NovelToon NovelToon
PENDEKAR NAGA SAKTI

PENDEKAR NAGA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:38
Nilai: 5
Nama Author: Adih Supriadi

Kisah perjalanan Pendekar Naga dalam membasmi kejahatan yang di sebabkan oleh Pendekar Aliran Hitam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adih Supriadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 28

*PERANG BESAR 4*

Debu perang belum hilang. Bendera Khan berserakan di pantai.

Pasukan Khan mundur, setelah 3 gelombang serangan dihancurkan Naga Hijau, Putih, dan Hitam.

Di tenda besar pinggir pantai, suara bentakan menggema.

“GAGAL LAGI?!”

Jendral Tongji, jendral tertinggi Khan, melempar peta. Wajahnya merah padam.

“Informasi masuk. Musuh dapat tambahan pasukan. Dan yang lebih buruk... 3 Pendekar Naga sudah turun gunung.”

Tongji menatap 3 jendral perang di hadapannya.

“Kita kalah di taktik i, bukan di jumlah. Kumpulkan komando dari 3 titik. Malam ini kita buat strategi baru. Atau kepala kita yang dipenggal Pangeran.”ucap Jenderal Tongji kesal.

"Target 3 bulan penyerang selesai, ehh ternyata hampir 1 tahun kita masih di pantai." ucap Jenderal Tongji geram tak mengira banyak Pendekar Sakti di Nusantara.

***

Sementara itu, Benteng Sementara Kerajaan Rinjani.

Pasukan Rinjani dan sisa pasukan Sekutu Nusantara sudah bergabung.

" Akhir nya kita berjumpa lagi Kak Oval dan Apis... Aduh... Sungguh tak ku duga kalian datang ke sini dan ikut berperang bersama ku." ucap Arden senang dengan kedatangan Pendekar Naga Hijau dan Naga Hitam.

Mereka bersalaman lalu duduk di tanah untuk melepas lelah.

" Arden, kamu hebat bisa bertahan dari gempuran musuh selama ini, berbulan-bulan. "ucap Oval.

" Iya Bang Oval, Kami harus bisa bergerak lebih cepat dan berpikir lebih cepat, jika beradu kekuatan langsung mungkin kami sudah hancur sejak dulu, pasukan mereka jelas lebih banyak. "ucap Arden.

Para Pasukan sudah 2 hari membuat benteng pertahanan sementara untuk mengurangi daya serang musuh jika datang.

Tembok kayu, jebakan bambu, dan barisan pemanah jadi pertahanan baru.

Sore hari...

Di dalam tenda komando, satu meja kayu. Diisi 6 orang.

*Jasiren* - Ayah Arden, bekas panglima Rinjani.

*Arden* - Pemimpin 3 Pendekar Naga.

*Pendekar Naga Sakti* - Guru dari 3 naga. Rambut putih, tongkat naga.

*Jendral Cokro* - Tangan kanan Jasiren.

*3 Jendral Rinjani*: Jendral Macan, Jendral Garuda, dan *Jendral Kerbau*.

Jendral Kerbau menepuk meja. “Lapor! Serangan besar ini dipimpin langsung oleh Pangeran Juling dari Kerajaan Khan.”

“Pangeran?” tanya Arden.

“Iya,” lanjut Jendral Kerbau. “Dia anak mahkota. Ambisinya tinggi. Mau nunjukin ke Raja Ayahnya kalau dia kuat, mampu menaklukkan Nusantara. Hanya demi gengsi.”

Jendral Garuda menyela. “Tapi kabarnya... Kesaktian Pangeran Juling standar. Bela diri pun pas-pasan. Dia bukan pendekar.”

“Benar,” kata Jendral Kerbau. “Yang pegang perang sebenarnya adalah *Jendral Tongji*. Dia paman dari Pangeran Juling. Tugasnya 2: hancurkan Rinjani, dan *jaga nyawa Pangeran* bagaimanapun caranya.”

Pendekar Naga Sakti menutup mata. “Jadi... kepalanya lemah, tapi tamengnya kuat.”

Arden menatap peta. “Kalau gitu strateginya gampang. Kita nggak lawan tamengnya dulu. Kita bikin Pangeran Juling keluar dari balik tameng.”

Jasiren mengangguk pelan. “Umpan. Kita tarik Jendral Tongji menjauh dari Pangeran. Baru 3 Naga bergerak.”

Meja itu hening. Rencana berbahaya, tapi satu-satunya cara memecah pasukan Khan.

Apis berbisik ke Oval.

"Nama Pangeran nya sedikit aneh ya Bang."

Jendral Kerbau menancapkan tongkatnya ke peta.

“Laporan mata-mata terakhir,” katanya. “Seluruh pasukan utama Khan berpusat di pantai. Di situ Jendral Tongji komando. Bentengnya kuat, pasukannya 3 lapis.”

