Kasus yang menyeret namanya ini menyebabkan Raga dikeluarkan dari sekolah. Akibat dari itu hidup Raga menjadi tambah berat selain masih dalam tahap penyelidikan polisi, masa depan yang ia tata dengan rapih hancur begitu saja. Sampai dimana Raga menghilang dan tidak pernah ditemukan lagi. Ada yang mengatakan bahwa hilangnya Raga masih bersangkutan dengan kasusnya atau penculikan berencana. Namun ditengah huru hara menghilangnya seseorang Raga munculah orang yang mengakui bahwa ia adalah sahabat Raga. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah mereka percaya Raga menghilang? Dan Apakah dia benar sahabat Raga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moonsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau mirip Raga
"Aku Anwar murid baru di sekolah ini. Aku kelas sebelas dan aku sahabatnya Raga." Ucapnya sambil mengulurkan tangan ke arah Desi. Desi yang melihat perilaku ini sedikit ragu untuk membalas uluran tangan Anwar dan tidak percaya dengan ucapan bahwa dia adalah sahabat Raga. Raga kekasih yang ia cintai.
"Kalau gitu kita bicara disana." Anwar berkata seperti itu karena tidak ada jawaban dari Desi. Anwar berinsiatif untuk menarik lengannya secara perlahan untuk menjauh dari lorong kelas menuju ke arah parkiran. Namun belum sampai parkiran saja Desi langsung menepis kasar oleh lengannya Anwar yang pada akhirnya mereka terhenti di pertigaan lorong sekolah. Untungnya semua siswa sudah tidak ada disana jika pun masih berkeliaran di sekolah kemungkinan itu siswa anak organisasi.
"Maksudnya mu apa menarik lengan ku seperti tadi? Apakah kau tidak pernah diajarkan sopan santun kepada kakak kelas seperti ku?" Sahut Desi dengan mimik mukanya yang sedang menatap sinis.
"Aku berani bersumpah jika aku ini sahabatnya Raga. Aku menemui karena ingin mengajak pulang bersama denganku. Ini perintah dari Raga." Ujarnya begitu antusias. Padahal ide pulang baru Desi seperti ini baru tadi ia pikirkan.
Tapi setidaknya sekarang Anwar bisa melihat Desi kembali. Cantiknya masih sama bahkan kesalnya pun tidak berubah.
"Kau ini habis obat atau bagaimana?" Sanggah Desi.
"Aku berkata serius jika kau penasaran pulang bersamaku bagaimana?" Tawar Anwar sekali lagi.
"Apa jaminan jika aku mau ikut pulang bersama kau? Ini bukan modus mendekati kakak kelas seperti ku?"
"Aku akan ajak kau pergi ke tempat yang sering kau kunjungi bersama Raga sembari makan ice cream rasa matcha kesukaan kalian. Setelah itu kita pergi menuju kedai bakso Amang bagaimana?"
Entah mantra apa yang pada akhirnya Desi mempercayai ucapan siswa yang bernama Anwar ini. Yang jelas sekarang Desi menjadi penasaran dengan ucapan yang keluar dari mulutnya. Dan menurut Desi Secara fisik Anwar ini tidak kalah tampan tapi bukan itu alasan utama ia mau pulang bersamanya.
"Oke aku setuju namun jika kau macam macam siap siap kau dipenjara."
"Ancaman mu seperti orang tua jaman dulu. Kalau gitu ikut aku ke arah parkiran." Jawab Anwar
Setelahnya mereka berdua bergegas menuju parkiran untuk mengambil motor Anwar yang terparkir. Tentunya Anwar ke sekolah menggunakan motor scoopy.
"Siap?" Tanya Anwar kepada Desi. Desi hanya mengangguk dengan pelan. Di dalam hati ia sebenarnya Ragu namun ketika ia melihat sorot mata Anwar seperti melihat sosok yang selama ini ia rindukan.
***
Sekarang mereka berdua sudah ada di taman yang sering dikunjungi oleh Desi dan Raga. Mereka sudah menghabiskan waktu di taman ini sekitar tiga puluh menitan. Dan entah sejak kapan Desi memperhatikan Anwar begitu seksama. Di dalam pikirannya ia melihat bahwa Anwar ini seperti Raga. Degup jantungnya masih berdegup dengan kencang sama saat pertama kali ia melihat Anwar di sekolah tadi.
"Bahkan kau tahu jika Raga dulu suka mengajakku ke taman ini. Apakah Raga selalu bercerita tentang ku kepadamu? Atau hubungan aku dan Raga?"
