Kepindahanku yang mendadak ke sekolah yang baru membawa perubahan besar dalam kisah cinta pertamaku. Bertemu Juan dan jatuh cinta padanya adalah hal terbaik selama masa SMAku. Juan mewarnai hariku dengan banyak romansa.
Tetapi datang seorang pria bernama Nandes yang mengaku jatuh cinta padaku saat pandangan pertama. Dengan gayanya yang slengean membuat aku pusing dengan kelakuannya setiap hari. Mengibarkan bendera perang kepada Juan secara terang-terangan.
Apakah mereka musuh lama? Rahasia apa yang Juan dan Nandes sembunyikan dariku? Dan siapa Meggy yang sering Nandes sebut dan membuat Juan seperti kehilangan kesadarannya?
Penuh banyak pertanyaan dan kisah kasih masa remaja yang dipenuhi rasa suka, cemburu dan patah hati, baca terus kelanjutan Merpati Kertas setiap episodenya.
^*^ Terima kasih kepada teman-teman pembaca yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca karyaku. Tolong klik Like, Favorit dan berikan saran yang membangun. ♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Ke Kamu
Setelah beberapa minggu yang dilalui dengan penuh kepenatan, akhirnya Pentas seni yang dinantikan tiba.
Malam sebelum hari H dilaksanakan pentas seni, aku berada di sekolah sampai malam. Semua siswa berada di sana mulai dari panitia sampai pengisi acara. Penuh dengan kesibukan.
Saat gladi resik selesai, Juan menarik tanganku pergi. Kami duduk di taman depan kelasnya. Rumput gajah kecil-kecil membuat nyaman untuk bersantai.
" Lelah banget… tapi kok kalian tadi gak gladi resik?", aku bertanya penasaran.
" Yaaaa… gak usahlah. Nanti gak surprise. Pengecualian untuk kakak kelas gak masalah kan?", Juan berkata santai.
Aku mengangguk sambil mencibir " Iye iye kakak kelas".
Juan tertawa. Juan duduk mendekat ke arahku.
" Embun… ada yang mau aku omongin".
Aku merasa suasana berubah menjadi terlalu serius. " Ya… mau ngomong apa? Soal manggung besok?", aku mencoba menebak asal.
" Bukan. Ini soal aku ke kamu", Juan blak-blakan.
Aku seperti tercekat, berusaha tidak menebak arah pembicaraan ini. " Emang kamu ke aku kenapa? Kamu buat salah ya? ", Aku menebak.
Juan menatapku lekat-lekat, di bawah lampu taman aku bisa melihat wajahnya yang datar, seperti tidak ingin berekspresi. Aku diam saja tidak mendesaknya untuk berbicara.
" Aku… ke kamu… ada rasa yang berbeda ", Juan sedikit terbata tapi cukup tegas berbicara.
Aku masih diam menatap Juan, tubuhku terasa kaku bukan hanya karena dinginnya malam. Tapi karena perkataan dari Juan tentang perasaannya padaku. Jaket tebal tidak mampu membuatku merasa hangat.
" Sejak pertama bertemu aku tertarik sama kamu. Aku mengganggumu selama ini bukan tanpa sebab. Aku suka kamu Embun ", Juan menatap ke manik mataku.
Aku diam, detak jantungku tidak beraturan. Rasanya jantungku berdebar memberikan sensasi yang aneh ke seluruh tubuhku.
Rasa bahagia bercampur cemas. Aku melihat nafasku yang menjadi uap saat ku hembuskan perlahan. Rasanya seperti sedang bermimpi, aku juga sangat menyukai Juan.
Tapi saat dia menyatakan isi hatinya padaku, rasanya aku seperti percaya dan tidak percaya pada setiap kata yang dia ucapkan. Aku takut dia sedang mengerjai ku.
" Kakak… sedang nembak aku?", aku bertanya bego. Untuk meyakinkan diriku sendiri.
" Tidak… aku tidak nembak kamu", Juan berkata tegas.
Aku kaget bercampur malu. Ada sedikit rasa lega dan begitu banyak rasa kecewa langsung terselip di dada. Sudah kuduga, dia bercanda. Untung aku belum terlalu terlena. Aku tertawa kaku " Kak Juan bercandanya keterlaluan".
Juan melihatku " Aku juga tidak bercanda".
Aku melihat ke arah Juan bingung maksudnya gimana sih, aku gak ngerti. Dia bilang suka tapi gak mau pacaran atau gimana sih? Aku berdebat di dalam hati.
Juan menggenggam salah satu tanganku." Aku mengatakan isi hatiku sama kamu. Aku mau kamu tau kalau aku suka kamu, aku sayang sama kamu Embun. Tapi aku gak bertanya mau gak kamu jadi pacar aku?... ".
" Oh..", sekarang semua rasa kecewa menghantam dadaku.
"... Aku mau kamu jadi pacarku. Tanpa penolakan, aku tidak suka ditolak. Mulai malam ini kamu adalah pacar aku ", Juan berkata tegas tidak ingin di bantah.
Aku melihat ke arahnya, mencerna setiap kata perkata.
"Bentar-bentar… kakak gak tanya pendapat aku?", aku protes.
" Tidak. Suka tidak suka kamu harus mau jadi pacar aku ", Juan mengelus kepalaku pelan dan dengan lembut berkata " ada lagi yang mau ditanyakan sayang?".
Aku diam saja. Bukan karena tidak suka tapi karena berusaha menahan kebahagiaan yang akan terbang keluar dari dadaku. Aku suka pada Juan, entah sejak kapan.
