NovelToon NovelToon
Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: Kim O

Kehidupan Zenaya berubah menyenangkan saat Reagen, teman satu kelas yang disukainya sejak dulu, tiba-tiba meminta gadis itu untuk menjadi kekasihnya.

Ia pikir, Reagen adalah pria terbaik yang datang mengisi hidupnya. Namun, ternyata tidak demikian.

Bagi Reagen, perasaan Zenaya tak lebih dari seonggok sampah tak berarti. Dia dengan tega mempermainkan hati Zenaya dan menginjak-injak harga dirinya dalam sebuah pertaruhan konyol.

Luka yang diberikan Reagen membuat Zenaya berbalik membencinya. Rasa trauma yang diberikan pria itu membuat Zenaya bersumpah untuk tak pernah lagi membuka hatinya pada seorang pria mana pun.

Lalu, apa jadinya bila Zenaya tiba-tiba dipertemukan kembali dengan Reagen setelah 10 tahun berpisah? Terlebih, sebuah peristiwa pahit membuat dirinya terpaksa harus menerima pinangan pria itu, demi menjaga nama baik keluarga.

(REVISI BERTAHAP)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : "Aku mencintaimu, Zenaya!"

"Jangan mengada-ada, Nat, orang lain bisa salah paham dengan perkataanmu barusan. Apa lagi sampai terdengar oleh telinga para wartawan." Sambil bersedekap Bryan memberi Natalie peringatan.

"Tidak masalah kalau mereka mau menggosipkan kami berdua." Natalie mengangkat kedua bahunya cuek.

"Itu bagimu tapi tidak bagi Reagen!" kata Bryan tanpa memperdulikan perasaan Natalie.

Natalie merasa sakit hati. Ia menoleh pada Reagen seolah meminta pembelaan.

Reagen tersenyum simpul. "Aku akan menjelaskan pada Grace nanti."

Bukan pembelaan yang terdengar, Reagen justru enggan membiarkan gosip itu tersebar. Natalie sontak menatap bengis Bryan dan bergegas pergi dari sana. "Aku akan kembali jika sahabatmu itu tidak ada di sini!" ketusnya sembari berlalu.

Bryan menggelengkan-gelengkan kepala akan sikap kekanakan Natalie.

"Jangan terlalu keras padanya." Reagen menatap sang sahabat.

"Kamu yang terlalu lembek. Jangan hanya lisanmu yang menolak, tapi sikapmu juga harus demikian. Aku yakin Grace pasti akan langsung memberitahu Zenaya soal ini," kata Bryan.

Reagen terdiam. Ia memang menyadari sikapnya pada Natalie yang mungkin banyak membuat orang salah paham. Namun, biar bagaimanapun Reagen tidak bisa terang-terangan menjauhi wanita itu, sebab hanya mereka berdualah yang selalu ada pada masa-masa tersulit Reagen ketika berada di New York. Mereka memang sempat kuliah bersama di sana.

Meski Reagen dan Bryan tengah disibukkan dengan kegiatan masing-masing hingga jarang bertemu, tetapi mereka akan selalu menyempatkan diri berkomunikasi. Maka dari itu, Bryan mengetahui perihal pertemuan Reagen dan Zenaya di rumah sakit tersebut.

...***...

"Ternyata kamu di sini, Zen, tadi aku sempat mencarimu di ruangan dan kantin rumah sakit." Grace duduk di hadapan Zenaya yang tampak fokus menyantap makanannya.

Melihat raut wajah sahabatnya yang sedang kusut, Grace tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. "Kamu kenapa? Apa ada sesuatu yang salah?"

Zenaya menghentikan suapannya lalu menatap Grace datar. "Tadinya aku berniat menghampirimu duluan, tapi ternyata kamu sedang mengunjungi pasien." Katanya mengawali pembicaraan.

"Lalu?" Entah mengapa Grace merasa gelisah sendiri menunggu perkataan Zenaya selanjutnya.

"Kamar VVIP 503. Aku mendengar semua percakapan kalian termasuk apa yang dikatakan Natalie," ucap Zenaya datar. Meski wajahnya tidak menunjukkan raut apapun, tetapi Grace yakin hatinya tengah terluka.

Grace memandang Zenaya khawatir. "Maafkan aku yang sempat ingin mendamaikan kalian berdua. Aku berjanji tidak akan membiarkan pria itu mendekatimu lagi."

