"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
"Anda tunggu di sini, saya akan mencari siput untuk anda." Naina berdiri namun langkahnya terhenti.
"Siput? Untuk apa? Kau menyuruhku memakan siput liar mentah-mentah? Apa kau gila? Kau sebenarnya manusia atau bukan?" Teriak Ryan salah paham.
Naina tertawa kecil dengan ocehan Ryan, ia berbalik dan memiringkan kepalanya menatap Ryan. "Begitulah,"
"Kau...." Mata Ryan membulat dan kesal.
"Tunggu sebentar," Naina berjalan dan meninggalkan Ryan yang masih kesal.
Selang beberapa menit, Naina kembali dengan membawa dua siput berukuran cukup besar. Terlihat jelas wajah Ryan yang pucat dan sedikit mual, nampaknya dia membayangkan memakan siput mentah-mentah.
Cairan merah masih mengalir di kaki kirinya, Naina mengusapnya kembali dengan air dan kain bersih yang sengaja ia robek dari pakaiannya.
Taakkkss...
Ujung cangkang siput terpotong, mengeluarkan cairan bening, cairan itu Naina teteskan pada kaki Ryan yang cukup parah. Ryan menjerit, dan Naina menghentikan tetesannya.
Mata Naina tertuju pada raut wajah Ryan, seketika Ryan terdiam, rasanya dingin dan tidak perih. "Kenapa tidak berteriak lagi?" Sindir Naina.
Ryan memalingkan wajahnya, ia malu karena bersikap kekanak-kanakan. Ryan kembali menatap wajah Naina yang meneteskan cairan siput serta meniup betisnya yang luka.
Naina membuang siput pertamanya, ia kembali memotong ujung siput dan mengoleskannya pada luka di lengan dan badan Ryan. Setelah itu Naina kembali membalut luka betis itu dengan kain bersih miliknya.
"Istirahatlah dulu, aku akan buatkan sayur ikan gabus buatmu."
Naina pergi dan mencari ikan gabus di sungai. Dia tahu, sebetulnya ikan itu susah di dapat, tapi mau bagaimana lagi, dia tak punya uang untuk membeli ikan.
"Neng, kamu sedang apa?" Teriak seseorang memanggil Naina.
"Cari ikan, Kang."
Lelaki itu terdiam, dan ia menyodorkan ember hitamnya kepada Naina. "Ambillah,"
Naina melihat ember itu terisi beberapa jenis ikan, "Akang dapat dari mana?"
"Mancing."
"Ada ikan gabus gak?" Tanya Naina.
"Hmm... Kayaknya tadi dapat satu, tapi kecil deh."
Lelaki itu kemudian memberikan ikan gabus yang masih segar untuk Naina. Raut wajahnya berseri-seri, akhirnya kebaikan yang ia berikan di balas langsung oleh Sang Pencipta.
"Hatur nuhun, ya Kang."
"Cuma itu saja?"
"Iya, Kang. Ini sudah cukup. Ini gratis, kan, Kang?" Naina memastikan.
"Iya, gratis buat kamu."
Naina kembali tersenyum, membuat pemuda di depannya ikut tersenyum pula. Damar, pria yang selalu menolong dan menjaga Naina dari kejauhan. Damar tahu, hatinya telah terpatri untuk gadis cantik di depannya. Namun ia telah di jodohkan dengan anak kepala Desa.
Selama ini Damar menjaga jarak agar semua tak menjadi salah paham. Terlebih calon istrinya memiliki watak yang kurang baik. Damar tak ingin cintanya hancur gara-gara dirinya sendiri. Biarlah cinta itu tetap ada di orang lain, dan biarkan dirinya hidup bersama bunga lain.
Naina pamit pulang, Damar masih melihat langkah Naina yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandangan. Damar kembali tersenyum dan bergegas pergi.
