NovelToon NovelToon
DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyudi0596

Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.

update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Mendengar sindiran tajam dari sang Wakil Ketua, Reya, Momo, Tomoe, dan Nimura seketika terdiam. Tubuh mereka menegang. Mereka saling melirik satu sama lain, mengira bahwa ketegangan akan kembali memenuhi ruangan akibat ucapan sarkastis tersebut.

Namun, tindakan balasan yang ditunjukkan oleh Yudi justru memutarbalikkan ekspektasi mereka.

Yudi tidak marah, tidak pula tersinggung. Ia justru menjatuhkan kepalanya ke belakang, menatap langit-langit ruangan, lalu merengek dengan nada suara yang ditinggikan.

"Oh, ayolah, Fukukaichou!" rengek Yudi, tangannya memukul lantai kayu dengan pelan layaknya anak kecil yang sedang mengambek.

"Tidak bisakah kau membiarkanku bersikap sedikit heroik dan terlihat keren di depan Kouhai-ku yang super imut ini walau hanya untuk lima menit saja? Setidaknya... berpura-puralah kalau kau tidak melihat kejadian memalukan yang baru saja menimpaku tadi! Ya kan, Nimura?" Yudi menoleh ke arah Nimura, mengedipkan sebelah matanya meminta dukungan.

Melihat upaya keras Yudi untuk terlihat kuat yang justru dibanting jatuh secara instan oleh fakta memalukan yang baru saja terjadi, pertahanan para gadis itu runtuh seketika.

"Pfftt... ahahaha!"

Tawa meledak serentak di dalam ruang OSIS. Reya menutupi perutnya yang kram karena tertawa. Momo Hanakai menutup mulutnya dengan sebelah tangan, tawanya mengalun ringan.

Tomoe Meguri memegangi bahu Reya untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Bahkan Nimura Ruruko yang wajahnya masih basah oleh air mata, kini terkikik geli melihat tingkah laku konyol kakak kelasnya tersebut.

"Mana mungkin kami bisa dengan mudah melupakan pemandangan saat kau terbaring lemas layaknya ikan mati di sana selama setengah jam penuh, Yudi-kun," ucap Momo di sela-sela tawa kecilnya, tangannya mengusap sudut matanya yang berair.

"Bersikap seolah-olah kau pria yang paling kuat dan tangguh di dunia ini sih boleh-boleh saja," sambung Reya, tawanya lepas tanpa beban. "Tapi tolong pastikan, lain kali jangan sampai kau jatuh pingsan lagi hanya dengan menerima satu pukulan nyasar ya!"

"Hei, hei, tenang saja, Kouhai-kun!" Tomoe melompat pelan ke depan, tangannya bertumpu pada pinggangnya. Ia memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi, matanya menyipit karena tersenyum terlampau lebar. "Jika suatu hari nanti kau berada dalam bahaya lagi dan tidak sanggup menahan pukulan, aku akan dengan senang hati berdiri di depan untuk melindungimu lho! Shihihi!"

Mendengar tawaran perlindungan yang justru merendahkan harga dirinya sebagai laki-laki itu, wajah Yudi sedikit memerah.

"Oh, ayolah! Aku janji! Aku janji suatu saat nanti aku akan berlatih menjadi sangat kuat agar bisa melindungi kalian semua tanpa harus pingsan lagi!" seru Yudi dengan suara cemprengnya yang melengking tinggi, memegangi kepalanya sendiri dengan kedua tangan. "Jadi tolong... berhentilah menertawaiku terus-menerus seperti ini!"

Melihat reaksi panik dan wajah memerah Yudi, tawa kembali meledak jauh lebih keras. Gelombang tawa itu mengudara, menyapu bersih seluruh residu ketegangan, aura ungu, dan hawa mencekam yang sebelumnya telah menelan ruang OSIS ini hidup-hidup dan menjadikannya menyerupai sebuah ruang eksekusi mati. Ruangan itu kini kembali dipenuhi oleh kehangatan yang sesungguhnya.

