Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Beri hanya menjadi pendengar. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, memandang Dira yang begitu bersemangat menceritakan lelaki lain. Tak sekali pun ia memotong. Tak sekali pun ia mengubah arah pembicaraan. Namun di balik senyumnya yang tenang, ada perasaan yang perlahan mengiris hati. "Kalau saja..." Tatapan Beri jatuh pada wajah Dira yang sedang berbinar. "Kalau saja aku yang datang lebih dulu malam itu... Kalau aku yang menyelamatkanmu dari kehidupan itu... Kalau aku yang pertama kali memberimu harapan..." Ia menarik napas panjang. Sebuah pertanyaan yang selama ini selalu ia pendam kembali muncul di benaknya. "Kalau aku yang datang duluan menolongmu... Apakah kamu juga bisa mencintaiku?" Pertanyaan itu hanya bergema di dalam hatinya. Tak pernah berani ia ucapkan. Karena ia tahu jawabannya belum tentu seperti yang ia harapkan. Atau mungkin... Ia justru sudah mengetahui jawabannya sejak lama.
Bagi Dira, Adrian adalah cahaya pertama yang mengubah seluruh hidupnya. Sedangkan dirinya... Hanyalah seseorang yang datang setelah cahaya itu menyala, lalu menjaga agar nyalanya tidak pernah padam.
Beri tersenyum tipis. Ada rasa iri yang sulit ia sangkal. Namun rasa itu tidak pernah berubah menjadi kebencian. Karena ia mengenal Adrian. Dan ia juga mengenal Dira. Keduanya sama-sama orang baik. Jika memang suatu hari mereka saling mencintai, Beri tahu ia tidak berhak menyalahkan siapa pun. Ia hanya... datang terlambat.
"Eh, Kak?" Suara Dira membuyarkan lamunannya. "Kok malah melamun?"
Beri berkedip pelan, lalu tersenyum seperti biasa. "Nggak. Aku cuma lagi mikir..."
"Mikir apa?"
Beri menggeleng sambil meraih cangkir kopinya. "Bukan sesuatu yang penting."
Dira mengangguk tanpa curiga. Lalu kembali melanjutkan ceritanya tentang Adrian. Sementara Beri tetap mendengarkan dengan sabar. Meski setiap kalimat yang keluar dari bibir Dira terasa seperti pengingat bahwa perempuan yang paling ia sayangi... telah memberikan seluruh ruang di hatinya kepada pria lain.
Ruangan kembali dipenuhi keheningan. Dira masih memegang cangkir kopinya, sementara Beri bersandar santai di kursi kerja. Meski wajahnya tampak tenang, pikiran Beri terus berputar. Ia sudah terlalu lama melihat Dira menyimpan perasaan itu sendirian. "Dir."
"Hm?"
"Kamu mau begini terus?"
Dira mengernyit. "Maksud Kakak?"
"Menyimpan semuanya sendirian."
Dira tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja."
"Kamu kelihatan tidak baik-baik saja." Beri menatapnya lekat. "Kapan kamu akan mengutarakan isi hatimu pada Adrian?"
Dira langsung tersedak kopi yang baru saja diminumnya. "Hah?"
"Batuk... batuk..." Beri tertawa kecil sambil menyodorkan segelas air putih. "Pelan-pelan."
Dira meminum air itu beberapa teguk. Wajahnya memerah. "Kakak ngomong apa, sih?"
"Aku serius. Kamu menyukainya bertahun-tahun. Kalau memang ingin memperjuangkannya, kenapa tidak jujur?"
Dira buru-buru menggeleng. "Jangan."
"Kenapa?"
"Aku nggak berani."
Beri menghela napas. "Kalau kamu tidak berani....biar aku saja yang membantumu."
Dira membelalakkan mata. "Maksud Kakak?"
"Aku yang bicara dengan Adrian. Bagaimanapun kami dulu cukup dekat. Kami memang lama berpisah karena mengejar cita-cita masing-masing. Tapi kalau hanya memperkenalkanmu lebih dekat, aku masih bisa."
Dira langsung melambaikan kedua tangannya. "Eh, jangan! Sungguh, jangan! Nanti malah berantakan."
Beri mengernyit. "Kenapa?"
Dira menatap meja. Suaranya menjadi jauh lebih pelan. "Aku tidak mau dia tahu. Kalau dia tahu aku menyukainya..bisa saja dia merasa risih. Atau malah menjaga jarak. Aku tidak sanggup kehilangan kesempatan berteman dengannya." Ia tersenyum kecil, meski senyum itu tampak dipaksakan. "Begini saja aku sudah senang. Bisa ngobrol. Bisa minum kopi. Bisa rapat bersama. Itu sudah lebih dari cukup."