Gubuk yang sempit dan kecil itu memang tak layak huni, namun Naina tak punya tempat tinggal lagi. Setelah Kakeknya meninggal, warisan yang ia miliki beserta rumah peninggalan orangtuanya di rampas paksa oleh Paman dari pihak Ayah.
Ia hanya di sisakan gubuk yang biasa untuk Kakek beristirahat sepulang berkebun dan mencari kayu. Sebetulnya gubuk ini bukanlah rumah, tapi Naina tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan warga setempat pun tak bisa membantunya saat kejadian pengusiran itu. Semuanya hanya menyaksikan tanpa ada pertolongan. Termasuk Damar, ia tak bisa berbuat apa-apa.
Paman Naina termasuk orang hebat di Desanya, ia di segani banyak orang, karena ia merupakan orang yang dituakan di kampung tersebut. Bahkan sekelas kepala Desa sangat menghormatinya. Paman Naina memiliki ajian dan ilmu yang di dapatinya dari kakek secara turun temurun. Namun ilmu itu di salah gunakan oleh Pamannya.
Saat ini Naina tengah memasak ikan gabus, katanya ikan gabus bagus untuk penyembuhan luka. Sayur yang biasa di sebut "angeun herang gunung," ini memiliki rasa segar dan gurih.
"Aku harus manggil apa sama dia? Akang? Nanti kalo dia risih? Ah, udahlah, bapak aja." Gumam Naina.
"Pak, ayo bangun dulu, kita makan malam dulu." Naina terdiam sejenak, dia berpikir penggunaan kata itu tidak asing.
"Astaga, itu 'kan kata-kata yang biasa di ucapkan suami istri." Naina menepuk mulutnya kesal.
"Hei,, bangun." Naina menggoyangkan tubuh pria di depannya yang terbaring.
"Gak sopan." Gerutu Ryan kesal.
"Aaauuu... Badanku pegal. Kau meracuni ku ya?" Bentak Ryan kesal karena badannya terasa berat untuk digerakkan.
"Itu efek samping dari cairan siput. Besok juga udah sembuh kok, gak pegal-pegal lagi."
Naina membatu Ryan untuk bangun dan bersandar pada dipan. "Anda bisa makan sendiri?" Tanya Naina.
"Kau lihat? Tangan dan badanku susah untuk di gerakkan gara-gara kamu!" Bentak Ryan tak suka.
"Kenapa jadi salah aku? Dia sendiri yang salah, terjun dari atas gunung." Naina mengomel namun dapat di dengar jelas oleh Ryan.
"Aku tidak terjun dari atas gunung, kau pikir aku bodoh, mau bunuh diri tak jelas? Aku kecelakaan, karena sepeda yang aku tunggangi tergelincir."
"Mana ada, aku gak lihat ada sepeda di sana." Naina masih mengomel dan itu membuat Ryan kesal.
"Kau,,, dasar menyebalkan. Kenapa aku harus bertemu manusia seperti mu!"
"Ya, sudah sana pergi dari sini." Bentak Naina kesal.
Mata Ryan menatap tajam bola mata Naina yang bening. Rasanya dia kesal dan ingin mencekik gadis di depannya. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Harga dirinya terlalu besar untuk dia bergelut dengan seorang wanita.
Ryan mencoba berdiri dan hendak pergi meninggalkan gubuk itu, namun kakinya masih pegal dan perih. Ryan terkulai menahan sakit.
Naina membantu Ryan untuk berdiri, namun Ryan menepiskan tangan gadis itu dengan kasar. Ryan kembali menatap wajah Naina dengan tajam.
Perlahan Ryan mulai menyeret kakinya untuk berjalan, namun semua itu sia-sia, malah membuat lukanya kembali terbuka dan berdarah.
"Aku minta maaf, tak seharusnya aku berbuat kasar. Duduklah, biar aku obati anda lagi." Ucap Naina akhirnya mengalah.
