Menjadi kaya sejak lahir, tak lantas membuat hidup seorang Langit Biru begitu sempurna. Nyatanya di usia yang ketiga puluh lima tahun, pria itu sudah harus merasakan menjadi orangtua tunggal bagi putrinya.
Apapun akan Langit lakukan demi kebahagiaan juga keselamatan sang putri. Termasuk di dalamnya ketika Langit harus memaksa seorang gadis ambisius juga keras kepala agar mau menjadi istrinya. Siapa lagi jika bukan Bulan Purnama. Wanita yang memang memiliki ambisi demi kemajuan bisnisnya.
Sebuah kisah kehebatan seorang Ayah tunggal yang mencintai putrinya dengan cara yang luar biasa.
Juga bagaimana seorang wanita tangguh dan mandiri yang harus terpaksa hidup bersama seorang duda dengan putrinya.
Ikuti kisah selengkapnya hanya di story Bulan di Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heni Heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima Belas
Tak hanya Jupiter saja yang berbunga-bunga hatinya. Tapi, Bulan juga. Sepertinya gadis itu tengah jatuh cinta. Terpesona pada dua kali pertemuannya dengan Jupiter, melupakan fakta jika ada sosok Langit di antara mereka. Entah apa yang membuat Bulan bisa langsung tertarik pada seorang Jupiter. Karena biasanya tipe yang Bulan inginkan cukup tinggi untuk ukuran lelaki. Berkaca pada sang Daddy juga kakak lelakinya. Tipe pria romantis dan bertanggung jawab pada keluarga. Bagi Bulan dua lelaki dalam hidupnya yang tidak pernah menyakitinya yaitu Daddy dan kakaknya akan dia dapatkan juga pada pria yang kelak menjadi suaminya.
Hingga pada saat Bulan mendapati interaksi di antara Jupiter dengan Cahaya, begitu saja Bulan takjub dibuatnya. Bagaimana Jupiter yang begitu mencintai dan mengasihi keponakannya. Bukan sebuah settingan semata tapi yang Bulan tahu semua itu tulus Jupiter lakukan.
Pesan dari Jupiter yang mengatakan rindu dan tertarik padanya, membuat Bulan tak henti tersenyum sejak tadi. Bahkan dengan malu-malu Bulan tak segan membalas pesan yang Jupiter kirimkan. Gadis itu pun mengakui perasaannya yang memang berbeda pada sosok pemuda bernama Jupiter itu. Seolah gayung pun bersambut di mana keduanya sepakat akan mengadakan janji temu kembali suatu hari nanti jika Bulan juga Jupiter ada waktu luang.
Kini Bulan jadi tidak sabar untuk bisa menemui pemuda itu. Banyak hal yang ingin dia sampaikan terkait perasaannya. Juga seorang Cahaya yang menarik perhatian Bulan. Gadis kecil yang sagat manis menggambarkan dirinya ketika masih kecil dulu. Suka sekali jahil pada kakaknya yang bernama Danum. Dan sama persis dengan Cahaya yang suka menjahili Jupiter.
Senyum itu langsung memudar ketika mendengar suara pintu ruang kerja yang diketuk dari luar.
"Masuk!" titah perempuan itu pada karyawan yang ingin bertemu.
Meski pun Bulan adalah seorang wanita, akan tetapi sebagai seorang pemimpin hotel ini dia sangat disegani.
Sekretaris Bulan adalah seorang wanita yang usianya hampir setara dengannya. Hanya selisih satu atau dua tahun di atas Bulan mungkin.
"Permisi, Bu."
"Masuklah."
Jika sekretaris yang dia pekerjaan menemui seperti ini, Bulan harap-harap cemas karena pasti ada sesuatu yang ingin wanita itu sampaikan.
"Duduk."
"Terima kasih, Bu."
"Ada apa? Apakah ada berita baik yang ingin kamu sampaikan padaku?"
Senyum kecut yang sekretarisnya berikan membuat Bulan menghela napas kasar. Pasti ada hal yang tidak beres. Pikirnya.
"Proposal kita ditolak lagi."
"Apa?!" Terkejut Bulan mendengarnya. Padahal ini sudah proposal kesekian yang dia berikan. Dengan penawaran harga yang cukup fantastis tentunya.
"Aku sudah menaikkan harganya cukup tinggi. Masih juga ditolak oleh pria itu?"
Kening sang sekretaris mengerut. "Pria siapa, Bu?" Tanyanya polos.
"Siapa lagi jika bukan Langit Biru," jawab Bulan penuh dengan kekesalan. Bagaimana mungkin dirinya harus dihadapkan pada sosok pria arogan yang sok nggak butuh uang.
"Jadi, Anda kenal dengan pemilik lahan itu?"
"Dulunya tidak. Baru-baru ini saja aku tanpa sengaja mengenalnya. Karena rupanya Langit Biru adalah rekan bisnis Uncle Dirga."
