Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34
Aku Tidak Setuju
"Lepaskan dia."
Suara Keira tidak keras, tetapi cukup membuat pegawai yang menonton di lobi menahan napas. Di antara pintu kaca dan meja resepsionis, Rayhan masih mencengkeram kerah Kevin. Kemeja biru muda itu sudah kusut di bawah buku jarinya yang diperban.
Kevin tidak balas menarik. Ia hanya menatap Rayhan dengan rahang menegang.
"Keira," kata Kevin pelan, "mundur sedikit."
Kalimat itu justru membuat mata Rayhan makin gelap.
"Kamu yang menyuruh dia melindungimu sekarang?" tanya Rayhan.
Keira melangkah lebih dekat. "Aku tidak butuh dilindungi dari siapa pun. Aku hanya menyuruh kamu berhenti mempermalukan dirimu sendiri."
Beberapa orang di belakang mereka saling pandang. Satpam apartemen berdiri dari kursinya, tetapi belum berani maju. Rayhan Hartono bukan penghuni biasa yang bisa disentuh begitu saja.
Kevin mengangkat kedua tangan sedikit. "Rayhan, kalau ada yang mau kamu bicarakan, bicara dengan aku. Jangan libatkan staf di sini."
"Dengan kamu?" Bibir Rayhan terangkat tipis. Tidak ada senyum di sana. "Sejak kapan kamu punya hak bicara mewakili dia?"
"Sejak kamu datang dengan tangan di kerah orang."
Pukulan itu terjadi sebelum Keira sempat menahan.
Kepalan Rayhan menghantam rahang Kevin. Tubuh Kevin terdorong setengah langkah ke samping, punggungnya hampir membentur pilar marmer. Suara benturan tulang dengan tulang terdengar jelas, kasar, memalukan, terlalu nyata untuk sebuah lobi apartemen berlantai mengilap.
Seorang pegawai perempuan menutup mulut.
Satpam akhirnya bergerak. "Pak, mohon jangan..."
Rayhan menoleh sekilas. Satpam itu langsung berhenti.
Keira tidak.
Ia maju dan menampar Rayhan.
Plak.
Kali ini suara itu lebih tajam daripada pukulan tadi. Kepala Rayhan berpaling sedikit. Di pipinya muncul warna merah yang cepat menyala.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.
Keira berdiri di depannya, napasnya teratur, mata dingin. Tangannya masih terangkat, telapak tangannya sedikit gemetar bukan karena takut, melainkan karena marah yang ditahan sampai nyaris menyakiti dirinya sendiri.
"Aku bilang lepaskan," ucapnya.
Rayhan menoleh kembali. Pandangannya jatuh ke wajah Keira, seolah tamparan itu baru membuatnya benar-benar melihatnya.
"Kamu menamparku untuk dia."
"Aku menamparmu karena kamu memukul orang di depan umum."
"Kamu pergi dari Jakarta untuk dia?"
Keira menatapnya seperti menatap pria asing yang tidak mengerti bahasa manusia. "Dunia tidak berputar di sekitar kamu, Rayhan."
Kalimat itu jatuh tanpa teriakan, tanpa air mata. Justru karena begitu tenang, luka yang ditinggalkan lebih dalam.
Rayhan tertawa pendek. "Tidak berputar di sekitar aku?"
"Tidak."
"Lalu kenapa setiap kali aku hampir memilikimu, selalu ada alasan untuk kamu lari?"
"Karena dari awal aku bukan barang yang bisa kamu miliki."
Kevin menyeka sudut bibirnya. Ada darah tipis di sana. "Keira, aku panggil polisi."
"Tidak perlu," jawab Keira, matanya tetap pada Rayhan. "Aku yang akan menyelesaikan."
Rayhan menangkap kata itu.
Menyelesaikan.
Seolah hubungan mereka hanyalah pekerjaan yang bisa ditutup dengan tanda tangan dan surat pindah.
Ia bergerak tiba-tiba. Satu tangannya menangkap pergelangan Keira, tangan lain mengangkat tubuhnya ke bahu. Keira menendang, siku menghantam punggungnya, tetapi Rayhan sudah berbalik menuju lift privat.
"Rayhan!" Kevin maju.
Dua pengawal Rayhan yang sejak tadi berada di dekat mobil langsung menahan Kevin. Mereka tidak memukul, hanya menghalangi dengan tubuh besar, tetapi maksudnya jelas.
"Lepaskan aku!" suara Keira memecah lobi. "Rayhan, turunkan aku sekarang!"
"Tidak."
"Aku bilang tidak!"
Kata itu terdengar oleh semua orang. Jelas. Tidak ada ruang untuk disalahartikan.
Rayhan tetap berjalan.
