Arumi tercenung, bimbang antara harus mengikuti permintaan seorang sekretaris pribadi dari Andara Group. Atau tetap menjadi budak seumur hidup, untuk tinggal bersama ibu dan saudara tirinya.
Memiliki kemiripan wajah dengan mendiang wanita yang amat di cintai sang pewaris tunggal Andara Group mungkin bisa menjadi sebuah keberuntungan atau mungkin petaka di kemudian hari. Sebab Pria bernama Arga Sanjaya itu menganggapnya sebagai Alicia bukanlah Arumi. Pria arogan yang belum bisa menerima kematian sang kekasih memang tidak pernah kasar padanya. Namun, ia bisa melakukan apapun demi menyingkirkan orang-orang yang berkemungkinan akan melukainya. Lantas, sampai kapan Arum akan berperan sebagai Alicia, melayani sang suami sepenuhnya. Lalu, apakah ia akan tetap selamat saat Arga mulai tersadar bahwa Arumi bukanlah Alicia-nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rahasia yang di ketahui
Sebelumnya...
Arumi mengikat rambutnya yang jadi lebih bervolume itu. Tak lupa pula menutup kepalanya dengan Hoodie. Dia harus berusaha semaksimal mungkin menyembunyikan semuanya dari orang rumah. Walaupun keresahan untuk sekarang lebih ia rasakan.
Untuk hari ini sepertinya aku tidak akan selamat dari tatapan jeli Mama Linda ataupun Maura. Karena tidak mungkin aku memakai Hoodie ini sepanjang waktuku di rumah. –Arum membatin. Tangannya nampak sibuk menghapus makeup di wajahnya. Sementara mobil terus melaju memasuki gang besar menuju Toserba, dan berhenti didepannya.
"Kita sudah sampai, Nona," ucap sang sopir yang sedikit mengejutkan Arumi.
Sembari menutup cerminnya, serta membereskan dengan buru-buru ke dalam tas lagi. Arum menoleh ke samping.
"Terima–" sejenak matanya melotot kala melihat Mama Linda dan juga Maura tengah berdiri di depan toko yang tutup.
"Mama Linda!!" dengan rasa paniknya, Arum menurunkan kepalanya, menghindari tatapan Maura yang tiba-tiba mengarah pada mobil mewah yang ditumpaki Arumi saat ini. "P–pak, bisa maju lebih jauh sebentar."
"Emmm, bisa Nona," jawabnya, sebelum kembali memajukan mobilnya. Arumi pun bernafas lega sembari menoleh kebelakang. Namun, kelegaan itu tak akan bertahan lama. Setelahnya ia harus putar otak untuk memberikan alasan mengapa toko itu tutup.
Cukup jauh posisinya dari toserba itu. Arum sedikit membungkuk mengucapkan terima kasih pada mobil yang kembali melaju.
"Ya ampun, kenapa tiba-tiba Mama dan Maura ada di sini, sih?" Arum mengambil dua langkah namun langsung terhenti saat menyadari sepatu mahal itu masih ia gunakan. "Ya Tuhan, aku belum menggantinya dengan sandalku."
Arum melepaskan tas di bahu lalu mengeluarkan sepasang sendal jepit dari dalam. Buru-buru menukar sepatu hak tinggi dengan sendalnya.
"Baiklah, aku harus kembali menghadapi mereka," gumamnya kembali melangkahkan kakinya.
Sementara itu didepan Toserba...
Mama Linda nampak kesal sebab berkali-kali gagal menghubungi Arumi. Belum lagi protes Maura yang tidak tahan berlama-lama di luar ruangan.
"Mama, itu Arumi!!" Serunya sembari menunjuk kearah wanita ber-hoodie merah.
"Anak sialan ini benar-benar, ya!" Mama Linda kembali menyimpan ponselnya kedalam tas lantas berkacak pinggang menunggu gadis itu mendekat. "Dari mana saja Kau?!" Hardiknya.
"Aku habis dari suatu tempat mencari angin..." jawabnya sembari menghindari tatapan penuh selidik yang di tunjukkan Maura ke bagian wajah Arumi.
"Sejak jam berapa kau tutup toko ini?" Tanya Mama Linda.
"B–baru sekitar setengah jam yang lalu, kok..." Arumi menunduk sebelum akhirnya Maura mencengkeram dagunya, lantas mengangkat wajah itu.
"Hei, kau habis pakai riasan, ya?" Tebaknya. Arum buru-buru menggeleng. "Kau pikir aku bodoh apa? Aku masih bisa melihat sisa Foundation yang kau gunakan ini..."
Arum menepis tangan Maura. Kemudian memalingkan wajahnya. Mama Linda pun baru menyadari, adanya perubahan kulit wajah dan tubuh Arumi yang jadi lebih bersih seperti melakukan perawatan.
"Katakan padaku, Kau dari mana?" Tanya Mama Linda, kedua tangannya menyila di depan dada.
"Aku bilang hanya mencari angin."
"Jangan bohong!" Sarkasnya, mencengkeram kuat bagian belakang kepalanya. Beberapa helai rambutnya yang pirang itu pula nampak menyumbul di kening.
