#WARNING!!
Erina, seorang gadis remaja yang telah dibutakan mata dan hatinya dengan mencintai seorang laki-laki bernama Doni. Rasa cintanya yang begitu besar, membuatnya tidak mampu melihat siapakah sosok Doni yang sesungguhnya.
Erina menyerahkan seluruh jiwa dan raganya, bahkan kesuciannya untuk laki-laki yang akhirnya malah mencampakkannya, demi seorang wanita kaya, yang mampu mengangkat derajatnya dalam sekejap.
Doni meninggalkan Erina dengan luka dan penderitaan yang teramat sakit yang membuatnya benar-benar terpuruk dan hancur.
Ikuti kisahnya ya sobat dan mohon dukungannya...🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ida Kitty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 15
Akhirnya Erina pun siuman, dia melihat sekeliling. Hanya ada perawat yang sedang sibuk memeriksa keadaannya.
Erina pun langsung menanyakan keadaan calon bayinya.
"Suster, bagaimana keadaan calon bayi saya, apa dia baik-baik saja sus?"
"Maafkan kami Bu, kami tidak bisa menyelamatkan calon bayi ibu. Karena suami ibu telat membawa ibu kesini. Sabar ya Bu, jadikan ini pelajaran agar kedepannya ibu harus lebih berhati-hati dan mohon bilang sama suaminya agar selalu siap dan waspada saat istri sedang hamil," ucap sang suster yang mengira kalau Doni itu suaminya Erina.
Erina kembali berlinang air mata, dia meratapi nasibnya yang begitu malang. Saat ini hatinya benar-benar hancur. Dia harus kehilangan calon bayinya karena kelakuan be**t Doni, yang sudah menjualnya kepada tiga pemuda itu. Erina pun tidak bisa menahan lagi rasa sakit dan sesak di dadanya. Dia pun menangis sejadi-jadinya. Suster yang masih berada di situ pun berusaha menenangkan Erina.
"Sudah Bu, jangan menangis lagi ya Bu. Anggap ini ujian untuk ibu, ibu harus kuat ya Bu,"
"Tapi ini rasanya sakit sus...sakit sekali...baru saja saya mendengar kabar bahagia tentang kehamilanku, sekarang saya sudah harus kehilangan dia. Saya sedih sus, sedih sekali...saya benar-benar kehilangan calon bayiku sus...suster mengerti kan bagaimana perasaanku saat ini, suster mengerti kan sus," ucap Erina yang semakin histeris. Membuat sang suster tidak tega melihatnya.
"Sudah Bu sudah, jangan menangis lagi. Aku sangat mengerti bagaimana perasaan ibu saat ini, karena aku sendiri juga pernah mengalaminya. Memang kita merasa sangat kehilangan Bu, tapi kita harus bangkit, kita tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Kita harus kembali menjalani hidup dengan penuh semangat dan jangan pernah menyerah dengan keadaan. Yakinlah kalau kita akan mendapatkan yang lebih baik dari ini," ucap sang suster sambil memeluk Erina.
Erina pun merasa lebih tenang, setidaknya masih ada yang mau perduli dengannya. Erina pun tiba-tiba langsung teringat ucapan suster itu tentang suaminya, sebenarnya dia sudah yakin kalau itu Doni, tapi dia ingin memastikan lagi kepada perawat itu.
"Sus, siapa yang membawaku kesini?"
"Lho, bukannya suami ibu? dia sudah membayar semua biaya penanganan ibu. Tapi mohon maaf ya Bu, suaminya kok gak jagain ibu disini ya? namanya benar pak Doni kan?"
"Iya, namanya Doni. Dia memang sangat sibuk, jadi belum sempat kesini," Erina terpaksa berbohong untuk menutupi aibnya yang hamil diluar nikah, dengan air matanya yang kembali menetes. Dia juga yakin, kalau Doni membiayai nya di klinik ini, pastilah dengan uang hasil menjualnya pada tiga laki-laki itu.
"Sus, apa besok pagi saya sudah boleh pulang?"
"Sepertinya sudah Bu, ya sudah ibu istirahatlah ini sudah larut malam, jangan menangis lagi ya Bu, ikhlaskan semuanya. Saya permisi dulu, selamat malam Bu,"
"Malam sus,"
Erina sudah tidak lagi mengharapkan Doni, mata dan hatinya saat ini benar-benar telah terbuka. Dia sudah bisa melihat sendiri siapa Doni yang sesungguhnya. Erina benar-benar tidak menyangka kalau orang yang sangat dia cintai justru yang tega menghancurkan hidupnya.