Satpam ragu-ragu mengikuti sampai pintu lift. "Pak Rayhan, ini apartemen pribadi..."
Rayhan menekan kartu akses yang entah bagaimana sudah ada di tangannya. Pintu lift terbuka.
"Saya tanggung semua kerusakan."
"Ini bukan soal kerusakan!" Keira memukul punggungnya dengan kepalan kecil. "Kamu dengar aku? Ini bukan soal uang!"
Pintu lift tertutup di depan wajah panik satpam, Kevin yang ditahan, dan beberapa pegawai yang sudah diam-diam mengangkat ponsel.
Di dalam lift, angka lantai naik satu per satu.
Keira berhenti menendang. Ia tahu kekuatan tubuh tidak cukup. Bahu Rayhan keras seperti dinding, lengannya mengunci pahanya tanpa menyakiti tulang, tetapi juga tanpa memberi celah.
"Kalau kamu bawa aku masuk," katanya pelan, "aku tidak akan memaafkan ini."
Rayhan menatap pintu lift yang memantulkan wajah mereka. "Kamu sudah pergi tanpa pamit."
"Aku meninggalkan surat."
"Itu bukan pamit."
"Itu perpisahan."
Jari Rayhan di pinggangnya mengeras.
Pintu terbuka di lantai apartemen Keira. Lorongnya sepi. Lampu kuning jatuh di dinding krem. Keira pernah memilih tempat ini karena tenang, karena tidak ada orang Jakarta yang tahu, karena ia bisa pulang dari rumah sakit Safira tanpa merasa ada mata di belakangnya.
Sekarang Rayhan membawa kekacauan itu sampai ke depan pintunya.
Ia membuka pintu dengan kartu akses cadangan yang pasti didapatkan dari manajemen atau orang suruhan. Keira melihatnya dan tertawa dingin.
"Kamu masih menyebut ini cinta?"
Rayhan tidak menjawab.
Begitu masuk, ia menurunkannya di ruang tamu. Keira mundur cepat, tetapi Rayhan sudah menutup pintu. Punggungnya menutupi jalan keluar.
Apartemen itu kecil dibanding Hartono Estate. Sofa abu-abu, meja rendah, dua mug di dapur, satu vas kaca berisi bunga putih yang mulai layu. Di rak dekat jendela, ada beberapa blotter parfum dan buku catatan kerja.
Tidak ada foto Rayhan.
Tidak ada barang Rayhan.
Ketiadaan itu memukul lebih keras daripada kata apa pun.
"Kamu hidup nyaman sekali," katanya.
"Ya," jawab Keira. "Tanpa kamu."
Rayhan melangkah mendekat.
Keira mengangkat tangan. "Berhenti."
Ia berhenti setengah detik, lalu tetap maju.
Keira mundur sampai punggungnya menyentuh sisi sofa. Rayhan menangkap dagunya dan menunduk. Ciuman itu datang paksa, keras, penuh amarah dan ketakutan yang tidak ia beri nama. Keira menegang seluruh tubuh. Tangannya mendorong dada Rayhan, kuku menggores kain kemejanya.
"Jangan," desisnya ketika ia berhasil memalingkan wajah.
Rayhan membeku.
Kata itu lebih tipis daripada tamparan, tetapi lebih tajam.
Keira melihat celah itu.
Ia menurunkan tangan perlahan, seolah menyerah. Napasnya dibuat pelan. "Ray, dengar aku."
Panggilan itu membuat mata Rayhan bergerak.
"Aku butuh ambil obat di kamar," katanya. "Kalau kamu mau aku bicara, biarkan aku tenang dulu."
Rayhan menatapnya terlalu lama. Ia ingin percaya. Bagian paling rusak dari dirinya tetap haus pada satu panggilan lembut.
"Jangan kunci pintu."
Keira mengangguk.
Ia berjalan melewatinya menuju kamar.
Begitu masuk, ia membanting pintu dan memutar kunci.
Rayhan berdiri di ruang tamu.
Di dalam kamar, Keira menyambar ponsel di atas meja rias. Jarinya hampir menekan nomor Kevin ketika suara Rayhan terdengar dari luar.
"Keira."
Ia tidak menjawab.
"Buka pintu."
Keira mengetik cepat. Tiga huruf pertama belum terkirim ketika tendangan pertama menghantam daun pintu.
Brak.
Tubuhnya tersentak.
Tendangan kedua membuat engsel berderit.
"Rayhan, jangan!" teriaknya.
Tendangan ketiga merobek kunci dari kayu.
Pintu terbuka setengah patah.
Rayhan berdiri di ambang, napasnya berat, mata merah. Di hadapannya, Keira memegang ponsel seperti satu-satunya senjata yang tersisa.
"Aku sudah bilang," katanya, suara rendah karena menahan marah, "jangan kunci pintu."
