Sebuah karya novel bergenre horor yang sangat menyeramkan tentang perjalanan mahasisiwa teknik geologi yang terjebak didalam desa yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riski riko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Larangan yang tidak boleh dilanggar.
Rio yang melihat senyuman anak Ketua Adat langsung klepek klepek, Kayak ikan yang hidup di air terus di letakkan kedaratan.
Aku yang berada disamping Rio langsung bertanya "Lo kenapa ?, Kayak kehabisan oksigen aja !"
"Gak tau ko !, Pas lliat senyuman anak Bapak Gilang Rasanya kurang oksigen" Jawab Rio.
"Kok bisa gitu Kak.? Tanya si Rika yang duduk disamping kanannya Rio.
" Soalnya bidadari tempatnya dilangit, Sementara dilangit gak ada oksigen, Makanya kakak ngerasa kehilangan oksigen, Ketika melihat bidadari senyum"
Ucap si Rio.
Dalam hatiku langsung berkata " Ni anak gak tau sikon !! , Udah tau ada bapaknya, Masih juga berani gombalin anaknya"
Bapak gilang mendengar gombalan Rio langsung pura pura batuk.
Ukhuhhh ukhuuh
suara batuknya bapak gilang.
"Ayo ayo silahkan makan, Nanti gak jadi jadi makanya ni"
Ucap bapak Gilang.
"Iya pak"
Jawab Ku sambil mengambil piring didepannya Wisnu.
"Habis makan nanti bapak ceritain sesuatu ke kalian" Ucap bapak Gilang.
Kami pun sarapan bersama keluarga Ketua Adat, Dengan hidangan nasi goreng ala ala desa.
Ketika lagi enak enaknya sarapan. Tiba tiba wisnu bertanya.
"Siapa yang masak ni pak?".
"Adek kalian ini yang masak"
Ucap Pak Gilang sambil menunjuk Adek Rika Anggelina.
"Heheheh Gimana rasanya Kak.?, Gak enak ya? "
Tanya Rika sambil tertawa kecil.
"Enak banggggeeeeeeeeettttt, Ni Nasi goreng Kakak udah habis".
Ucap si Wisnu dengan memperlihatkan piringnya yang tidak tersisa sebutirpun nasi goreng.
"Jangan tanyanya sama Wisnu dek, Kalau masalah makanan hahahaha " Ucap si Rio.
Setelah kami semua selesai makan, Kamipun Berkumpul di Ruang tamu, Untuk mendengarkan arahan dari Ketua Adat.
Kursi yang terbuat dari Kayu jati yang diukir indah menghiasi Ruang tamunya Bapak Gilang aditia bin Gus Harapan.
Kami semua duduk melingkar, Di tengah tengah kami terdapat sebuah meja bundar besar, Yang sepertinya terbuat dari kayu jati juga.
Bapak Ketua Adat memulai Arahannya dengan salam.
"Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh"
Kami semuapun menjawab "Wa'alaikumsalam Warohmatullahi Wabarokaatuh".
Tampak wajah serius dari bapak Ketua Adat ketika Dia memberi salam.
" Adek adek semua !, Bapak selaku Ketua adat di Desa ini, Sangat berterimakasih sebesar besarnya atas kunjungan kalian, Dan memohon maaf jika ada kekurangan di desa kami"
Ucap Bapak Ketua Adat.
"Iya pak, Kami juga sangat berterimakasih banyak karna sudah di terima dengan baik disini" Ucap ku Kepada Bapak Kepala Adat.
"Nanti Wilayah tugas kalian di hutan Baratnya Desa ini"
Ucap bapak Gilang.
"Nanti Kami bakalan Ada pemandunya kan pak.?"
Ucap ku kepada Bapak Gilang.
"Iya ada, Kalau gak ada pemandu, Bisa bisa kalian tersesat"Jawab bapak Gilang dengan sedikit bercanda.
" Heheheh Terimakasih pak"
Ucap ku dengan tertawa kecil.
"Tapi ingat di desa ini ada larangan larangan tertentu" Ucap bapak gilang dengan sangat serius.
"Maksudnya larangan itu gimana ya pak?" Tanya ku kepada Bapak Ketua Adat dengan nada sangat penasaran.
Pak Gilang pun melanjutkan kata katanya.
"Pertama, Kalian dilarang melewati batas hutan, Sebelah Utara,Jika kalian melewatinya Bapak tidak bertanggung jawab"
Aku mulai Curiga dengan ucapan Ketua Adat, Kemudian Bapak Gilang melanjutkan Ucapannya.
"Kedua, Kalian dilarang ke hutan memakai pakaian berwarna kuning.
Ketiga,Kalian dilarang membuka kamar yang ada di penginapan kalian yang sudah di gembok itu"
"Pasti ini ada apa apanya"
Gumamku didalam hati.
"Itu gak boleh di lakukan sama sekali ya pak?"
Tanya si Wisnu.
"Tidak boleh sama sekali" Tegas Pak Gilang.
