Leona harus menghadapi cobaan hidup yang berat sejak usia dini. Ketika berusia lima tahun, orangtuanya, yang merupakan sepasang perwira yang teguh, tewas dalam pembantaian mengerikan karena ikut mengusut sebuah kasus besar yang terjadi di kota X.
Ditinggalkan tanpa keluarga, Leona harus belajar bertahan dan menghadapi kehidupan yatim piatu. Meskipun begitu, kekuatan batinnya yang luar biasa membantu Leona melawan rasa kehilangan dan kesepian. Pada usia enam tahun, hidupnya berubah secara tak terduga ketika dia diadopsi oleh seorang pria kaya bernama Willson Smith.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama ketika Leona mengetahui bahwa Willson Smith sebenarnya adalah seorang ketua mafia yang kuat dan berpengaruh di kota C. Terpapar oleh dunia gelap kejahatan, Leona harus menemukan keberanian dan keteguhan untuk menjaga integritasnya sendiri.
Sanggupkah dia menemukan pembunuh kedua orang tuanya dan membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arlingga Panega, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anjing Galak
Mendengar suara teriakan dan juga tembakan, membuat Leona yang saat itu tengah terlelap dalam tidurnya langsung bangun, dia menyadari bahwa saat ini ada bahaya besar yang mengintainya, dengan gerakan yang sangat cepat, gadis kecil itu segera mengambil tas lusuh yang selalu dibawanya kemana-mana, kemudian melompat menuju plafon kamarnya, dia menempel pada bagian atas plafon, seperti seekor cicak.
Sementara kericuhan terus terjadi, teriakan dari para penjaga mension itu terdengar dengan sangat jelas di telinga Leona, mereka berusaha untuk mencari keberadaan gadis kecil itu agar bisa menyelamatkannya, apalagi saat ini Willson Smith tidak berada di tempat, sehingga membuat para penjaga merasa sangat kesulitan.
"Dimana nona muda?" salah seorang penjaga terlihat mencari keberadaan Leona di dalam kamarnya, sebuah pistol berada dalam genggaman pria itu, sambil melirik ke arah kiri dan ke kanan.
"Sepertinya nona muda tidak berada di dalam kamarnya, segera cari dan temukan dia! Jangan sampai para penyusup itu terlebih dahulu mendapatkannya. Kita harus mengulur waktu, jangan sampai mereka memasuki mension ini." ucap penjaga itu.
Tak lama kemudian Leon berdiri di depan pintu kamar yang ditempati oleh Leona, dia mengamati satu persatu tempat, kemudian membuka pintu kamar mandi dan juga lemari pakaian, untuk mencari gadis kecil itu. Tapi sepertinya Leon juga mengalami hal yang sama, dia tak bisa menemukan keberadaan Leona.
"Astaga! Bagaimana ini? Tuan Willson bisa marah jika sampai terjadi sesuatu terhadap nona muda." ucap Leon sambil menghembuskan nafas kasarnya.
Sementara Leona hingga saat ini masih bergeming di tempat, dia harus memastikan siapa-siapa saja orang yang telah berani melakukan penyerangan terhadap Mansion milik Willson Smith.
Seorang pria berpakaian hitam tiba-tiba saja muncul tak jauh dari jendela kamar milik Leona, membuat gadis kecil itu langsung mengerutkan dahi, postur tubuh pria itu mengingatkannya pada kejadian 1 tahun yang lalu, dimana kediamannya telah didatangi oleh orang-orang yang memiliki niat buruk dan berusaha untuk menghancurkan kebahagiaan Leona, dengan cara melenyapkan kedua orang tuanya.
Wajah Leona tiba-tiba saja berubah menghitam, matanya mulai memerah, nafasnya terdengar menderu. Sepertinya bocah kecil itu saat ini telah dilanda kemarahan, kilatan dendam mulai muncul pada iris mata kecoklatan miliknya. Dia tak akan pernah memberikan kesempatan pria itu lolos, bagaimanapun caranya Leona harus bisa memberikan pelajaran kepada pria itu.
Leon langsung membelalakkan matanya, sepertinya dia kurang waspada, sehingga tak menyadari keberadaan seseorang yang saat ini telah memasuki kamar yang ditempati oleh Leona. Sebuah senjata laras pendek telah menempel tak jauh dari kepalanya.
"Diam atau ku ledakan isi kepalamu!" ancam pria itu, Leon hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Sejak tadi dia mencari keberadaan Leona, namun ternyata saat ini dirinya malah berada dalam masalah besar.
"Katakan, dimana nona mudamu, jika tidak? Kau akan tahu sendiri, apa yang bisa kulakukan terhadapmu!" ucap pria itu.
Leon hanya terdiam, tak lama kemudian seringaian tipis tercetak dari wajahnya, "Jika kau memiliki kemampuan, cari dan temukan saja dia! Kenapa harus mengancamku?" ucapnya pada pria itu.
"Dasar brengsek! Berani kau melawanku?" ancam pria itu sambil menarik pelatuk pistolnya.
Tap...
Leona langsung meloncat, tak lama gadis kecil itu mengambil sebuah tongkat baseball yang terletak tak jauh dari tempat tidurnya, kemudian melemparkannya ke arah pria berpakaian hitam itu, tongkat itu melesat dengan sangat cepat dan mendarat tepat di belakang kepala milik pria berpakaian hitam.
Buk...
