NovelToon NovelToon
GAYATRI Ketika Cinta Tak Lagi Berharga

GAYATRI Ketika Cinta Tak Lagi Berharga

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pelakor / Angst / Penyesalan Suami
Popularitas:23.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Gayatri, seorang ibu rumah tangga yang selama 25 tahun terakhir mengabdikan hidupnya untuk melayani keluarga dengan sepenuh hati. Meskipun begitu, apapun yang ia lakukan selalu terasa salah di mata keluarga sang suami.

Di hari ulang tahun pernikahannya yang ke-25 tahun, bukannya mendapatkan hadiah mewah atas semua pengorbanannya, Gayatri justru mendapatkan kenyataan pahit. Suaminya berselingkuh dengan rekan kerjanya yang cantik nan seksi.

Hidup dan keyakinan Gayatri hancur seketika. Semua pengabdian dan pengorbanan selama 25 tahun terasa sia-sia. Namun, Gayatri tahu bahwa ia tidak bisa menyerah pada nasib begitu saja.

Ia mungkin hanya ibu rumah tangga biasa, tetapi bukan berarti ia lemah. Mampukan Gayatri membalas pengkhianatan suaminya dengan setimpal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GAYATRI 35

“Apa itu tadi? Apa maksud perempuan sombong itu? Apa yang sudah kalian bicarakan?” tanya Mahesa begitu ia memasuki rumah dengan Gayatri yang menyusul di belakangnya. 

Gayatri tak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, melainkan menutup pintu utama rumahnya lebih dulu. 

“Jawab aku, Gayatri!” seru Mahesa, kesal merasa sudah diabaikan. Matanya berkilat marah membayangkan Gayatri yang mengambil segala keputusan dan bukan dirinya. 

“Aku harus menjawab apa? Ponselmu tidak bisa dihubungi, kau bahkan tidak memberitahu pergi ke mana,” kata Gayatri, tetap bersikap tenang. 

Mahesa tak mampu menjawab, lebih tepatnya tidak tahu harus menjawab apa, Ia tak mungkin mengatakan bahwa ia sengaja mematikan ponselnya agar tak ada seorang pun yang tahu bahwa ia menginap di hotel bersama dengan Nadya. 

Tapi, ia tetap saja melampiaskan kekesalannya pada Gayatri. Ia bertolak pinggang, menatap Gayatri dengan tatapan menantang. Namun, Gayatri justru bersikap sebaliknya. Perempuan itu tetap bersikap tenang. 

“Paling tidak kau bisa menundanya, bukan? Tapi kau tidak melakukannya. Kau pasti sengaja, kan? Kau sengaja melakukannya karena ingin dianggap hebat. Begitu, kan?” katanya menuduh. 

Tak habis pikir, Gayatri balas menatap Mahesa dengan berani. “Kau yang hebat. Kau yang sudah tidak bertanggung jawab, tapi kau pula yang menyalahkan orang lain.” 

“Kau!” 

“Cukup, Ayah!” 

Keenan yang melihat Mahesa membentak sang ibu lantas mendekatinya, posisinya berada tepat di depan Gayatri, seolah ingin melindungi sang ibu dari kemarahan Mahesa yang tanpa alasan itu. 

“Cukup, Ayah. Jangan membentak ataupun menyalahkan ibu lagi,” kata Keenan tegas. 

Mahesa yang melihat Keenan bersikap protektif terhadap Gayatri langsung melunak. 

“Nak, maaf. Ayah tidak bermaksud untuk—” 

“Dari mana? Kau dari mana, Yah? Kau pergi ke mana sampai-sampai ponselmu tidak bisa dihubungi? Di mana kau saat aku membutuhkanmu?” tanya Keenan yang membuat Mahesa langsung tak bisa menjawab. 

“Jawab aku, Ayah. Kau pergi ke mana di saat kami membutuhkan kehadiranmu?” tanya Keenan lagi. 

“A-ayah ada pekerjaan dari kantor, Nak. Makanya Ayah—” 

“Bohong!” Sela Keenan, menatap ayahnya dengan kecewa dan tak percaya. Padahal, Keenan sangat mengagumi Mahesa, tetapi sepertinya rasa kagum itu telah berubah menjadi kekecewaan. 

