Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suapan Radit
Setelah Maura lebih tenang Radit membawa Maura keluar untuk makan malam. Tanpa keduanya sadari tangan mereka saling bertautan. Oma Mia yang menyadari kehadiran Maura dan Radit lebih awal langsung menghampiri Maura.
"Sayang, bagaimana keadaan kamu sekarang?. Maaf Oma membuat kamu takut ya?" Tanya Oma Mia mengambil alih genggaman tangan Radit.
Radit membiarkan Oma dan Maura berbicara dirinya melanjutkan langkahnya menuju meja makan. Kemudian menjaili keponakannya yang tengah duduk tenang menunggu makanannya. Dan karena ulah Radit.
"Radit... Kebiasaan deh ponakannya anteng kamu ganggu." Protes Raya.
"Sayang,, maaf ya Om Radit nakal ya ganggu abang mau makan. Biar Papi cubit Om nya ya." Bujuk Raya.
Oma Mia dan Maura kembali melanjutkan langkahnya menuju meja makan. Maura sudah meyakinkan Oma jika dirinya baik-baik saja. Dan benar jika dirinya sudah baik-baik saja setelah mendapatkan pelukan Radit.
"Cicit Oma kenapa sayang?" Tanya Oma Mia melihat Rama menangis.
"Di jailin Om Radit Oma." Adu Raya.
Tanpa di sangka Rama mengulurkan tangannya pada Maura yang berada di samping Oma Mia. Membuat Raya heran. Padahal mereka baru saja bertemu. Maura mengulurkan tangannya dan mengambil alih Rama dari gendongan Raya. Dan anehnya lagi Rama langsung terdiam memeluk Maura membuat semua heran.
"Sayang ya sama Onty" Ucap Oma Mia mengusap puncak kepala Rama.
"Aduh gemes banget itu cucu Nena langsung nemplok Onty." Bunda Diana.
"Yaah... Kesalip ponakan Bang." Goda Marko.
"Eh, tapi sama Aurel ngga mau dia." Hendra.
"Mulai lagi nih abang." Marko.
"Sudah-sudah ayo kita makan." Ajak Pak Rudi.
"Sayang, Abang Rama duduk ya kita makan. Onty nya juga mau makan sama." Bujuk Raya pada Putranya.
Bukan melepaskan pelukannya pada Maura tapi Rama semakin erat memeluk Maura. Maura sampai kewalahan jika saja Radit tak sigap.
"Eh, ayo duduk sendiri biasanya juga begitu kan. Ayo ini punya Om bukan punya kamu." Goda Radit.
Namun, godaan Radit pada Rama bagai menggulir bola pada dirinya sendiri. Namun, yang lain hanya diam saling tatap dan menahan senyumannya. Karena semua tau jika Radit sepertinya ada rasa pada Maura. Karena ucapan Radit pula membuat Rama kembali menangis.
"Eh, sayang... Jangan nangis dong nanti makanannya ikut sedih loh kalo abang nangis. Ayo duduk sama Onty ya kita makan. Tapi abang harus diem dulu ngga boleh nangis." Ucap Maura lembut seraya mengusap lembut punggung Rama.
Rama pun langsung berhenti menangis. Kemudian Maura duduk memangku Rama karena Rama tak ingin di simpan di kursinya sendiri. Melihat Maura yang kesulitan makan sambil menyuapi Rama Radit pun berinisiatif untuk menyuapi Maura. Awalnya Maura menolak tentu saja namun Radit tetap memaksa dan yang lain mendukung jadilah Maura menerima suapan demi suapan dari Radit walau sedikit malu hingga pipi nya memerah dan sialnya itu membuat Radit gemas.
Selesai makan Rama masih tetap tak mau lepas dari Maura hingga tertidur di pangkuan Maura saat mereka semua tengah berbincang bersama di ruang keluarga. Raya meminta Suster Rama untuk memindahkan Rama ke kamar.
"Terima kasih ya Maura. Maaf Rama merepotkan kamu." Ucap Raya tulus.
"Eh, ngga apa-apa kok Bu." Ucap Maura formal.
"Loh kok Ibu. Kakak aja. Aku kan bukan atasan kamu lagi sekarang." Goda Raya.
"Iya, atasan kamu sekarang kan Radit La." Hendra.
"Ayo pulang saya antar." Ucap Radit menginterupsi.
Sabar lanjut ya...