Sifa tidak pernah menyangka dengan nasib nya, ia harus menjadi Pengantin Pengganti, Kakak kandung nya sendiri yang tiba-tiba kabur di hari pernikahan nya sendiri.
Bagaimana Kisah nya.. hanya di Novel Pengantin Pengganti
Follow Me :
Ig : author.ayuni
Tiktok : author.ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Ucapan Revan cukup membuat Sifa tidak bisa tidur malam ini.
Ia sudah menerima keadaannya seperti sekarang bukan berarti ia juga sudah bisa menerima Revan.
" Yang bener aja, Mas Revan itu calon Kakak Ipar aku awalnya.. Arrgghhhhhh .. " Sifa mengacak-acak rambutnya sendiri.
" Kamu yang akan menjadi masa depan aku " gumam Sifa menirukan ucapan Revan tadi.
Sifa menatap langit-langit kamarnya, ia masih bergelut dengn pikirannya sendiri.
" Pantesan akhir-akhir ini Mas Revan agak berubah, lebih banyak bicara dari biasanya " gumam Sifa lagi.
***
Keesokan harinya Sifa bangun seperti biasa, walaupun sedikit kesiangan, tubuhnya pun sudah kembali sehat seperti semula, sebelum ia keluar kamar, ia pasti sudah selesai mandi dan siap untuk pergi ke kampus.
Jam menunjukkan pukul 7 lebih 10 menit, Sifa bergegas keluar kamar lalu turun ke lantai bawah, terlihat Revan sedang duduk di kursi makan, entah sejak kapan Revan sudah berada disana.
Selama Sifa tinggal bersama Revan, Revan tidak pernah meminta Sifa untuk menyiapkan sarapan atau apapun itu, tapi ia mempersilakan jika Sifa ingin memasak, jika masak lebih banyak mereka bisa makan bersama.
Revan sudah siap dengan kemeja dan celana kerjanya, ia fokus menatap layar laptop dihadapannya, walau pun ia fokus namun kedatangan Sifa ia tahu, mungkin Revan sudah terbiasa dengan aroma dari tubuh Sifa.
" Sudah siap ? Mau ke kampus ? " tanya Revan tanpa menoleh ke arah Sifa.
" Hmm.. Ya " jawab Sifa menyimpan tas dan buku-buku nya di atas meja makan.
" Sarapan dulu, aku sudah buatkan nasi goreng " ucap Revan, ia pun sebenarnya sudah terbiasa masak sendiri hanya sekedar membuat dadar telur, nasi goreng atau mie rebus Revan sudah cukup pandai.
Sifa berjalan untuk mengambil piring di rak yang tidak terlalu jauh dari meja makan.
" Kamu sudah makan Mas ? " tanya Sifa.
" Sudah " jawab Revan singkat.
Sifa lalu duduk tepat di hadapan Revan, ia mengambil nasi goreng dan telur ceplok yang sudah tersaji di hadapannya.
" Oya, aku akan mengikuti pelatihan di luar kota " ucap Revan.
" Hmm.. Berapa lama ? " tanya Sifa sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
" Sekitar 2 minggu " jawab Revan.
" Lalu aku disini ? "
" Ya kamu disini lah, terus mau kemana ? " tanya Revan lagi.
" Sendiri Loh aku " ucap Sifa, tanpa menoleh ke arah Revan.
Revan menyunggingkan senyum.
" Selama aku gak di rumah, kamu boleh tinggal di rumah Mama atau Ibu, terserah kamu " susul Revan.
Sifa langsung mendongkakkan wajahnya.
" Beneran ? " tanya Sifa tidak percaya.
" Hmm.. " Revan hanya mengangguk, wajahnya masih fokus menatap layar laptop nya.
Sifa tersenyum, ia merasa bahagia kali ini, karena ia bisa kembali ke rumah orangtuanya.
Memang sudah lama ia tidak berkunjung ke rumah kedua orangtuanya, karena Revan, ya Revan ia selalu tidak ingin berlama-lama jika Sifa meminta untuk berkunjung ke rumah kedua orangtuanya, bukan tanpa alasan karena mungkin dulu Revan masih merasa kecewa terhadap Sita.
Dan lagi setelah mendengar Sita sudah kembali pulang ke rumah, Revan dan Sifa sudah sangat jarang berkunjung ke rumah kedua orangtuanya.
