Cantik tapi licik itulah julukan untuk Araina Jordan. Perempuan yang serba bisa dan paling menyebalkan bagi keluarga dan teman-temannya.
Araina yang tidak terima di jodohkan oleh keluarganya memilih kabur dari rumah...., sayangnya nasib tidak mendukungnya.
Bukannya bahagia, Ia malah mengalami kecelakaan setelah kabur dari rumahnya.
Tapi.....
Bukannya mati Araina malah masuk ke tubuh orang lain!
"Sialan! Kenapa jadi seperti ini!" ucapnya begitu frustasi.
Jiwa Araina malah bertransmigrasi ke tubuh Freya Anastasia Smith..., gadis cantik lemah lembut yang selalu dilindungi oleh dua keluarga besarnya.
"Tidak masalah yang penting masih kaya" gumam Araina.
Namun semuanya berubah ketika satu persatu ingatan Freya mulai masuk ke kepala Araina.
Pusing? Muak?
Araina baru menyadari ternyata ia bertransmigrasi ke dalam sebuah novel dimana ia hanya adik sepupu dari protagonis pria.
Mati? Tentu saja! Freya hanya seorang figuran....
(Apa yang akan dilakukan Araina selanjutnya? Yaaa rahasiaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan!
Selesai menyiapkan barang-barang nya. Freya meminta pelayan untuk membawa barangnya turun ke lantai satu.
Freya masih tidak menyangka jika dirinya akan berangkat hari ini juga. Bahkan ia belum sempat berpamitan dengan Raya.
"Mom, dad, Aku izin sebentar ya" ujarnya ketika sudah sampai di dekat orang tuanya.
Vanessa mengernyitkan dahinya, "Kemana sayang? Mom nggak mau ya kamu menemui Sergio!" ujarnya dengan penekanan.
Freya yang dituduh seperti itu hanya menghela nafasnya. Yang menyukai Sergio itu bukan dirinya tapi Freya asli. Tapi ia tidak mungkin mengatakan hal itu bukan?
"Mom aku bukan mau menemui Sergio..., Aku ingin menemui Raya untuk berpamitan" ujarnya dengan sungguh-sungguh.
Vanessa menyipitkan matanya masih meragukan putrinya itu. Ia sudah mencari tau apa saja yang terjadi di sekolah.
Bahkan kelakuan Freya yang selalu mengejar Sergio membuat Vanessa sakit hati ketika melihat putrinya diperlakukan seperti itu.
"Baiklah, tapi kamu tidak boleh terlambat Freya" kata Vanessa akhirnya.
Freya tersenyum, "Siap mom" ucapnya kemudian berpamitan.
Arthur yang di sana terkekeh melihat ekspresi lucu putrinya. "Hah..., sepertinya aku tidak akan sanggup jika harus berjauhan dengan putri kita" ucapnya masih menatap ke arah kepergian Freya
Vanessa pun mengangguk, "Aku pun begitu. Tapi kita tidak bisa memaksa Freya" sambungnya agak sedih dengan keputusan Freya.
Tapi sebagai orang tua mereka harus bisa mendukung keputusan yang di ambil putrinya. Mereka tidak bisa memaksakan kehendak mereka.
****
Di Cafe yang terdekat dari Mansion Freya....
Raya sudah duduk santai di sana sambil menunggu kedatangan Freya. Ia ingin tau kenapa hari ini Freya tidak datang ke sekolah.
Ditambah Airin juga tidak ke sekolah yang membuat Raya semakin khawatir dengan Freya.
Tapi Raya bersyukur, Freya mengirimkan pesan ke padanya untuk bertemu setelah pulang sekolah.
"Raya...."
Raya yang dipanggil menolehkan kepalanya. Melihat Freya baik-baik saja membuatnya terasa lega.
Raya menarik Freya duduk di sampingnya. "Kenapa kamu tidak ke sekolah hari ini Freya? Aku jadi sendirian tau" ujarnya dengan wajah yang cemberut.
Freya terkekeh, "Maaf Raya, orang tua ku baru saja pulang dari luar kota makanya aku tidak ke sekolah" jawabnya.
Raya mengangguk mengerti, Sebelum melanjutkan obrolan mereka. Raya dan Freya memesan makanan terlebih dahulu.
Terlebih Raya baru pulang sekolah, Freya yakin temannya itu sudah lapar.
Setelahnya mereka mengobrol santai sambil memakan makanan yang sudah disiapkan untuk mereka.
"Sudah lama rasanya kita tidak mengobrol seperti ini" ujar raya begitu senang.
Dulu mereka sering meluangkan waktu untuk mengobrol dan bermain. Namun ketika Freya menyukai Sergio waktu mereka untuk bertemu pun jadi sedikit.
Di sekolah saja mereka hanya berbicara ketika Freya di kelas. Mengingat itu membuat Raya sedikit sedih.
Tapi sekarang ia cukup bahagia melihat perubahan Freya.
"Hmm Raya, sebenarnya aku ingin menyampaikan sesuatu" ucap Freya dengan pelan.
Raya mengernyitkan dahinya mendengar nada suara Freya yang memelan. Tapi ia tetap diam sambil menunggu apa yang akan disampaikan oleh Freya.
Freya menghembuskan nafasnya pelan, "Aku akan kembali ke Indonesia" sambungnya dengan wajah serius.
Deg...
Raya terkejut mendengar penuturan Freya. "Kenapa?" tanyanya masih tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Freya.