Zenaya menganggukkan kepalanya. " Tapi Grace ...," sorot mata gadis itu berubah sendu. Suaranya pun terdengar bergetar. "mengapa rasanya begitu sakit, padahal aku sangat membencinya?"

Grace dengan sigap berpindah tempat dengan duduk di sebelah Zenaya dan memeluknya erat.

Ia sangat mengerti perasaan Zenaya. Bagaimanapun juga, tidak mudah melupakan cinta pertama yang sudah lama terpendam hanya dengan satu kesalahan saja. Jauh di dalam lubuk hati sahabatnya, Grace sangat yakin kalau Zenaya masih memiliki rasa itu.

"Jangan menangis, Zen."

...***...

Pagi ini adalah jadwal kepulangan Reagen. Jennia yang dari semalam menemani di rumah sakit, kini sedang sibuk merapikan semua barang-barang putra bungsunya itu. Ia sama sekali enggan menerima bantuan salah satu maid-nya yang ikut datang menjemput. Sejak Noah dan Reagen bayi, Jennia memang tidak pernah membiarkan kedua anaknya diasuh oleh orang lain. Sesibuk apapun ia akan selalu berusaha mengurus keluarganya sendiri.

"Maaf merepotkan, Ma," ucap Reagen ketika melihat sang ibu begitu apik menata semua barang-barang pribadinya ke dalam koper.

"Tak ada yang direpotkan, Sayang." Jennia tersenyum. Wajahnya menatap puas kedua koper Reagen yang sudah rapi.

Dibantu Frans, supir pribadi keluarga mereka, Reagen duduk di kursi roda. Mereka pun segera pergi meninggalkan ruangan.

"Ayahmu bilang akan pulang cepat. Kakakmu juga akan berkunjung ke rumah bersama Krystal dan Bella. Kamu harus melihat bagaimana cantiknya Bella sekarang," kata sang ibu sambil mendorong kursi roda Reagen.

"Aku tak sabar melihatnya." Reagen tersenyum lembut saat membayangkan pertemuannya dengan sang keponakan. Maklum saja, sejak Bella lahir empat tahun lalu Reagen sama sekali belum pernah menemuinya secara langsung. Mereka hanya berkomunikasi lewat video call saja.

Jennia dan Reagen kini sedang menunggu di depan lift. Ketika pintu lift lainnya terbuka Reagen mendapati Zenaya yang tengah sibuk memainkan ponselnya.

Reagen tidak ingin kehilangan kesempatan.

"Ma, ada seseorang yang harus kutemui. Mama tunggu di bawah saja, nanti aku akan menyusul." Reagen membuka suaranya.

"Siapa, Sayang? Mama temani saja ya?" Jennia menatap cemas sang putra.

Reagen menggeleng. "Hanya sebentar, Ma."

Melihat raut wajah Reagen yang tak bisa dibantah, Jennia akhirnya mengalah. Wanita itu pun masuk ke dalam lift meninggalkan sang putra yang langsung menggerakkan kursi rodanya untuk menyusul Zenaya yang kini sudah keluar dari lift dan berjalan menjauh.

"Zenaya!"

Suara yang sangat familiar membuat Zenaya berhenti tepat ketika hendak masuk ke dalam ruang kerjanya.

Zenaya memasang wajah dingin seketika. Gadis itu bersiap meninggalkan Reagen di sana tanpa menoleh sedikitpun.

"Please, jangan menghindariku!" pinta Reagen sembari mempercepat kursi rodanya.

Tangan kiri Zenaya berhenti pada kenop pintu. Ia terdiam seolah tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan Reagen.

Begitu berhasil sampai di sebelah Zenaya, Reagen memaksakan diri berdiri dengan berpegangan pada dinding.

Reagan juga berhasil meraih tangan Zenaya dan menggenggam lembut telapak tangan wanita itu.

Dada Zenaya sontak bergemuruh, bersamaan dengan rasa panas yang menjalar ke sekujur tubuhnya. Sekuat tenaga ia mencoba untuk tidak bereaksi.

"Aku–"

"Pergi dari hadapanku," ucap Zenaya lirih.

"Zen, beri aku kesempatan untuk meminta maaf atas apa yang telah terjadi beberapa tahun silam," ungkap pria itu sembari mengeratkan genggaman tangannya pada Zenaya.

