Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.
Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu tak diundang
Shang Zhi meletakkan tangannya pada gagang pisaunya, matanya menatap tajam ke arah kegelapan hutan di balik pepohonan. Ada sesuatu yang sedang mengawasi mereka... sesuatu yang lapar dan berdarah dingin.
Hutan yang tadinya terasa tenang mendadak berubah menjadi mencekam. Insting Shang Zhi yang telah ditempa bertahun-tahun berteriak nyaring. Di balik kegelapan yang pekat, ia merasakan tatapan-tatapan haus darah yang mengintai dari balik pepohonan.
"Hei, kenapa kau diam saja? Berbanggalah karena kau bisa berjalan berdampingan dengan nona muda yang-"
"Diam!" potong Shang Zhi dengan suara rendah yang tajam.
"Hah? Apa katamu? Kau berani-"
Sebelum Yun Xi menyelesaikan kalimatnya, tangan Shang Zhi sudah membungkam mulut gadis itu dengan kuat. "Diamlah, dasar cerewet!" bisiknya tepat di telinga Yun Xi. Mata Shang Zhi menyapu sekeliling dengan waspada. "Hutan ini... sepertinya memiliki mata dan telinga."
SING!
Sebuah desingan membelah udara. Tanpa sempat berpikir, Shang Zhi memutar tubuhnya, menjadikan punggungnya sebagai perisai bagi Yun Xi.
SHEP!
Sebuah anak panah menancap dalam di bahu belakang Shang Zhi. Ia mengerang tertahan, namun gerakannya tak berhenti. Dengan satu gerakan cepat, ia menyambar wadah air dan menyiramkan isinya ke api unggun.
Cshhhh!
Asap mengepul, mematikan cahaya dan mengaburkan pandangan musuh. Tanpa mempedulikan rasa perih yang menjalar di punggungnya, Shang Zhi langsung menyambar tubuh Yun Xi dan menggendongnya erat. Ia berlari menembus semak berduri, memacu seluruh energinya untuk menjauh dari area maut tersebut.
Yun Xi tertegun, tubuhnya membeku dalam pelukan Shang Zhi. Di tengah guncangan lari yang cepat, ia mendongak dan melihat wajah Shang Zhi yang dibasahi keringat, rahangnya terkatup rapat menahan sakit. Di bawah sapuan cahaya rembulan yang menembus celah daun, Yun Xi merasakan sesuatu yang aneh di hatinya rasa aman yang luar biasa di tengah badai ketakutan yang melanda.
Setelah merasa cukup jauh, Shang Zhi merosot di balik akar pohon besar yang tersembunyi. Napasnya terengah-engah, memburu di kesunyian malam. Dengan hati-hati, ia menurunkan Yun Xi yang masih syok ke atas tanah yang empuk oleh lumut.
"Hah... hah... kurasa... kita sudah aman," bisiknya parau.
Wajah Shang Zhi memucat. Darah hangat mulai merembes, membasahi pakaiannya hingga berubah warna menjadi merah gelap. Dengan gigi gemertak, ia meraih anak panah di bahunya dan...
"Emmhkk!" Shang Zhi menggigit bibir bawahnya kuat-kali hingga berdarah saat ia mencabut paksa mata panah itu dari dagingnya.
"K-kau... kau berdarah banyak sekali!" pekik Yun Xi panik saat ia melihat luka terbuka itu. "Bagaimana bisa kau-"
"Pelankan suaramu!" potong Shang Zhi sambil merogoh tasnya dengan tangan bergetar. "Kau ingin mereka menemukan kita?"
Shang Zhi mengeluarkan botol obat bubuk, namun tangannya tak mampu menjangkau area luka di punggungnya. Rasa frustrasi mulai menyelimuti wajahnya. Tiba-tiba, sebuah tangan lembut merebut botol itu dari genggamannya.
"Hei! Apa yang kau lakukan? Kembalikan!" seru Shang Zhi kesal.
Yun Xi menatapnya tajam, meniru gaya bicara Shang Zhi sebelumnya. "Diamlah, dasar cerewet! Kau ingin musuh mengetahui keberadaan kita?"
Shang Zhi terdiam, kehilangan kata-kata. Ia hanya bisa pasrah saat Yun Xi mulai mengoleskan obat ke lukanya dengan jari-jari yang sangat gemetar. Tetesan hangat tiba-tiba jatuh di punggung Shang Zhi yang terbuka. Ia tersentak, menyadari bahwa gadis di belakangnya itu sedang terisak.
"Maafkan aku..." suara Yun Xi pecah. "Ini semua salahku. Jika bukan karena aku, kau tidak akan terluka seperti ini."
Shang Zhi tertegun. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Yun Xi yang menunduk dengan air mata yang membasahi pipi gioknya. Dengan gerakan lembut yang tak terduga, Shang Zhi menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.
"Sudahlah. Aku ini kuat, kau tahu? Luka sekecil ini tidak akan bisa membunuhku," ucapnya dengan senyum hangat yang jarang ia tunjukkan. Mata mereka bertemu dalam satu tatapan yang seolah menghentikan waktu.
Ketenangan itu hanya berlangsung sesaat. Mereka harus bergerak sebelum fajar menyingsing. Namun, baru beberapa langkah mereka berjalan meninggalkan tempat persembunyian, langkah mereka terhenti.
Dari balik kegelapan hutan, sekelompok pria bersenjata muncul, mengepung mereka dari segala arah. Seorang pria dengan pakaian zirah ringan melangkah maju ke tengah gerombolan. Sebuah seringai angkuh menghiasi wajahnya.
"Akhirnya..." pria itu tertawa dingin, matanya menatap tajam ke arah Shang Zhi. "Mengikuti jejak darah yang kau tinggalkan di sepanjang jalan ternyata jauh lebih mudah dari yang kubayangkan. Sekarang, serahkan gadis itu, atau kau akan mati dengan sisa darah yang masih kau punya."
Shang Zhi menggeser tubuhnya ke depan Yun Xi, matanya kembali menajam seperti serigala yang terkepung.
...Bersambung......