Revan pun sudah tidak pernah membahas Sita, ia sudah melupakan Sita pernah ada dalam hidupnya, ia sudah bertekad untuk menerima hidupnya sekarang, bersama Sifa. Karena ia pun tidak akan bisa dan tidak akan pernah bisa untuk berpisah dari Sifa, entah perjanjian apa yang ia buat dengan kedua orangtuanya.
Sesekali Revan memperhatikan Sifa yang asyik menikmati sarapannya.
" Kamu bisa masak Mas ? " tanya Sifa membuyarkan lamunan Revan.
" Euh.. Ya... Sedikit.. " jawab Revan terkesiap.
" Hmm.. " Sifa kembali menyuapkan nasi nya yang terakhir, ia langsung beranjak dari duduknya, menyimpan piring dan gelas bekas pakainya ke wastafel, langsung mencucinya.
Tidak lama Sifa berjalan ke meja makan, ia kembali duduk tepat di depan Revan.
Ia merapikan buku lalu, menyoren tas nya.
" Aku berangkat ya " ucap Sifa.
Ia pun melihat Revan sudah merapikan laptop nya.
" Aku juga berangkat " ucap Revan.
Sifa yang memperhatikan Revan sedikit heran karena Revan hanya terlihat membawa laptop.
" Kamu mau pelatihan 2 minggui kan ? " tanya Sifa.
" Ya, memangnya kenapa ? " tanya Revan balik bertanya.
" Kamu gak bawa apa-apa ? " tanya Sifa lagi.
" Tuh.. " Revan menunjuk koper yang ia simpan tidak jauh dari ruang tv.
" Oh " Sifa mengangguk.
" Biasanya nih kalo liat orang-orang suaminya mau pergi yang nyiapin kebutuhannya itu istrinya " ucap Revan terus saja memberikan kode kepada Sifa.
Sifa memutar bola matanya.
" Itu kan orang-orang kan ? " ucap Sifa berjalan menuju nakas ruang tv dimana ia selalu menyimpan kunci motornya disana.
" Mau kemana ? " tanya Revan.
" Ambil kunci motor " jawab Sifa.
" Memangnya motormu sudah dibetulkan ke bengkel ? "
Sifa baru teringat motornya harus di servis.
Sifa kembali menyimpan kunci motornya, ia menghampiri Revan.
" Ya udah aku berangkat " ucap Sifa.
" Aku antar " balas Revan.
Sifa menghentikan langkahnya.
" Mau anter aku ke kampus ? " tanya Sifa kembali heran.
Nah kan... Udah berani mau anter ke kampus loh Sif.. Jangan-jangan emang bener nih, Revan dalam rangka PDKT ke kamu..
Batin Sifa bergejolak.
Sifa terdiam.
" Ayo " ajak Revan.
Sifa terkesiap, ia lalu mengekori Revan keluar rumah.
Pintu rumah sudah terkunci, Sifa tidak langsung masuk kedalam mobil, biasanya ia pergi berdua bersama Revan hanya dalam rangka berpura-pura memainkan peran.
Namun kali ini ia pastikan akan berbeda dari biasanya.
Sifa lalu berjalan menuju pintu pagar, ia membuka pintu pagar, mobil Revan keluar halaman rumah masih menunggu Sifa menutup pintu pagar lalu menguncinya.
Sifa berjalan menuju pintu penumpang.
" Sudah ? " tanya Revan.
" Sudah " jawab Sifa lalu memasukkan kunci rumah kedalam tasnya.
Revan melajukan mobilnya, meninggalkan rumah. Hening dalam perjalanan, tidak ada percakapan disana, Revan pun fokus pada kemudinya sedangkan Sifa masih bergelut dengan pikiran-pikiran nya sendiri.
" Aku harus bagaimana sekarang ? Ini tidak sesuai ekspektasi ku.. Sungguh.. padahal aku menunggu ia melepaskan ku dari pernikahan yang aneh ini, tapi kenapa jadi begini .. " batin terus saja berkecamuk Sifa.
Tinggal Sifa nih, semoga lama-kelamaan akan merasakan apa yang dirasakan oleh Revan, biarkan Revan pendekatan yang lebih dekat dengan Sifa terlebih dahulu...
🌺🌺🌺
Jangan lupa untuk selalu dukung author dengan cara vote like dan komennya ya ❤️