I Bagus Manuaba, seorang duda yang memiliki 2 orang anak, laki-laki dan perempuan. Ia juga salah satu seorang pembisnis terkenal di Bali.
Bagus seorang Papa yang sangat menyayangi kedua anak nya.
Suatu hari ia ingin membeli ponsel di Counter milik temannya, disana ia bertemu dengan gadis cantik yang bernama Dewi. Ya, Dewi ialah pegawai di Counter itu.
Sikap polos dan rasa tanggung jawab Dewi, membuat Bagus jatuh cinta, dan perlahan cinta itu tumbuh semakin besar. Ia pun bertekad untuk bisa menikahinya meski usia mereka terpaut jauh.
Berbagai cara ia lakukan sampai akhirnya Dewi berhasil ia nikahi.
Rasa trauma atas kegagalan nya di masa lalu, membuat Bagus bersikap sangat posesif dan pencemburu berat. Ia bahkan membatasi pertemanan Dewi, dan ia juga melarang Dewi pergi kemanapun.
Apakah Dewi bisa bertahan dengan sikap Bagus yang over posesif? penasaran bagaimana kisah mereka? Yuk langsung simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Ws, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah Sakit
"Sayang... Kamu ada disini?" Bagus bertanya sembari memegang tangan Dewi.
"Lepaskan saya!" Dewi mengibaskan tangannya.
"Sayang, kamu bersama siapa disini?" Ia meraih tangan Dewi kembali,namun Dewi menjauhkan tangannya.
"Saya disini bersama siapa itu bukan urusan anda, berhenti memanggil sayang!" ucap Dewi ketus. Sebenarnya ada rasa senang dihatinya, ia bisa bertemu dengan Bagus, mengingat selama satu minggu ini mereka tidak pernah bertemu.Namun ia juga merasa sakit hati,karena merasa dibohongi.
"Sudah kubilang jangan katakan saya, anda lagi!" Bagus merasa kesal.
"Ada apa denganmu? Apa kamu marah karena satu minggu ini aku tidak datang ke Counter?" tanyanya.
"Aku minta maaf sayang, aku sangat sibuk sekali, hingga aku tak sempat berkunjung ketempatmu, maafkan aku karena selama satu minggu ini, aku tak mengirimu pesan." Ucap Bagus panjang lebar.
Tiba-tiba Ivan datang."Ayo Wi!" ajaknya.
"Ehh, Bli Gus disini juga?" tanya Ivan pura-pura baru melihat Bagus.
"Iya." Jawabnya singkat, pandangannya masih tertuju pada Dewi seolah menginginkan jawaban.
"Anda salah paham Bli, saya tidak marah karena alasan yang anda katakan tadi."
"Satu hal lagi, tolong anda menjauh dari hidup saya!" tegas Dewi. Kemudian ia mengajak Ivan pulang.
"Ayo Van."
"Saya duluan Bli," pamit Ivan, ia pun melajukan motornya.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Bagus dalam hatinya. Ia pun kembali masuk kedalam coffe shop, ia menghampiri kedua anaknya, ia segera mengajak kedua anaknya pulang.
"Aska, Shierin ayo kita pulang!" ajak Bagus pada kedua anaknya.
"Terimakasih sudah menjaga anak-anak saya Bu, kami permisi dulu," ucap Bagus berpamitan pada Mita.
"Sama-sama Pak, silahkan," jawab Mita sopan.
"Bye.. Bu Mita." Aska dan Shierin melambaikan tangannya.
"Bye.."
Tak lama kemudian, pesanan Mita pun datang, ia membayarnya dan segera pulang.
Bagus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, selama dalam perjalanan ia kembali mengingat akan sikap Dewi tadi, ia menepikan mobilnya, ia hendak menelpon Dewi,"Ahh siall.. Ponselku mati, mungkin batrenya habis." Gumamnya. Ia menoleh kebelakang, dilihatnya kedua anaknya sudah tertidur di kursi belakang,"Kalian pasti capek ya anak - anak Papa." Ia melajukan mobilnya kembali.1 jam kemudian mereka sampai dirumah.Ia kemudian membangunkan kedua anaknya.
"Aska, Shierin ayo bangun Nak!" Bagus membelai kepala kedua anakya.Aska dan Shierin mengerjapkan matanya.
"Kita sudah sampai ya Pa?" tanya Aska.
"Iya, ayo turunlah, setelah itu langsung mandi, dan segera turun untuk makan malam!" perintah Bagus.
"Iya Pa." Mereka berdua turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah, dengan langkah malas mereka berjalan menuju kamarnya.Kemudian disusul Bagus yang baru turun dari mobilnya, ia pun segera masuk kedalam rumah.Ia menjatuhkan tubuhnya disofa ruang tamu sejenak, lalu kemudian ia bangkit dan segera begegas kekamarnya.
Sementara di tempat lain.
Dewi dan Ivan juga sudah sampai di Mes. Dewi langsung masuk kedalam kamarnya.Ia menjatuhkan tubuhnya diatas kasur, ia menatap langit-langit kamarnya. Ia memijit keningnya,"Kenapa aku bisa masuk dalam situasi seperti ini, ah dari pada pusing lebih baik aku mandi saja, siapa tau habis mandi otaknya jadi dingin, hehe." Gumamnya. Ia mengambil handuknya dan segera pergi ke kamar mandi. 20 menit ia baru selesai mandi, ia sengaja berlama-lama mandinya, ia merasa hawanya sangat gerah, entah hawanya yang panas atau memang hatinya yang panas.hehehe.
