Ricky Riswan ( Yasir Hamdan)seorang pekerja di kota Jakarta yang baru saja mendapatkan gelombang PHK dari perusahannya tempatnya bekerja, ia memutuskan untuk kembali ke Tasikmalaya, di mana tanah kelahirannya berada ,ia berencana untuk mengembangkan dan mengolah lahan milik keluarganya , hanya saja di tengah jalan ,mobil bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dan meledak ,dan saat ia sadar ia berada di desa yang sangat asing bagi dirinya dan baru mengetahui bahwa dirinya akan dijadikan sebagai pengantin pria untuk dua gadis yang tidak dia kenal , bagaimana kelanjutan cerita ini, masih lama bro ,mungkin nunggu dua tahun atau lebih...!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta timur10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35 kerja bakti membangun jalan desa
Malam tiba dengan tenang , keempat penghuni rumah panggung tampak begitu senang, waktu kentongan berbunyi tujuh kali dan sang ibu yang merupakan orang paling tua dalam keluarga berinsiatif untuk secepatnya beristirahat, bukan karena lelah , melainkan mengerti dengan kegiatan malam dua putri dan menantu laki lakinya itu .
Yasir tersenyum tipis, ia tanpa malu malu mengangkat Halimah yang sudah begitu ketakutan.
" oke mas kali ini akan pelan pelan saja ," katanya seraya berkedip ke arah Lestari yang sedang membersihkan piring piring di atas meja.
Seperti malam sebelumnya, kegiatan malam panas sudah mulai rutin dan itu tidak di sia siakan oleh Yasir yang masih begitu bersemangat.
Duarrrrhhh...
Ledakan keras tiba tiba terdengar di malam yang tenang itu , Yasir yang sudah melaksanakan tugas sucinya, sedikit terkejut saat mendengar ledakan keras tersebut.
" apakah itu benar suara dinamit..?" Yasir tidak percaya dengan apa yang di dengarnya , ia segera menyelimuti tubuh kedua istrinya dengan selimut, lalu keluar untuk melihat apa yang terjadi .
Matanya sedikit berubah saat melihat cahaya putih terbang di atas langit malam yang terang, dan cahaya putih itu turun, lalu meledak dengan sangat keras .
" latihan militer angkatan udara ... Belanda.." gumamnya mulai mengerti , ia memperkirakan bahwa Belanda telah mengetahui gerakan tentara Jepang di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara, di mana Jepang sudah menguasai pulau formosa ( Taiwan ) dan daratan Manchuria ( Tiongkok Timur) .
" semoga saja latihannya tidak menyebabkan kepanikan warga "
Yasir kembali masuk ke dalam rumah , ia melihat bahwa kedua istrinya tampak sudah terbangun dan bertanya dengan nada khawatir.
" mas ada apa , apakah akan perang?"
" tidak tahu , tapi mas lihat sepertinya akan terjadi perang, namun bukan tahun ini " kata Yasir menenangkan kedua istrinya.
" mas bila perang terjadi, apakah mas akan ikut perang?"
" tidak... buat apa ikut perang, mas lebih baik masuk hutan bersama kalian semua daripada harus ikut perang " kata Yasir menggelengkan kepala .
" aku takut mas , bila mas tiada , siapa yang akan kami peluk " Halimah datang seraya memeluk erat badan pemuda yang tampak tenang itu.
" mas tidak akan mati , tenang saja , tidak apa apa. .!"
Yasir menghibur kedua istrinya yang tampak cemas luar biasa itu , ia menceritakan cerita anak pengantar tidur, dan keduanya sudah tertidur dalam posisi memeluk badan Yasir.
Yasir mengerti, ia mengelus kedua rambut kepala istrinya, dan juga ikut tertidur.
Malam itu benar benar penuh dengan ketegangan, di mana bukan hanya Yasir saja yang mendengar ledakan keras itu , dua desa yang ada di kecamatan Tasikmadu juga mendengar jelas ledakan di malam hari itu .
Keesokan harinya, cuaca mendung dan Yasir awalnya akan berencana untuk pergi ke pasar kecamatan Tasikmadu pagi itu merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi.
Matanya melihat ke arah hutan kecil yang sudah bersih dari semak belukar dan siap untuk di tanami dengan berbagai jenis tanaman, namun ia tidwk menanamnya sekarang karena belum di cangkul semua tanah yang sudah dibersihkan.
" mas , sarapan dulu , lihat apa mas ?" Lestari menatap ke arah pemuda yang tampak terdiam tenang itu .
