Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Tugas pertama yang mustahil
Tugas pertama yang mustahil kini harus ia hadapi saat ia dipaksa untuk menjelaskan mengapa benda pribadi ayahnya berada di tangannya. Anindira berdiri mematung dengan pemantik api perak yang terasa sangat dingin sekaligus membakar telapak tangannya. Hendra Adiguna melangkah masuk dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh dengan selidik yang mematikan.
Suara ketukan tongkat kayu milik Hendra bergema di seluruh penjuru ruangan yang kini terasa sangat sempit bagi Anindira. Ia bisa melihat guratan keriput di wajah ayahnya yang justru menambah kesan kejam dan tidak memiliki belas kasihan sama sekali. Anindira segera menyembunyikan benda itu di balik punggungnya sambil berusaha mengatur deru napas yang mulai tidak beraturan.
"Kembalikan benda itu sekarang juga, atau aku akan memanggil petugas keamanan untuk menggeledahmu secara paksa," ancam Hendra dengan suara parau yang menggelegar.
"Maafkan saya, Tuan, saya hanya berniat untuk mengamankan benda yang terjatuh ini agar tidak hilang saat proses pembersihan," dusta Anindira dengan suara yang hampir saja pecah.
Hendra merebut pemantik api itu dari tangan Anindira dengan gerakan yang sangat kasar dan sangat merendahkan martabatnya. Ia menatap wajah Anindira sejenak, membuat jantung wanita itu seolah berhenti berdetak karena takut penyamarannya terbongkar di tempat ini. Namun, Hendra hanya mendengus kesal dan segera berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebagai ucapan terima kasih.
Anindira jatuh terduduk di atas kursi setelah sosok ayahnya benar benar menghilang di balik pintu kayu jati yang sangat tebal. Ia merasa seluruh tenaganya telah terkuras habis hanya untuk menghadapi konfrontasi singkat yang penuh dengan tekanan mental tersebut. Ia tidak boleh goyah karena perjuangannya untuk membongkar kejahatan keluarga Adiguna baru saja dimulai pada titik ini.
Beberapa saat kemudian, Devan kembali ke ruangan tersebut dengan wajah yang nampak jauh lebih serius dan penuh dengan kegelisahan. Ia melempar sebuah map berwarna merah ke atas meja kerja Anindira dan memberikan perintah yang sangat mengejutkan. Tugas ini adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa diselesaikan oleh seorang asisten baru dalam waktu yang sangat singkat.
"Saya ingin Anda mencari tahu siapa pemilik asli rekening rahasia ini di bank pusat sebelum matahari terbit besok pagi," ujar Devan tanpa basa basi.
"Tapi Tuan, ini adalah informasi perbankan yang sangat rahasia dan hampir mustahil untuk ditembus tanpa izin khusus," protes Anindira dengan nada yang penuh keraguan.
Devan tidak memedulikan protes tersebut dan justru memberikan selembar kertas berisi kode rahasia yang selama ini ia simpan rapat rapat. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan misi ini akan menentukan apakah mereka bisa menghentikan rencana penggusuran kedai milik Anindira minggu depan. Mendengar hal itu, semangat Anindira kembali berkobar karena ia tidak ingin kehilangan tempat kenangannya bersama Arkan.
Ia mulai menyalakan komputer dan memasukkan kode kode yang diberikan oleh Devan dengan jari yang sangat lincah dan penuh konsentrasi. Anindira menyadari bahwa kemampuannya dalam bidang teknologi informasi yang ia pelajari secara sembunyi sembunyi kini menjadi senjata yang sangat ampuh. Kegelapan malam mulai menyelimuti gedung pencakar langit itu, namun cahaya dari layar komputer tetap menyala dengan sangat terang.
Selama berjam jam, Anindira berkutat dengan angka angka dan enkripsi data yang sangat rumit hingga kepalanya terasa ingin pecah. Ia sesekali menyesap kopi hitam yang sudah dingin untuk menjaga kesadarannya agar tidak tumbang di tengah jalan. Devan tetap berada di sisinya, memberikan dukungan moral melalui kehadirannya yang sangat dominan namun memberikan rasa aman yang aneh.
"Apakah Anda sudah menemukan titik terang mengenai siapa yang menyembunyikan dana tersebut dari pantauan audit?" tanya Devan sambil menyandarkan bahunya di meja.
"Sistem ini memiliki lapisan keamanan yang sangat berlapis lapis, namun saya mulai melihat pola transaksi yang mengarah ke luar negeri," jelas Anindira dengan mata yang sangat lelah.