Di tengah kegembiraan yang tumpah ruah tersebut, Tsubaki berdiri sedikit menjauh. Di balik ekspresi wajahnya yang selalu diatur agar tampak kaku tak tersentuh, sudut bibirnya diam-diam tertarik ke atas. Ia menyimpulkan sebuah senyuman yang teramat sangat tipis, nyaris tak terlihat oleh mata telanjang.

Tsubaki menganalisis pemandangan di depannya. Remaja laki-laki ini... entah bagaimana caranya, hanya bermodalkan beberapa patah kata konyol dan rengekan yang merendahkan dirinya sendiri, telah berhasil membalikkan suasana ruangan yang tadinya dipenuhi hawa membunuh menjadi ruangan yang terasa begitu hangat dan hidup.

Merasakan dorongan aneh di dalam dadanya, Tsubaki memutuskan untuk melontarkan satu kalimat tambahan. Sebuah kalimat yang bertujuan untuk memberikan beban tanggung jawab, sekaligus sebagai bentuk keisengan yang entah mengapa sangat ingin ia lakukan pada pemuda tersebut.

"Hn," Tsubaki berdehem pelan, suaranya memotong tawa yang mulai mereda. Ia menatap lurus ke arah Yudi. "Hanya pastikan saja kalau kau benar-benar menepati janjimu untuk melindungi semua rekan wanitamu di sini suatu saat nanti, Yudi. Dan pastikan juga, kau tidak akan pernah bertindak bodoh karena termakan emosi sesaat seperti pendahulumu. Itu adalah harga bayaran atas nyawamu yang baru. Apa kau sanggup memegang kata-katamu?"

Mendengar ucapan Tsubaki, atmosfer di sekitar Yudi berubah drastis.

Yudi, yang tadinya bertingkah konyol dan merengek saat meladeni godaan para kakak kelas perempuannya, seketika menghentikan gerakannya. Ia menurunkan tangannya dari kepala. Senyum konyol di wajahnya memudar sepenuhnya. Ia memutar tubuhnya hingga sepenuhnya menghadap Tsubaki.

Yudi duduk tegak. Punggungnya diluruskan dengan sempurna. Matanya memancarkan sorot keseriusan yang teramat dalam, sebuah tatapan tajam yang membuat sisa-sisa tawa dari Reya, Momo, Tomoe, dan Nimura berhenti dengan sendirinya.

Yudi mengangkat tangan kanannya, lalu mengepalkan telapak tangannya dan meletakkannya tepat di atas dada kirinya, tepat di atas jantungnya berdetak.

"Atas nama kehormatanku... dan sebagai bidak Pawn dari keluarga Sitri..." ucap Yudi, suaranya tidak lagi cempreng atau ragu, melainkan dipenuhi oleh nada keyakinan absolut dan tekad yang membaja. "...aku bersumpah, akan mencurahkan segenap jiwa dan kekuatanku untuk melindungi seluruh rekan-rekanku yang ada di ruangan ini."

Janji yang diucapkan dengan postur ksatria dan tatapan mata yang tak tergoyahkan itu menembus langsung ke dalam hati para gadis yang mendengarnya.

Nimura Ruruko, yang berada paling dekat dengannya, tidak bisa menahan diri lagi. Dengan senyum riang yang mekar sempurna di wajahnya, Nimura langsung merangsek maju. Ia menjatuhkan tubuhnya ke depan dan memeluk leher Yudi dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada pemuda itu.

"To-tolong lindungi dan selalu bantu aku saat aku sedang dalam kesusahan ya, Senpai!" seru Nimura dengan nada suara yang teramat senang.

"Oi, Nimura—" Yudi tersentak kaget, tubuhnya nyaris terjengkang ke belakang akibat terjangan tiba-tiba dari adik kelasnya itu.

"Itu curang! Aku juga mau ikut dipeluk!"

Tomoe Meguri berteriak kegirangan. Tanpa aba-aba, gadis berambut cokelat pendek itu melompat dari belakang. Ia merentangkan kedua tangannya dan langsung merangkul leher Yudi dari arah punggung, menjepit kepala Yudi di antara kedua lengannya.