Naina menuntun Ryan untuk duduk di kursi kayu yang sudah usang, dan menyuruhnya meletakan kaki itu di atas meja kecil. Naina kembali membawa air bersih dan menyobek kain miliknya yang kemarin di pakai untuk membalut luka Ryan.
Baju pemberian kakeknya itu memang terbuat dari kain yang lembut namun seratnya seperti kain kasa. Kain itu aman karena tidak meninggalkan bulu-bulu kecil yang keluar dari kain, seperti kain katun.
Naina kembali, dan membasuh luka Ryan dengan sangat hati-hati, dan kembali meneteskan cairan siput itu pada luka kaki pria itu.
Ryan menatap Naina, dia merasa bersalah karena telah membentak gadis ini, namun Ryan enggan untuk mengatakan maaf. Harga dirinya tak memberikan izin untuk berkata demikian.
"Tunggu, aku bawakan makan untuk anda."
Tak cukup lama, Naina datang kembali dan membawa semangkuk nasi yang telah terisi lauk pauk. Naina meletakan gelas di meja, lalu ia mulai menyuapi Ryan.
Matanya kembali bertatapan, hati Naina takut bila menatap sorot mata yang tajam, yang selalu Ryan lakukan padanya.
"Makanlah dulu, anda harus kembali pulih. Maaf atas sikapku tadi."
Ryan bergeming, ia hanya menatap tajam ke arah gadis di depannya. Wajahnya yang polos itu merasa ketakutan dengan tatapan Ryan. Akhirnya ia pun mengalah dan memakan suapan yang Naina berikan. Tak ada percakapan lagi diantara mereka, hening.
Setelah selesai, Naina kembali membereskan bekas makan Ryan, ia ke belakang dan mencuci peralatan makan yang telah di pakainya. Naina terdiam, ia berpikir sejenak.
"Uang ku sudah habis, sedangkan aku harus memberi makan orang lain. Apakah aku salah telah menolongnya? Duh, Gusti, tolong beri hamba kemudahan." Gumam Naina.
Naina kembali ke dalam gubuknya, ia melihat sangku yang hanya tersisa nasi sekepal pun tidak. Lalu ia melihat ember tak ada lagi beras di dalamnya.
"Besok aku ke rumah Ibu Kades, siapa tau ada pekerjaan untukku."
Naina makan nasi sisa itu tanpa lauk. Jamur yang ia petik tadi pagi, tak bisa ia masak karena kehabisan bumbu. Akhirnya Naina menyimpan jamur itu di dalam kendi yang ada di luar gubuknya. Malam ini Naina pasrah.
Naina berjalan menghampiri Ryan, ia duduk di kursi bersebelahan dengan Ryan. Matanya tak mampu bertatapan, ia menundukkan kepalanya.
"Kalau boleh tahu, nama anda siapa?"
Tak ada suara, Naina kembali terdiam, karena pria di depannya tak memberikan jawaban.
Keheningan itu tercipta, rasanya sesak, juga dingin. Naina bangkit, ia tak ingin membuat suasana semakin canggung.
"Mari, aku bantu anda kembali ke tempat tidur." Naina mengulurkan tangannya, namun Ryan malah menatapnya dengan tajam.
Ryan meraih tangan Naina yang dingin, dan berjalan tertatih-tatih dengan bantuan Naina. Ryan baringan tubuhnya, dan kembali menatap Naina dengan kaku.
"Istirahatlah, semoga esok lekas sembuh."
Saat Naina berjalan sedikit menjauh, "Ryan, namaku Ryan."
Naina berbalik dan tersenyum. "Baik, selamat tidur Pak Ryan."
Ryan merasa sakit di dadanya, gadis itu seperti sengaja membuat jarak yang nyata untuknya. Jika di pikir-pikir lagi, Ryan memang kurang ajar, tapi ia tak bisa berkata maaf atau pun terimakasih pada gadis itu. Ryan pengecut, dan menyebalkan. Begitulah Ryan mengutuk dirinya sendiri.