NovelToon NovelToon
Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Syala yaya

Sebuah ikatan pernikahan harus berlandas cinta, kasih sayang dan komitmen untuk terus bersama.

Tapi apalah daya ketika pernikahan itu terjadi hanya karena sebuah bentuk pertanggungjawaban dari kesalahan.

Wisnu Tama, seorang pria berusia 27 tahun yang harus menikahi Almira Putri, gadis polos berusia 22 tahun.

Bagaimana cara Wisnu menakhlukkan hati wanita yang sudah menjadi istrinya itu, agar mau memaafkan kesalahan yang tidak dia sengaja dan mau sama-sama mempertahankan ikatan suci berlandas kebencian menjadi sebuah ikatan cinta? Ikuti yuk kisahnya.

Ini novel kedua saya dan merupakan sequel dari novel pertama.

Selamat membaca ^_^

Follow IG @Syalayaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syala yaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Jalan Menuju Terang

Wisnu hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Ihsan. Dia tahu pria itu pasti terkejut dengan pilihan hidupnya.

Selama lebih dari 28 tahun hidup tanpa arah tujuan hidup, kini dirinya akan mulai mencari kebahagiaan kehidupannya yang sempat hilang karena belenggu di tangan kanan kirinya, menjadi pengawal sang penyelamat hidupnya, tuan Krisna dan Senopati.

Wisnu tidak pernah tertarik pada hal apapun dalam hidupnya.

“Anda mau pulang ke rumah atau langsung ke Hotel?” tanya Ihsan pelan.

“Rumah, aku lelah.”

Ihsan segera mengangguk dan menipiskan bibirnya, menyadari bosnya ini sedang banyak pikiran.

“Kalau anda butuh bantuan, silahkan hubungi saya, Pak Wisnu,” ujar Ihsan seperti memberikan dukungan kepada keputusan Wisnu.

Wisnu segera menoleh dengan sorot mata berbeda, merasa tidak sendiri dalam mengatasi kebingungan kemana arah pertama yang harus dia jalani. Jalan awal untuk membawa kehidupannya yang baru.

“Bisa kau bawa aku kemana jalan pertama bila aku ingin berada dalam jalur yang sama denganmu?” ucap Wisnu hati-hati.

"Apa Anda yakin?" tanya Ihsan mencoba meyakinkan.

"Aku sudah memikirkannya, ini bukan keputusan yang aku buat secara sembarangan," jawab Wisnu menampilkan wajah tenang dengan senyuman tipis ke arah Ihsan yang menyetir sesekali mencuri pandang ke arahnya.

“Baik, saya akan membantu, Pak.”

Wisnu mengangguk merasa jantungnya berdebar, perasaannya berubah menjadi lebih tenang dan merasa tidak lagi sendirian.

“Anda beragama apa, sebelum ini?” tanya Ihsan hati-hati.

“Tidak punya,” jawab Wisnu tersenyum ironi. “Aku tidak mengenal Tuhan,” jawabnya terbata dan menunduk lagi.

“Tidak apa-apa, Pak. Tidak semua orang yang punya agama mengenal Tuhannya, mungkin yang benar-benar kenal dan dekat hanya segelintir saja. Masih ada kesempatan,” jawab Ihsan menguatkan.

“Benarkah ada yang seperti itu?” tanya Wisnu menoleh dengan rasa malu.

“Ada, banyak. Pak Wisnu bukanlah satu-satunya yang baru sadar akan adanya kekuatan juga belas kasih Tuhan saat usia sudah dewasa,” ucap Ihsan lagi.

Wisnu mengangguk merasa tenang, banyak dosa yang telah dia lakukan di masa lalunya, menyakiti orang lain, membunuh mungkin dengan acungan senjatanya. Dan yang terakhir kali dia lakukan, menodai gadis bernama Almira.

Wisnu menunduk dalam, tiba-tiba perasaannya jadi mengaduk. Dia segera mengepalkan jemari tangannya yang masih menyisa rasa nyeri.

“Luka di tangan Pak Wisnu sebagai tanda, masih diberi kesempatan,” tambah Ihsan membuat Wisnu menatap pergelangan tangannya.

Rasa menyerah dan putus asa, membuatnya menyakiti diri sendiri.

Ihsan hanya bisa menghela napas dan membiarkan Wisnu terombang-ambing dengan pikirannya. Menyetir dengan kecepatan sedang dan membawa mobilnya ke area pelataran sebuah masjid besar biasa dirinya berkunjung untuk menunaikan kewajibannya.

“Kita dimana ini?” tanya Wisnu memandang ke sekeliling dari dalam mobil dan membuka sabuk pengaman, menyusul Ihsan turun.

“Ini masjid, Pak. Mari ikuti saya,” ucap Ihsan berhenti berjalan dan membiarkan Wisnu berjalan duluan, Ihsan mengiringinya dengan langkah seirama.

“Ini tempat kalian berdo'a?” tanya Wisnu memandang bangunan megah di depannya itu dan terus berjalan.

“Karena ini belum memasuki waktu shalat jadi belum ramai, Pak,” ucap Ihsan segera diberi anggukan Wisnu.

