Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Buntalan Kecil
Genki memasukkan kaus dinosaurusnya ke dalam sehelai kain lusuh dengan gerakan yang sangat hati-hati.
Kaus itu tidak terlipat rapi. Bagian lengannya masih menyembul keluar, menindih celana pendek biru muda dan sepasang kaus kaki yang warnanya sudah tidak sama. Tapi bagi Genki, itu sudah cukup. Ia menarik sudut kain, menyatukannya di tengah, lalu mengikatnya dengan simpul kecil seperti yang pernah ia lihat dari pengasuh lama di panti.
Jari-jarinya mungil. Simpul itu lepas dua kali.
Genki tidak menangis.
Ia hanya menggigit bibir bawah, mencoba lagi, lalu menepuk buntalan kecil itu setelah akhirnya berhasil. Seolah benda itu bukan kain berisi pakaian, melainkan koper penting milik orang dewasa.
Di kamar anak yang luasnya hampir sebesar ruang tamu rumah biasa, buntalan itu tampak terlalu miskin. Rak mainan penuh mobil miniatur impor berdiri di satu sisi. Boneka, buku bergambar, dan kotak balok kayu tersusun rapi. Di dekat jendela, ada tempat tidur kecil dengan seprai putih bersih dan selimut lembut.
Tetapi Genki memilih kain lusuh itu.
Kain yang ia bawa sejak pertama kali pulang ke Vila Biru.
Pintu kamar terbuka pelan.
"Genki, mau ke mana?"
Genki cepat-cepat memeluk buntalan kecilnya ke dada. Matanya yang bundar menatap pengasuh di depan pintu dengan curiga.
"Genki pergi."
Pengasuh itu terdiam sebentar. Wajahnya langsung berubah panik, tapi ia masih berusaha tersenyum. "Pergi ke mana? Sarapan dulu, ya. Ada roti cokelat."
"Nggak mau."
"Susu stroberi?"
Genki menggeleng keras. Rambut hitamnya yang lembut ikut bergoyang.
"Pancake bentuk beruang?"
Biasanya tawaran itu bisa membuat Genki melirik. Paling tidak, ia akan bertanya apakah beruangnya punya mata dari cokelat.
Pagi ini tidak.
Ia mengangkat buntalan kecil itu ke punggung. Karena tubuhnya masih terlalu kecil, kain itu lebih sering melorot ke siku daripada benar-benar menempel di bahu. Genki membetulkan posisinya dengan wajah serius.
"Genki mau cari Mama."
Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi.
Pengasuh yang tadi berdiri di ambang pintu langsung masuk. "Genki, Papa sedang di kantor. Nanti kalau Papa pulang, kita telepon Papa, ya?"
"Bukan Papa." Genki mengerutkan hidung. "Mama."
"Mama siapa, sayang?"
Genki menatapnya lama, seperti pertanyaan itu terlalu aneh.
"Mama Genki."
Suara kecil itu tidak keras. Namun entah kenapa, lebih menyayat daripada tangisan.
Di Vila Biru, semua orang tahu kebiasaan itu. Kalau Genki marah, sedih, atau merasa tidak didengar, ia akan mengambil kain lusuhnya, memasukkan dua tiga potong pakaian, lalu berjalan ke arah pintu. Katanya ia mau pergi. Katanya ia mau mencari Mama.
Tidak ada yang berani menertawakannya.
Sejak keluarga Harto menemukannya di Panti Asuhan Harapan Baru dan membawanya pulang, kebiasaan itu belum hilang. Mainan baru tidak menghapusnya. Kamar besar tidak menenangkannya. Pengasuh berganti-ganti mencoba membujuk, tetapi setiap beberapa minggu, buntalan kecil itu kembali muncul di punggungnya.
Seolah anak sekecil itu masih menyimpan keyakinan bahwa rumah bisa hilang kapan saja.
"Genki," pengasuh itu berjongkok di depannya. "Di luar panas. Nanti kaki Genki sakit."
Genki menunduk melihat sandal karetnya. Satu sandal terbalik antara kiri dan kanan. Ia memperbaikinya sendiri, pelan-pelan, tanpa meminta bantuan.
"Kaki Genki kuat."
"Tapi jalanan ramai."
"Genki pegangan buntalan."
"Kalau tersesat?"
Genki memeluk buntalannya makin erat.
"Mama nanti ketemu."