"Kami boleh tau apa tujuan larangan itu pak.? Apakah ada sesuatu disini?"
Tanya ku kembali kepada Bapak Gilang karena Aku penasaran.
"Pokoknya dengarkan saja kata kata Bapak,Jangan pernah melakukan larangan larangan tersebut, Bukan Kalian saja, Seluruh Warga Desa ini pun sudah tau larangan larangan itu"
Ucap pak gilang untuk menegaskan kembali.
"Gini pak !, Saya mengalami hal hal aneh ketika berada di penginapan, Pertama kali saya mendengar suara tetesan air, Tapi ketika saya lihat kebelakang tidak ada satupun air yang menetes,
Kedua, Saya pernah melihat bayangan di dapur,Padahal ketika itu hanya ada saya sendiri.
Ketiga. Saya...."
Belum selesai Aku menceritakan semua itu tiba tiba Bapak Gilang memotong pembicaraan ku.
"Stoop, Bapak sudah tau semuanya, Pokoknya kalian harus dengarkan kata kata bapak, Jangan pernah melanggar pantangan di desa ini jika kalian ingin selamat"
Ucap Bapak Gilang dengan sangat serius sekali.
"Iya pak"
Ucap ku sambil menundukkan kepala.
Tampak wajah wajah penasaran terpampang di wajah Rio,Danu Dan Wisnu.
Kami hanya bisa menuruti apa kata Bapak Ketua Adat,Karena Dialah yang lebih mengetahui tentang Desa.
Kemudian Kami berbincang mengenai agenda kami yang akan datang, Dari surpei ke lapangan Hingga ketahap akhir.
Lumayan lama kami berbincang bincang dengan Ketua Adat.
Bapak Gilang sebenarnya orangnya sangat Ramah hanya saja, Jangan pernah bertanya tentang Masalah Larangan desa, Dia akan berubah 180 derajat.
Jam dinding Bapak Gilang sudah menunjukkan jam 11.00, Tak terasa kami mengobrol sudah Empat jam.
Aku pun permisi kepada Bapak Gilang, Untuk kembali kepenginapan kami.
Di perjalanan menuju penginapan, Aku masih berpikir tentang larangan larangan yang sudah di sebutkan tadi.
Karena panasnya matahari kami pun buru buru untuk sampai ke penginapan.
Dari kejauhan kami melihat seseorang kakek yang lagi berdiri didepan penginapan kami.
Kami pun segera menghampirinya.
"Ado apo tok ? (Ada apa kek?)"
Tanya ku kepada kakek itu.
"Iko lop(Ini nak), Datok ado buah Manggo lebeh di rumah (Kakek ada buah mangga lebih di rumah), Jadi Datok bao untuk kau dengan kanti kanti (Jadi Kakek bawain untuk kami dan kawan kawan) "
Ucap kakek tua itu, Yang lagi memegang sebuah kantong pelastik berwarna hitam di tangan kanannya.
Dan langsung memberikanya kepada ku.
"Terimokaseh banyak tok" Ucap ku kepada kakek itu.
Kakek itupun kembali ke arah rumahnya yang tidak jauh dari penginapan kami.
"Asiiiikkk, Panas panas gini kita makan mangga"
Ucap si Wisnu.
"Ayo ayo cepat naik,Gua pengen cepat cepat makan buah itu" Kata si Danu.
Kamipun naik kerumah penginapan
dan Melahap semua mangga yang di berikan oleh si kakek tua tadi.
"Enaak banget mangganya" Ucap Rio sambil melahap mangga.
"Baik banget kakek tadi ya" Ucap Danu.
"Orang Jambi itu ramah ramah dan Baik baik Asalkan kita ramah sama dia"
Jawab ku sambil mengupas mangga terakhir.
"Yang Terakhir buat gua dah !. Gua yang ngupas gak kebagian, Udah 5 Mangga yang sudah kalian habisin"
Ucap ku.
"Hahahah salah sendiri dari tadi motongin aja makan kagak" Ucap Rio sambil tertawa.
"Hmm dasar teman maunya enak sendiri" Jawab ku yang lagi memotong buah mangga yang aku kupas.
Berapa banyak yang ku potong , Berapa banyak juga yang dihabiskan oleh mereka.
Sampai pada irisan terakhir pun sudah di sambet ama Wisnu. Bayangkan saja
Enam buah mangga, Aku hanya makan 3 potong mangga.
"Kalian yang berisihin sampah sampahnya,Gua cuma dapat tiga potong"
Ucap ku sambil melangkah kedapur untuk mencuci tangan.
"Hahahahahah Memang ketua terbaik lo ko" Ucap wisnu dan disusul oleh ketawanya Danu dan Rio.
#Bersambung #
Maaf tadi malam mati lampu, Sinyalnya hilang dan hp lowbet😂🙏
Dan sekarang setelah 3 tahun hilang²an, akhirnya lanjut baca lagi 'Desa Yang Hilang' 😅 Makasiiih ya author