"Oi, bahaya! Tulangku bisa—"

Sebelum Yudi bisa menyelesaikan kalimat protesnya, sebuah dorongan lain menghantam tubuhnya.

"Aku juga mau dilindungi oleh Kouhai-kun yang tampan ini! Jadi tolong jaga aku baik-baik juga ya!" ucap Momo Hanakai dengan nada manja. Ia menabrakkan tubuhnya dari sisi kiri, memeluk lengan dan pinggang kiri Yudi dengan sangat erat, menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu.

"Oi, oi! Jangan tinggalkan aku sendirian di luar lingkaran! Meskipun aku berniat melindungimu, tapi sepertinya akan sangat menyenangkan kalau aku juga dilindungi olehmu!" Reya Kusaka tertawa lepas. Ia ikut bergabung dalam kekacauan tersebut, menabrak dari sebelah kanan dan merangkul erat pinggang serta lengan kanan Yudi.

"Se... sesak sekali..."

Suara rintihan putus asa terdengar dari tumpukan manusia tersebut. Yudi nyaris kehabisan napas. Tubuhnya benar-benar dikunci dan dipeluk dari empat arah mata angin yang berbeda: depan, belakang, kiri, dan kanan.

Wajahnya mulai membiru karena himpitan tersebut. Namun, para gadis anggota OSIS itu sama sekali tidak mempedulikan rintihannya. Mereka malah semakin kegirangan, tertawa renyah, dan menggesekkan pipi mereka dengan nyaman, menjadikan tubuh Yudi sebagai boneka pelukan massal mereka.

Pemandangan kekacauan yang hangat dan penuh tawa itu disaksikan oleh dua pasang mata dari sudut ruangan yang agak jauh, tempat yang masih terbungkus bayang-bayang.

Di atas lantai kayu yang sama, Saji Genshirou masih terduduk lemas. Matanya terpaku menatap gerombolan gadis yang sedang berebut memeluk Yudi. Jari-jemarinya yang menempel di lantai mencengkeram serat kayu dengan sangat kuat. Giginya menggigit bibir bawahnya sendiri hingga memutih.

Rasa iri yang luar biasa menyengat ulu hatinya. Selama satu tahun penuh ia mengabdi, tidak pernah sekalipun... bahkan tidak pernah satu kali pun, ia diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan tawa sehangat itu oleh rekan-rekannya.

Bukan berarti selama ini ia tidak pernah mencoba untuk melucu atau menarik perhatian mereka. Namun, melihat langsung bagaimana Yudi merespons pertanyaan menjebak dari sang Fukukaichou dengan sumpah ksatria yang begitu tulus tanpa ragu-ragu, bahu Saji perlahan merosot turun.

Sebuah embusan napas panjang dan pasrah keluar dari hidungnya. Di lubuk hatinya yang paling dalam, ia harus mengakui satu fakta yang menyakitkan: pernyataan dan postur yang baru saja dilontarkan oleh Yudi itu... memang terlihat sangat keren.

Suara langkah kaki yang sangat pelan mendekat dari arah samping Saji.

"Kau lihat itu dengan mata kepalamu sendiri, Saji?"

Suara Sona Sitri mengalun pelan. Sang Ketua OSIS berdiri tepat di samping tubuh Saji yang berlutut, pandangannya mengarah lurus pada tumpukan manusia yang sedang tertawa lepas di seberang ruangan.

"Orang yang paling kau benci hari ini... justru dengan sangat mudahnya mendapatkan limpahan kasih sayang dan penerimaan dari mereka," ucap Sona, suaranya mengalir tanpa nada penghakiman sedikit pun. "Dia tidak pernah mencoba memaksa siapa pun untuk memberikan perhatian padanya. Tapi cara dia bersikap, cara dia menempatkan diri dan menjawab dengan ketulusan, membuat rekan-rekanmu secara alamiah memberikan kasih sayang mereka padanya... meskipun mereka belum genap satu hari saling mengenal."

