Axel Rio terjebak bertahun-tahun dalam kesalahan masa lalunya. Ia terlibat dalam penghilangan nyawa sekeluarga. Fatal! Mau-maunya dia diajak bertindak kriminal atas iming-iming uang.
Karena merasa bersalah akhirnya ia membesarkan anak perempuan si korban, yang ia akui sebagai 'adiknya', bernama Hani. Tapi bayangan akan wajah si ibu Hani terus menghantuinya. Sampai beranjak dewasa ia menghindari wanita yang kira-kira mirip dengan ibu Hani. Semakin Hani dewasa, semakin mirip dengan ibunya, semakin besar rasa bersalah Axel.
Axel merasa sakit hati saat Hani dilamar oleh pria mapan yang lebih bertanggung jawab daripada dirinya. Tapi ia harus move on.
Namun sial sekali... Axel bertemu dengan seorang wanita, bernama Himawari. Hima bahkan lebih mirip dengan ibu Hani, yang mana ternyata adalah kakak perempuannya. Hima sengaja datang menemui Axel untuk menuntut balas kematian kakaknya. Di lain pihak, Axel malah merasakan gejolak berbeda saat melihat Hima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Conspiracy
Aku sebenarnya ingin pamit pulang, sepertinya banyak pihak yang tidak berkenan akan kehadiranku. Aku yakin banget Devon mengundangku hanya karena Hani memintaku.
Aku menatap adikku yang cantik itu berdiri canggung saat berfoto dengan suaminya. Devon yang tampak santai dan bangga dengan pencapaiannya. Menatap Hani dengan lembut bagaikan mendapat trophy yang sudah lama ia impikan.
Piala, heh?
Aku jadi kepikiran mengenai sebuah konspirasi.
Walau pun Devon ini memang sepertinya sudah mengincar Hani sebelum pria itu tahu siapa Hani sebenarnya. Namun kini ia sengaja mempercepat pernikahannya.
Karena… mereka hanya menikah di KUA seakan terburu-buru.
Untuk apa terburu-buru? Hani baru saja 18 tahun. Malah baru bulan depan dia genap 18. Tanggal itu pun kuketahui dari media massa. Kalau tanggal lahir ‘pewaris yang hilang’ keluarga Sutjandra adalah tgl sekian bulan sekian tahun sekian. Podcast yang sering mengulas informasi itu entah dimiliki oleh siapa, hanya ada suara wanita muda yang serak-serak seksi, yang memberitakan mengenai konspirasi dunia dan dalam negeri.
Salah satunya adalah ulasan mengenai Adam Sutjandra. Bahwa, aparat berbohong. Menyembunyikan fakta bahwa korban dalam kecelakaan tunggal itu menabrak pohon lalu mental terpelanting di bahu jalan. ‘Tiga orang’ meninggal dunia akibat kecelakaan tunggal di tengah hutan.
Namun, suara dalam podcast itu memberitakan hal yang membuatku menarik nafas karena semuanya benar.
Yakni : ada keganjilan.
Pertama, Lokasi kejadian. Dari semua tempat venue, kenapa keluarga besarnya memilih tempat di villa tengah gunung yang jaraknya 100km dr rumah utama mereka di Jakarta. Yang notabene villa itu sebelumnya jarang ditempati karena jauh. Sudah itu, kenapa Adam Sutjandra memilih pulang di tengah malam? Karena kan mereka bisa saja menginap di villa itu? Kenapa memaksakan diri?
Kedua, semua saksi menyatakan kalau mereka datang ke pesta bersama dengan anak mereka satu-satunya. Dan saat mereka terburu-buru pulang, mereka membawa anak mereka. Tapi Saat kejadian, mereka bahkan tidak melihat ada peti mati anak2. Hanya ada dua peti mati. Kalau memang selamat saat kecelakaan kenapa keluarga besar tidak diberi tahu.