"Selama sepuluh tahun ini aku selalu dihantui rasa bersalah. Namun, rasa takut akan penolakan maaf darimu jauh lebih besar. Oleh sebab itu, aku tidak pernah berusaha untuk datang menemuimu dan malah memilih melarikan diri dari sini." Entah mau didengar atau tidak, yang jelas Reagen harus mengatakan semua ini.

Reagen bisa merasakan sedikit getaran pada tangan Zenaya.

"Meminta maaf tidak akan mampu menutup lukaku yang sudah tersemat lama." Gadis itu akhirnya bersuara. Nadanya terdengar sangat dingin, tapi berbanding terbalik dengan sorot matanya yang mulai meredup.

"Aku tahu, maka dari itu ijinkan aku untuk memulai segalanya dari awal lagi."

Zenaya mengerutkan keningnya dan menatap Reagen penuh tanya. Ia sungguh tidak mengerti apa maksud dari perkataan pria itu.

"Aku mencintaimu, Zenaya!" ungkap Reagen tiba-tiba. Kata-katanya penuh dengan penegasan.

Zenaya tersentak hebat. Ia bahkan refleks melepaskan diri dari Reagen hingga membuat pijakan pria itu sedikit goyah.

Perut Zenaya mendadak terasa mual. Ingatan akan perkataan Natalie kemarin langsung terngiang di kepala gadis itu.

Zenaya tertawa bengis. "Selain meminta maaf, kau rupanya masih juga berusaha mempermainkanku dengan kata-kata menjijikan itu. Benar-benar pria brengsek yang bahkan tidak menghargai ikatan suci pertunangan!" tuturnya sinis.

Reagen terkejut. Ia pikir Grace telah mengatakan segalanya pada Zenaya, padahal kenyataannya Zenaya sendirilah yang mendengar Natalie berkata demikian.

"Kamu salah paham. Aku tidak pernah–"

"Berhenti! Aku tidak ingin mendengar apapun lagi!" hardik Zenaya. Ia bergegas masuk ke dalam ruangannya dan membanting pintu.

Air mata keluar dari pelupuk gadis itu begitu pintu tertutup.

"Aku mencintaimu, Zenaya!"

Pernyataan Reagen barusan benar-benar memporak-porandakan hati Zenaya. Sembari terisak-isak tanpa suara, gadis itu memukul-mukul dadanya sendiri.