“Aku sudah menghubungi kantor Ayah dan mereka bilang Ayah sudah meninggalkan kantor pukul 7 malam. Di saat itu, Ayah seharusnya pulang, kan? Tetapi tidak. Ayah bahkan tidak mengabari keluarga akan pergi ke mana.” 

Mahesa semakin membeku di tempat, tak tahu harus menjawab apa. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia menghabiskan waktunya bersama dengan Nadya semalam. 

Gayatri yang sejak tadi hanya mendengarkan perdebatan ayah dan anak itu, perlahan meraih lengan Keenan dan mengusapnya dengan lembut. “Mungkin ayahmu lupa mengisi daya ponselnya, Nak.” 

“Apakah Ayah pergi ke hutan, Bu? Sampai-sampai dia tidak bisa mengisi daya ponselnya? Atau Ayah pergi menyelam ke laut dan ponselnya langsung mati? Tidak, kan? Ayah juga tidak akan pernah membiarkan ponselnya mati kecuali memang lupa atau sengaja,” kata Keenan berapi-api. 

Kat-kata terakhir Keenan itu menyentil Mahesa dengan telak. Faktanya, ia memang sengaja mematikan ponselnya. 

“Sudahlah! Tidak ada gunanya berdebat dengan Ayah. Aku benar-benar kecewa padamu, Yah!” 

Setelah mengatakan hal itu, Keenan langsung berlari ke kamarnya dengan perasaan kesal juga kecewa. 

Sementara Mahesa, menatap kepergian putranya dengan sesal. Ia tidak memperhitungkan kekecewaan putranya sebagai balasan dari tindakannya. 

“Biarkan dia sendiri dulu,” kata Gayatri, menatap Mahesa dengan iba. Meski ia kesal pada Mahesa, tetapi ia juga merasa kasihan pada ayah dari anak-anaknya. 

“Kau juga harus tahu, aku sudah mendatangi hotel itu dan meminta Nadya untuk membangunkan mu. Jangan salah paham, aku pergi ke sana hanya karena anak-anakmu mencari ayahnya.” Gayatri pun berlalu dari sana untuk mulai mempersiapkan acara penting putranya. 

Mahesa terdiam di tempat, “Apa? Itu artinya …. Sial! Kenapa Nadya tidak membangunkan ku? Jika saja dia memberitahuku lebih awal, aku tidak akan melewatkannya, kan?"

***

Shaka tengah memainkan pena keramatnya saat tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya dengan cukup kuat.

“Masuk!” teriak Shaka tanpa menoleh ke arah pintu. Pikirannya terbang pada kejadian tadi pagi saat ia secara tidak sengaja ditabrak oleh seorang perempuan. 

“Sekuat apa pun aku mencoba untuk tidak memikirkannya, tetap saja pikiranku terus memikirkan pemikiran itu,” kata Shaka memijat tulang di antara kedua matanya. 

“Apa yang kau pikirkan?” 

Shaka langsung menoleh saat mendengar suara seorang perempuan yang sangat ia kenali. Tubuhnya langsung bangkit berdiri menatap perempuan di hadapannya. 

“Anin?!” seru Shaka terkejut. 

“Kejutan,” kata Anin dengan riang. Merentangkan kedua tangannya dan memeluk Shaka. 

“Astaga, bagaimana kau tahu aku sudah kembali?” tanya Shaka seraya tersenyum hangat. 

Anin duduk di depan meja pria itu. “Hei, aku punya informan khusus, tentu saja aku tahu,” katanya merasa senang bisa melihat Shaka kembali setelah sekian lama menghilang. 

“Kau masih saja seperti dulu,” kelakar Shaka ikut duduk di kursi kebesarannya. “Senang bisa melihatmu lagi setelah sekian lama. Melihat kondisimu, kau pasti sangat baik, jadi aku tidak akan repot-repot bertanya.” 

Anin tertawa, “Penilaian yang bagus. Kalau begitu, biar aku saja yang bertanya. Bagaimana kabarmu, Tuan Nareswara yang terhormat?” tanyanya setengah mengejek. 

