Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Bagus Menikah Lagi
Pak Tono tidak lagi menyindir Hendro setelah sore itu, tetapi diamnya bukan berarti ia berubah.
Rumah tetap berjalan dengan cara baru yang tidak sepenuhnya ia sukai. Bu Yati mengatur uangnya sendiri, Tari sibuk bekerja, Guntur makin sering pulang membawa kabar dari luar, Anto pindah ke kontrakan kecil dekat terminal bersama Watini dan Fajar. Hidup semua orang bergerak tanpa menunggu Pak Tono mengangguk.
Beberapa bulan lewat, kabar terbesar justru datang dari Bagus.
"Bu," kata Bagus suatu malam, duduk di ruang depan dengan punggung lebih tegak dari biasanya. "Aku mau menikah dengan Ani."
Bu Yati sedang melipat baju Melati. Tangannya berhenti di atas daster kecil bergambar bunga. "Riani?"
"Iya. Ani."
Melati yang sedang menggambar di lantai mengangkat kepala. "Tante Ani yang kasih Mel roti di rumah sakit?"
Bagus mengusap rambut anaknya. "Iya, Nak."
Bu Yati menatap putra keduanya lama. Bagus tampak lebih rapi sejak sering menemui Riani. Rambutnya disisir, bajunya tidak asal, bahkan cara bicaranya sedikit lebih pelan. Entah karena cinta, entah karena ia tahu keluarga Dokter Suradi bukan orang yang bisa dibodohi dengan senyum manis.
"Kali ini jangan bohong," kata Bu Yati. "Ani anak baik."
Bagus menunduk. "Aku tahu, Bu."
"Tahu saja tidak cukup. Ratih sudah mati. Melati sudah cukup banyak kehilangan. Kalau kamu mau mulai lagi, jangan mulai dengan dosa lama."
Wajah Bagus mengeras sesaat, lalu melembut. Nama Ratih masih seperti kerikil di sandal. Mengganggu, kecil, tetapi tidak pernah benar-benar hilang.
"Aku serius," katanya. "Aku tidak bilang aku suci. Tapi sama Ani... aku ingin benar."
Bu Yati tidak langsung percaya. Ibu yang pernah melihat anaknya lari dari tanggung jawab tidak bisa sembuh hanya karena satu kalimat manis. Namun ia juga tahu, manusia yang pernah salah tetap perlu diberi jalan kalau benar-benar mau berjalan.
Pertemuan dengan keluarga Riani berlangsung di rumah sederhana dekat RSUD Cirebon. Dokter Suradi menyambut mereka dengan wajah sopan tetapi kaku. Murni, istrinya, menyuguhkan teh hangat dan pisang goreng, tetapi matanya berkali-kali memeriksa Bagus dari ujung rambut sampai sandal.
"Mas Bagus kerja apa sekarang?" tanya Dokter Suradi.
"Usaha kecil, Pak Dokter. Titip barang, jual beli online, kadang bantu distribusi. Belum besar, tapi mulai stabil."
"Belum kerja tetap?"
Bagus menahan napas. "Belum."
Dokter Suradi menatap Bu Yati. "Anak saya perawat. Dia punya penghasilan sendiri. Saya bukan mencari menantu kaya, tapi saya tidak mau Ani menanggung laki-laki."
Riani, yang duduk di samping ibunya, menunduk tetapi tidak gemetar. "Bapak, Mas Gus tidak meminta saya menanggung dia."
"Kamu diam dulu, Nak."
Bu Yati meletakkan cangkirnya. "Pak Dokter benar khawatir. Saya juga khawatir. Bagus anak saya, tapi saya tidak akan menjual dia seolah tanpa cacat. Dia duda. Dia punya anak perempuan. Kerjanya belum tetap. Dulu rumah tangganya juga tidak baik."
Bagus menoleh, sedikit perih.
Bu Yati melanjutkan, "Justru karena itu, kalau Pak Dokter tanya keras, saya tidak tersinggung. Saya cuma minta satu hal. Nilai dia dari apa yang dia lakukan setelah ini, bukan dari janji di ruang tamu."
Dokter Suradi diam cukup lama.
Riani mengangkat wajah. "Bapak, saya tahu Melati ada. Saya tidak takut. Saya juga tahu Mas Gus bukan orang sempurna. Tapi saya tidak mau menikah dengan orang yang cuma terlihat baik di luar. Saya mau lihat dia berusaha."
Murni menghela napas. "Ani, jadi ibu sambung tidak mudah."
