Aqila gadis cantik berusia delapan belas tahun yang baru saja menyelesaikan pendidikan nya di negara Finlandia.
Malam itu untuk merayakan kelulusan nya, Aqila berhasil kabur dari penjagaan ketat para bodyguard milik kakak nya.
Tetapi siapa yang menyangka gadis itu malah kabur ke sebuah night club terkenal di kota tempat ia tinggal dan terjebak oleh sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan?
Lalu bagaimana kisah selanjutnya? Sesuatu seperti apa yang akan menimpah dirinya? Atau mungkin sebuah jebakan?
Note:- Agar mengerti jalan cerita sebelumnya, disarankan membaca karya "Terjebak Cinta Om Mafia Possesive"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri_923, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-15- Pernikahan
Bram berdiri di atas altar bersama seorang pendeta di samping nya. Senyum Bram terukir kala melihat pengantin wanitanya berjalan bergandengan dengan Alex-- sang Papa
Sangat indah, cantik dan mempesona. Itu lah kata yang cocok untuk Aqila saat ini yang sebentar lagi akan menjadi istri dari seorang Bram Adipati.
"Pa.. Aku benar-benar belum siap" Lirih Aqila menahan air matanya
"Jangan membuat Papa seperti orang jahat, Aqila" Sahut lembut Alex mengusap punggung tangan Aqila
Pria paruh baya itu terus menuntun sang putri berjalan menuju atas altar, dimana seorang pria tengah berdiri tegas menunggu kedatangan mereka.
"Jalani perlahan, jangan membuat malu keluarga" Ucap Alex terakhir kalinya sebelum menyerahkan tangan Aqila yang sedari ia genggam ke tangan Bram.
"Terimakasih, Pa"
Alex mengangguk dan menepuk-nepuk pelan bahu Bram. "Papa serahkan anak Papa padamu, jaga dia sebagaimana kami menjaga nya dan jangan pernah sakiti dia"
Bram tersenyum dan mengangguk yakin. "Bram berjanji Pa"
Setelahnya Alex kembali turun menghampiri istri beserta anak, menantu dan cucu-cucu nya di bawah sana.
"Jangan menangis" Lembut Bram mengusap kedua punggung tangan Aqila.
Aqila hanya diam menunduk, mencoba menyembunyikan wajah sedih nya dari potretan para media yang tengah memburu foto mereka.
"Baiklah, pengucapan janji suci akan saya mulai" Ucap pendeta tersebut.
.
.
"Mama, Papa hikss.." Tangis Aqila pecah ketika memeluk kedua orang tua nya.
Setelah pengucapan janji suci di atas altar sana serta serangkaian hal lain nya yang di lakukan, kini Aqila sudah resmi menjadi istri Bram, begitu pun dengan Bram yang sudah resmi menjadi suami Aqila.
"Pengantin gak boleh nangis, nanti cantik nya hilang" Lembut Rachel mengusap-usap punggung Aqila.
"Anak Papa sudah dewasa"
Baik Alex atau pun Rachel membalas pelukan putri bungsu mereka, ada sedikit kesedihan di hati mereka yang sulit untuk di jelas kan.
Hingga akhirnya pelukan itu terlepas, dengan cepat Rachel menyeka sisa air mata di pipi Aqila.
"Yah.. Make up nya luntur, gak cantik lagi deh" Ujar sedih Rachel.
"Mama" Aqila merengek kesal, bisa-bisa nya sang Mama malah memikirkan make up nya.
"Sudah punya suami, jangan jadi istri nakal"
Mata Aqila terus menahan air matanya yang ingin kembali terjatuh begitu merasakan usapan lembut sang Papa di kepalanya.
"Pa, Ma" Sapa Bram yang baru saja menghampiri mereka di iringi dengan kedua orang tua nya.
Tangan Bram langsung melingkar sempurna di pinggang Aqila, ingin rasanya Aqila menghempaskan tangan itu, tetapi ini bukan waktu yang tepat untuk bertengkar dengan pria yang sudah menjadi suami nya ini.
"Sekarang semua tanggung jawab atas Aqila sudah menjadi milik mu, Bram"
"Iya, Pa"
"Jangan sampai Aqila tergores sedikit pun, atau pukulan kesayangan ku akan mendarat di wajah mu" Ancam Grey seraya menepuk cukup kuat bahu Bram.
