tenang, Greenindia mendekati Tomi yang tampak paling kaku. "Tomi, kau kenapa? Katakan sesuatu. Kau diam saja sejak tadi."
Tomi menatap Greenindia, lalu mengalihkan pandangannya ke Rex dengan penuh permusuhan. Tomi tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menarik napas dalam, wajahnya dipenuhi kekecewaan dan keprihatinan.
"Aku tidak ingin tahu tentang urusan aneh kalian," ujar Tomi akhirnya, suaranya pelan dan dingin, jauh lebih mengintimidasi daripada Lizbet yang berteriak. "Aku hanya ingin tahu, apakah kau yakin keputusan ini yang terbaik, Green? Karena dia, dia bukan orang baik. Kau harus tahu itu."
"Entahlah, Tomi. Tapi sejauh ini aku akan baik-baik saja," jawab Greenindia, mencoba tersenyum, tetapi gagal.
Tomi hanya mengangguk tipis, ekspresi permusuhannya pada Rex semakin tajam. Dia tidak menceritakan sedikit pun informasi yang Rex sampaikan, termasuk nama Chester Anderson. Baginya, Rex adalah musuh, dan semua informasi yang ia dapatkan akan ia simpan untuk melindungi Greenindia. Setelah ucapan singkat itu dan tatapan peringatan terakhir kepada Rex, Tomi keluar dari apartemen itu tanpa pamit disusul Lizbet.
***
Keesokan paginya, Greenindia bangun lebih awal. Walaupun hanya tidur sebentar, dia merasa sedikit lebih baik setelah menceritakan semua kekacauan itu kepada Lizbet. Dia memutuskan untuk menghilangkan sisa ketegangan dengan berolahraga. Rex masih tertidur lelap di sofa, dibalut selimut tebal. Greenindia segera menyelinap keluar.
Taman kota yang hijau dan luas tidak jauh dari apartemennya selalu menjadi tempat pelariannya. Setelah berlari selama empat puluh menit, Greenindia duduk di bangku taman, menikmati udara pagi yang sejuk dan menyegarkan.
Tiba-tiba, sebuah bola plastik berwarna merah mendarat tepat di samping kakinya.
Greenindia mengambil bola itu dan mendapati seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun menghampirinya.
Anak itu mengenakan pakaian mahal yang bersih dan rapi, tetapi berdiri dengan kaki terbuka, dan menatap Greenindia dengan tatapan galak yang tampak seperti dipaksakan.
"Bolaku! Cepat berikan!" seru anak itu, suaranya sedikit cempreng.
Greenindia tersenyum tipis, tetapi sikapnya tegas. "Tentu, ini bolanya. Tapi sebelum itu, kau harus minta maaf padaku!"
Anak itu memiringkan kepala, bingung. "Kenapa aku harus minta maaf padamu?"
"Kau menendang bolamu ke arahku tanpa peduli apakah itu akan mengenaimu atau tidak," Greenindia menjelaskan, mempertahankan nada tenang.
Anak itu membalas dengan dengusan dan bersikeras, "Tidak mau! Aku tidak salah! Kau hanya orang asing!"
“Nona, mohon maafkan Tuan Muda tidak sengaja.”
Seorang pria berpakaian serba hitam menghampiri.
“Siapa kamu?”
“Saya pengawal Tuan Muda Jonathan.”
"Aku tidak menerima permintaan maaf dari orang dewasa, aku ingin dia yang meminta maaf," ujar Greenindia, menatap pengawal itu. "Jika kamu tidak mau minta maaf, aku akan menelepon polisi dan melaporkan kamu membuat onar di taman dan menyakiti orang lain." Kalimat terakhir untuk anak itu.
Ancaman itu jelas terlalu berat untuk anak seusianya. Wajah anak itu langsung berubah pucat dan ketakutan, matanya mulai berkaca-kaca.
Melihat anak itu hendak menangis Green masih bersikap tenang.
"Aku tidak peduli," Greenindia membalas tanpa emosi. "Menangislah sekeras yang kau mau. Aku tetap akan menelepon polisi."
Mendengar kata 'polisi' dan melihat ekspresi dingin Greenindia, pertahanan anak itu runtuh. Air matanya tumpah ruah, dan dia menangis kencang.
"M-maafkan saya, N-nona! Jangan panggil polisi!" isak anak itu sambil menunduk.
Greenindia akhirnya melunak, ia meletakkan bola itu di rumput dan menghela napas. "Baik. Sekarang kau sudah meminta maaf. Ini bolamu. Dan kau, Tuan Pengawal," Greenindia menatap pengawal itu dengan tajam. "Lakukan pekerjaanmu dengan baik. Jangan biarkan anak ini melukai orang lain hanya karena ia 'sulit diatur'. Disiplin itu penting."
Greenindia segera bangkit dan meninggalkan taman itu, meninggalkan anak yang masih tersedu-sedu dan pengawal yang kebingungan.
Tidak lama setelah Greenindia pergi, seorang pria dengan setelan bisnis mahal dan wajah yang mirip dengan Chester—tetapi lebih dingin, lebih serius, dan tegas—menghampiri. Itu adalah Jeremy Anderson, kakak Greenindia yang lain.
"Apa yang terjadi, Richard? Kenapa Jonathan menangis seperti itu?" Jeremy bertanya dengan nada tidak senang, suaranya dalam dan mengintimidasi.
Pengawal bernama Richard segera membungkuk. "Maaf, Tuan Jeremy. Tuan muda menendang bolanya ke arah seorang wanita. Wanita itu memaksa Tuan muda meminta maaf dan mengancam akan memanggil polisi. Tuan muda Jonathan ketakutan."
Mendengar itu, bukannya simpati, Jeremy malah memelototi anaknya. "Jonatan! Sudah berapa kali Ayah bilang, kau harus bersikap sopan! Kau pikir kau siapa? Jangan pernah kurang ajar pada orang lain, paham? Karena kamu salah aku tidak akan membelamu. Richard! Bawa dia kembali ke mobil dan jangan biarkan dia bermain sampai dia merenungkan kesalahannya!"
Setelah anaknya dibawa pergi, Jeremy menoleh pada Richard. "Wanita seperti apa dia? Apakah kau mengenalnya?"
Jeremy berpikir sejenak. "Dengar, Richard. Aku tidak ingin dia mendapat masalah, tetapi wanita itu benar. Anak ini harus belajar sopan santun. Kami akan mengadakan Jamuan Makan Malam untuk menyambut kepulangan Tuan Muda Kecil, sekaligus Pesta Bisnis untuk membuka kemitraan baru. Tolong antarkan undangan pada adikku, Green. Dan cari tahu di mana dia tinggal. Aku perlu bicara dengannya. Berikan undangan itu malam ini juga."
"Baik, Tuan Jeremy." Richard membungkuk dalam, wajahnya tampak lega karena perintah itu jelas dan tegas. Jeremy Anderson memang keras, tetapi setidaknya kali ini ia bersikap lebih rasional daripada Nyonya Anderson. Richard segera menjalankan perintah itu.
semangat up