Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.
"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."
"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Di dalam ruang guru, Lusi yang tengah duduk beristirahat bersama guru-guru yang lain memeriksa handphone ketika terdengar notifikasi masuk. Setelah membaca pesan dari seseorang ia berjalan ke taman sekolah.
"Ada apa?" Tanya Lusi mengejutkan wanita yang telah berdiri memunggungi, seketika menoleh.
"Saya ada kabar bagus Bu" Wanita itu menunjukkan hasil rekaman pertengkaran antara Aksa dan Dini di perpustakaan.
"Bagus Icha, kamu memang cerdas," Lusi tertawa menonton video tersebut.
"Kalau begitu saya permisi Bu" Ucap Icha, wanita itu alumni SMA dari kota di mana Lusi dulu mengajar. Sebelum mengajar di sma yang sekarang. Rupanya ketika ditolak Marini untuk mengawasi Aksa dan Dini, Lusi menghubungi Icha alumni yang pernah bermasalah dengan hukum.
"Tunggu Icha, kerena kamu bekerja dengan baik, ini hadiah yang saya janjikan," Lusi memberikan sejumlah uang seharga membeli motor.
"Terima kasih, Bu..." Icha yang memang gila uang pergi dengan wajah berbinar-binar.
**************
Hari-hari berlalu Dini benar-benar menjauh dari Aksa, meski sejauh mana Aksa membujuknya untuk kembali. Namun, Dini hanya berkata. "Jangan ganggu saya, Pak. Saya ingin belajar," jawabnya tegas.
Hingga ulangan semester satu pun tiba dan benar saja, hasil dari semua pelajaran memuaskan hati Dini. Hanya satu hasil nilai matematika yang akan dibagikan hari ini.
"Bejo, bagikan kertas ulangan ini kepada teman-teman kamu," titah Lusi yang sudah berada di meja guru.
"Baik, Bu..." Bejo pun sudah berada di samping meja, ambil kertas kemudian membagikan kepada teman-temannya.
Dini terpaku menatap kertas hasil ulangan di tanganya. Angka merah besar yang tertera di pojok kanan atas seakan mengejeknya. Dini mendapat nilai 50, padahal dia yakin hampir semua jawaban benar. Dini bukan orang bodoh, tulisan namanya di atas pun ada yang mengganti. Tulisan hitung-hitungan yang biasa Dini tulis rapi pun seperti bukan tulisannya. "Ini pasti ulah seseorang ada yang sengaja merubah hasil ulangan aku. Aku yakin orang ini suruhan bu Lusi atau justru bu Lusi sendiri pelakunya," Dada Dini bergemuruh, dalam hatinya banyak pertanyaan.
"Dini, kamu kenapa?" Lestari curiga ketika telinganya mendengar Dini mengadu gigi, menandakan jika sahabatnya itu sedang marah.
"Tari, kamu percaya tidak aku mendapat nilai segini?" Tanyanya dengan wajah memerah.
Tari menarik kertas di tangan Dini kemudian meneliti. "Kok aneh sih..." Lestari menatap Dini tidak percaya.
Dini hanya diam, di hantinya menyusun rencana. Walaupun bagaiamana ia akan mengembalikan nilainya.
Jam istirahat, Dini minta Lestari untuk ke kantin lebih dulu, sementara dirinya menghampiri meja bu Lusi. "Maaf, Bu. Apakah ada kesalahan dalam pengoreksian? Saya sudah mengecek kembali hasil ulangan saya dan semuanya benar. Tetapi kenapa ya, hasilnya berbeda dan tidak sesuai dengan rumus," ucap Dini dengan suara bergetar, mencoba untuk tetap sopan.
Bu Lusi hanya melirik sekilas lalu kembali memandangi tumpukan buku di hadapannya. "Tidak ada yang salah mengoreksi Dini, nilai itu mencerminkan kualitas dirimu belakang ini. Terkadang kepintaran saja tidak cukup jika kamu tidak bisa menjaga sikap," jawab Lusi dingin.
Dini tersentak. Dia menyadari bahwa nilai ini sama sekali bukan tentang angka atau rumus. Tetapi ini balasan atas masalah internal dia dan Lusi. Lusi rupanya tidak profesional, membawa masalah tersebut ke ruang kelas hingga memberi 'pelajaran' kepadanya melalui lembar jawaban yang seharusnya dinilai secara objektif tapi sengaja diganti kertas dan diisi asal-asalan.
"Tolong beri saya kesempatan, untuk memperbaiki, Bu," Dini ingin remedial seperti teman-teman yang lain, berharap bu Lusi tidak sekejam itu.
"Remedial sudah diberikan ketika jam saya mengajar tempo hari, tapi kamu tidak hadir, bukan?"
Dini menatap bu Lusi dengan mata memanas, ia yakin jika Lusi hanya mencari-cari alasan untuk menjatuhkan nilainya. "Bu, saya akan melakukan apapun demi nilai saya."
"Sudah tidak ada waktu, Dini. Lagi pula walau sepuluh kali remedial, saya tidak akan merubah nilai kamu," Lusi rupanya sudah tidak bisa diajak bicara baik-baik.
Mendengar penolakan tegas Lusi, suasana kelas menjadi tegang. Napas Dini memburu karena rasa kecewa dan amarah. "Tapi ini tidak adil, Bu! Saya sudah berusaha, untuk memperbaiki," Dini sudah tidak tahan lagi untuk tidak menangis. Usahanya mati-matian tidak dihargai oleh satu guru.
"Jika ini masalahnya saya tidak punya pilihan lain, selain lapor wali kelas, Bu," Dini terpaksa harus menemui pak Aksa setelah satu bulan ini sengaja ia jauhi.
Bu Lusi menghentikan tangannya yang tengah membuka lembar demi lembar buku, menatap Dini dengan senyum masam.
"Kamu pikir Pak Aksa bisa memperjuangkan nilai kamu, karena ini bagian dari rencananya,"
Deg. Dini menggeleng lemas, ia tidak yakin Aksa bisa berbuat seperti itu.
"Baik, Bu, jika begini, saya akan melaporkan Ibu dan Pak Aksa pada Pak Arman." Dini bukan mengancam, demi memperjuangkan hak nya sebagai siswa yang dirampas. Tidak takut lagi akan membawa persoalan ini ke pak Arman selaku kepala sekolah. Dini menatap bu Lusi lekat, ternyata beliu bukan seorang pendidik yang adil. Lebih dari seorang yang sedang menggunakan nilai akademik untuk melampiaskan kekesalannya. Ingatan Dini berputar ke masa sekolah SD, SMP, hingga SMA di kota belum pernah menemui guru seperti bu Lusi, tetapi aneh sekali. Bu Lusi bukan mencerminkan seorang guru.
"Silakan kalau kamu berani," Tantang Lusi, ia yakin jika Dini tidak akan berani melakukan itu.
"Baik Bu," Dini masih tetap menjawab sopan. Dengan kertas ulangan yang lusuh di tanganya, ia melangkah menuju ruang guru. Di koridor ia berpapasan dengan seseorang lalu berhenti dengan wajah merah.
...~Bersambung~...
otw mak...
selamat ya Din .. semoga sukses 😍
ada. pepatah yang bilang lebih baik dicintai dari pada mencintai tapi selalu tersakiti ..
cewek yg lain...😄🤭