"Mama itu..." Maura buru-buru menarik tali di bagian dagu Arumi, tentunya gadis itu bersikeras menahannya.
"Buka tidak?"
"Aku tidak akan membukanya."
"Iiissshhh..." Dengan brutal Maura memaksa untuk melepaskan topi Hoodie yang menutupi kepala Arumi. Bahkan hingga tubuh itu tersungkur ke ubin keramik, gadis dihadapan Arum tak sama sekali menyerah untuk membuka penutup kepala Arumi.
Dan, semuanya pun terlihat. Maura dan Mama Linda tercengang dengan rambut Arumi yang tadinya lurus dan hitam, kini menjadi curly dan pirang.
"Astaga! Kau mewarnai rambutmu?" Maura menarik ikat rambut Arum secara paksa, hingga terburai seluruhnya. "Kau bahkan men-stylist rambut jelek ini?"
Tak puas dengan itu, Maura lantas merebut paksa tas Arumi.
"Hei, Maura. Jangan, itu punyaku!" Niat hati ingin merebutnya namun di tahan oleh Mama Linda.
"Buka tasnya!" Titah Mama Linda setelahnya.
Maura yang dengan sigap langsung membuka tas tersebut kemudian tercengang melihat sepatu wedges yang berada di dalamnya. Buru-buru ia mengeluarkan itu dengan tatapan matanya yang melebar. Ya, wedges itu Adalah sepatu yang sangat ia inginkan. Karena harganya yang mencapai puluhan juta, Mama Linda pun tak memberinya.
"Sepatu cantik ini ada di tas?" Ucapannya menggantung karena ia langsung melihat benda lain, sebuah handbag bermerek, serta yang lainnya. Membuat matanya atau bahkan Mama Linda semakin membelalak. Maura lantas memutuskan untuk menuang keluar seluruh isi ransel tersebut. Tatapan tajamnya langsung menjurus pada gadis di hadapannya. "ARUMIIII!!!"
Arum tak bisa menjawab selain menunduk. –Habislah...
Mama Linda menoleh kearah gadis di sebelahnya dari semua fakta yang ia lihat, semenjak gadis itu pulang membawa makanan hotel. Hingga semua benda-benda mahal yang sedang di pegang Maura seolah menjadi fakta kuat jika gadis itu selama ini menyembunyikan sesuatu.
"Begitu rupanya? Selama ini kau pasti melakukan pekerjaan kotor?" Tudingnya langsung.
"Maksud Mama?"
"Kau pasti tidak hanya menjual tubuhmu, namun menjadi seorang simpanan juga, kan?"
Arum menggeleng cepat, "tidak, aku tidak seperti itu."
"Kalau begitu berikan alasannya. Kenapa selama satu bulan ini yang menjaga toko bukanlah dirimu, melainkan orang lain?"
Arum beringsut. Ia tidak bisa menemukan kalimat bantahan lainnya lagi. Mama Linda pun menarik separuh bibirnya, tersenyum licik.
"Kita selesaikan ini di rumah," ajaknya sembari menyeret tubuh Arumi dan memasukkannya ke dalam mobil. Setelah itu menutup pintunya kembali. "Maura, ayo kita?"
"Bedak ini, lipstik, Foundation, jam tangan... kyaaa! Seluruhnya akan menjadi milikku," gumamnya nampak asik mengeluarkan satu persatu isi dari handbag tersebut.
"Maura!!" Hentaknya hingga gadis itu terhenyak.
"Iya...iya... ini mau jalan, iiissshhh..." Ke-dua tangannya penuh, memeluk barang-barang mahal milik Arumi dengan perasaan bahagia.
Ya, Maura memang tipe gadis yang serakah, yang sudah pasti semua benda kepunyaan Arumi. Sekiranya dia suka maka akan berganti menjadi miliknya tanpa perlu adanya suatu persetujuan dari Arum sendiri.
*semua pria lain yang menyukai akan dianggap lelaki baik2 dan cinta nya dinggap tulus dan harus diperlakukan sangat lembut dan baik2
*sedangkan semua wanita lain yang menyukai sang suami akan dianggap wanita pelakor murahan, menjijikan harus diperlakukan kasar, kejam dan dibinasakan
fakta novel mu cerminan pola pikirmu bagaimana pola pikir mu akan bisa dilihat dari novel mu
sampai disini paham akan
polah pikir bodoh kayak gini akan menunjukkan betapa egoisnya nya kalian
jika ada pria lain yang menyukainya maka dia akan anggap cinta pria itu tulus, dan akan memperlakukan pria itu secara lembut dana akan menolak dan menjelaskan secara lembut
tapi saat ada wanita lain yang menyukai suami otomatis wanita itu adalah wanita murahan, menjijikan pelakor, harus diperlakukan kasar dan harus dibinasakan
dengan pola pikir ini kalian berkarya novel maka jadi novel kayak gini yang begitu lembut memperlakukan pebinor
miris
klu di hati tuan muda cuma Alicia 🥺