NovelToon NovelToon
Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.

Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Perjanjian Rahasia Yue dan Hutan Mati

Suara pekikan Kelelawar Merah di atas Kota Tak Bertuan terdengar seperti ribuan pisau yang saling beradu. Jiangzhu menyeret langkahnya keluar dari reruntuhan bank, setiap hentakan kakinya di atas tanah yang gembur terasa seperti ada paku yang dipukul masuk ke sumsum tulangnya. Di belakangnya, Yue menggendong Dewi Ling’er yang kembali pingsan karena syok energi, sementara Awan mencengkeram erat ujung jubah Jiangzhu yang sudah compang-camping.

"Kita tidak bisa lari ke padang terbuka. Mereka akan mencabik kita dari udara sebelum kita mencapai bukit pertama," Yue berteriak di tengah deru angin badai pasir yang mulai naik.

"Lalu ke mana?" Jiangzhu menoleh, matanya yang masih menyisakan rona hitam pekat dari pengaruh Li’er menatap Yue dengan tajam. "Ke lubang tikusmu yang lain?"

Yue menarik napas pendek, ia menunjuk ke arah timur laut, di mana sebuah siluet hutan yang pohon-pohonnya tampak seperti jari-jari raksasa yang hangus berdiri kaku di bawah langit merah. "Hutan Mati. Di sana ada kabut asam yang bisa mengacaukan indra penciuman dan pendengaran kelelawar-kelelawar itu. Tapi kita harus menyeberangi 'Sungai Air Mata' terlebih dahulu."

Jiangzhu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu satu hal: ia harus terus bergerak. Jika ia berhenti, rasa sakit di nadinya akan menguasainya dan ia mungkin tidak akan pernah bangun lagi.

Saat mereka mencapai pinggiran Hutan Mati, Yue tiba-tiba berhenti di depan sebuah batu besar yang dipahat dengan simbol kuno. Ia merobek sedikit lengan bajunya, meneteskan darahnya ke atas simbol tersebut.

Sreeek...

Sebuah celah sempit terbuka di bawah akar pohon yang membatu. "Masuklah. Ini adalah pos rahasia Bayangan Senja. Setidaknya kita punya waktu dua jam sebelum mereka menemukan cara untuk melacak kita."

Di dalam pos yang lebih mirip lubang perlindungan itu, bau pengap dan lembap menyambut mereka. Jiangzhu ambruk di sudut ruangan, punggungnya bersandar pada dinding tanah yang dingin. Ia membiarkan pedang hitamnya tergeletak di sampingnya, bilahnya masih bergetar pelan, seolah-olah sedang mencerna sisa-sisa jiwa yang baru saja ia tebas.

"Sekarang katakan padaku, Yue," Jiangzhu memulai, suaranya parau dan penuh kecurigaan. "Kenapa seorang tentara bayaran dari organisasi elit sepertimu rela mempertaruhkan nyawa demi seorang buronan seperti aku? Dan jangan beri aku jawaban soal 'tugas' atau 'kebetulan'."

Yue melepaskan topeng peraknya yang kini sudah benar-benar pecah, memperlihatkan wajah aslinya yang cantik namun penuh dengan bekas luka bakar kecil di dahi. Ia menatap Jiangzhu dengan pandangan yang datar.

"Organisasiku, Bayangan Senja, tidak hanya mencari uang, Jiangzhu. Kami mencari cara untuk menggulingkan dominasi Sekte Cahaya Suci yang sudah terlalu lama mengontrol napas Benua ini," Yue duduk di depan Jiangzhu, memutar belatinya dengan gelisah. "Pemimpin kami meramalkan bahwa 'Penghubung Tiga Dunia' akan muncul di tahun ini. Dan saat aku melihatmu di Kota Seribu Topeng, aku tahu ramalan itu bukan omong kosong."

"Jadi aku hanya alat bagimu?" Jiangzhu menyeringai sinis.

"Di dunia ini, semua orang adalah alat, Jiangzhu. Bedanya hanya siapa yang memegang gagangnya," balas Yue tajam. "Tapi ada hal lain. Aku... aku juga berasal dari desa yang sama denganmu. Sebelum para tentara bayaran Bragg membakarnya, aku adalah salah satu anak yang dijual ke organisasi ini."

Jiangzhu tertegun sejenak. Ia menatap bekas luka di dahi Yue simbol budak yang sudah dihapus secara kasar. Kebencian yang sama, penderitaan yang sama. Pantas saja wanita ini begitu gigih melindunginya.

Bocah, jangan terlalu cepat percaya pada air mata wanita, Penatua Mo berbisik, suaranya terdengar sangat lemah. Dia menyembunyikan sesuatu yang lebih besar. Ada segel di dalam jiwanya yang terhubung langsung dengan pemimpin 'Bayangan Senja'. Jika kau mati, dia yang akan mengambil alih Segel Tiga Dunia-mu.

Jiangzhu mengeratkan rahangnya. Ia tidak lagi tahu siapa yang harus dipercaya. Di Benua Barat ini, setiap uluran tangan selalu diikuti oleh pisau yang tersembunyi di balik punggung.

"Kakak... tanganmu..." Awan mendekat dengan hati-hati.