Sona menundukkan wajahnya, melirik Saji dari sudut matanya. "Coba kau tanyakan pada dirimu sendiri, Saji. Apa kau pernah, walau hanya satu kali saja selama kau berada di sini, berhasil membuat mereka semua tersenyum begitu lepas dan tulus seperti itu?"

Saji tidak menjawab. Ia hanya terus memandangi lantai kayu, namun cengkeraman tangannya mulai mengendur.

Itu adalah sebuah fakta tak terbantahkan lainnya yang disodorkan oleh Sona. Namun kali ini, nada bicara yang digunakan oleh sang Ketua bukanlah nada dingin yang menghakimi seperti sebelumnya.

Nada suaranya terdengar jauh lebih lembut, lebih tenang, seolah ia sedang mencoba mengulurkan sebuah tali agar pionnya yang jatuh itu bisa meraihnya dan bangkit kembali.

"Kuharap..." Sona memutar tubuhnya perlahan, bersiap melangkah pergi meninggalkan Saji sendirian dengan pikirannya. "...kau tidak tertinggal lebih jauh lagi di belakangnya, Saji."

Kalimat penutup itu melayang di udara. Tidak ada ancaman di dalamnya.

Yang tersirat dari ucapan tersebut adalah sebuah dukungan implisit—atau sebuah dorongan yang jauh lebih besar dari itu—yang menuntut sang Pion pirang untuk segera berdiri, mengevaluasi dirinya, dan terus melangkahkan kakinya untuk mengejar ketertinggalan mutlak yang baru saja ia sadari pada sore hari ini.

1
Bayuon So7
anjirlah, kata garis miring ini kayak sebuah klu atau apa dah kok tetiba gitu ya😄
Bayuon So7
jantungan si Sona cuk🤭
Bayuon So7
ini reaksinya kayaknya lebih natural dari yang sebelumnya, karena gua bacanya juga kagum cuy am kekuatan nih karakter Falbium🤭
Bayuon So7
anjay dipancing
Bayuon So7
mana bisa anjir🤣
Bayuon So7
nah kan, kena Lo. di cibir langsung sam Fuiukaicho sama🤭
Bayuon So7
geli gua dengarnya 🤣
Bayuon So7
Damn, bro beneran gosong parah si Saji di sini brok. Lu bikinnya make sense lagi Thor, gua tadi berpikir lu lagi mau injak karakter ini serampangan tapi lu mendesainnya dengan apik. jadinya gak jadi gua hujat anjirlah 🤣
Bayuon So7
wah keren lu Thor, alih-alih mempermalukan dengan aneh. lu bikin ada reason pada tindakan Sona sebelumnya dan kemarahan dia di sini beneran make sense
Bayuon So7
damn, lu juga pernah dipegang tangannya kan. ah ealah
Bayuon So7
iya, abis chef Tsubaki. sekarang chef Sona. wah beneran dibuat gosong ini sajinya.
Bayuon So7
Thor, lu kayaknya punya dendam pribadi Ama saji deh. kok serem amat penghakimannya cok.
Bayuon So7
Absolute cinema, cukup chef ini sudah gosong jangan dilanjutkan.🤭
Bayuon So7
Weh ada chef yang mau masak, pastikan bikin masakan yang lezat dan bergizi. chef Tsubaki Shinra.
Bayuon So7
ngimpi lu anying gak logis banget dah pikirannya si saji ini ya.
Bayuon So7
gua juga ngedown kalau cewek paling polos tetiba natap dengan tajam gini. artinya lu bikin masalah super serius.
Bayuon So7
oh Ice king ini loh, kalau marah meski gak meluap-luap rasanya bikin berdebar-debar
Bayuon So7
waduh Sona udah mulai kepancing emosi nih
Bayuon So7
Alasannya masuk akal tapi entah kenapa rasanya jadi klise denger omongan lu saji🤭
Bayuon So7
Efek dibuat senyum tadi siang kah, kok tetiba jadi perhatian gini 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!