Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Pelajaran Pertama
Keira tidak langsung menjawab.
Jayden masih menatapnya dari atas ranjang, mata bulatnya terlalu serius untuk anak yang baru saja mengantuk. Kalimatnya menggantung di antara lampu tidur dan map rahasia di meja kecil.
Ci Keira, kalau kamu pergi, aku ikut.
Keira duduk di tepi ranjang.
"Jay," katanya pelan, "kalau seseorang pergi kerja, bukan berarti dia meninggalkan kamu."
Dahi Jayden berkerut. "Tapi pergi."
"Iya. Tapi bisa kembali."
"Kalau nggak?"
Keira menatap guling kecil dalam pelukannya. Ia ingin berkata bahwa ia tidak akan pergi. Kalimat itu mudah. Manis. Anak kecil pasti senang mendengarnya.
Tetapi di Kediaman Ciu, janji yang tidak bisa ia kendalikan adalah benda berbahaya.
"Kalau suatu hari jadwal berubah," kata Keira akhirnya, "Ci Keira akan bilang dulu. Tidak diam-diam hilang."
Jayden berpikir lama.
"Janji bilang dulu?"
"Janji bilang dulu."
"Pakai kelingking."
Keira mengulurkan kelingkingnya. Jayden mengaitkannya dengan jari kecil yang hangat.
"Sekarang tidur."
"Besok belajar?"
"Besok kita main sambil belajar."
Jayden memejamkan mata, tetapi senyumnya muncul sedikit. "Aku pintar."
"Besok kita buktikan lagi."
Keesokan sorenya, Keira membawa Jayden ke taman.
Ia tidak memulai dari buku. Anak lima tahun yang terlalu sering disuruh duduk akan menganggap kursi sebagai hukuman. Jadi Keira membiarkan Jayden berjalan, menyentuh daun, menunjuk bunga, bertanya dengan cara yang kadang tidak masuk akal.
"Kenapa bunga ini mukanya banyak?"
"Itu kelopak."
"Kelopak itu muka?"
"Bukan. Kelopak itu bagian bunga. Coba hitung."
Jayden berjongkok di depan bunga kamboja yang jatuh di rumput.
"Satu, dua, tiga..." Ia berhenti. "Ini susah."
"Ulang dari awal. Pelan."
"Satu, dua, tiga, empat, lima."
"Berarti kelopaknya lima."
Jayden menatap bunga itu dengan wajah curiga. "Semua bunga lima?"
"Tidak. Kita cari yang lain."
Maka mereka mencari.
Bunga pertama lima. Bunga kecil warna ungu empat. Daun sirih gading punya pola kuning yang tidak sama. Batu di tepi kolam bisa disusun dari kecil ke besar. Semua benda di taman berubah menjadi pelajaran tanpa pernah disebut pelajaran.
Jayden mulai lupa bahwa ia sedang belajar.
Ia menghitung sambil berjalan. Salah, ulang, benar, tertawa. Kadang ia memaksa semua daun dimasukkan ke kategori "daun malas" hanya karena bentuknya menunduk. Keira membiarkannya menamai, lalu pelan-pelan mengembalikan ke bentuk, warna, jumlah.
"Daun ini hijau tua. Ini hijau muda. Mana yang lebih gelap?"
"Ini."
"Kenapa?"
"Karena... kayak baju Ko Ethan kalau marah."
Keira hampir tersedak tawa.
"Ko Ethan tidak termasuk kategori warna daun."
"Tapi gelap."
"Itu pendapat Jay. Sekarang lihat daunnya."
Jayden tertawa kecil, lalu kembali menunduk.
Di dekat pagar rendah taman, seekor semut menarik remah roti yang entah berasal dari mana. Jayden melihatnya saat hendak berdiri.
"Ci Keira, itu bawa apa?"
Keira ikut berjongkok. "Makanan."
"Kecil banget."
"Semut juga kecil."
"Dia kuat?"
"Coba lihat."
Jayden menempelkan kedua tangan di lutut, wajahnya dekat sekali ke tanah sampai Keira harus menahan bahunya agar tidak terlalu menunduk. Semut itu bergerak pelan, menarik remah yang lebih besar dari tubuhnya, berhenti, lalu bergerak lagi.
Satu menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Jayden tidak pergi.
Anak itu biasanya mudah bosan jika tidak menjadi pusat perhatian. Namun saat melihat semut, ia seperti masuk ke dunia yang hanya berisi gerak kecil dan kesabaran.
"Dia jatuh," bisiknya ketika remah itu terguling.
"Iya."
"Dia coba lagi."
"Iya."
"Kenapa nggak nangis?"
Keira menatap profil kecil Jayden.
"Mungkin karena dia tahu rumahnya menunggu."
Jayden diam.
Semut itu akhirnya berhasil menarik remah melewati celah batu.