“Seperti yang kau lihat, aku masih tampan dan gagah.” Shaka berkata dengan bangga. 

Anin berdecak kagum, “Aku bisa melihatnya dengan baik. Melihat kerutan di dahimu aku juga bisa menebak, bisnismu di luar negeri pasti berjalan dengan baik. Ya, kan?” 

Shaka tak menjawab, ia hanya tersenyum lebar. Tangan kanannya terulur meraih pena keramatnya dan hendak meletakkannya kembali ke dalam laci. Tetapi, terlambat. Anin lebih dulu merebut pena ini.

“Hei, aku kenal pena ini. Kau masih menyimpannya sampai sekarang?” tanyanya tak percaya. Ia menatap Shaka dengan mata membola sempurna. “Astaga! Jangan bilang kalau kau masih belum melupakannya?” 

Shaka tak tahu harus menjawab apa, maka ia hanya mengangguk. Bibirnya membentuk senyuman tipis yang menyiratkan banyak hal. Ada luka, kesedihan, kerinduan yang tak pernah sirna dan cinta yang tak pernah terhapus oleh masa.

Anin sontak menutup mulutnya sendiri, tak menyangka Shaka masih saja memikirkan perempuan pujaan hatinya itu. “Itu sebabnya aku tidak pernah mendapatkan undangan pernikahanmu?” 

“Ayolah, Anin. Jangan meledek diriku lagi, kau tahu betul bagaimana kisah cintaku berakhir. Tak mudah menghapus perasaan itu meski 25 tahun sudah berlalu,” katanya getir. 

Tatapan Anin beralih dari terkejut menjadi iba. “Shaka, apa kau tidak penasaran dengan bagaimana keadaannya sekarang?” tanyanya dengan tatapan serius. 

Shaka membeku untuk sesaat. “Apa maksudmu?” tanya Shaka, heran. “Apakah kau tahu tentangnya?” 

***

Happy Weekend, All.

Mas-mas Bujang Lapuk Kaya Raya pemuja Gayatri datang lagi nih 🤣🤣🤣

1
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
lah malah jadi suporter 😂😂
HK: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Siti Siti Saadah
kamu jangan lembek kumpuli. bukti kakurang ajar an suamimu
HK: Kata Gayatri, otw lagi dikumpulkan, Kak 😌
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu jangan mundur Gayatri 😔
HK: Maju terus pantang mundur 😌
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Nayana
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dia memang biangnya ribut 😔
HK: Motto hidup Nayana kayaknya di mana ada keributan di situ ada dia /Facepalm/
total 1 replies
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
hahaha... liat ini keenan, justru camermu yg menemukan bukti perselingkuhan ayahmu 😂😂😂😂😂😂
Siti Siti Saadah
ambil aja harta itu ada yg menunggu gayatri dengan harta berlimpah
Siti Siti Saadah: yesss jadi Nyonga sultan shaka
total 2 replies
Siti Siti Saadah
istri nya sudah tahu kirimnya ke si keenan aja biar puasssss
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Istrinya sudah tau 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kalian sangat cocok,pasangan serakah 😏
HK: 11 12 😌
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Bener" nih anak harus dikasih pelajaran 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 👍🏻
melinda
cepat nikah sama shaka aja
HK: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
kicep kan luuu
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
kau pikir shakira mau diperlakukan begini olehmu hah?
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
anak sok tau mau berulah..
Siti Siti Saadah
lagian anak mereka bukan anak dibawah umur
Siti Siti Saadah
tetap teguh gayatri untuk memberikan arti buat mahesa bahwa dirimu berarti. soal anak asuh anakmu akan memilih dengan hatinya. siapa yg punya cinta tulus
HK: Lagian mereka dah pada gede ya /Shy/
total 1 replies
Anonymous
SUMPAH POCONG LU BERANI GA
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
idih mahesa tunggu saja bukti bakalan ada dan hak asuh anak anak akan ke tangan Gayatri. dengan bantuan anin dan shaka
HK: Yesss betul
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!