"Kamu pukul anak saya sekali lagi, maka saya bawa ke jalur hukum" Sahut Cris dengan wajah meledek nya.
"Silahkan saja Mr.Adipati, saya tidak takut" Tantang Grey.
Sejenak sekumpulan keluarga itu terdiam, hingga akhirnya Cris dan Grey tertawa secara bersamaan menatap wajah tegang para keluarga nya.
"Dasar anak ini!" Geram Cris dengan tatapan yang tertuju pada Grey.
"Gini-gini juga kakak nya Bram lho, Yah" Sahut Grey menimpali.
Walaupun tidak sedarah, tapi seperti inilah mereka. Ayah Bram sama juga seperti Ayah Grey.
Di saat semua nya masih tertawa antara bahagia dan haru, dibawah sana Twins A tiba-tiba menarik gaun Aqila membuat sang pemilik gaun langsung menunduk.
"Eh Lio, Lia"
"Nty Cantik" Ujar kedua nya dengan tatapan penuh binar.
Aqila sedikit membungkuk demi memperdekat jarak mereka, jika awalnya ia berniat untuk berjongkok tetapi tidak bisa.
"Kalian tampan dan cantik" Timpal gemas Aqila mencubit pipi kedua nya.
"Nty gak boleh nangis lagi ya? Lia sedih lihat nya" Tangan Lia terulur untuk mengusap pipi Aunty-nya, walaupun gadis kecil itu harus berjinjit agar bisa menyentuh pipi Aqila.
"Aunty gak nangis kok, cuma terharu aja karena kalian sangat tampan dan cantik" Aqila menunjukkan senyum bahagia nya, kerena memang ia sangat bahagia karena twins A ini sangat menyayangi nya.
"Sayang Nty," Dua kecupan melayang di pipi Aqila dan tentu kecupan itu diberikan oleh si kembar setelah tubuhnya di tarik agar lebih membungkuk.
Aqila tersenyum begitu lebar dan mengusap kepala kedua nya, tetapi begitu ia ingin menegakkan tubuhnya. Tiba-tiba saja pinggang nya terasa sakit.
"Awwstt.." Ringis Aqila.
"Ada apa baby?" Tanya panik Bram sedikit membungkuk.
"Ada apa Qila?"
Seketika semua nya jadi panik kala mendengar Aqila terus meringis kesakitan, sepertinya gadis itu kurang minum air putih hingga menyebabkan pinggang bagian belakangnya terasa sakit.
Tanpa berlama-lama lagi Bram mengangkat tubuh Aqila ke dalam gendongan nya, dan terlihat wajah berkeringat Aqila.
"Pa, Ma--"
"Sana ajak Aqila untuk istirahat, biarkan para tamu kami yang mengurusnya" Sela Alex yang langsung mendapat persetujuan dari para keluarga.
"Baiklah, terimakasih"
Setelah mengucapkan itu Bram langsung berjalan keluar dari ruangan besar yang saat ini masih ricuh dengan suara para tamu menuju salah satu kamar hotel yang ada di gedung itu juga.
.
.
"Ayo minum dulu" Bram membantu Aqila memegang gelas yang berisi air putih dan dengan cepat air itu telah habis di minum oleh Aqila.
"Masih sakit?"
Aqila menggeleng sebagai jawaban, lalu hendak berdiri tetapi Bram menahan nya.
"Mau kemana?"
"Lepas gaun, ini berat"
"Ayo aku bantu"
Tidak menolak kerena memang Aqila sudah sangat lelah memakai gaun berat dan riasan di wajah nya, sampai saat Bram sudah berdiri di belakang nya.
Dan perlahan membuka satu persatu kancing di punggung nya lalu setelah itu Bram membuka resleting gaun itu.
Cup!
Satu kecupan hangat mendarat di bahu mulus milik Aqila, bibir hangat Bram membuat Aqila merinding dan lantas menjauh dengan tangan yang menahan gaun nya agar tidak merosot.
"Jangan macam-macam!" Ucap galak Aqila.
"Hanya satu macam, baby girl" Desis Bram menyeringai.
...****************...
*Lemparkan like and vote nya🤗