"Aku merindukan keluarga besar ku Raya. Ditambah kedua orang tua ku juga harus ke Italia selama sebulan. Karna itu aku memutuskan untuk kembali" jelasnya.
Raya terdiam mendengar itu. Freya adalah satu-satunya teman yang paling dekat dengannya.
Bahkan Raya sudah menganggap Freya seperti saudara kandungnya.
"Apa kami harus kembali? Bukankah kamu bisa kembali lagi ke sini setelah dari sana?" tanyanya masih berharap Freya tidak akan pergi.
Sayangnya Freya menggelengkan kepalanya. "Maafkan aku raya. Aku harus kembali" ujarnya yang membuat senyum Raya memudar.
"Tapi kamu tenang saja, aku akan mengunjungi jika ke sini lagi" ujarnya dengan senyuman.
Raya memeluk Freya dengan erat. "Sampai disana jangan lupakan aku ya" ujarnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Freya tertegun mendengar itu, ia memeluk balik Raya. "Tentu saja" jawabnya. Freya tidak tau perasaan yang dirasakannya saat ini.
Apakah ia ikut sedih atau ia hanya terbawa suasana saja? Terlebih dulu ketika ia masih menjadi Araina, dirinya hanya berteman dekat dengan Agam.
Mengingat nama Agam membuatnya seketika emosi. Ia masih ingat bagaimana tatapan Agam saat menatapnya ketika kecelakaan itu.
Karna terlalu emosi, Tanpa sengaja Freya memeluk Raya dengan erat hingga Raya meringis.
"Freya..., sakit tau" ujarnya sedikit kesal.
Freya yang tersadar dengan kelakuannya hanya meminta maaf pada Raya. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Raya sepertinya aku harus pulang" ujarnya ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul empat sore.
Raya yang tadinya kesal jadi sedih mendengar ucapan Freya. "Baiklah..., maaf aku tidak bisa mengantar mu ke bandara" ucapnya merasa bersalah.
Raya harus pulang setelah ini karna ia juga ada rencana bersama orang tuanya.
"Tidak masalah Raya..., aku ke sini hanya ingin berpamitan dengan mu" ujarnya. "Tapi aku harap kamu tidak mengatakan apapun pada orang lain tentang kepergian ku" tambahnya.
Raya paham apa yang disampaikan Freya. Terutama untuk Sergio. Raya tidak akan membiarkan Sergio mengetahui keberadaan Freya.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal lainnya. Aku akan merahasiakan ini" kata Raya dengan sungguh-sungguh.
Freya tersenyum dan kembali memeluk Raya. Setelahnya mereka berpisah dari Cafe menuju tujuan mereka masing-masing.
Freya mengirimkan pesan pada sopirnya untuk menunggu sebentar karna ia mau memesan kue untuk dibawa ke mansion.
Sambil menunggu, Freya memainkan ponselnya dan duduk di kursi yang sudah di sediakan di sana.
"Freya..."
Freya hanya diam tanpa menoleh. Ia sangat tau siapa orang yang telah memanggilnya. Suara itu masih terekam jelas di otaknya.
Entah karna Freya asli sangat mencintai pria itu atau karna dirinya membenci pria seperti Sergio.
"Freya maafkan aku" ucap Sergio yang sudah duduk di samping Freya. "Aku tau kamu masih sangat sulit untuk memaafkan ku. Tapi Freya aku juga tidak tau ternyata Airin menipuku seperti ini"
Sergio mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada Freya. Walaupun Freya hanya diam, Sergio tau jika Freya mendengarkan apa yang ia sampaikan.
"Bisakah kami memberikan ku kesempatan sekali lagi? Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ku Freya" ucap Sergio menggenggam tangan Freya.
Tak...
Freya menghempaskan tangan Sergio, "Maaf kak..., aku tidak bisa melakukannya" jawabnya dengan pelan. 'Sial kenapa gue harus bertemu dengan sialan ini' kesalnya.
Sergio menghela nafasnya, "Kamu masih cemburu karna Airin kan? Freya sebenarnya aku membiarkan Airin selama ini karna aku pernah berjanji untuk menjaganya" ucapnya masih menatap ke arah Freya.
"Airin pernah menyelamatkan nyawaku. Tanpa dirinya aku rasa aku tidak akan selamat karna kecelakaan itu" sambungnya.
Freya memutar bola matanya malas. Ia sudah membaca novel sialan ini. Ia juga tau kecelakaan yang dikatakan Sergio itu juga ulah Airin.
Namun Freya tidak mau membuang-buang waktunya untuk meladeni Sergio.
"Nona Freya pesanan anda sudah siap..." ujar seorang pelayan.
Freya berdiri dan mendekati arah kasir untuk membayar pesanannya. Freya melirik ke belakang untuk memastikan Sergio.
Dan benar saja Sergio malah mengikuti dirinya, bahkan saat ini ia sudah keluar dari cafe tadi.
"Bisakah kak Sergio tidak mengikuti ku? Kedua orang tuaku sudah mengetahui apa yang terjadi di sekolah. Aku harap kak Sergio berhenti mendekat ku. Kakak masih ingat kan perkataan ku waktu di kantin?"
Sergio mengatupkan mulutnya ketika ingin memotong pembicaraan Freya.
'Aku harap kita tidak akan bertemu lagi kak...'
Sergio mengepalkan tangannya mengingat ucapan Freya itu. Belum sempat ia ingin menjelaskan lagi, Freya sudah lebih dulu menaiki mobilnya dan pergi dari sana.
~ To Be Continue
.