Darren Alfred, seorang mafia kejam yang berkedok Ceo tidak pernah merasakan jatuh cinta dalam hidup nya. Bahkan terhadap ibu dan adik kandung nya sendiri ia bersikap dingin dan ketus.
Bukan tanpa alasan, penyakit aneh yang di deritanya membuat pria itu tidak bisa melihat dengan jelas wajah seorang wanita.
Hingga akhirnya ia di pertemukan dengan Jean, wanita yang pertama kali menarik perhatiannya karena hanya wajah Jean lah yang bisa dilihat oleh Darren. Sampai pria itu terobsesi dan ingin menjadikan Jean miliknya.
Akankah Jean menerima cinta Darren ataukah sebaliknya?
#Cast pemeran bisa liat di Ig @meyda_30
Up 1-2 bab/hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Tinggal bersamaku
Darren membawa Jean ke apartemen pribadinya dan menyuruh Steve memanggil Morgan. Terlihat sekali raut khawatir dan tidak tenang di wajah Darren.
Bahkan jika itu terjadi bukan pada Jean mungkin saja Darren tidak segelisah ini.
Darren terus menggenggam erat tangan Jean seakan takut kehilangan. Sesekali ia mencium punggung tangan wanitanya dan mengusapnya lembut.
"Bagaimana keadaan wanitaku Morgan?" tanya Darren pada sahabatnya yang menangani keadaan Jean.
"Dia hanya mengalami benturan ringan, tidak akan sampai membuatnya lupa ingatan," celetuk Morgan yang langsung mendapat lirikan tajam oleh Darren.
Hahaha.
Morgan tergelak puas karena berhasil mengerjai Darren. "Dia akan sadar dalam beberapa jam ke depan," ucapnya bersiap untuk pergi dari sana. "Dan ingat jangan membuatnya stress, perlakukan dia dengan baik."
"Berisik! Tanpa kau memberitahu pun aku sudah tau."
"Baguslah," Morgan ingin menepuk pundak Darren namun dia berhasil menghindarinya.
"Steve akan mengantarmu. Dan terima kasih untuk hari ini," ucap Darren datar. Morgan mengangguk dan beranjak dari sana.
Darren menyelimuti tubuh Jean kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Shhh...." desis Jean membuka mata dan merasakan sakit di bagian kepala. Tangannya terangkat lalu menyentuh perlahan kening nya. "Aku ada dimana?" tanya Jean pada dirinya sendiri.
Wanita itu sedikit kaget saat melihat dirinya berada di atas ranjang tanpa mengenakan sehelai benangpun, ditambah lagi ia bingung kenapa bisa berada di kamar dengan corak hitam dan sedikit gelap.
"Astaga kemana pakaianku?" mata Jean mengedar melihat ke sekelilingnya. "Sepertinya ini bukan di hotel, tapi dimana?"
"Kau sudah bangun Jean?" Darren baru saja menyelesaikan rutinitas malamnya. Dengan handuk yang melilit di pinggang ia mendekat ke arah wanitanya.
"Stop dan tetap disana Darren jangan mendekat!" bentak Jean.
Darren mengernyit bingung. Ia ingin sekali memeluk Jean, tapi lagi-lagi dia menolak. "Aku hanya ingin memastikan keadaanmu Jean."
Jean mengacuhkan Darren dan melihat keadaannya di balik selimut. "Tidak ada noda darah, aku juga tidak merasakan sakit sama sekali," gumam nya dalam hati.
"Jean, kau baik-baik saja bukan? Ijinkan aku mendekat, aku tidak akan macam-macam padamu"
"K-kau tidak melakukan sesuatu padaku bukan?" tanya Jean lirih, ia bingung dan bertanya-tanya. Bukankah tadi bersama Edward, kenapa sekarang malah bersama dengan pria yang ia benci.
"Tidak," jawab Darren tegas.
Jean menelisik dan mencoba mencari kebohongan dari mata Darren. Namun ia sama sekali tidak menemukan nya.
Kini tatapan wanita itu turun ke rahang Darren, jakun nya naik turun menelan saliva dengan susah payah.
Tanpa sadar Jean melihat tubuh indah dan sempurna Darren yang selama ini ia sembunyikan di balik kemeja. Perut otot yang terbentuk sempurna dengan delapan kotak sawah nya yang menggoda.
Jean memalingkan wajah dan mengibaskan tangannya. Ia merasa udara di sekitarnya sangat panas dan gerah. "Huh..."
Darren menaikan satu alisnya. "Padahal disini ruangan ini berAc, bagaimana bisa kau malah kepanasan," celetuk Darren mengambil senjata dari dalam laci dan menghadap ke luar jendel
"Tinggal lah bersamaku disini dan kita menikah,'' ucap Darren serius.
Jean berdecak kesal. Bagaimana bisa pria pemaksa ini mengajak menikah dengan memegang senjata, tidak menatap mata nya dengan benar dan bahkan tidak memberinya bunga atau cincin. Berbeda sekali dengan Edward si buaya buntung.
''Dasar tidak romantis,'' Jean bergumam lirih agar Darren tak mendengar ucapannya.
"Sayang sekali Tuan mesum, aku menolak mu,'' tegas Jean membuat pria itu melotot ke arahnya. ''Lagipula kau bukan tipeku."
Darren mengepalkan tangan nya dan entah sejak kapan ia sudah berada di samping Jean.
Darren menarik pergelangan tangan Jean dan mengungkungnya. Berani sekali wanita ini menolaknya setelah apa yang sudah ia lakukan baru saja.
''Menyingkir Darren apa yang kau lakukan,'' teriak Jean mencoba memberontak namun gagal.
''Kau akan tetap menjadi wanitaku, dengan atau tanpa persetujuan mu. Apa kau lupa perusahaan tua bangka itu sedang berada di ujung tanduk?''
''Kau menyebalkan. Sampai kapanpun aku tidak mau menjadi milikmu apalagi mencintaimu Darren.''
Darren menyeringai.
''Baiklah kalau begitu, aku akan membuatmu jatuh cinta dan bertekuk lutut padaku my sweety," bisik Darren lirih tepat di telinga Jean. Membuat wanitanya meremang seketika, apalagi posisi keduanya yang begitu intim sekarang.
''Eugh....'' Jean melenguh saat tangan kekar Darren meremas salah satu bukit kembarnya, bahkan saat ini selimut tebal itu sudah tidak menutup tubuhnya lagi.
"Darren kumohon jangan lakukan ini," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
''Kenapa, bukankah kau sering melakukan nya.''
''Apa maksudmu? Aku dan Edward bahkan belum pernah--"
Darren beranjak dan kembali menyelimuti tubuh Jean. Gairah nya yang sudah memuncak hilang seketika saat mendengar wanitanya menyebut nama pria lain.
"Pakai pakaianmu, aku sudah menyiapkan nya di lemari. Setelah itu turunlah. Aku akan menyiapkan makan malam untukmu,'' ucapnya sebelum keluar dan membanting kuat pintu kamarnya.
"Oh god! Dia berani sekali menyentuh aset ku yang berharga dan masih perawan ini. Lihat saja aku akan membalas mu Darren Alfred!"
...----------------...