Di usianya yang masih dua puluh lima tahun, Alice telah menjadi janda. Suaminya meninggal di sebuah kecelakaan dengan wanita lain dan mewariskan banyak hutang gelap yang baru ia ketahui keberadaanya setelah kematian suaminya.
Usahanya terancam bangkrut dan seluruh propertinya terancam hilang sebagai jaminan hutang. Dia tak memiliki apa pun lagi dalam hidupnya.
Dengan penuh tekad, dia memutuskan untuk bertindak gila. Dia akan menawarkan diri menjadi wanita simpanan. Tidak masalah siapa pun yang akan menjadi lelakinya, asalkan ia kaya dan mampu membayarnya dengan mahal.
Jika ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan apa yang masih Tuhan sisakan untuknya, ia tak akan mundur meski moralnya terancam akan hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Zulfya Fauziyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LIMA BELAS
Alice kembali ke rumah Anson nyaris tengah malam. Obrolanya dengan Daniel berkembang luas dan menghabiskan banyak waktu. Daniel bahkan menawarkan beberapa sampel desain cluster yang ia miliki dari salah satu perangkat lunaknya sebagai ide yang akan dipilih Alice untuk lahanya. Jika mau diakui, Daniel adalah teman diskusi yang cukup hebat. Terbuka mendengarkan saran dan ahli memberikan solusi.
Seandainya saja hubungan mereka masih sebaik dulu, Alice pasti tergoda untuk menjadikan hubungan mereka lebih serius. Hanya saja setelah kehadiran Anson, selera Alice menjadi menguap. Semua fokus yang ia miliki hanya ia tujukan untuk Anson.
Alice hanya disambut oleh seorang pelayan laki-laki yang berjaga. Semua orang sepertinya telah tertidur lelap. Beberapa lampu ruangan rumah tampak padam. Hanya beberapa ruangan saja yang dibiarkan menyala terang.
Alice berjalan melalui salah satu ruangan yang masih terang. Dia terkejut, mendengar suara gesekan kertas saling beradu dan sesekali suara ketikan keyboard dari ruangan tersebut. Sebuah musik jazz ikut mengalun indah sebagai suara latar. Alice berhenti, mengetuk pintu dua kali dan membukanya dengan hati-hati.
Terlihat Anson tengah duduk dengan setumpuk laporan di depan komputer. Dibelakangnya tampak rak yang berisi buku-buku dan ordner berjejer rapi. Sepertinya ini adalah ruang kerja Anson.
"Masih sibuk selarut ini?" sapa Alice ramah. Bukankah seharusnya Anson sedikit memikirkan kesehatanya mengingat dia baru saja keluar dari rumah sakit?
"Ya. Kau baru pulang?" tanya Anson menatap tak senang.
"Aku membahas banyak hal dengan rekanku." Alice berjalan perlahan menuju kursi Anson.
"Daniel Stranger memang orang yang pintar menciptakan obrolan," balas Anson sinis.
"Kau mengetahui aku makan malam denganya?" Alice bertanya tak percaya.
"Kau memata-mataiku, Anson? Itukah yang kau lakukan? Kau tak mempercayaiku, bukan?" Nada Alice semakin meninggi.
"Aku tak peduli dengan urusanmu, Alice. Sudah ku katakan tinggal dirumahku bukan berarti kau terikat mutlak padaku. Tapi bisakah kau sedikit saja menjaga moralmu? Kimberly sudah mulai dekat denganmu dan kau juga sedang mengandung anakku, tolong sedikit saja batasi dirimu. Carilah waktu yang lebih pantas untukmu melakukan permainan kotormu. Jangan terlalu terang-terangan. Aku tak ingin putriku terseret moralmu yang kacau." Anson berdiri berkacak pinggang. Kedua tanganya menyilang, menunjukkan dominasinya.
"Anson. Kau tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan sama sekali dan langsung menuduhku seolah-olah aku adalah pezina?" Alice berteriak marah. Dia menunjuk dada Anson tak terima.
"Jika aku jadi dirimu, aku pasti akan bermain lebih rapi!" seru Anson tak mau kalah.
Alice berlari meninggalkan Anson, berteriak frustasi. Kemarahan, kesedihan dan kekecewaan bercampur baur menjadi satu. Dia menenggelamkan dirinya ke dalam kamar yang saat ini terasa semakin menyusut dan menyesakkan. Ruangan yang luas ini kini seolah ikut menekan mentalnya secara kejam.
Perlahan air mata mengalir membasahi sebagian wajahnya. Isakan pilu terdengar sangat menyedihkan keluar dari tenggorokanya. Dadanya bergetar menahan semua emosinya yang telah kacau balau.
Apakah setipis itu kepercayaan Anson kepadanya? Bahkan dengan keadaanya yang tanpa memori, Alice masih saja dinilai serendah itu? Bagaimana cara berfikir lelaki itu sebenarnya? Kenapa dari semua tindakanya tak ada yang benar dimata Anson.
Alice berbaring cukup lama. Dia menumpahkan semua emosinya yang tersisa. Sedikit demi sedikit perasaanya mulai membaik dan fikiranya berjalan rasional kembali.
Hubungan mereka sedang rentan. Hal sekecil apapun mampu menjadi pemicu kesalah pahaman. Dalam sebuah hubungan, jika semua pihak saling besikap menuding dan menyalahkan, tidak akan menemui titik akhir.
Alice mengatur nafasnya dengan perlahan, seperti yang telah diajarkan oleh instruktur yoganya. Dia harus memperbaiki situasi ini. Dia akan mencoba berbicara pada Anson setelah emosi lelaki itu sedikit redam.
Alice mengganti baju dengan baju tidur berbahan katun. Dia kembali merebahkan diri ke ranjang, dan memasang telinga menunggu Anson memasuki kamar di seberang.