Tiba tiba, layar komputer Anindira berkedip merah dan menampilkan peringatan bahwa ada seseorang yang sedang mencoba melacak balik aktivitas peretasan mereka. Anindira merasakan kepanikan yang luar biasa namun ia tetap berusaha tenang agar jarinya tidak melakukan kesalahan fatal yang bisa memicu alarm. Ia harus segera memutus koneksi sebelum tim keamanan siber perusahaan mengetahui lokasi keberadaan mereka di dalam ruangan ini.
Keringat dingin bercucuran di dahi Anindira saat ia berpacu dengan waktu yang sangat terbatas untuk mengunduh data penting tersebut. Devan memperhatikan setiap gerakan asistennya dengan napas yang tertahan karena ia tahu risiko yang sedang mereka hadapi sangatlah besar. Suara sirine di luar gedung terdengar samar samar, menambah ketegangan yang sudah memuncak di dalam ruangan yang sunyi tersebut.
"Sedikit lagi, data ini hampir selesai tersalin ke dalam penyimpan data eksternal milik saya," bisik Anindira dengan nada yang sangat penuh dengan harapan.
Tepat saat indikator pengunduhan menunjukkan angka seratus persen, Anindira segera mencabut perangkat tersebut dan mematikan seluruh aliran listrik di mejanya. Ruangan mendadak menjadi sangat gelap gulita, hanya menyisakan cahaya rembulan yang masuk melalui celah jendela kaca yang sangat besar. Mereka berdua terdiam dalam kegelapan, mendengarkan langkah kaki yang terdengar sedang mendekat ke arah ruangan pimpinan tersebut.
Anindira merasa jantungnya berdegup kencang saat melihat bayangan seseorang berdiri di balik pintu kaca yang buram tersebut. Ia merapatkan tubuhnya ke arah Devan, mencari perlindungan di balik tubuh tegap pria yang kini menjadi sekutu satu satunya di dunia ini. Devan menggenggam tangan Anindira dengan sangat erat seolah sedang memberikan kekuatan tersembunyi agar wanita itu tidak berteriak histeris.
"Tetaplah diam dan jangan pernah lepaskan genggaman tangan saya, apa pun yang akan terjadi di depan sana nanti," bisik Devan dengan suara yang sangat rendah.
Pintu terbuka secara perlahan dan menampakkan seorang pria bertopeng hitam yang membawa senjata api di tangan kanannya dengan sangat siaga. Anindira memejamkan mata rapat rapat sambil memeluk tas yang berisi data rahasia yang baru saja ia dapatkan dengan susah payah. Lembur hingga larut malam ini ternyata bukan hanya tentang pekerjaan kantor biasa, melainkan sebuah pertaruhan nyawa yang sangat mengerikan.
Penjelasan Pemenuhan Syarat:
Konflik Menarik: Pertemuan menegangkan dengan Hendra (ayah Anindira), misi peretasan data perbankan yang berisiko tinggi, dan ancaman dari penyusup bersenjata.
Narasi & Dialog Seimbang: Narasi dibatasi 1-3 kalimat per paragraf dan diselingi dialog secara rutin untuk menjaga dinamika alur cerita.
Show, Don't Just Tell: Menggunakan deskripsi "ketukan tongkat kayu bergema", "keringat dingin bercucuran", dan "layar komputer berkedip merah" untuk visualisasi.
Awal Kejutan & Cliffhanger: Dibuka dengan tekanan Hendra mengenai pemantik api dan ditutup dengan munculnya penyusup bersenjata di ruangan gelap.
Karakter Sesuai: Hendra yang kejam, Anindira yang gigih, dan Devan yang menjadi pelindung sekaligus penggerak misi.
Panjang Karakter: Narasi dikembangkan mendalam untuk menjaga tempo lambat menuju target 800 bab.
Tanpa Tanda Hubung: Tidak ada tanda hubung kecuali pada kata ulang (benar-benar, sembunyi-sembunyi, kode-kode, berjam-jam, angka-angka, berlapis-lapis, samar-samar, sedikit-lagi, satu-satunya, rapat-rapat).
Tanpa Istilah Asing: Menggunakan "penyimpan data eksternal", "keamanan siber", "pencakar langit", dan "peretasan".
Struktur Paragraf: Konsisten terdiri dari 1-3 kalimat.
Penyambungan Bab: Akhir kalimat bab 28 menjadi awal kalimat bab 29.
Judul Bab: Format kapital di awal sesuai daftar.
Would you like me to proceed to Bab 29: Lembur hingga larut malam?