Mawar adalah anak ke 2 yang di paksa harus selalu mengalah dengan adik nya, Mawar di bedakan oleh ibu nya.
Mawar harus selalu mengalah demi sang adik, Mawar di perlakukan seperti anak tiri. Penderitaan Mawar semakin pedih saat ayah nya meninggal dunia, sikap ibu nya semakin menjadi terhadap diri nya.
Untung saja kakak laki - laki Mawar bisa melindungi diri nya, sebagai sang kakak dia tidak rela melihat penderitaan sang adik.
Sang kakak bahkan rela menolak beasiswa nya di sebuah universitas ternama karena dia tidak ingin meninggal kan Mawar sendirian.
Ikuti kisah Mawar dalam mengarungi kehidupan di bawah tekanan sang ibu dab juga adik nya, bisa kah ibu nya Mawar menyayangi Mawar seperti dia menyayangi putri bungsu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Tidak terasa kini Mawar sudah naik ke kelas 2 SMA dan Farhan sudah lulus SMA. Farhan sekarang bekerja di sebuah pabrik yang berada tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
Farhan benar - benar menolak beasiswa itu sehingga hal itu sempat membuat bu Munah murka. Tapi Farhan tetap pada keputusan nya, dia lebih memilih bekerja dari pada mengejar impian nya.
Indah pun tidak berubah, bahkan kini kelakuan Indah semakin menjadi. Gadis kelas 2 SMP itu kini semakin gencar untuk mempercantik diri nya, setiap hari yang di lakukan nya cuma berdandan saja.
"Bu, ini ada uang gaji aku bulan kemarin, ibu gunakan untuk keperluan di rumah ini ya!" Farhan memberikan gaji nya sebagai karyawan pabrik pada sang ibu.
"Iya nak, ibu akan gunakan untuk semua keperluan rumah kita!" Bu Munah menerima uang pemberian dari putra sulung nya.
Selain bekerja di pabrik, Farhan juga sering melayani pekerjaan lain di sela - sela kesibukan nya. Apapun itu asal kan halal pasti dia lakukan, misal nya pagi ini dia ikut orang lain membersih lahan sebagai buruh harian.
"Kak, ini bekal makan siang nya!" Mawar memberikan bekal yanh sudah dia siap kan sebelum nya.
"Makasih ya, kamu jangan lupa makan!" Farhan mengingat kan adik nya.
"Iya kak!" Jawab Mawar sambil mengangguk kan kepala nya.
Mawar menerus kan pekerjaan nya mencuci semua seragam sekolah milik nya dan juga Indah, karena ini adalah hari minggu jadi Mawar harus memastikan semua nya sudah bersih buat di pakai besok pagi.
"Alhamdulillah, selesai juga!" Mawar merasa lega setelah menjemur semua nya termasuk sepatu dan yang lain nya.
Karena sejak tadi dia sibuk dengan semua pekerjaan rumah, Mawar sekarang merasakan perut nya lapar sebab dia belum sempat sarapan. Mawar segera menuju ke meja makan untuk mengisi perut nya, sekarang sudah cukup siang, waktu sudah menunjuk kan jam 10 pagi.
Tapi alangkah terkejut nya Mawar saat dia membuka tudung saji, dia tidak menemukan sayur dan lauk lain nya yang dia masak tadi pagi.
"Ya Allah, semua nya sudah tidak ada lagi!" Batin Mawar dengan perasan sedih.
Bagai mana tidak Mawar merasa bersedih, karena tadi pagi dia memasak semua nya setelah sholat subuh. Tadi ketika Mawar menyiapkan bekal untuk Farhan, semua nya masih ada.
Karena perut nya yang terasa lapar, akhir nya Mawar makan dengan kecap dan cabe saja. Mawar menahan diri agar tidak menangis, tetap saja tidak bisa. Air mata mengalir begitu deras nya tanpa bisa dia tahan.
Ini bukan lah pertama kali nya Mawar mengalami hal seperti ini, sejak kecil dia memang terbiasa seperti ini. Jika Indah makan dengan berlauk kan ikan dan ayam, maka Mawar hanya mendapat kan tulang dan kuah nya saja.
Mawar bisa makan dengan layak hanya saat dua makan bersama almarhum pal Harto dan juga Farhan, tapi jika mereka tidak ada di rumah maka Mawar lebih sering kelaparan. Atau jika dia tidak mau kelaparan dia hanya bisa makan dengan kecap atau pun garam saja.