" Jadi… kakak pacar aku?", tanyaku meyakinkan diri sendiri.
" Iya.. aku pacar kamu..", Juan menggenggam tanganku erat. " Sejak pertama bertemu aku sudah suka sama kamu", jelas Juan pelan.
Aku mengernyitkan dahi mengingat kejadian pertama kali bertemu Juan yang penuh dengan huru hara menurutku.
" Pertemuan kita yang pertama di lapangan itu sepertinya kurang berkesan ya ", aku mengingatkannya.
" Itu pertemuan kita yang kedua ", kata Juan.
" Jadi yang pertama itu kapan? Kalau pernah masa aku gak ingat wajah kakak", aku heran.
" Saat pendaftaran siswa baru. Kamu ingat waktu minta formulir di bagian panitia? Yang menyerahkan formulir ke kamu itu aku, kamu bicara sama aku padahal cukup lama loh. Tapi kamu gak ingat aku? Ckck padahal aku yang tertampan di sekolah ini", Juan menggeleng penuh kekecewaan.
Aku menutup mulutku dengan tangan " Astaga? Emang iya? ", aku berusaha mengingat-ingat lagi, memutar setiap sel memori di kepalaku berharap bisa menemukan potongan kejadian itu.
" Maaf ya kak.. aku lupa… kan waktu itu kakak bukan tipe aku… ", aku meminta maaf sambil menggodanya.
Juan melihatku datar " gitu ya? ", lalu dia menarik ku lebih dekat padanya. Sekarang kami duduk berhadapan.
Juan mendekat ke arahku, terlalu dekat. Lalu dia mengambil sesuatu di bawah mataku, jujur saja saat itu aku kira Juan akan mencium ku.
" Tipe kamu seperti apa? Tapi apapun tipe kamu aku akan buat kamu suka sama aku sampai tipe kamu berubah sesuai dengan aku", Juan berkata sambil meletakkan sehelai bulu mataku yang rontok ke telapak tanganku.
Dag dig dung… dag dig dung …
Jantungku berbunyi terlalu keras, aku rasa Juan bisa mendengar debaran jantungku. Pipiku bersemu merah, semoga Juan tidak tau pikiran kotorku ini.
Aku mengalihkan pandanganku dari Juan ke telapak tanganku. Lalu dengan cepat membuang bulu mataku dengan menggosok kedua tangan.
" Dasar bulu mata babon… bisa-bisanya rontok saat cuaca dingin… udah tau tipis.. masih rontok aja", aku ngoceh-ngoceh gak jelas karena canggung dengan perlakuan Juan.
Juan tertawa pelan. " Udah?", Juan bertanya padaku.
" Apanya?", tanyaku melihat Juan.
" Marah-marahnya?".
" Ya udah".
" Yuk pulang. Aku antar kamu ", Juan membantuku berdiri dan menarik resleting jaketku sampai ke bawah daguku , memasangkan topi jaket ke kepalaku, mengikat tali topi jaket di bawah dagu.
Menyisakan mata dan hidung ku yang terlihat. Dengan jaket tebal dan topi jaket berbulu ini aku mungkin terlihat seperti orang di kutub selatan. maklum cuaca malam sangat dingin. Aku belum terbiasa sedangkan Juan tampak santai dengan Hoodie nya, tapi katanya dia memakai 2 lapis baju.
Aku dan Juan berjalan bergandengan tangan menuju parkiran. Jika aku bisa menunjukkan ke dunia, aku ingin memperlihatkan kupu-kupu kebahagiaan di dalam dadaku ini ke semua orang. Aku suka Juan, aku suka caranya saat bersamaku, aku suka senyumnya. Aku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
***
Acara yang digelar selama 1 hari penuh itu sangat meriah. Di mulai dengan tarian pembuka dan penjemputan tamu penting seperti perwakilan dari bupati dan juga utusan dari sekolah lain. Lalu dilanjutkan dengan berbagai acara yang panjang. Kesibukan membuatku lupa dengan apa yang terjadi semalam antara aku dan Juan.
Jam menunjukan pukul 5 sore saat band-band mulai mengisi acara santai untuk menghibur siswa dan tamu undangan yang mulai bosan dengan banyaknya acara resmi. Suasana mulai santai karena perwakilan dari kantor bupati sudah undur diri sejak tadi.
Beberapa band dari kelas 1 dan 2 mulai memainkan lagu-lagu. Aku duduk diatas rumput mengarah ke panggung, semua kursi sudah disingkirkan supaya siswa-siwa lebih leluasa bergerak.
Adam dan Elsa duduk di sampingku sambil bergandengan tangan, melemparkan candaan satu sama lain. Juan tidak kelihatan batang hidungnya. Aku menatap iri ke arah mereka berdua.
" Kamu di sini ya sama Embun… aku tampil dulu.. di tungguin Juan", Adam berbicara ke Elsa dengan nada yang menurutku terlalu halus.
"Oke.. cepat balik ya ", Elsa melihat manja ke arah Adam.
Aku menjambak rambut Elsa menariknya menjauh dari Adam " Udah.. udah… kayak gak bakal ketemu lagi aja.. ". Elsa meringis malu-malu.
" Embun.. jangan kasar-kasar sama Elsa.. tolong jagain si cantik ini ya", Adam berbicara kepadaku dengan nada yang tegas tidak seperti saat berbicara dengan Elsa.
" Iye iye… sana … geli sama kelakuan kalian berdua", aku mulai emosi melihat kebucinan mereka.
Adam tertawa. Lalu berlari pergi ke arah belakang panggung.
***