Ketiga, Erick Sutjandra mengambil alih semua aset Adam Sutjandra. Nama Erick memang tidak dituliskan dalam akta pengalihan aset, namun dia maju karena merupakan kepala keluarga setelah kakaknya meninggal. Nyatanya di bawah kepemimpinannya, semua usaha Adam malah goncang, dan kini dalam usaha mendapatkan suntikan dana dari investor negara tetangga. Usaha yang bergerak di bidang retail itu dikelola dengan asal-asalan dan distribusi yang terkesan jor-joran.
Keempat yang paling mendasar adalah, didapat bocoran hasil otopsi mayat, yang jelas-jelas itu korban pembunuhan. Juga peluru di dalam ban mobil Adam Sutjandra, dan bekas pelecehan seksual di jasad Hana Sasaki, istri Adam. Adanya baju ganti anak kecil dan minuman kemasan rasa strawberry di jok belakang yang isinya tinggal setengah juga sebagai bukti kalau ada keberadaan anak kecil di dalam mobil.
Video itu di takedown oleh Youtube, namun sempat dipost ulang di Tiktok. Thread juga ramai membicarakan hal itu.
Dan aku… setelah menonton podcast itu, aku mulai membuat Hani tak dikenali. Mengacak-acak rambutnya, memakaikan dia pakaian bekas. Dan melarangnya pergi jauh. Dia tak bisa kemana-mana sih dia sedang shock berat.
Dan melihat tatapan Devon ke Hani sekarang, aku kok yakin banget Devon tak akan diam saja dan membiarkan Hani disembunyikan selamanya. Perusahaan yang kini diambil alih Erick Sutjandra, hanya sekali jentikan suntikan dana dari Praba Group bisa berubah menjadi sangat besar. Bahkan lebih besar dari saat Adam memilikinya.
Devon menunggu sesuatu…
Aku yakin.
Baiklah, kuumpamakan diriku adalah Devon.
Dan aku adalah suami dari pewaris kaya raya, Hani.
Itu berarti aku memiliki hak penuh atas usaha istri, bahkan pengelolaannya. Karena Hani belum cukup usia dan belum cukup kemampuan untuk mengolah semua bisnisnya.
Tapi, aku memiliki kendala untuk mendirikan usaha itu.
Kira-kira hal apa? Kendala apa yang menghentikanku beraksi untuk mengekspos kenyataan kalau Hani masih hidup?
Hm…
Bisa jadi, kemungkinan kalau Erick Sutjandra mendendam, dia akan menghabisi Hani. Jadi Erick harus dilenyapkan dulu. Melenyapkan Erick tidak bisa hanya seorang saja. Antek-anteknya harus dilenyapkan juga. Itu berarti… Irvin dan Aku, Axel, juga harus lenyap. Melenyapkan Irvin mudah. Tinggal ungkap, karena semua bukti, sidik jari, kesepakatan dengan Erick, semua Irvin yang mengelola.
Tapi melenyapkan Axel Rio… itu sulit.
Karena, Axel Rio memiliki kunci pandora. Yang kalau kotak pandora itu dibuka, isinya adalah rahasia negara, bisa mendatangkan triliunan kekayaan bagi perusahaan kalau ia ungkap. Jadi kematian Axel adalah hal yang merugikan, juga kalau Axel sampai dipenjara itu berarti Devon tak akan dapat apa-apa. Axel juga bisa meminta kesepakatan kekebalan hukum untuk mengumbar rahasia itu kepada negara. Mau yang mana nih? Keuntungan untuk negara atau keuntungan bagi Praba Grup?
Yang manapun… Aku Menang.
Jadi Devon, apa yang akan kau lakukan?
Satu-satunya jalan… adalah bekerja sama denganku, kan? Tentunya… syarat untuk bekerja sama denganku tidak sereceh itu ya. Kau harus memiliki cara untuk menundukkan ku.
Tidak bisa hanya dengan ‘duel’.
Duel yang kau utarakan padaku mungkin bentuk kekesalan dirimu yang tidak bisa melenyapkanku dengan mudah. Aku ini seperti kanker dalam kisah cintamu. Parasit di bisnismu.
Hehe.
**
Sepertinya, sudah waktunya bagiku untuk mencari tempat baru.
Apartemen ini terasa asing bagiku saat aku pulang malam ini.