Alice merasa telah menunggu lelaki itu cukup lama. Kelopak matanya mulai tak kuat dan sesekali terpejam. Saat kesadaranya semakin menipis, Alice berhasil mendengar langkah Anson mendekat. Lelaki itu membuka kamar miliknya yang tak jauh dari Alice dan menutup pintu dengan perlahan. Alice segera berjengit, berjalan perlahan meninggalkan kamar.
"Huh .... " Alice tersenyum lega menyadari pintu kamar Anson tak terkuci. Dia segera membukanya perlahan dan memasukinya.
Lampu telah dipadamkan, hanya menyisakan sebuah lampu kecil di sisi ranjang dengan sinar yang temaram.
"Alice" Anson tampak terkejut. Dia teduduk disisi ranjang tanpa penutup mata. Bajunya telah berganti dengan piyama polos berwarna silver.
"Aku ingin menjelaskan sesuatu" katanya serak. Alice mengambil tempat duduk di sisi Anson.
"Daniel adalah temanku, dialah yang menjual lahan kepadaku dengan harga yang cukup terjangkau. Aku makan malam denganya sebagai bentuk terimakasihku. Dia juga yang berjanji mencarikan investor padaku dan memberiku contoh desain cluster untuk kukembangkan. Hubungan kami hanya seputar bisnis, Anson," Jelas Alice sabar. Dia memegang lengan Anson meminta kepercayaan.
"Jadi, dia adalah lelaki kaya yang bisa kau dekati, begitu maksudmu?" Anson berkata tajam.
Kenapa semua penjelasan yang ia berikan selalu terbentur oleh kekeras kepalaan Anson?
"Kau tak perlu menjilat lelaki lain, Alice. Kau tahu aku mampu membantumu. Katakan saja berapa yang kau butuhkan dan aku akan mencairkanya untukmu!"
Bagi Anson, semuanya masih saja tentang uang.
"Aku tidak bisa Anson!" tolak Alice. Dia sudah terlalu banyak menerima uang Anson sebelumnya.
"Jika hubungan kita memang benar-benar serius, cobalah terima tawaranku. Bukankah jika kita menikah nanti semua milikku akan menjadi milikmu juga?" Nada Anson semakin menajam.
Alice menyugar rambutnya dengan putus asa. Lelaki adalah makhluk yang sulit untuk kau hadapi.
"Apakah kau mencintaiku Alice?"
Sebuah pertanyaan yang mampu membuat Alice membeku. Matanya mengerjap beberapa kali menahan emosi yang menggumpal ingin keluar. Apakah Anson berniat memperoloknya dengan emosi yang ia miliki? Apakah ia sengaja membahas cinta hanya untuk menyakiti Alice?
Lelaki yang tak mengenal cinta kini tengah memancing perasaanya dengan kejam.
"Kau tak bisa menjawabnya? Kupikir hubungan kita sebelumnya memang dangkal, Alice." Anson terkekeh geli, menertawakan dirinya sendiri. Memangnya dia pikir wanita sesempurna Alice mampu mencintai dan menerimanya?
"Pergilah ke kamarmu, Alice. Tidurlah kembali," pinta Anson dengan sinis.
Lelaki itu berdiri membelakangi Alice, menyesuaikan posisi bantalnya diujung ranjang, bersiap tertidur kembali.
"Aku mencintaimu, Anson," kata Alice lirih. Air matanya bergulir perlahan.
Alice menyerah dengan pengakuanya. Emosi adalah kelemahan seseorang. Kini Anson telah mengetahui emosi terdalamnya.
Mungkin setelah ini Anson akan semakin bersikap semena-mena padanya, hanya untuk memanfaatkan perasaan cintanya. Mungkin juga Anson akan menertawakan kerentanan yang ia miliki, karena telah jatuh dalam pesona menakutkan milik lelaki kejam sepertinya. Alice tak lagi peduli. Biar saja akan serendah apa ia dimata Anson, perasaan yang ia miliki terlalu besar untuk ia sembunyikan seorang diri. Katakanlah ia budak cinta yang mengenaskan.
Anson berbalik terkejut, menatap kesungguhan dari kata-kata yang Alice sampaikan. Dadanya bergemuruh meneriakkan kemenangan. Merayakan keajaiban yang mampu dihadirkan oleh wanita itu.
"Oh, Alice," kata Anson lirih mengusap setiap tetes air mata yang Alice tumpahkan. Ciuman Anson terasa memabukkan dirinya, membawa Alice pada keindahan baru.
Alice bahagia menyambut kelembutan yang Anson tawarkan. Dia tersenyum penuh makna.
Jari-jari Anson mengurai rambut bergelombang Alice yang selembut sutera. Dia mengagumi keindahan helaian-helaian berwarna merah kecokelatan yang mengikal di jemarinya.
"Menikahlah denganku, Alice," pinta Anson memeluk wanitanya.
Alice terdiam lama. Seandainya saja lamaran itu terjadi dengan keadaan yang berbeda, Alice tak akan ragu untuk menerimanya.
"Tunggulah ingatanmu kembali, Anson. Aku tak ingin dianggap memanfaatkan kondisimu," ucap Alice meminta pengertian.
"Kau wanita yang sulit, Alice. Bagaimana jika ingatanku tak akan pernah kembali?" Anson kembali mengulangi pertanyaan yang pernah ia lontarkan.
"Aku percaya ingatanmu pasti akan kembali," Jawab Alice masih sama.
Anson terkekeh kecil. Dia memeluk semakin erat wanitanya. Ya Tuhan, hidupnya pasti akan sempurna seandainya ia bisa memiliki wanita ini sepanjang hidupnya.
...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Kok ga pernah up cerita lagi di NT??