Beri memandang Dira cukup lama. Ia benar-benar tidak mengerti. Bagaimana seseorang bisa mencintai sedalam itu, tetapi memilih menyimpannya sendiri. Meski sebenarnya Beri juga melakukan hal yang sama, ia memilih menyimpan perasaannya pada Dira sebab ia baru tahu kalau Dira sudah menyimpan sebuah nama di hatinya, yaitu Adrian. "Dir. Kamu sadar, kan?"
"Apa?"
"Adrian masih punya Mayang."
Dira mengangguk pelan. "Aku tahu." "Mereka bahkan sedang membicarakan pertunangan."
"Lalu kenapa kamu masih mempertahankan perasaan itu?"
Dira tersenyum tipis. Senyum yang menyimpan banyak kepedihan. "Karena hati ini belum bisa disuruh berhenti."
Beri mengusap tengkuknya pelan. "Kamu ini memang aneh. Sudah tahu Adrian punya pasangan..masih saja suka sama pasangan orang."
Kalimat itu membuat Dira mengangkat kepalanya. Tatapannya berubah serius. "Kak. Aku memang menyukai Adrian. Tapi aku tidak pernah berniat merebutnya. Aku tidak pernah mengganggu hubungan mereka. Aku tidak pernah menghasut Adrian agar membenci Mayang. Aku juga tidak pernah menggoda Adrian." Ia menarik napas panjang. "Perasaanku memang salah waktu. Tapi tindakanku tidak akan salah."
Beri terdiam.
Dira melanjutkan dengan suara tenang. "Yang penting...aku bukan pelakor." Ruangan kembali sunyi. Beberapa detik kemudian Dira kembali membuka suara. "Lagipula..." Ia berhenti di tengah kalimat.
"Lagipula apa?"
Dira menggigit bibir bawahnya. Ia teringat pertemuan tak sengaja antara Mayang dan Bastian. Ia juga teringat wajah Mayang yang langsung pucat saat menyadari Dira mengetahui kejadian itu. Namun semua itu bukan bukti. Dan bukan pula rahasia yang pantas ia sebarkan. Dira akhirnya menggeleng pelan. "Nggak jadi."
Beri memperhatikannya dengan penuh rasa ingin tahu. "Kamu mau bilang apa?"
"Nggak ada."
"Kok tiba-tiba berhenti?"
Dira tersenyum tipis. "Aku cuma berpikir...tidak semua hal yang kita tahu harus kita ucapkan."
Beri mengangguk pelan. Ia tidak tahu apa yang sedang disembunyikan Dira. Namun ia bisa merasakan bahwa perempuan itu sedang memikul sesuatu yang berat. Sesuatu yang mungkin akan mengubah banyak hal jika suatu hari nanti terungkap. Dan untuk pertama kalinya, Beri mulai bertanya-tanya... Rahasia apa yang sebenarnya sedang dijaga Dira dengan begitu hati-hati?
Beri mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan cara berpikir Dira. Selama bertahun-tahun ia melihat perempuan itu bekerja tanpa mengenal lelah. Tidur hanya beberapa jam, membangun bisnis dari nol, memperluas relasi, mengakuisisi perusahaan, bahkan menjadi investor di berbagai tempat.
Semua orang mengira Dira mengejar kekayaan demi kehidupan mewah. Namun Beri tahu, semua itu hanya karena satu orang. Karena Adrian. Ironisnya, setelah berhasil berdiri sejajar dengan para pengusaha besar, Dira justru tidak memiliki keberanian untuk memperjuangkan perasaannya. Beri mengusap wajahnya pelan sebelum akhirnya bertanya, "Berarti... seumur hidup kisah ini akan jalan di tempat?"
Dira terdiam beberapa saat. Tatapannya jatuh ke permukaan kopi yang mulai dingin. Anehnya, tidak ada raut sedih di wajahnya. Justru senyum kecil perlahan muncul di bibirnya, senyum yang tampak begitu tulus sekaligus menyimpan kepasrahan. "Enggak apa-apa kok," jawabnya pelan. "Kalau memang akhirnya seperti ini, aku ikhlas." Ia mengangkat bahu seolah sedang membicarakan sesuatu yang sangat biasa. "Aku rela harus jomblo seumur hidup."