"Dan aku sudah bilang tidak."
Rayhan masuk.
Keira melempar ponsel ke samping agar tidak dirampas, lalu mencoba menerobos celah antara tubuh Rayhan dan meja. Rayhan menangkapnya dari belakang. Keira meronta, lututnya menghantam sisi ranjang, tetapi ia tidak berteriak minta ampun.
"Lepas!"
"Aku tidak bisa."
"Kamu bisa. Kamu hanya tidak mau."
Kalimat itu membuat Rayhan berhenti sesaat.
Lalu tangannya naik ke sisi leher Keira. Ia menekan dengan ketepatan orang yang pernah dilatih untuk melumpuhkan, bukan untuk membujuk. Dunia Keira langsung bergeser. Cahaya lampu kamar pecah menjadi garis-garis panjang. Lututnya melemas.
Sebelum gelap menutup pandangannya, ia mendengar suara Rayhan di telinganya.
"Kalau kamu tidak mau pulang, aku yang bawa kamu pulang."
Saat Keira sadar, suara pertama yang ia dengar adalah dengung mesin pesawat.
Langit-langit kabin putih. Lampu kecil. Bau kulit mahal dan disinfektan tipis. Tubuhnya terbaring di kursi panjang pesawat pribadi dengan selimut menutup sampai dada.
Ia membuka mata.
Rayhan duduk di kursi seberang.
Kemejanya sudah diganti. Rambutnya masih berantakan. Di meja kecil di antara mereka, ada ponsel Keira yang mati, segelas air, dan kotak beludru panjang.
Keira menarik selimut.
Ia memakai gaun tidur satin tipis berwarna pucat. Bukan pakaian yang ia kenakan tadi. Dingin kabin langsung menggigit kulit lengannya.
Rasa jijik dan marah naik bersamaan.
"Siapa yang mengganti pakaianku?"
"Staf perempuan." Jawaban Rayhan cepat, datar. "Tidak ada pria yang menyentuhmu."
"Kamu pikir itu membuat ini benar?"
Rayhan diam.
Keira duduk perlahan. Kepalanya masih berat. Di lehernya ada beban dingin. Ia menyentuhnya dan menemukan kalung safir biru lama, kalung yang dulu pernah menyimpan pelacak.
Jantungnya turun.
"Kamu pasang lagi."
"Modul baru." Suara Rayhan tidak bergetar. "Aku tidak akan kehilangan kamu lagi."
Keira menatapnya lama. Dulu, mungkin ia akan mengejek. Mungkin ia akan menyusun kalimat yang cantik untuk menusuk tepat di tempat paling sakit.
Malam ini, ia terlalu lelah untuk bermain.
"Ini bukan kehilangan," katanya. "Ini penculikan."
Otot di rahang Rayhan bergerak.
"Kamu bisa melaporkanku setelah kita sampai Jakarta."
"Aku akan melakukannya jika perlu."
"Lakukan."
Keira memandang jendela. Di luar hanya gelap, awan, dan lampu sayap pesawat. Surabaya tertinggal di belakang. Safira tertinggal di rumah sakit. Kevin tertinggal di lobi dengan rahang berdarah.
Rayhan mengambil mantel dari kursi samping dan meletakkannya di pangkuan Keira. Ia tidak menyentuh kulitnya.
"Pakai. Kabin dingin."
Keira tidak mengambilnya.
"Kamu sengaja membuatku memakai ini supaya aku tidak bisa keluar saat mendarat."
Rayhan tidak menyangkal.
Keira tertawa tanpa suara. Matanya kering, tetapi dadanya terasa seperti kaca retak.
"Kamu benar-benar tidak mengenalku."
"Aku terlalu mengenal kamu." Rayhan mencondongkan tubuh. "Kalau ada pintu, kamu akan lari. Kalau ada telepon, kamu akan menghubungi Kevin. Kalau ada uang, kamu akan menghilang lagi tanpa membawa apa pun dari aku."
"Karena aku tidak mau apa pun dari kamu."
Kata itu membuat tangan Rayhan di lututnya mengepal.
Keira menyentuh kalung safir di lehernya, lalu menatap mata Rayhan. "Kamu akan menyesal."
Rayhan menatapnya balik. Di wajahnya ada keras kepala seorang pria yang sedang menggali lubangnya sendiri dan menyebutnya rumah.
"Tidak akan."
Keira menurunkan tangan dari kalung.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia tersenyum sangat tipis.
Bukan lembut. Bukan kalah.
Senyum itu membuat Rayhan merasa pintu yang tidak ia lihat sedang terbuka di bawah kakinya.
"Akan," kata Keira. "Dan saat itu terjadi, aku harap kamu masih bisa berdiri."