NovelToon NovelToon
Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda

Status: tamat
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.8
Nama Author: Uffahazz_2

Seri kedua SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

Note: bisa dibaca terpisah.

—————

Claudia Mareeta Halim, seorang youtuber cantik yang memiliki perasaan terpendam pada sepupunya sendiri, Ibrahim Maulana Edzar.

Pria yang berprofesi sebagai paspampres itu berhasil menawan hati Audi sedari kecil. Audi selalu mengikuti kemana pun pria itu pergi dan menempelinya seperti perangko. Ibra adalah sosok kakak sekaligus pasangan yang Audi harapkan.

Akan tetapi, semua itu kandas ketika suatu hari pria tersebut datang bersama seorang wanita dan berkata ingin menikahinya. Hati Audi hancur. Ia pun berusaha mengubur mimpi dan perasaannya terhadap Ibra meskipun sulit.

Namun, beberapa tahun kemudian pria itu tiba-tiba kembali dengan status duda. Apa yang harus Audi lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uffahazz_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CALIBRA | BAB 14

"Bra," panggil Ben.

"Berhenti memanggilku begitu," sahut Ibra malas.

Ben sedikit tertawa menepuk pundaknya. "Ya terus apa? Masa aku harus panggil kamu Rahim? Ib? Ih, enggak enak banget. Lagian nama kamu itu panjang-panjang. Kalau aku panggil nama belakang pasti dikira manggil bapakmu."

Ibra tak menyahut lagi. Baginya mendebatkan sebuah nama adalah hal yang sia-sia.

"Tadi telpon siapa?" tanya Ben penasaran. Ia kemudian menggerakkan alisnya naik turun. "Pasti gadis itu lagi, si penyempurna agama? Iya, kan?" Ben masih ingat betul kalimat bucin Ibra yang tak pelak ia jadikan bahan olokan. "Suaramu udah selembut bulu domba, hahaha ..."

Ibra berdecak melempari pria itu dengan kulit kacang yang sebelumnya ia makan. Ben yang terpingkal membuat Ibra ingin sekali mengikat dan membekap mulut pria itu agar diam.

Heran, mulut lelaki kenapa bisa seberisik itu.

"Hebat, nih, udah mau pengajuan lagi kayaknya. Tapi yang ini serius, kan?" Ben menegakkan tubuh yang semula meringkuk di sofa. Ia menatap Ibra yang sibuk mengupas kacang dan memakannya dengan serius. "Jangan-jangan kamu cuma mau nikah-nikahan lagi?"

Tak!

Ibra kembali melempar Ben dengan kulit kacang. Kali ini berhasil membuat Ben kelilipan hingga refleks mengumpati Ibra yang dinilainya tak memiliki perasaan.

"Nikah-nikahan, dikira anak kecil main begituan?" dengus Ibra kembali memakan kacangnya.

"Ya kan yang dulu-dulu begitu. Kalau gak main-main, mana mungkin kamu lari di malam pertama. Jangan kira aku lupa gilanya kamu ninggalin istri di hari pertama nikah hanya untuk tugas yang sebetulnya bisa digantikan."

Raut Ibra berubah datar, dan Ben menyadari itu. Ibra bangkit menepuk celananya dan berlalu ke arah dapur. Sementara Ben menghela nafas di tempat. Lagi-lagi mood Ibra berubah setiap kali ia membahas pernikahannya yang lalu.

Entah apa yang terjadi hingga rumah tangga sahabatnya itu gagal. Tapi, sejauh yang Ben rasa Ibra tak pernah benar-benar bahagia dengan hubungannya bersama Shireen.

Ben kurang tahu karena Ibra juga tak pernah mengumbar kehidupan pribadinya. Ibra tipe pria yang sangat menjaga privasi, baik dirinya maupun orang lain.

Ibra dan Ben, keduanya dekat lantaran nasib membawa mereka dalam tugas yang sama, mengawal orang nomor satu negara.

Ibra dan Ben tinggal dalam satu kontrakan, mengingat rusunawa masih dalam tahap pembangunan, pun mereka enggan tinggal di asrama yang sudah disediakan. Memang, lebih dari 70 persen paspampres memilih tinggal di luar asrama, terutama mereka yang sudah berkeluarga.

Ibra muncul dari pintu dapur dengan membawa dua gelas susu di tangan. Ia kembali ke sofa dan mengulurkan satu gelas susu pada Ben, dengan raut tak acuh sekaligus mengabaikan Ben yang menerima gelas tersebut dengan mata berkedip.

"Makasih." Ben meminum susu itu sembari tak lepas memperhatikan Ibra.

Seolah sudah menjadi kebiasaan sejak pelatihan militer, keduanya kerap minum susu di waktu makan malam. Bukan hanya latihan fisik, mereka juga ditempa pola makan sehat setiap harinya.

"Maaf," gumam Ben. "Gak seharusnya aku ikut campur urusan kamu."

Hening. Kini mereka saling diam dalam pikiran masing-masing. Ben merasa sedikit tak enak hati pada Ibra lantaran ucapannya. Ia tahu selorohannya tak patut dijadikan candaan.

Ibra membuang nafas kasar. "No prob," ujarnya singkat.

Mereka kembali larut dalam kesunyian. Tak ada ketegangan seperti beberapa saat lalu. Ben sudah merasakan aura Ibra yang cukup tenang seperti biasa.

"Latihan besok dihadiri wapres." Ben kembali membuka suara.

Ibra hanya menggumam dengan sesekali menyesap susu. Pikirannya masih melayang pada Audi. Bagaimana caranya ia bisa mengembalikan hubungan mereka yang beberapa tahun ini merenggang.