Dia geser kerikil merah ke laut. “Tapi... Pangeran Juling tidak di pantai. Dia di laut. Di Perahu Perang Merah. Dikawal 2 perahu di kanan-kiri. Jaraknya cuma 500 meter dari bibir pantai.”

Semua jendral di meja itu merenung. Terlalu jauh buat panah. Terlalu bahaya kalau nyebrang laut, bakal ketahuan Jendral Tongji.

Arden mengusap dagu. “500 meter... kita butuh kecepatan. Tapi kapal kita lebih lambat dari mereka.”

Oval geleng. “Kalau lewat air, kita habis ditembak meriam dulu.”

Suasana hening.

Tiba-tiba dari pojokan, Apis yang dari tadi duduk agak jauh, berdiri.

“Kita terbang saja.” ucap Apis.

Semua kepala menoleh.

Apis menunjuk ke atas. “Pakai alat penerbang besar, layang-layang raksasa . Yang sayap kain, atau seperti parasut . Kita langsung menuju perahu merah Pangeran Juling. Turun dari langit. Kita sergrap. Kita sandera Pangeran Juling.”

Dia jeda, matanya nyala.

“Kita minta mereka menyerah dan tinggalkan Nusantara. Sekarang juga.”

Semua terdiam.

Jendral Cokro mangap. Jendral Macan hampir menjatuhkan gelas.

Pendekar Naga Sakti tertawa kecil. “Gila... tapi masuk akal.”

Jasiren menatap Apis. “Kau sadar? Kalau gagal, kau jatuh ke laut. Kalau ketahuan, 3 Naga mati sia-sia.”

Apis menepuk dada. “Kalau berhasil, perang selesai hari ini. Tanpa pasukan kita mati lagi di pantai.”

Jendral Kerbau menepuk meja. “SETUJU! Ini satu-satunya cara motong kepala ular tanpa lawan badannya!”

Satu per satu, semua mengangguk.

Arden berdiri. “Baik. Ide bagus itu Apis. "

Fajar belum naik. Di balik tenda bengkel Rinjani, Jendral Kerbau sudah teriak-teriak sama pasukannya.

“Cepat! Bentang kainnya! Rangka bambu! Ini layangan perang, bukan buat anak-anak!”

5 jam kemudian. Layangan raksasa telah selesai di buat. Kuat, ringan dan lebar.

Lalu layangan di tes di bukit dan berhasil terbang dan di Kendari.

Empat layangan besar disiapkan. Satu orang, satu layangan. Sayapnya dicat hitam biar nggak ketahuan dari laut.

Rapat kembali di lakukan untuk mengatur serangan mendadak.

Jasiren menatap peta sambil berkata. “Kita kirim pendekar terbaik. Jumlah sedikit. Sunyi. Kalau rame-rame, Jendral Tongji di pantai pasti lihat bayangan dari laut.”

Keputusan diambil cepat.

Yang terbang: Arden, Oval, Jendral Kerbau, dan Jendral Garuda.

Mereka empat pendekar paling gesit, paling paham angin laut.

Tiba-tiba suara keras dari belakang.

“TUNGGU!”

Apis - Naga Hitam - “Kenapa aku nggak ikut?! Aku yang pertama ngasih ide nyerbu perahu!”

"Ah Ayo lah... Saya menunggu dan menginginkan pertarungan ini, kenapa saya tidak di ikut kan untuk terbang." ucap Apis protes.

Semua diem.

Pendekar Naga Sakti melangkah maju. Tongkatnya menghentak tanah.

“Duduk, Apis.” ucap Pendekar Naga Langit.

"Kami, tidak meragukan keberanian mu, Kami tidak meragukan kesakitan mu."

Suara guru itu berat. “Dengar. Ini bukan soal berani atau tidak. Ini soal selamat atau mati.”

Dia menunjuk laut. “Kalau serangan ini gagal... kalian akan jatuh tepat di tengah ribuan prajurit Khan. Terkepung. Peluang selamat? Hampir tidak ada.”

Naga Sakti menatap 3 muridnya satu-satu.

“Aku tidak mau 3 muridku mati semua dalam satu malam. *Minimal satu harus selamat* untuk bawa nama Naga, bawa rencana baru, balas dendam.”

Dia menepuk bahu Apis. “Kau yang paling muda di antara mereka. Kau yang paling cepat belajar. Kau yang harus jaga benteng kalau kami gugur.”

Apis mengepalkan tangan. Matanya berkaca. “Tapi Guru... Hidup mati itu takdir Maha Kuasa. "

“Tidak ada tapi,” potong Naga Sakti. “Ini perintah.”

Arden menunduk ke Apis. “Jaga Rinjani untuk kami, Hitam. Kalau kami tidak kembali... kau yang jadi Naga terakhir.”

"Gak perlu Drama Kak Arden, Apis Yakin kalian akan baik-baik saja." ucap Apis.

"Amiinnn..." ucap Oval.

Apis diam. Lalu mengangguk pelan.

"Nasib deh..... Hmmm..... Oke Lah, saya ikut perintah guru saja."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!