Pria itu langsung terhuyung ke depan, dengan gerakan yang sangat cepat, Leon langsung memiting kedua tangan pria itu dan merampas pistol yang berada di tangannya, dia mendorong tubuh pria itu menghadap tembok, segera setelahnya mengambil sebuah borgol yang ada di saku celananya, dengan sengaja dia membuat pria itu tak berdaya dengan mengikat kedua tangan pria itu.
Sedangkan borgolnya sengaja dia tempatkan di kedua kaki pria itu, sehingga membuatnya langsung membelalakkan mata. Awalnya dia berpikir jika Leon akan memborgol tangannya, tapi ternyata kepala pelayan mansion itu malah memborgol kedua kakinya, hingga membuat pria itu langsung menghembuskan nafas kasar.
Dia tak mungkin bisa terlepas dari tempat itu, jika tidak mendapatkan kunci dari borgolnya, sedangkan kedua tangannya saat ini telah terikat ke belakang. Leona dengan santai langsung mengambil lakban, kemudian memasangkannya pada mulut pria itu.
"Bagaimana keadaan di luar, paman? Berapa jumlah mereka?" ucap Leona.
"Sekitar 300 orang nona muda." jawab Leon, pria itu masih terus memperhatikan sekeliling, jangan sampai ada orang yang mengikuti langkah pria berpakaian hitam itu, sehingga memasuki kamar yang ditempati oleh Leona.
Apalagi saat ini dia tak bisa membawa Leona keluar dari mension, mengingat para penyusup itu mulai menunjukkan dirinya. Mereka terlihat berlari sambil terus mencari tempat bersembunyi, sementara para penjaga mansion terus menembakkan timah panas ke arahnya.
"Suruh para penjaga untuk menghentikan tembakannya dan lepaskan seluruh binatang peliharaan yang ada di rumah ini, biarkan mereka yang mengeksekusi para penyusup itu." ucap Leona.
Leon membulatkan matanya, dia tak menyangka jika Leona mengetahui keberadaan dari anjing-anjing penjaga rumah itu, apalagi selama ini keberadaan dari binatang-binatang itu tersembunyi, Willson Smith sengaja menjadikan anjing-anjing buas itu sebagai senjata terakhir, jika terjadi sesuatu di dalam mension miliknya.
"Anda mengetahuinya?" Leon terlihat mengerutkan dahi, tak menyangka jika gadis kecil itu ternyata mengetahui seluk-beluk mension yang ditempatinya, bahkan keberadaan dari binatang-binatang penjaga di rumah itu pun tak luput dari pandangan gadis kecil itu.
Teeet...
Teeet...
Teeet...
Leon mengirimkan kode pada para penjaga mansion, membuat mereka langsung melakukan gencatan senjata. Para penyusup terlihat saling memandang, mereka belum menyadari adanya bahaya yang lebih besar saat para penjaga itu, tak lagi menembakkan peluru ke arah mereka.
Tak lama seluruh pintu yang ada di dalam mension milik Willson Smith langsung tertutup, bahkan para penjaga terkurung di dalam ruangan, membuat para penyusup itu seketika langsung tertawa terbahak-bahak, mereka berpikir jika saat ini terjadi kesalahan di dalam mension, sehingga penjaga menekan tombol yang salah.
Para penyusup dengan sombong dan lengahnya mengira bahwa mereka dapat dengan mudah masuk ke dalam rumah mewah ini tanpa hambatan. Namun, apa yang tidak mereka duga adalah kemunculan tiba-tiba ratusan anjing galak yang menjadi perlindungan yang berlapis bagi mansion ini.
Tak seorang pun dari para penyusup itu pernah membayangkan bahwa mereka akan dihadapkan dengan binatang-binatang buas yang tumbuh subur di sini. Sebelum mereka sempat mengambil langkah berikutnya, para anjing itu melolong dengan keganasan yang mengguncangkan hati dan mengirimkan rasa ngeri yang melintas di dalam jiwa mereka. Mata para penyusup seketika terbuka lebar, berbinar-binar dengan ketakutan yang tak terkendali.
Anjing-anjing galak tersebut memenuhi lorong-lorong mansion dengan sikap yang tegas dan siaga. Setiap langkah yang diambil oleh para penyusup terkesan seperti serangan yang meresahkan, dan setiap helaan nafas mereka diikuti dengan geraman anjing-anjing yang berdiri tegak seperti prajurit. Mereka bergerak dalam harmoni yang sempurna, sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan dari sistem pertahanan mansion.
Seketika, suasana berubah menjadi kekacauan yang mencekam. Para penyusup yang semula memasuki mansion dengan segala anggapan mereka yang angkuh dan penuh keyakinan sekarang tercekat oleh ketakutan yang melanda. Mereka berlari dengan histeris, berusaha menemukan jalan keluar yang nyaman dari cengkeraman anjing-anjing yang galak tersebut.
Namun, usaha mereka terhenti oleh kehadiran binatang-binatang ini yang dengan lincahnya menghalangi setiap pintu keluar, menutup peluang mereka untuk melarikan diri.
Willson Smith Mansion, rumah megah yang mempesona, ternyata memiliki rahasia yang tak terperikan. Anjing-anjing galak ini bukan hanya peliharaan biasa, tetapi bagian vital dari sistem keamanan mansion. Mereka telah dilatih dengan penuh dedikasi untuk melindungi tanah milik Willson Smith dari siapa pun yang berusaha mengganggu kedamaian dan keamanan tempat itu.