" lihat hutan kecil kita , apakah bagus kalau di tanami padi gogo ?"
" mas lebih baik di tanami tebu atau yang mudah saja , karena biasanya malam hujan banyak babi hutan lewat dan merusak tanaman padi " saran Lestari mendekat seraya memberikan secangkir kopi gula aren yang sederhana.
" ya benar juga , masalah tanam padi , mas sudah memikirkan tempatnya " Yasir teringat dengan halaman belakang rumah yang cocok dengan kondisi persawahan, walaupun hanya bisa lima atau enam kotak sawah, tapi itu lebih dari cukup.
" di mana mas ?"
" belakang rumah!"
" hah belakang rumah, apakah bisa mas di sana ?" Lestari bingung dan ia menoleh ke arah belakang rumah panggungnya yang di mana hanya ada tanah sedikit miring ke bawah .
" tentu , nanti setelah menyelesaikan pembersihan ladang baru , mas akan mulai menggali tanah di belakang rumah " ucapnya dengan nada yakin .
" ya itu terserah mas saja, kami semua mengikuti apa yang dikatakan oleh mas !"
" umhh ...!"
Keduanya terdiam , tidak tahu apa yang harus di bahasnya , Halimah yang ada di dapur melihat keduanya seperti patung tanpa bergerak .
" mas .. kakak tari , sarapan ...!"
" eh ..!"
Yasir terkejut, begitu pula dengan wanita muda yang sama sama melamun itu .
" hehehe benar ,ayo sarapan dahulu " Yasir terkekeh, ia datang dan menghampiri Halimah yang tampak sewot itu .
" mas ada pikiran apa , sepertinya sangat berat ?"
" tidak, hanya memikirkan bagaimana memberikan nama untuk anak kita nanti "
Keduanya langsung memerah , dan senyum bahagia terpancar di wajah kedua wanita muda itu.
" sudah mas , ayo ...nanti keburu dingin...!"
Setelah makan , satu keluarga itu mulai membersihkan ladang dan juga daun daun seperti biasa , kadang ada candaan berujung bahagia, ada pula yang membuat kedua wanita muda kesal, kehidupan itu terus berlanjut hingga beberapa hari dan semua bukit kecil itu sudah bersih, tepat pada hari itu , hari minggu, di mana akan ada pembangunan jalan di desa Plarangan , tepatnya di sawah pak Slamet guru ,sebenarnya pembangunan jalan itu direncanakan minggu lalu, namun hari itu , bencana bandit datang dengan mantri desa juga ikut menjadi tersangka, juga diteruskan dengan membangun rumah panggung secara gotong royong oleh warga.
" mas kalau sudah sore pulang ...!"
" iya !"
Yasir mencium kening kedua istrinya itu , lalu berjalan menuruni bukit yang sudah bersih itu , ia berfikir untuk mencari tenaga kerja cangkul dan pilihannya tepat pada Imran dan beberapa orang tua yang tidak memiliki pekerjaan.
Sampai di desa , ia melihat ratusan pria , baik tua maupun muda, bahkan ada anak anak di antara para pria itu , mereka berjalan menuju arah timur, arah di mana proyek pembangunan jalan akan di mulai .
Yasir ikut bergabung, ia membawa parang dengan tidak lupa pisau kecil kesayangan ada di balik baju hitam lusuh miliknya .
Tak membutuhkan waktu lama , semua orang mulai membagi tugas, ada yang mencangkul tanah untuk jalan, mencari bambu , membuat tali , atau bahkan menebang pohon yang datang menghalanginya.
Yasir mendapatkan tugas untuk mengambil bambu , jaraknya cukup jauh dan juga hanya ada satu jalan, yaitu jalan setapak di mana di pinggirnya sungai kecil Cileunyi berair tenang.
Rombongan Yasir berjumlah lima puluh orang dan hanya satu kali mengambil bambu , satu bambu satu orang, dan itu sangat praktis, kehidupan gotong royong sudah berakar dalam hati setiap warga desa, siapapun yang memiliki pekerjaan bersama , seluruh warga akan turun tangan .
Adegan itu tidak ada dalam kehidupan zaman sekarang, di mana sekarang bila ada orang yang melakukan pekerjaan bersama akan ada satu atau dua orang memposting terlebih dahulu dan menunggu like atau komentar penonton.
Kembali ke acara, Yasir menatap ratusan ribu pohon bambu / batang bambu yang ada di depan matanya , ia tidak menyangka bahwa desanya memiliki sumber daya alam bambu yang luar biasa banyaknya.
" kang Yasir awas ada ular ..!"