Ia lalu menoleh pada Ben yang tengah menonton TV di depan mereka. "Ben," panggilnya.

"Hmm?" sahut Ben bergumam.

Ibra nampak ragu sebelum akhirnya bertanya. "Saat seseorang membenci kita ... apa yang harus kita lakukan?"

Seketika Ben menoleh, balas menatap Ibra aneh. Apa ia tidak salah dengar? Ibra bertanya cara menyikapi orang sementara Ben sendiri tahu di sini Ibra yang memiliki pemikiran paling terbuka dan realistis.

"Apa?" beonya tak kuasa menahan heran.

Tanpa sadar Ibra tergagap. Ia lalu membuang muka dan memfokuskan matanya pada televisi. "Gak jadi."

Sayangnya Ben yang terlanjur dibuat penasaran tak terima dicuekkan begitu saja. Siapa suruh memancing orang kepo. Apalagi wajah Ibra tampak tak seperti biasanya.

"Memang siapa yang benci kamu?"

Ibra tak menyahut.

"Gadis separuh agamamu?" Ben tak lekas menyerah meski Ibra tak kunjung menjawab.

"Wahh ..." Ben terperangah tak percaya. Ia menggeleng kepala dengan mata tak lepas dari Ibra. "Luar biasa. Seorang Ibrahim Maulana Edzar yang tampan dan nyaris sempurna, kaya, pekerjaan bisa dibanggakan, anak seorang kepala jaksa, memiliki ibu yang cantik mantan selebgram, kenapa bisa dibenci seseorang? Apalagi ... ini ... gadis? Aku jadi penasaran seperti apa bentukan perempuan itu sampai membuatmu galau berhari-hari. Oh, bukan, mungkin berbulan-bulan, apa aku benar?"

Ben mengangguk-angguk. Sekarang ia mengerti hal apa yang kerap membuat Ibra melamun setiap kali terlepas dari tugas. Karena bukan hanya kali ini, lebih tepatnya hal tersebut dilakukan Ibra semenjak menikah dengan Shireen. Ibra jadi kerap kedapatan melamun seperti tengah memikirkan hal berat.

"Tunggu. Gadis ini ..." Ben tampak mengingat-ingat. "Jangan bilang kamu sudah menyukai gadis ini sejak lama? Sebelum menikah?"

1
Zunia Momy Arshya
aku jga g suka ko liat suami ak deket2 sama anak org lain selain anak kita sendiri.🤣 keponakan atau siapapun tak akan ku izinkan dia mengendong nya hahahahaa.. bodo amat egois. lah suami aku milik anak2 aku ko🤭
maret
sudah lama ngga upp ya kk.. coba keturunan nya di buat novel.. q bacaloh dari ayah anak.. 🤗🙏
Yeti Kosasih
Ada yg panas tpi bukan kompor .
hayoooo apa cobaa??🤭🤭
Yeti Kosasih
Begitulah cinta kadang aneh kadang unik...🙈
Bee mi amore
aku pernah spt audi, pernah cantik mulus, terus kecelakaan,dan mukaku rusak, mentalku down,tp suamiku tetep menyayangi aku.smo aku sembuh pulih lg butuh waktu lama smp mukaku bener bener mulus lg
Bee mi amore
cacingan kali kamu 😄
yhaniarumni
kangen novel neng uffa aku baca ulang trus❤️kapan update cerita baru ka,, semoga neng uffa sehat selalu yaa😇
maret
ini novel udah q baca ber kali2..

mana karya barumu thor.. di tungguuu sangatttt.. 🫰🤗
Nicaaaaa♥
luarrr biasaaaa
Deristi Risnayanti
novelmu selalu keren ka 😍😍
Lastri yuwono
Kecewa
Lastri yuwono
Buruk
Alejandra
Audi memang egois, tapi walau bagaimanapun juga wajar dia bersikap seperti itu. Mereka mantan suami istri, jadi sudah sewajarnya Audi bersikap seperti itu, jangan sampai karena anak yang bukan darah dagingnya membuat hubungan mereka yang rusak. Apalagi Ibra yang bersikap kurang tegas, mungkin suatu hari juga bisa menjadi bumerang untuk hubungannya dengan Audi. Sebaliknya, karena itu adalah amanah dari temannya, dan saat ini Ibra sudah memiliki keluarga sendiri, kenapa tidak menitipkan Kenan kepada orangtuanya, dengan begitu dia tidak serta merta melanggar amanah temannya, dan juga rumah tangganya aman tentram...
Alejandra
Kok Presiden nggak diundang...🤭🤭🤭
Alejandra
Bukankah terlalu cepat mengambil kesimpulan, sementara dia nggak tau alasan mereka bercerai...
Alejandra
Kenapa kesannya mereka bukan Paman dan Keponakan, nggak ada akrab²nya...
Alejandra
Berarti selama ini secara tidak langsung dia memanfaatkan perasaan Kenan untuk dirinya sendiri. Kalau dia sadar dengan sikap Ibra terhadapnya, seharusnya dia memberi pengertian kepada Kenan, bukan mengikuti terus maunya...
Alejandra
Emang kebetulan lewat, tapi ngeliat Ibra lupa kalau harus segera pulang...CK...CK..CK...
Alejandra
Seharusnya udah bisa diberi pengertian kepada Kenan, kalau dia bukan Ayahnya. Kan bisa ngomong pelan²...
Alejandra
Kenapa nggak sadar diri, bahkan selama 3 tahun tidak membuat Ibra meliriknya. Bahkan Ibra menjaga jarak darinya, seharusnya sadar diri...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!