Kisah ini berawal dari pernikahan Gisella Aurora Prastowo, seorang manager accounting di sebuah perusahaan multinasional dengan Sekala Langit Nalendra, seorang CEO perusahaan konstruksi. Kehidupan pernikahan keduanya sangat harmonis dan romantis sampai akhirnya mantan pacar Sekala yang bernama Syeira hadir kembali di kehidupan Sekala, sehingga membuat keharmonisan rumah tangganya terganggu.
Syeira bukan hanya ingin merebut Sekala kembali, namun ia juga ingin menyingkirkan Aurora dari jabatannya di kantor.
Bagaimana kelanjutan kisah Gisella Aurora Prastowo? Kelanjutan kisahnya ada di Novel Perfect Wife
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB - 15
Sekala menepati janjinya mengajak Aurora, mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta.
"Nanti kalau capek bilang ya" ucap Sekala sembari melingkarkan tangannya di bahu Aurora.
Aurora menatap suaminya sekilas, kemudian menganggukan kepalanya dan melingkarkan tangannya di pinggang Sekala. Keduanya berjalan menyusuri toko-toko yang berada di mall tersebut, langkah Sekala terhenti ketika perhatiannya tertuju pada toko bunga warna warni yang menciptakan spektrum warna cerah, bunga dan kelopak yang hampir selembut kulit istrinya.
“Tunggu sebentar di sini ya, Boo." ucap Sekala, kemudian ia berlari masuk ke dalam toko membeli setangkai bunga mawar merah kesukaan Aurora. lalu menyerahkannya kepada Aurora, yang tersenyum manis ke arahnya dengan rona malu mewarnai pipinya.
Masih jelas dalam ingatan Aurora, pertama dan terakhir kalinya Sekala memberikannya bunga, saat kencan pertama mereka sehari setelah akad nikah. Itu merupakan kencan pertama bagi Aurora bersama dengan seorang pria, maklumlah Aurora tidak pernah berpacaran, bahkan dengan Sekala pun setelah di kenalkan oleh Kara, (sahabat, sekaligus adik sepupu Sekala atau istri dari Aksara) Aurora dan Sekala menjalani ta'aruf selama satu bulan, barulah mereka resmi menikah.
“Terima kasih, suamiku sayang.”
Deg
Tiba-tiba saja jantung Sekala bedegup dengan kencang ketika mata bening Aurora menatapnya seperti itu, di tambah dengan rona manis pipinya, ia terlihat sangat cantik di balik hijabnya yang membuatnya sangat angun, dan Sekala merasakan rasa yang berbeda.
"Kok bengong? Jalan lagi yuk Mas!" Aurora melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya.
Sambil menelan ludah dan menganggukan kepalanya, ia kembali mengajak Aurora menyusuri toko-toko yang berada di pusat perbelanjaan tersebut. Tanpa Sekala sadari ia sangat menikmati waktu kebersamaanya bersama istrinya, ia menikmati sentuhan lembut Aurora, senyum manis di wajahnya dan cerita-cerita Aurora yang sangat menghibur.
Setelah Aurora melahirkan nanti, apakah Sekala akan sanggup menepati janjinya kepada Syeira untuk menceraikan Aurora?
Tidak, Sekala tidak berharap hari itu tiba, ia tidak bisa membayangkan jika hidup tanpa Aurora.
Ia melirik ke arah Aurora yang sedang berjalan di sampingnya, yang terlihat anggun meski hanya dengan penampilan yang sangat sederhana, dan berpikir apakah ia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya.
Senggolan pinggul Aurora membuat pikiran mengawang-awang Sekala jatuh ke tatapan mata Aurora yang antusias sedang menatapnya.
“Toko perlengkapan baby" ucap Aurora "Tapi sayangnya anak kita belum genap tujuh bulan, kata orang jika belum genap tujuh bulan tidak boleh membeli perlengkapan baby," wajah Aurora berubah menjadi agak sendu.
"Hanya mitos, yuk kita masuk!" Sekala menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam toko perlengkapan baby.
“Yang mana yang mau kamu beli dulu?" tanya Sekala sambil tersenyum.
Aurora menunjuk ke beberapa pakaian anak laki-laki yang di dominasi dengan warna biru, ia juga menunjuk ke arah sepatu, gendongan, selimut, alas kaki dan semuanya.
"Kita cicil sedikit demi sedikit dulu ya, setelah acara pengajian tujuh bulanan aku akan mengantarmu kembali ke sini." ucap Sekala.
Aurora mengmabil beberapa potong pakaian, selimut dan alas kaki "Untuk sementara ini dulu aja Mas, aku juga belum ngelist apa saja kebutuhan anak kita." ucap Aurora.