Anwar tersenyum sambil menatap mata Desi dengan penuh arti lalu beberapa detik berikutnya ia langsung memalingkan tatapannya bergantian melihat langit sore yang nampaknya begitu cerah dan sejuk.
"Anwar?" Tegur Desi untuk mendapatkan jawaban soal pertanyaan yang ia layangkan untuk Anwar
"Soal itu tentunya benar Raga selalu bercerita tentangmu kepada ku. Entah apa alasannya yang pasti yang dikatakan Raga itu benar."
"Benar apa?" Penasaran Desi
"Kau cantik."
Desi tidak menyangka bahwa ucapan Anwar yang ini mampu membuat detak jantungnya kembali berdegup dengan kencang. Entah ada sihir apa yang membuat Desi bisa merasakan seperti ini yang pasti hatinya seperti tersengat benih malu.
"Pipi mu merah. Apa kau tersipu dengan ucapan ku tadi? Aku tidak bermaksud untuk merebut mu dari Raga. Aku hanya berkata jujur."
Desi masih terdiam ia terlalu takut untuk merespon hal ini dan yang dapat Desi lakukan detik ini juga yakni memakan ice cream matcha dengan rakus.
"Apakah benar kau dan Raga sudah tidak memiliki hubungan lagi?" Tanya Anwar sekali lagi
"Iya, aku dan Raga sudah tidak memiliki hubungan sebagai sepasang kekasih lagi. Aku tidak tahu kenapa yang pasti semenjak kasus yang menimpa dirinya, Raga menjadi seseorang yang pendiam dan anti sosial dan aku seperti kehilangan sosok Raga yang hangat dan nyaman. Aku tidak tahu perasaan Raga seperti apa pada saat itu. Namun sebelum Raga menghilang dia berjanji kepada ku akan menjadi pribadi lebih baik lagi dan tetap menjalani hidupnya dengan baik aku tidak berharap hubungan kami akan bersemi seperti dulu namun pastinya melihat dia semangat hidup pun aku sudah bahagia. Dan Kau tahu tempat yang kita kunjungi ini adalah tempat dan pertemuan terakhir aku bertemu dengan Raga." Jawab desi matanya sembari melihat ke arah sekeliling taman yang lokasinya berada di pusat kota.
Taman yang selalu di singgahi dikala sore oleh semua kalangan dan tentunya taman ini adalah salah satu tempat favorit bagi Desi dan Raga.
"Raga sering cerita jika dia sering mengajakmu ke taman ini. Waktunya tidak tentu kadang habis pulang sekolah atau malam hari ditemani ice cream matcha kesukaan kalian dan tentunya cemilan favorit Raga yakni batagor dan cemilan favorit kau adalah kimbab."
"Setidaknya aku sekarang merasa lega jika Raga mempunyai sahabat seperti kau. Meksipun Raga tidak pernah cerita memiliki sahabat yang bernama Anwar. Tapi tidak masalah dan terimakasih sudah mau menjadi sahabat Raga."
Desi tersenyum hangat.
"Apakah aku boleh bertanya kepadamu lagi Desi?"
"Silahkan namun aku akan jawab sebisa ku."
"Kalau misalnya Raga kembali ada dihadapan mu apa yang akan kau lakukan?"
"Pertanyaan macam apa ini." Desi terkekeh pelan seakan pernyataan ini adalah pertanyaan konyol yang ia terima.
Sejujurnya dihati yang paling dalam Desi begitu merindukan Raga. Dengan Anwar mengajaknya ketempat ini lalu memakan ice cream matcha seperti tadi membuatnya seakan dejavu dan benar benar merasakan hadirnya Raga disini. Bersama Raga Desi sangat bahagia setiap bentuk tindakan kecil yang Raga lakukan untuknya Desi pasti akan suka.
"Jadi." Penasaran Anwar
"Aku akan memeluknya sekuat mungkin dan aku akan memaksanya agar aku ikut berada disampingnya selalu."
"Ternyata kau budak cinta yah Desi."
"Memang! Tapi Anwar aku baru kepikiran bagaimana kau bisa bersahabat dengan Raga? Sementara kau ini kelas murid pindahan kelas sebelas. Kau beda satu kelas dekat kita. Apa kau dulunya tidak pernah naik kelas dan satu lagi aku rasa rasa aku ini sedikit mirip Raga."
"Soal itu aku akan jawab jika kau mau menemani ku mengunjungi kedai bakso Amang dan tentunya aku traktir. Tapi kalau kau sibuk biar aku sendiri saja."
"Aku tidak sibuk ayo biar aku temani." Jawab Desi yang sekarang nampaknya dirinya sudah sedikit terbuka kepada Anwar.