Setelah dari pernikahan, lalu pulang diam-diam dan melanjutkan pekerjaanku di Cafe, aku pun merasa lelah dan pulang ke apartemen Lily.
Tapi nyatanya, ruangan kosong ini malah terasa ‘tidak menyambut’ kedatanganku.
Mungkin karena di pikiranku, Kalau Lily sudah jadi milik orang lain.
Dari awal aku memang hanya memanfaatkannya untuk tujuanku, jadi kehilangan ini sudah tidak terasa berarti bagiku.
Besok, aku akan mencari tempat tinggal baru.
Aku memasukkan bajuku ke mesin cuci, termasuk batik yang kupinjam dari Devon, lalu menunggu rasa kantuk dengan membuat teh. Rencanaku, aku ingin tidur nyenyak malam ini. Setidaknya aku akan sesekali menikmati hidup dengan tempat tinggal yang kali ini layak.
Sendirian.
Seperti dulu, 12-13 tahun yang lalu, saat ibuku masih ada, dan sering menemaniku tertidur.
Aku tahu beliau diam-diam keluar dari kamarku saat tengah malam, namun aku tidak takut, aku merasa aman.
Karena aku tahu dia ada.
Setelah ia tak ada, aku selalu merasa was-was.
Kalau dipikir, aku jarang tidur sendiri. Setelah ibuku tiada, aku jarang tidur di rumah karena menghindari istri bapakku. Biasanya aku menginap di rumah teman-temanku. Atau di rumah pacar-pacarku. Setelah konflik itu, beberapa saat aku tidur selalu bersama Hani.
Namun semakin anak itu beranjak besar, aku merasa risih tidur bersamanya. Apalagi saat dadanya mulai tumbuh dan dia mulai haid. Aku mulai membuatkannya rumah sendiri. Ia tinggali bersama Farid. Hanya rumah triplek, tapi bisa melindunginya dari hujan.
Dan saat itulah aku tidur sendiri.
Dipikir-pikir aku ini cengeng juga ya.
Masa gara-gara tidur sendirian aku jadi galau?
Harusnya kan malah bebas bisa ngapain aja.
Untuk membunuh rasa sepi,aku mulai membuka-buka laptop Lily. Mencari info mengenai devon.
Aku masuk ke dokumen Praba Grup dengan user dan password Lily.
Lalu sebuah email masuk.
Dari seseorang dengan user Ivander.
Subjectnya : Gue tahu lo bukan Lily.
Aku terpaku.
Dan spontan langsung melirik ke kamera yang ada di atas layar laptop Lily.
Aku lupa menutup kamera itu, biasanya kugunakan stiker atau selotip.
Biasanya, selayaknya laptop terdapat kamera kecil di bagian atas layarnya,mirip dengan kamera depan di hape. Saat laptop kita diretas,
Lalu datang lagi email lain, dari user yang sama.
Subjectnya : Salam kenal Axel, gue Ivander.
Aku pun membuka email itu karena yakin kalau ditujukan untukku.
Aku ketahuan mau meretas data.
Dan si lawan bicaraku tahu banyak mengenai aku. Dia memanggilku dengan nama asliku.
Mungkin bagian dari para algojo Prabasampurna.
Bisa jadi dari awal pemilik server sudah tahu kalau ada yang membuka dokumen perusahaan memakai user dan password lily, jadi mereka memutuskan untuk bicara langsung denganku.
Kunyalakan zoom meeting di pojok kanan email.
Lalu layar laptop Lily menampilkan seorang pria dengan wajah khas Asia Timur dengan rambut model undercut sepertiku namun miliknya lebih panjang lagi. Tubuhnya tanpa pakaian atas, dia memakai... celana kulit hitam.
Habis strip tease di mana sih?!
Tak sengaja bibirku mencibir melihat penampilannya.
kau kan liat Hana Sasaki pas ada luka g0r0k di lehernya... himawari keadaan baik baik saja...
jelas beda lah Jakson
mksih sdh rajin update teruuusss...
terima kasih up nya Thor séhat selalu 🙏🏻🙏🏻🥰
yg tadinya mood bacanya berterbangan entah kmn ....eeehh tetiba semangat lagi
nuhun madaaaam