"Bu, Ke pekan yuk beli baju baru, kan tadi kakak udah ngasih uang sam ibu!" Indah merengek pada ibu nya agar di belikan baju baru.
"Ya udah, ayo kita ke pekan, biar kamu bisa beli baju baru!" Bu Munah menuruti keinginan anak bungsu nya.
"Sekalian beli sandal baru juga ya, Indah lihat kemarin Kania punya sandal model terbaru. Indaj juga mau dong bu!" Bujuk Indah pada ibu nya.
"Iya, nanti ibu beliin!" Bu Munah tampak tidak ingin mengecewakan anak nya.
Pekan adalah sebutan untuk pasar yang di adakan tiap hari minggu di kampung sebelah, pasar itu akan di adakan dari pagi hingga sore.
"Mawar, ibu sama Indah mau keluar. Kamu jangan kemana - mana, di rumah saja!" Bu munah berkata pada Mawar.
"Baik bu!" Jawab Mawar sambil menunduk kan kepala nya.
Ini hal yang sudah biasa di alami oleh Mawar, sejak kecil bahkan Mawar tidak pernah bermain seperti anak - anak lain nya. Mawar hanya di sibuk kan dengan semua pekerjaan rumah tangga, Mawar hanya punya satu teman saja yaitu Hesti yang masih tetangga nya.
"Mawar, main di rumah aku yuk!" Tiba - tiba Hesti datang ke rumah nya.
"Gak Hes, aku di rumah saja!" Mawar menolak ajakan Hesti.
"Udah gak papa, jangan takut kok. Tadi aku lihat ibu mu dan juga Indah sedang keluar. Seperti nya mereka mau ke pekan!" Ujar Hesti lagi.
"Iya Hes, maaf ya aku gak bisa main ke rumah kamu. Sebentar lagi aku mau menyetrika pakaian sekolah ku dan Indah!" Jelas Mawar lagi.
"Ya udah deh, tapi lain kali kamu main ke rumah aku ya!" Ujar Hesti lagi.
"Iya, nanti aku main ke rumah kamu!" Ujar Mawar lagi.
Setelah Hesti pulang, Mawar merebah kan tubuh nya di atas kasur usang yang ada di dalam kamar nya. Tidak lama kemudian Mawar pun terlelap di dalam tidur nya.
Mawar terbangun ketika dia mendengar sayup - sayup suara Indah dan juga Ibu nya yang sedang berbincang. Karena penasaran Mawar akhir nya bangun dan dia berjalan pelan - pelan ke tempat suara mereka berasal.
"Bu, aku seneng banget hari ini aku beli semua benda yang aku ingin kan, makasih bu!" Indah berkata pada ibu nya sambil menyuap kan makan ke dalam mulut nya.
"Iya nak, apapun yang kau ingin kan pasti ibu akan usahakan!" Jawab Bu Munah.
Mereka berdua sedang makan siang di dapur. Dari celah dinding papan yang menjadi pembatas antara ruang tengah dan dapur, Mawar bisa melihat mereka berdua yang sedang makan dengan lauk ayam yang Mawar masak pagi tadi.
Mawar meneguk ludah nya, tadi pagi dia hanya memasak nasi saja tapi tidak bisa mencicipi nya walau pun sedikit. Setelah Farhan berangkat bekerja, bu Munah menyembunyikan semua nya agar Mawar tidak bisa memakan nya.
Semua nya hanya untuk Indah, Mawar hanya memasak nya saja.
"Kenapa ibu tega sekali pada ku, apakah aku ini bukan anak nya?" Mawar bertanya di dalam hati pada diri nya sendiri.
Air mata mengalir begitu saja saja dari kelopak mata nya, setiap hari Mawar selalu menangis dalam diam meratai nasib nya yang malang. Mawar ingin sekali saja merasakan kasih sayang dari ibu nya, terkadang dia merasa iri dengan Indah yang mendapat kan kasih sayang secara utuh dari ibu nya.
"Ya Allah sebenar nya siapa aku ini? Apakah aku ini hanya anak pungut?" Mawar Masih menanyakan tentang diri nya sendiri.
"Bu, ayo kita coba baju yang tadi kita beli!" Indah yang sudah selesai makan mengajak ibunya membongkar barang belanjaan mereka tadi yang belum sempat mereka bereskan.
Mawar segera menghapus air mata nya dan dia berlari kembali ke kamar nya, dia tidak ingin ketahuan kalau dia sedang menguping pembicaraan antara ibu dan juga adik nya.