Pengasuh itu menarik napas, hampir menyerah, lalu memberi isyarat kepada pembantu lain yang kebetulan lewat. Dalam hitungan detik, suasana lantai dua berubah sibuk. Seseorang turun memanggil kepala rumah tangga. Seseorang lagi berlari ke dapur. Dari bawah terdengar suara langkah tergesa dan bisikan tertahan.
"Genki mau pergi lagi."
"Aduh, jangan sampai Pak Rayhan tahu kita lengah."
"Pintu depan sudah dikunci?"
Genki mendengar semua itu. Alis kecilnya menyatu.
Ia tidak suka kalau orang dewasa berbisik seolah ia tidak mengerti apa-apa. Ia memang belum tahu banyak hal. Ia belum tahu kenapa anak lain punya Mama yang datang saat pertunjukan sekolah, sementara ia hanya punya Papa yang selalu datang dengan jas hitam dan wajah dingin. Ia belum tahu kenapa setiap kali bertanya tentang Mama, ruangan selalu jadi sepi.
Tapi ia tahu satu hal.
Kalau Mama tidak datang, Genki yang harus pergi mencari.
Ia menyelinap dari sisi pengasuh yang sedang menoleh ke tangga. Tubuhnya kecil, langkahnya cepat. Buntalan di punggungnya berguncang-guncang.
"Genki!"
Teriakan itu membuat beberapa pembantu di lantai bawah menoleh bersamaan.
Genki menuruni tangga sambil berpegangan pada pagar. Kakinya belum cukup panjang untuk turun cepat, jadi ia melompat satu anak tangga terakhir dengan bunyi kecil.
Tuk.
Begitu mendarat, ia nyaris kehilangan keseimbangan. Pengasuh di belakangnya menjerit pelan, tetapi Genki sudah berdiri lagi. Ia menoleh sebentar, pipinya menggembung.
"Jangan ikut!"
"Genki, nanti jatuh!"
"Genki nggak jatuh."
Ia berlari melewati ruang tengah yang mengilap. Lantai marmer memantulkan tubuh mungilnya. Di dinding, foto keluarga Harto tergantung dalam bingkai besar. Rayhan berdiri di tengah dengan setelan gelap, satu tangan memegang bahu Genki. Foto itu diambil saat Genki baru pulang ke rumah ini. Di foto itu, Genki tidak menangis, tetapi tangannya menggenggam ujung kain lusuh yang sama.
Pintu utama terbuka sedikit karena seorang sopir baru saja menerima paket dari kurir.
Udara Jakarta langsung masuk, panas dan berdebu tipis, bercampur wangi bunga kamboja dari halaman depan.
Penjaga di dekat pos keamanan terkejut melihat Genki berlari keluar.
"Genki!"
Genki mempercepat langkah. Buntalannya jatuh dari bahu. Ia memungutnya, memeluknya di depan dada, lalu terus berlari dengan kaki kecil yang belum stabil.
"Genki mau cari Mama!" serunya.
Kalimat itu membuat penjaga yang hendak mengejar berhenti setengah detik. Terlalu singkat untuk disebut ragu, tetapi cukup untuk memberi Genki jarak.
Pintu gerbang besar Vila Biru sedang terbuka karena mobil pengantar bahan makanan hendak masuk. Suara mesin mobil menutupi teriakan pengasuh dari teras.
"Tutup gerbang! Cepat!"
Namun Genki sudah melewati celah itu.
Di luar gerbang, jalan Menteng pagi itu mulai ramai. Motor melintas pelan, mobil-mobil hitam berkilat keluar dari rumah-rumah besar, dan tukang tanaman mendorong gerobak kecil di seberang jalan. Dunia di luar Vila Biru jauh lebih besar daripada yang Genki bayangkan.
Ia berhenti sebentar di tepi trotoar.
Mata kecilnya menyapu kanan kiri. Buntalan lusuh menempel di dadanya. Bibirnya bergerak pelan, seperti sedang menghafal doa yang hanya ia mengerti sendiri.
"Mama tunggu Genki, ya."
Lalu ia berjalan.
Satu langkah. Dua langkah. Sandal karetnya menampar trotoar dengan suara pelan.
Di belakangnya, pengasuh dan penjaga berlari keluar dari gerbang. Suara mereka memanggil namanya berkali-kali.
"Genki!"
Tetapi sebuah mobil boks putih berhenti di depan gerbang, menurunkan barang kiriman berikutnya. Beberapa detik saja pandangan mereka tertutup.
Ketika mobil itu maju lagi, trotoar di depan Vila Biru sudah kosong.
Genki telah hilang di tikungan jalan.