"Wi.. Ayo kedapur, kita makan malam bersama!" ajak Sri yang berada di depan pintu kamar Dewi.
"Iya mbak, sebentar aku ganti baju dulu." Jawab Dewi dari dalam kamar.2 Menit ia sudah rapi, ia pun segera keluar kamar.
"Ayo mbak," Dewi menggandeng tangan Sri.
Di dapur sudah ada Nani dan Ivan, Nani merasa tidak suka melihat Dewi.
"Hai mbak Nani," Dewi memberanikan diri menyapa Nani.
"Eh, ada wanita penggoda disini!" Nani tersenyum sinis. Dewi menghelakan nafasnya, ia sungguh merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
"Kamu itu salah paham Nan, Dewi tidak pernah menggoda Tuan Jerry, lagian juga kamu tidak ada hubungan apa - apa dengan Tuan Jerry, kenapa kamu jadi marah seperti ini!" ucap Sri.
"Lihatlah, pintar sekali dia mempengaruhi orang, sampai-sampai mbak Sri membelanya," ucap Nani menyunggingkan senyum sinisnya.
"Tuan Jerry menyapa saya, apa itu saya yang salah ? Saya juga tidak meminta disapa olehnya!" jawab Dewi merasa sesak.
"Saya permisi." Dewi pergi ke kamarnya, ia tidak jadi ikut makan bersama teman - temannya itu.
"Sikapmu itu keterlaluan Nan!" ucap Sri.
"Mbak Sri sekarang membela gadis murahan itu, dia bahkan baru bekerja disini selama satu tahun, sedangkan kita sudah dari dulu berteman mbak!" ucap Nani kesal.
"Sudahlah, kalian jangan ribut lagi, ayo kita makan!" sela Ivan. Ia tak ingin melihat para mbak-mbak itu bertengkar.
Mereka bertiga makan bersama, tidak ada yang bersuara sama sekali, hanya suara gesekan sendok yang terdengar, selesai makan,Nani langsung pergi ke kamarnya, hingga hanya ada Ivan dan Sri yang tertinggal di dapur.
"Aku masuk dulu ya mbak," pamit Ivan.
"Tunggu Van, tadi kamu jadi mengantar Dewi mencari Kost an?" tanya Sri.
"Iya mbak jadi, Dewi bahkan sudah memutuskan untuk segera pindah kesana, tapi aku tidak yakin kalau Ko David akan mengizinkannya." ucap Ivan.
"Memangnya sudah dapat Kost an nya ? di jalan mana ?" tanya Sri.
"Sudah, di Jalan Buluh Indah mbak, 400 ribu perbulannya, itu pun hanya kamar kosongan, dapur kecil, dan kamar mandi dalam." Jelas Ivan.
"Semoga saja Tuan David tidak mengizinkan dia tinggal di Kost."
"Kasian dia, apa cukup gajinya nanti, bukankah dia masih punya cicilan motor ? ia juga rutin mengirim uangnya untuk Bapak nya dikampung kan ," tutur Sri.
"Kita lihat besok saja mbak, aku kedalam dulu ya mbak," pamit Ivan.
"Iya Van."
Dikamar Dewi.
Ia sedang berbicara dengan Ayahnya melalui panggilan telpon.
"Hallo Yah."
"Hallo Nak." ucap Ayah dengan suara yang terdengar berat.
"Ayah kenapa suaranya seperti itu ? Apa Ayah sakit ?" Dewi merasa khawatir mendengar suara Ayahnya.
"Iya Nak, Ayah sedang tidak enak badan, apa kamu bisa pulang dulu?" pinta Ayah.
"Dewi pasti pulang Ayah, nanti Dewi minta izin sama Bos dulu."
"Ayah sakit apa ? Apa sudah kedokter?" tanya Dewi yang khawatir akan kondisi Ayahnya.
"Ayah tidak apa - apa Nak, kalau besok jadi pulang, kamu kabari Ayah ya Nak!" ucap Ayah.
"Iya, Ayah istirahat, besok Dewi pasti pulang, Selamat malam Ayah."
"Iya Nak, selamat malam."
Panggilan berakhir. Baru saja Dewi ingin meletakkan ponselnya, tiba-tiba ponselnya berdering lagi, ia mengangkat panggilan itu dengan malas.
"Hallo."
"Dek, Mas kesana sekarang ya, Adek tunggu di depan!" ucap Ricko.
"Jangan, besok saja uang motornya tak kasih ke Mas."
"Mas Rindu Dek, bukan hanya mau ambil uang motor saja Dek!" ucap Ricko.
"Alah sudahlah Mas, aku mau istirahat."
"Tunggu dulu, kalau tidak mau bertemu, kita video call saja ya sekarang, Mas mau lihat wajahnya Adek." bujuk Ricko.
"Tidak mau, aku capek mau istrirahat, bye .." Dewi mematikan panggilannya.
"Kasihan Ayah lagi sakit, tetapi tidak ada yang merawatnya, aku harus pulang besok, mudah-mudah an dikasih izin." Gumamnya.
Dewi berusaha memejamkan matanya supaya bisa tertidur, namun karena fikiranya sedang kacau ia jadi sulit tertidur.
**Bersambung.....
Haii... jangan lupa tinggalkan jejak ya..
Terimakasih**...
mampir juga di karyaku
kisah Aluna
my Kids My Hero
Kox pada ngawur 🤦🤦