"Oh, ya? Jika begitu, kenapa Anda tidak meminta bantuan saja pada Pak Dirga."
"Pantang bagiku menyerah sebelum berusaha."
"Tapi Anda sudah berusaha keras untuk mengirimkan berkali-kali proposal yang ujungnya ditolak juga. Saya pikir Pak Langit ini tipe keras kepala."
"Kamu benar. Aku akan coba untuk menemuinya sendiri. Jika sampai dia menolak ... mungkin jalan terakhir aku akan menemui Uncle Dirga untuk meminta bantuan."
Dalam pemikiran Bulan, dia bertekad dan sangat yakin bisa menaklukkan pria sombong dan arogan itu.
••••
Langit pulang ke rumahnya di kala hari sudah malam. Rumah sebesar ini yang hanya dihuni bersama Cahaya dan beberapa asisten rumah tangga.
Selelah apapun Langit, pria itu selalu meluangkan waktunya untuk menemui sang putri tercinta. Tidak ada yang lebih berharga di dunia selain putri satu-satunya.
Karena Langit tak nampak keberadaan Cahaya, dia pikir jika putrinya itu pasti sedang berada di dalam kamarnya. Bahkan pria itu tak mandi dulu tapi langsung menuju ke dalam kamar Cahaya.
Pintu kamar Langit buka, menampakan sosok Cahaya yang sedang sibuk dengan laptopnya. Gadis berusia sepuluh tahun itu sedang belajar rupanya.
Mengetahui kehadiran sang papa, kepala Cahaya langsung menoleh disertai dengan seulas senyuman. Senyum yang melenyapkan rasa lelah juga capek Langit seharian ini.
"Selamat malam, Pa. Papa baru pulang?"
Kepala Langit mengangguk. "Iya."
Kaki panjang berbalut celana bahan melangkah mendekat pada Cahaya. Mengusap pucuk kepala sang putri lalu mengecupnya.
"Apa kabarmu hari ini, Aya?"
"Aku baik, Pa. Sangat baik."
"Maaf jika Papa harus pulang malam."
"Its okay. Tidak apa, Pa. Aku tahu jika Papa sedang sibuk."
Senyum yang Langit berikan sebenarnya adalah senyum penuh rasa bersalah karena dia tidak mampu memberikan perhatian lebih pada putrinya.
"Apa kamu sudah makan, sayang?"
Kepala Cahaya menggeleng. "Belum. Aku menunggu Papa. Tidak enak sekali jika harus makan seorang diri."
"Ya, sudah. Berikan papa waktu untuk mandi sebentar. Setelah itu kita makan malam."
"Siap."
Lagi-lagi usapan lembut pada kepala Cahaya, Langit lakukan. Setelahnya pria itu membalikkan badan bersiap melangkah keluar. Sayanganya, panggilan dari Cahaya menolehkan kembali kepala Langit pada putrinya.
"Papa!"
"Ya, sayang."
"Bagaimana jika Papa dan Mama menikah lagi?"
Wajah polos itu menatapnya penuh harap. Langit masih diam mematung tak menyangka jika akan mendapatkan sebuah pernyataan itu dari mulut putrinya. Apa gerangan yang sudah terjadi pada Cahaya? Tidak mungkin gadis kecilnya bisa memiliki pernyataan demikian jika tidak karena ulah Vivian. Langit sangat yakin jika Vivian pasti meracuni kembali otak Cahaya.
"Aya! Kenapa kamu berkata seperti itu?"
"Karena aku ingin memiliki keluarga yang utuh kembali. Ada papa dan mama. Agar hidupku tak lagi sepi seperti ini."
Langit membuang napas kasar. Dia lagi-lagi harus memberikan pengertian pada Cahaya bahwa dia dan Vivian tak akan lagi bisa bersama.
"Aya! Papa tahu jika kamu kesepian dan ingin memiliki keluarga yang utuh. Tapi Papa minta maaf jika Papa belum bisa mengabulkan permintaanmu. Jika Cahaya menginginkan seorang mama ... papa akan usahakan. Tapi bukan Mama Vivian tentunya."
Wajah Cahaya mendadak bersinar. "Jadi ... papa akan memberikan aku mama baru?"
"Hah?"
"Menurut cerita Uncle Jupi ... papa akan memberikanku mama baru. Yang pasti lebih baik dari Mama Vivian. Mama baru yang akan lebih perhatian padaku juga pada Papa. Bukan seperti mama Vivian yang selalu sibuk bekerja sampai aku dilupakan."
Glek.
Langit menelan ludah. Sialan Jupiter. Sepupunya itu selalu saja menyulitkan dengan pernyataan anehnya untuk Cahaya. Padahal baik dirinya juga Jupiter tahu jika Cahaya sangat kritis akan hal-hal yang didengarnya.
penasaran sm kehidupan rumah tangga bulan langit...
terimaksih kak, lanjut terus donk....🙏🙏
petaba dimana thor?😁✌️
terima kasih ya Thor🙏
Kirain g d lanjut...