Jiangzhu melihat lengan kirinya. Sisik hitam itu mulai menjalar hingga ke bahu. Racun hukuman langit yang ia hisap dari ibunya ternyata bereaksi dengan energi mayat Li’er, menciptakan mutasi yang tidak terkendali. Lengan itu kini terasa seperti terbuat dari batu panas yang terus berdenyut.

"Aku baik-baik saja, Awan. Kembali ke sisi Ibu," kata Jiangzhu pelan, berusaha menyembunyikan rasa takutnya sendiri.

Tiba-tiba, dinding pos perlindungan itu bergetar. Suara kepakan sayap yang sangat besar terdengar tepat di atas mereka. Bukan Kelelawar Merah biasa. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih berat.

"Mereka menemukan kita secepat ini?" Yue berdiri, wajahnya pucat. "Itu tidak mungkin... kecuali ada pelacak di antara kita."

Jiangzhu menatap pedang hitamnya, lalu menatap Yue, dan terakhir menatap kearah pintu yang kini mulai retak oleh hantaman dari luar.

"Pelacak atau bukan, mereka sudah di sini," Jiangzhu memaksakan dirinya berdiri, mengabaikan teriakan protes dari setiap sendinya. "Yue, jika kau benar-benar ingin menggulingkan Cahaya Suci, sekarang saatnya membuktikan bahwa kau bukan sekadar mata-mata."

Ia menghunus pedangnya, api ungu-hitam kembali berkobar meski redup. Pintu pos meledak, memperlihatkan sosok makhluk humanoid bersayap dengan empat lengan yang memegang pedang tulang.

"Penjaga Hutan Mati..." gumam Yue dengan ngeri.

Jiangzhu meludah ke tanah, darah hitam kembali keluar dari mulutnya. "Bagus. Aku bosan dengan kelelawar. Mari kita lihat seberapa keras tulangmu."

Pertempuran di bawah Hutan Mati dimulai, di mana rahasia dan pengkhianatan mulai terkuak di antara percikan darah dan debu.

Jiangzhu mencengkeram lengan kirinya yang kini terasa seperti sebatang logam panas yang dipaksakan masuk ke bawah kulitnya. Ia bisa mendengar suara gemeretak halus dari balik ototnya suara tulang yang bergeser dan mengeras secara paksa. Bau daging terbakar yang samar mulai menguar dari pori-porinya, bercampur dengan aroma anyir sisa darah Bragg yang belum kering di bajunya.

"Berhenti menatapku seolah aku ini eksperimen gagal, Yue," desis Jiangzhu, suaranya pecah, lebih mirip geraman rendah yang keluar dari tenggorokan yang penuh kerikil. Ia meludah ke tanah, dan cairan yang keluar kini lebih menyerupai aspal cair daripada darah manusia. "Simpan air matamu untuk ibuku. Aku tidak butuh simpati dari orang yang menghabiskan hidupnya dengan memegang belati di balik punggung orang lain."

Yue terdiam, wajahnya yang penuh bekas luka tampak mengeras di bawah cahaya lampion merah yang berkedip-kedap. "Kau tidak mengerti, Jiangzhu. Di tempat seperti ini, belati di punggung adalah satu-satunya alasan kita masih bisa bernapas."

Jiangzhu tidak menjawab. Ia mencoba memfokuskan pikirannya, namun di dalam kepalanya, suara Li’er mulai berubah bukan lagi bisikan, tapi tawa parau yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang semakin tidak teratur. Setiap kali jantungnya berdetak, ia merasa seolah-olah kemanusiaannya sedang dikupas selapis demi selapis, meninggalkan sesuatu yang jauh lebih dingin dan gelap di dalamnya.

Bocah, rasakan itu... dinding-dinding ini mulai 'bernapas', suara Penatua Mo merayap di sela-sela kesadarannya, terdengar penuh ketakutan yang belum pernah ada sebelumnya. Pos rahasia ini bukan tempat berlindung. Ini adalah perangkap yang sudah disiapkan untuk seseorang dengan aroma darah sepertimu. Sesuatu yang besar sedang merayap di atas kita, dan dia sangat lapar.

Jiangzhu mengeratkan genggamannya pada pedang hitamnya. Ia merasakan sisik di bahunya mulai menusuk dagingnya sendiri, memberikan rasa sakit yang anehnya justru membuatnya merasa lebih hidup. Ia menatap ke arah pintu yang mulai retak di bawah tekanan hantaman dari luar, sementara debu-debu dari langit-langit jatuh menimpa wajah ibunya yang masih terpejam.

"Jika aku harus menjadi monster untuk mengeluarkan mereka dari sini," gumam Jiangzhu sambil menatap tangannya yang kini sepenuhnya hitam legam, "maka biarlah neraka melihat apa yang bisa dilakukan oleh monster yang sedang marah."

Ia melangkah maju, membiarkan ujung pedangnya menyeret di lantai tanah, menciptakan suara decit yang terdengar seperti jeritan jiwa-jiwa yang menanti di balik kegelapan Hutan Mati. Di Benua Barat ini, doa tidak akan menyelamatkanmu, hanya kebencian yang bisa memberimu kekuatan untuk membelah takdir.

1
Nanik S
Monsternya sekarang Jiangzhu sendiri
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Jangan sampai tersesat karena hasutan Iblis
christian Defit Karamoy: ikutin terus alur ceritanya bang ,trimakasih
total 2 replies
Nanik S
B urunan langit dan Bumi
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Awal yang sangat bagus 👍
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!