Ihsan menyuruh Wisnu menunggu di area luar masjid, menatap kagum suasana tenang disana.

Wisnu hanya bisa mengangguk dan membiarkan Ihsan pergi menemui pengurus masjid. Dirinya tidak mengerti sama sekali, bagaimana dirinya nantinya bisa memasuki hal baru ini.

Tidak menunggu lama, Ihsan membawa empat orang berpakaian koko memakai sarung berjalan ke arahnya. Wisnu segera mendekat dan bersalaman secara bergantian.

Tampak senyuman tersungging dari bibir dan raut wajah mereka, sikap yang ramah mereka tunjukkan.

“Mari, silahkan,” ucap salah satunya mempersilahkan duduk di karpet yang terhampar di emperan masjid.

“Jadi anda ini Pak Wisnu?” tanya pria berusia lebih tua diantara pria yang datang bersama Ihsan memandang Wisnu.

“Benar,” jawab Wisnu dengan suara tenangnya.

“Kenalkan, nama saya Hasyim.”

“Wisnu,” balas Wisnu membalas senyum.

“Nak Ihsan bilang, anda berniat untuk menjadi muslim?” tanya pria yang yang sering di sapa uztad Hasyim itu dengan nada suara tenang.

“Saya ingin belajar agama Islam, mengenali dan mendalaminya. Maaf saya tidak tahu bagaimana caranya dan kemana saya harus memulainya,” ucap Wisnu dengan nada serius tapi sikapnya tetap tenang.

“Alhamdulillah,” sahut semua yang hadir di sana.

“Niatan anda sudah sangat baik, semoga Allah memberi jalan kemudahan,” tambah Ustad Hasyim dengan menganguk senang.

“Mari silahkan ke dalam. Saya akan membantu anda untuk mensucikan diri dulu dengan berwudzu,” ucapnya seraya bangkit dari duduknya diiringi Wisnu dan Ihsan.

Wisnu memandang Ihsan dengan tatapan bingung, tapi sekali lagi Ihsan memberikan anggukan dukungan moril bos baiknya itu.

Hanya membutuhkan beberapa menit, Wisnu sudah siap dengan peci di kepalanya, memakai sarung pemberian dari masjid. Prosesi sederhana namun khitmad dan khuyuk.

Bahkan kala Wisnu berada di situasi seperti sekarang ini, dirinya diliputi kedamaian, ketenangan batin. Merasa tidak sendiri dan kuat.

Di depan para saksi Wisnu mengucap kalimat syahadat dibantu Ustad Hasyim, dengan mata berkaca-kaca.

*

Ketika kita tersudut, ingat selalu Tuhanmu

Ketika kau tersakiti, ingat selalu Tuhanmu

Ketika kau merasa sendiri dan terzolimi, ingat selalu Tuhanmu.

Dialah Pemilikmu.

Kekuatan terbesar dalam hidup berasal dari hatimu, pikiranmu juga do'amu yang menyatu saat kau menguntai kata pujian dan kalimat mengadu saat sujud kepada Tuhanmu.

Bersambung …

Hai semua, berikan dukunganmu untuk Wisnu ya agar bisa berbahagia dalam kehidupannya.

Berikan like komen juga vote seikhlasnya.

Baca juga kisah cinta muslim sambil belajar

karya kak CindyElvira

Salam segalanya dariku ~Syala Yaya🌹🌹

Terimakasih.

1
Hotlin Situmorang
lanjutkan ceritanya
Siti Nina
oke
Hotlin Situmorang
Wisnu memang bertanggung jawab
Luwis Ida yasa
tidak bosen rasanya q BCA novel ini apa lagi yang bab ini hehehe
Dasem Ida Faizah
lucu bgt
Dasem Ida Faizah
lucu bgt
Suhartik Hartik
lucu ya kisah Alan dan yashna... dibikin kisah dong
Suhartik Hartik
author nya top banget bikin obrolan ringan tapi excellent banget
Nnuraeni Eni
Keren .keren ..kereeeeen... 👏👏
Nnuraeni Eni
Setuju tuh 😉
Nnuraeni Eni
Uuuuh So Sweet 😘😘
Nnuraeni Eni
Aku udh baca ini 2x lho kak , tp ga bosen buat baca lg .. Kisahnya itu yg bikin pembaca jd senyum² sendiri ... Kena dihati 🥰🥰
Nnuraeni Eni: /Kiss//Kiss//Kiss//Wilt/
total 2 replies
SETIA RINI
luar biasa
YK
karya luar biasa
YK
ck, lupa ya pernah nyium Isna???
YK: aduh, salah komen... 😌
total 1 replies
YK
aamiin...
YK
biar si johan kebakaran bulu ketek...
YK
mobilmu otw, ihsan...
YK
jadi curigation, nih, sama Bagus. jangan2 Imran diracun sama dia. biar wisnu balik sama depe dan almira dia jual...
YK
bagas ini kyknya dominan banget. bukankah dia yg minta putus lalu ngotot balikan lagi... mencla mencle...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!