Jayden menarik napas panjang, seolah ia sendiri yang baru selesai bekerja keras.
"Dia pintar."
"Iya."
"Aku juga bisa coba lagi?"
Keira merasakan dadanya menghangat. "Bisa."
Ia melihat jam. Dua puluh menit.
Dua puluh menit penuh Jayden mengamati tanpa meminta mainan lain, tanpa berteriak, tanpa menuntut orang dewasa memuji setiap detik. Keira mulai menyusun kesimpulan dalam kepala, bukan sebagai pengasuh yang terharu, melainkan sebagai pendamping yang perlu merancang langkah berikutnya.
Jayden bukan anak yang tidak bisa fokus.
Ia hanya tidak pernah diberi sesuatu yang cukup hidup untuk diikuti pikirannya.
Sore itu, Keira mengajaknya kembali ke kamar bermain.
"Kita buat tempat untuk semua yang Jay pelajari."
"Tempat rahasia?"
"Bukan rahasia. Sudut belajar."
"Belajar lagi?"
"Sudut karya."
Jayden langsung lebih tertarik. "Pakai gambarku?"
"Pakai gambar Jay, daun yang sudah kering, dan tulisan Jay."
Mereka menggunakan kardus bekas pengiriman popok yang sudah dibersihkan. Keira memotong bagian tutup dengan gunting, melapisi dalamnya dengan kertas putih, lalu membiarkan Jayden memilih posisi gambar.
Daun biru ditempel di kiri.
Daun merah "marah" ditempel di kanan.
Gambar "Ci Keira dan aku" tidak ditempel. Jayden belum siap. Ia hanya membuka map rahasia, melihatnya sebentar, lalu menutup lagi.
"Yang ini nanti," katanya.
"Baik."
Keira menulis huruf besar di kertas kecil: DAUN, BATU, SEMUT.
Jayden menyalinnya dengan krayon hijau. Huruf D-nya terlalu besar, A-nya miring, dan kata SEMUT menjadi SEMUTT karena ia merasa satu T "kurang kuat".
"Boleh dua T?"
"Untuk latihan hari ini, boleh. Besok kita lihat lagi."
Jayden tertawa.
Ia melompat kecil ketika sudut itu selesai.
"Ini punyaku?"
"Iya. Tapi disimpan rapi."
"Aku punya pameran!"
"Pameran kecil."
"Pameran Jay!"
Keira tersenyum. "Pameran Jay."
Ia tidak melihat ada seseorang berhenti di depan pintu kamar bermain.
Ethan berdiri di luar, satu tangan masih memegang ponsel, mungkin baru selesai menerima panggilan. Dari tempatnya, ia bisa melihat Jayden melompat di depan kardus bekas yang ditempeli daun kering, bisa mendengar Keira tertawa pelan saat anak itu salah membaca tulisannya sendiri.
Wajah Ethan tidak berubah.
Namun matanya berhenti terlalu lama pada kardus bekas itu.
Tidak ada mainan impor. Tidak ada guru privat asing. Tidak ada jadwal padat yang disusun dengan target prestasi. Hanya kardus, daun kering, krayon, dan seorang anak yang bangga karena pekerjaannya ditempel di tempat yang bisa ia lihat.
Jari Ethan bergerak sedikit di sisi ponsel.
Ia menatap Jayden yang berkata, "Ci Keira, besok semutnya kita cari lagi ya!"
Keira menjawab, "Kalau semutnya mau tampil lagi."
Jayden tertawa lepas.
Ethan menurunkan pandangan.
Tidak sampai sedetik, wajahnya kembali dingin. Ia berbalik sebelum Jayden melihatnya, lalu pergi tanpa suara.
Di dalam kamar, Keira masih membantu Jayden merapikan krayon.
"Krayon masuk kotak warna yang sama."
"Yang oranye sama merah boleh bareng?"
"Kalau hari ini matanya Jay sudah capek, boleh. Besok kita pisahkan."
"Besok banyak sekali."
"Karena Jay sudah bisa banyak hal."
Jayden memeluk kotak krayon dengan bangga.
Setelah ia dipanggil pengasuh tua untuk mandi, Keira tinggal sebentar untuk membersihkan sisa kertas dan serpihan daun di lantai.
Saat ia membawa kantong sampah kecil ke pintu, langkahnya berhenti.
Di dekat ambang pintu, di lantai yang tadi dipel basah setelah hujan sore, ada jejak sepatu kulit.
Bukan sandal staf.
Bukan sepatu kecil Jayden.
Jejak itu panjang, tegas, dan hanya sepasang, seolah pemiliknya berdiri di sana cukup lama lalu pergi dengan hati-hati.
Keira menatap koridor yang sudah kosong.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Namun ia tahu, seseorang tadi datang.