1
Rahma Sari
awal baca ceritanya emosi oas mau ending gak kuat aku mewek...
Mei Saroha
loh. bukannya zenaya anak kelas 1 ? koq sebulan pacaran lgs kelulusan??
Hiatus: pelan coba ka diulang bacanya😊
total 1 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
lah udh tamat aja padahal belum lahiran.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kenapa selalu maen rahasia²an segala sh, kalau mau gitu lbh baik ga usah menikah drpd terbuka jg takut krn alasan menyakiti itu konyol justru krn rahasia kamu nanti bakal jd semua orang lbh trsakiti rey bahkan mgkn saling menyalahkan... ini bkn hanya tntg hidupmu sendiri tp jg istri n jg klwrgamu yg harus kamu pikirkan..
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
aduuhh thor baru jg bahagia kok malah ditambah lg ujiannya baru sedikit brnafas lega padahal kehidupan zen, rey
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
akhirnya kebahagiaan datang lg pd kalian berdua, semoga langgeng trs jdkan pelajaran kedepannya utk lbh waspada n saling terbuka.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙙𝙪𝙪𝙝𝙝𝙝 𝙠𝙖𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙯𝙚𝙣 𝙜𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙩𝙪𝙝 𝙙𝙞 𝙩𝙞𝙢𝙥𝙖 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙟𝙙 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙖𝙣... 𝙢𝙜 𝙖𝙟𝙖 𝙜𝙖 𝙖𝙥𝙖2
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙚𝙩𝙪𝙟𝙪 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙯𝙚𝙣𝙖𝙮𝙖, 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙧𝙚𝙮 𝙜𝙖 𝙙𝙞𝙖𝙢 𝙨𝙟 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙜𝙣 𝙡𝙚𝙖 𝙙𝙜𝙣 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙘𝙖𝙢 𝙠𝙧𝙣 𝙩𝙖𝙠𝙪𝙩 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙗𝙤𝙣𝙜𝙠𝙖𝙧 𝙩𝙥 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙟𝙪𝙨𝙩𝙧𝙪 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙢𝙗𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙗𝙚𝙨𝙖𝙧 𝙙𝙜𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙨𝙟 𝙙𝙞 𝙨𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝 𝙛𝙞𝙨𝙞𝙠 𝙨𝙢 𝙡𝙚𝙖 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙤𝙡𝙖𝙠 𝙠𝙧𝙣 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙠𝙚𝙖𝙖𝙡𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙩𝙥 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙢𝙗𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙜𝙣 𝙞𝙖𝙩𝙧𝙞𝙢𝙪 𝙠𝙢 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙪𝙝 𝙨𝙜𝙣 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙧𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙣𝙮𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙣𝙩𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙣 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙡 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙖𝙙𝙚𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙟𝙜 𝙗𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙡𝙚𝙣𝙖 𝙟𝙚𝙗𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙚𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙧𝙚𝙮
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙙𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙠𝙖𝙮𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙚𝙖 𝙗𝙞𝙠𝙞𝙣 𝙪𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙝 𝙙𝙜𝙣 𝙨𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙚𝙗𝙖𝙠 𝙧𝙬𝙖𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙙𝙧 𝙢𝙜𝙠𝙣🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙢𝙢𝙢 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜 𝙛𝙧𝙖𝙣𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙪 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙞𝙠.👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙖𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙞𝙩𝙪 𝙮𝙜 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙟𝙙 𝙟𝙤𝙙𝙤𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙛𝙧𝙖𝙣𝙨.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙖𝙮𝙤𝙤 𝙛𝙧𝙖𝙣𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙠𝙖𝙗𝙪𝙧 𝙗𝙞𝙖𝙧 𝙗𝙨 𝙣𝙜𝙪𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥𝙞𝙣 𝙟𝙜 𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙯𝙚𝙣𝙖𝙮𝙖 𝙠𝙚𝙗𝙞𝙖𝙨𝙖𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙪 𝙙𝙡𝙢 𝙣𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖 𝙢𝙨𝙝 𝙗𝙨 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙟𝙜𝙣 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙩𝙖𝙪 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞𝙢𝙪 𝙮𝙜 𝙗𝙣𝙧 𝙨𝙟 𝙯𝙚𝙣 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙢𝙪 𝙙𝙡𝙢 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙣𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙣 𝙜𝙖𝙧𝙖2 𝙠𝙚 𝙚𝙜𝙤𝙞𝙨𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙧𝙚𝙮, 𝙯𝙚𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙮𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙙 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖 𝙠𝙧𝙣 𝙨𝙩𝙚𝙧𝙨𝙨
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙙𝙧 𝙖𝙬𝙖𝙡 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙪𝙡𝙖 𝙨𝙢 𝙧𝙚𝙮, 𝙯𝙚𝙣 𝙖𝙥𝙖 𝙡𝙜 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙞𝙝𝙖𝙠 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙜𝙖 𝙮𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙤𝙗𝙨𝙚𝙨𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙢𝙞
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙜𝙖 𝙟𝙪𝙟𝙪𝙧 𝙨𝙟 𝙯𝙚𝙣, 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙝𝙖𝙧𝙞𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙪𝙠𝙖 𝙨𝙢 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙠𝙧𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙨𝙚𝙖𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙨𝙢 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙧𝙚𝙖𝙜𝙚𝙣 𝙮𝙜 𝙗𝙖𝙠𝙖𝙡 𝙙𝙞𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙮𝙖 𝙖𝙢𝙥𝙮𝙮𝙪𝙪𝙪𝙪𝙣𝙣𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙚𝙝 𝙩𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙥𝙙 𝙥𝙖𝙣𝙙𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙩𝙖𝙢𝙖 𝙙𝙞 𝙥𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙩𝙤𝙤𝙝𝙝 𝙧𝙚𝙖𝙜𝙚𝙣 𝙥𝙙 𝙯𝙚𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙖𝙡𝙚𝙭... 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙩𝙪𝙢𝙗𝙪𝙝 𝙙𝙞𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙖𝙨𝙪𝙝𝙖𝙣.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙙𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙟𝙜𝙣2 𝙣𝙖𝙩𝙖𝙡𝙞𝙚 𝙟𝙤𝙙𝙤𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙣𝙙𝙧𝙮𝙖𝙣.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙖𝙙𝙖𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙡𝙚𝙭 , 𝙯𝙚𝙣𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙟𝙙 𝙡𝙖𝙥𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙩𝙞𝙢𝙪 𝙪𝙩𝙠 𝙜𝙖 𝙣𝙜𝙚𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙣𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!