"Ya sudah, kamu tunggu di sini ya biar aku saja yang ke kasir."
Tangan Aurora mengelus perut buncitnya, ia tersenyum bahagia melihat suaminya perlahan menujukan sikap tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan ayah untuk calon buah hatinya.
Beberapa menit kemudian Sekala kembali dengan membawa barang belanjaannya yang telah ia bayar "Tinggal beli pakaian hangat untukku, apa kamu sudah capek?"
"Belum kok Mas, kita cari yuk. Aku tidak ingin Mas Kala kedinginan dan jatuh sakit di sana."
Keduanya melangkah menuju toko pakaian, dengan penuh antusias Aurora memilhkan pakaian hangat untuk suaminya, ia tidak ingin suaminya terkena hipotermia karena ia hafal betul jika tubuh suaminya tidak tahan akan suhu dingin.
"Nyaman tidak?" tanya Aurora sembari membantu Sekala mencoba pakaian hangat yang ia pilihkan.
"Nyaman, bagus lagi. Terima kasih ya Boo." Sekala mengecup kening istrinya kemudian ia membayar seluruh barang belanjaannya.
Puas berbelanja Sekala mengajak istrinya kembali ke kediamannya, namun sebelumnya ia mengajak Aurora untuk makan malam di warung pecel lele yang tak jauh dari kediamannya.
"Terima kasih ya, hari ini kamu sudah menemaniku belanja. Dan maaf saat ini aku hanya bisa mengajakmu makan di pinggir jalan."
"Apaan sih Mas, sebelum nikah juga aku terbiasa makan di pinggir jalan. Makanan di sini enak banget, ini aja aku nambah dua kali." Aurora menyendokan suapan terakhirnya ke dalam mulutnya.
Pagi harinya Sekala terbangun oleh suara jatuhnya benda dari atas lemarinya, ketika Aurora mengambil koper untuk mengemas pakaian Sekala.
"Kamu kenapa enggak bangunin aku Boo?" tanya Sekala, ia langsung beranjak dari tempat tidurnya. "Kamu enggak apa-apa kan?" Sekala memeriksa tubuh istrinya memastikan benda itu tak mengenai Aurora.
"Aku enggak apa-apa kok Mas. Ini udah tinggal masuk-masukin aja, mendingan Mas Kala mandi deh, nanti ketinggalan pesawat loh!!"
Aurora berkacak pinggang, memperhatikan barang-barang suaminya yang akan ia masukan ke dalam koper.
"Ya sudah aku mandi dulu ya sayang. Mmuah.." Sekala mengecup pipi Aurora kemudian ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Dengan cekatan Aurora memasukan semua barang-barang penting ke dalam koper suaminya, tak butuh waktu lama bagi Aurora, begitu suaminya sudah rapih, ia pun telah selesai membereskan barang-barang Sekala.
"Mas, aku ikut antar ke bandara ya." pinta Aurora.
Sekala berfikir sejenak ia tak ingin Aurora berpapasan dengan Syeira, apa lagi sampai mengetahui jika kepergiannya bukanlah untuk urusan pekerjaan melaikan berlibur dengan Syeira.
"Boleh ya Mas..." pinta Aurora kembali.
Tak ingin istrnya curiga, Sekala pun membolehkan Aurora untuk ikut dengannya ke bandara.
Jarak dari kediamannya ke bandara Internasional Soekarno-Hatta, hanya sekitar satu setengah jam.
Di lobby bandara Aurora memeluk Sekala dengan sangat erat "Jaga kesehatan ya Mas, kabarin aku terus." pinta Aurora dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya sayang, jangan nangis dong, aku kan hanya dua minggu." Sekala menghapus air mata Aurora yang menetes di pipinya.
Menatap mata istrinya membuat Sekala merasa bersalah telah membohongi wanita sebaik Aurora, hati kecilnya merasakan kedamaian dan kehangatan saat bersama Aurora.
"Oh iya, Mas. Aku lupa menaruh vitaminmu di koper." Aurora segera mengambil vitamin yang biasa Sekala minum dari dalam tasnya "Jangan lupa di minum ya, jaga pola makannya, ingat Mas Kala punya asam lambung kronis. Aku tidak ingin Mas sakit!!"
"Iya istriku sayang, terima kasih ya." Sekala mengecup seluruh bagian wajah istrinya, dan ia memeluknya dengan hangat.
Tanpa mereka berdua sadari, dari kejauhan Syeira nampak memperhatikan kemesraan keduanya dengan tatapan penuh kedengkian. "Dasar wanita bodoh kamu puas-puasin saja dulu bermesraan dengan Sekala, setelah ini aku tidak aka melepaskan Sekala."
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
astaghfirulloh