"Saya tahu, Bu."
Di sudut ruangan, Melati duduk rapat di samping Tari. Anak itu memegang kue pisang, belum berani menggigit. Riani melihatnya, lalu mengambil piring kecil.
"Mel, mau tambah?"
Melati menatap Bagus dulu. Setelah ayahnya mengangguk, ia berjalan pelan. Riani tidak memaksa menyentuh. Ia hanya menaruh pisang goreng di piring kecil dan menggesernya.
"Kalau panas, tiup dulu."
Melati meniup pisang itu dengan pipi menggembung.
Sesuatu di wajah Dokter Suradi melunak sedikit.
Pernikahan mereka akhirnya dibuat sederhana. Akad nikah dilakukan di KUA dengan keluarga inti, lalu syukuran kecil di rumah Pak Tono. Bu Yati tetap memaksa ada siraman sederhana sehari sebelumnya, bukan mewah, hanya air bunga dari ember bersih, kain jarik pinjaman Bu Sari, dan doa ibu-ibu kampung yang datang membawa berkat.
"Biar sederhana, tetap harus ada restu dan bersih hati," kata Bu Yati saat Bagus protes biaya.
"Bu, siraman buat pengantin pertama kali, bukan duda."
"Duda juga perlu disiram. Malah kamu perlu lebih banyak."
Guntur tertawa keras. "Mas Gus, kalau bisa pakai sabun sekalian."
Bagus melempar handuk kecil ke arah adiknya. "Mulutmu."
Hari akad, Riani memakai kebaya putih tulang. Wajahnya tidak terlalu tebal riasan, tetapi matanya jernih. Bagus duduk di depan penghulu dengan tangan agak berkeringat. Saat ijab kabul selesai dalam satu tarikan napas dan saksi berkata sah, Bu Yati melihat Melati menggenggam ujung kainnya erat.
"Mbah," bisik anak itu. "Tante Ani sekarang tinggal sama Mel?"
"Kalau Mel mau, iya."
"Kalau Mel nakal, Tante Ani marah?"
Bu Yati jongkok. "Mel anak baik. Kalau salah, orang tua menegur, bukan menyakiti."
Melati mengangguk pelan, tetapi matanya masih mencari Riani.
Saat syukuran, Riani mendekati Melati lebih dulu. Ia berlutut agar wajah mereka sejajar. "Mel, mulai hari ini, kamu boleh panggil aku apa saja yang bikin Mel nyaman. Tante Ani boleh. Mbak Ani juga boleh."
Melati memegang piring kue lapis. Bibirnya bergerak beberapa kali.
"Bunda?"
Riani terdiam.
Suara di ruang tengah seperti mengecil. Bagus yang sedang menerima ucapan selamat dari tetangga langsung menoleh. Bu Yati merasakan tenggorokannya panas.
Riani membuka tangan pelan. "Boleh."
Melati masuk ke pelukannya dengan langkah kecil, ragu-ragu dulu, lalu menempel lebih kuat ketika Riani benar-benar memeluknya. Tidak ada tangis keras. Hanya bahu kecil yang naik turun, dan tangan Riani yang mengusap punggungnya dengan hati-hati.
Bagus menunduk. Untuk sesaat, wajahnya tidak terlihat seperti laki-laki yang pandai mencari jalan untung. Ia terlihat seperti ayah yang baru sadar anaknya selama ini berdiri di depan pintu terlalu lama.
Bu Yati mengusap sudut matanya cepat.
Namun kebahagiaan tidak membuatnya buta.
Saat orang-orang sibuk mengambil nasi kotak, ponsel Bagus bergetar di saku celananya. Ia mengeluarkan sebentar. Layar menyala. Matanya bergerak membaca nama pengirim, lalu rahangnya mengeras.
Hanya sedetik.
Setelah itu ia memasukkan ponsel kembali, tersenyum kepada tetangga yang memberi selamat, dan mengambil gelas teh seolah tidak terjadi apa-apa.
Bu Yati melihat semuanya.
Malamnya, setelah tamu pulang dan rumah mulai sepi, Riani membantu merapikan kotak seserahan di kamar. Bagus sedang di kamar mandi. Ponselnya tergeletak di atas kasur, tertutup sebagian oleh peci putih.
Layar itu menyala.
Riani tidak berniat mengintip. Tetapi kalimat di layar muncul cukup jelas sebelum gelap lagi.
Kontak Dihapus:
Aku tahu kamu sudah nikah lagi. Tapi anak ini tetap anakmu.