Sementara itu, Doni langsung pulang sehabis membawa Erina ke klinik. Dia langsung berbaring di kontrakannya. Ada sedikit penyesalan dengan apa yang sudah dia lakukan pada Erina, yang membuatnya sampai keguguran. Namun Doni yang kini telah berubah, dia yang sudah tidak lagi mencintai Erina, dengan mudah menghilangkan rasa penyesalannya itu. Bahkan dia tidak merasa berdosa sama sekali. Dia juga tidak perduli dengan kehamilan Erina, yang merupakan hasil dari buah cintanya dengan Erina.
Keesokan harinya, Doni sengaja tidak berangkat kerja, karena saat ini dia masih memiliki banyak uang. Dia justru berencana mengajak Maya jalan. Tiba-tiba handphonenya berbunyi, Yudi kembali menelponnya.
"Halo Don, gimana kabar cewek loe? dia selamat kan?"
"Iya, dia selamat,"
"Loe gila ya, parah banget loe Don. Aku memang brengsek, tapi aku gak separah loe Don. Loe tinggalin cewek loe yang lagi hamil, loe jual lagi dia. Untung aja Niko bisa terima, kalau tidak pastilah dia minta uangnya dikembalikan. Karena dia belum sempat menyentuh cewek loe sedikitpun. Tapi katanya itu dia anggap impas, karena dia tidak bisa membantu cewek loe. Saat cewek loe meminta bantuan kita. Tau sendiri kamu Niko, walau kelakuannya seperti itu, dia masih punya rasa kasihan. Tidak seperti kamu yang tidak punya perasaan sama sekali, benar-benar brengsek kamu Don,"
"Sudahlah, jangan ngatain orang Mulu. Gak usah ikut campur urusan orang, urus aja urusan masing-masing. Bilangin sama Niko thanks ya," ucap Doni yang langsung menutup telponnya, karena tidak mau mendengar ocehan Yudi.
Doni pun langsung beralih menelpon Maya, hari ini dia benar-benar berniat mengajak Maya jalan, dia tidak membuang-buang waktu untuk bisa secepatnya menikahi Maya. Dia bermaksud mengutarakan niatnya itu, karena setelah beberapa kali bertemu Maya dan anaknya, sepertinya mereka benar-benar sudah bisa menerimanya hadir ditengah-tengah mereka. Anak Maya pun semakin dekat dengan Doni, Doni pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Hai sayang, kamu sibuk gak hari ini? kita jalan yuk. Aku gak kerja hari ini, aku pengen menghabiskan waktu bersama kamu. Bisa kan sayang?" ucap Doni lewat telepon.
"Oke, bisa sayang. Aku memang menunggu-nunggu kamu ada waktu untuk aku. Aku juga ingin menghabiskan waktu bersama kamu, aku kangen sama kamu sayang. Aku jemput kamu sekarang juga ya, aku sudah tidak sabar pengen ketemu kamu," jawab Maya.
Maya benar-benar sudah tergila-gila dengan Doni, dari pertama mereka bertemu. Tidak bisa dipungkiri, meski Doni cowok brengsek, tapi dia memiliki paras yang lumayan tampan, badannya yang tinggi putih, membuat banyak wanita mengagumi fisiknya, seandainya dia pria baik-baik, tentulah dia sudah menjadi rebutan kaum hawa.
Sementara di klinik, Erina pun bersiap-siap pulang ke kontrakan. Keadaannya masih sedikit lemas, dokter menyarankan agar dia melakukan kontrol ke klinik untuk memastikan dia benar-benar sehat total.
Setelah bertemu dokter, Erina pun langsung bergegas pulang ke kontrakan. Sesampainya di kontrakan, dia langsung membuka pintu kontrakan. Dia melangkah perlahan, tubuhnya seketika gemetar, masih terlihat jelas diingatkannya peristiwa naas yang menimpanya. Erina memperhatikan suasana didalam kontrakannya, hatinya terenyuh melihat darah yang berceceran di lantai. Dia mendekati darahnya itu, dia sentuh dengan tangannya. Tidak puas hanya dengan menyentuhnya, Erina pun berbaring lalu mencium darahnya yang berceceran dilantai.
"Anakku, maafkan ibu nak. Ibu tidak bisa menjagamu, ibu tidak bisa melindungi mu. Ibu benar-benar tidak berguna, ibu terlalu lemah, ibu juga terlalu bodoh menjadi seorang wanita. maafkan ibu nak, ibu jahat...ibu sudah membuatmu seperti ini...maafkan ibu nak...maafkan ibu," ucap Erina sambil terus menangis tak henti-henti.
Erina masih belum beranjak, dia masih tetap meratapi nasibnya, meratapi calon bayinya yang sudah tidak ada, hanya tinggal darah kering yang berceceran di lantai. yang membuatnya tidak bisa berhenti menangis. Hatinya benar-benar hancur luluh, membuatnya tidak punya semangat dan gairah hidup.
happy ending🍉🍉🍉