Aku tidak peduli meski kini usiaku sudah menginjak angka 27 tahun. Yang katanya jika perempuan sudah berumur 27 tahun artinya Tuhan sudah angkat tangan dalam mengurusi jodohku. Aku juga tidak terlalu pusing dengan cibiran tetangga maupun Ibuku sendiri yang mengatakan diriku sudah terlalu tua, hanya untuk menjalani hubungan layaknya anak SMA yang masih saja pacaran.
Ibu bilang, alasanku tidak segera menikah karena aku yang tidak serius menjalin hubungan dengan Kenzo, pacarku. Padahal itu tidak benar. Aku serius, sangat serius malah menjalin hubungan dengannya.
Aku hanya belum siap. Ya, hanya belum siap, kami hanya butuh waktu untuk membuat kami yakin untuk naik ke pelaminan.
Menikah itu tentang kesiapan mental. Aku jelas tidak ingin menikah di saat mentalku belum siap. Aku tidak ingin ketidaksiapan mentalku mempengaruhi keluarga kecilku kelak. Tidak perduli jika usiaku sudah masuk kategori telat menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin_iin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Apa Dengannya?
\=\=\=\=\=
"Reynand," desisku terkejut.
Reynand tersenyum kecut, pandangan matanya mengikuti kepergian mobil Kenzo yang kini mulai menjauh. Dan setelah hilang dari pandangannya, ia berjalan mendekat ke arahku.
"Pacar kamu ganteng banget ya, ternyata. Pantes kamu nolak saya mati-matian gitu," celetuknya, sembari memasukkan kedua tangannya di saku jaket kulitnya, sama seperti yang dipakai pakai tadi siang.
Aku diam.
"Saya mau ambil jaket," ujar Reynand karena tidak mendapatkan respon apapun dariku.
Aku mengangguk. "Ayo, silahkan masuk dulu," kataku berbasa-basi.
Reynand tersenyum sembari menggeleng. "Saya di sini saja. Sepertinya karyawan kamu sudah pada pulang," tolaknya halus.
Aku mengangguk paham. Kemudian langsung masuk ke dalam butik untuk mengambil jaket miliknya. Saat aku sampai di atas, aku mendengar suara gemuruh, pertanda mau hujan. Membuatku dengan cepat bergegas turun. Dan kekhawatiranku pun terjadi, begitu aku sampai di lantai bawah ternyata sudah hujan, dan hujannya pun lumayan deras.
"Duh, kok malah hujan," gumanku khawatir. Mengingat Reynand ke sini menggunakan motor.
Kutoleh Reynand yang kini sedang menutup jok motornya dengan sedikit kasar, diiringi umpatan khas lelaki setelahnya.
"Kenapa?" tanyaku khawatir.
"Di jok temen saya nggak ada jas hujan. Kamu ada jas hujan tidak di dalam?"
Aku menggeleng pelan sebagai tanda jawaban. Membuat Reynand kembali mengumpat.
"Sial."
Aku kemudian menyerahkan jaketnya.
"Sepertinya saya tidak punya pilihan lain. Saya langsung pulang saja," ucap Reynand tak yakin.
Ha? Dia mau nekat menerjang hujan, di saat hujan lagi deras-derasnya begini. Dengan cepat dan juga spontan, aku menggeleng tanda tidak setuju.
"Kamu bisa demam jika nekat. Hujannya makin deras loh."
Reynand menoleh ke arahku dengan pandangan tak percaya. Mungkin cukup kaget dengan sikapku barusan. Namun beberapa detik kemudian, ia tersenyum.
"Kamu khawatir dengan saya?" tanya Reynand tidak mampu menyembunyikan raut wajah bahagianya.
Aku memilih mengabaikan pertanyaannya tersebut.
"Bunda kamu masih kurang sehat, kasian beliau, kalau sampai kamu ikutan sakit."
Reynand ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk, meski raut wajahnya terlihat jelas sedang menahan diri untuk tidak tertawa.
"Khawatir sama calon mertua to. Ya nggak papa juga sih, itu bagus. Biar cepet dapat restu,"ujar Reynand sengaja menggodaku.
Membuatku geram. "Reynand!!" pekikku sebal.
"Wow. Ini pertama kalinya kamu sebut nama saya loh. Duh! Kok saya jadi baper gini, ya. Apa karena efek hujan?"
Aku memutar kedua mataku kesal. "Kamu mau masuk ke dalam atau tidak?" ketusku kemudian.
Reynand melirik ke lengan kirinya, seperti sedang menengok jam. "Sepertinya saya masuk saja, sudah hampir masuk waktu sholat maghrib soalnya. Tawaran kamu tadi betulankan? Bukan cuma basa-basi?"
Aku mengangguk. Kemudian mempersilahkan Reynand masuk.
"Harus banget di atas? Kamu nggak takut saya apa-apakan?"
Aku langsung menghentikan langkah kakiku yang hendak menyentuh anak tangga, kemudian berbalik.
"Emang kamu berani ngapa-ngapain saya?" tanyaku, entah kenapa malah seakan menantangnya.
Yang untungnya langsung dijawab Reynand dengan gelengan kepala.
"Ya, sudah. Berarti tidak ada yang perlu saya khawatirkan bukan?"
"Aku nggak yakin," guman Reynand, samar-samar terdengar di telingaku.
Diam-diam aku tersenyum, kemudian mengajak Reynand untuk naik ke lantai atas.
"Wow. Sepertinya saya sudah su'udzon tadi," celetuk Reynand begitu sampai di lantai atas. "Sempet kegeeran juga malah."
Aku memilih mengabaikan celetukan tak pentingnya. Kemudian berjalan menuju dapur.
"Biasa ngeteh apa ngopi?" tanyaku menawarinya.
"Apa aja. Saya bukan tipekal yang pemilih kok."
Aku mengangguk paham. Ide jahil tiba-tiba terlintas di pikiranku.
"Ini," kataku sambil menyodorkan segelas air putih untuknya.
Reynand tidak langsung menerima. Raut wajahnya terlihat terkejut, saat aku hanya menyodorkan segelas air putih.
"Apa saja kan?"
Reynand meringis sambil mengangguk canggung. "Iya. Apa saja." Kemudian menerima gelas yang ku sodorkan. "Air putih emang bikin sehat. Nggak kaya kopi yang bikin asam lambung atau teh yang bikin gula darah tinggi," ujarnya sebelum meneguk air mineral pemberianku.
Aku tidak mau aku terkekeh. "Bercanda. Saya tidak punya air panas, jadi belum bisa bikinin teh atau kopi. Jadi selagi airnya saya panaskan, minum air putih dulu," kataku menjelaskan.
Sepertinya aku melakukan kesalahan, kalau dilihat dari tatapan mata Reynand yang penuh selidik. Dan juga senyumannya yang terlihat seperti sedang ditahan ini.
"Jadi kamu berencana menahan saya lebih lama di sini?"
"APA?!"
ALLAHU AKBAR.....
ALLAHU AKBAR....
Reynand langsung merogoh kantong jaketnya, begitu mendengar suara adzan dari ponselnya.
"Udah masuk waktu sholat maghrib," gumannya seraya melepas jaketnya, selepas meletakkan ponselnya. "Kamar mandi buat wudhu nya di mana?" tanyanya langsung berdiri.
"Itu. Deket dapur," kataku sambil menunjuk pintu kamar mandi yang berdekatan dengan dapur.
Reynand mengangguk paham sambil mengucapkan terima kasih. Yang hanya ku balas dengan anggukan kepala sedikit malas. Dan sekarang, sepertinya aku cukup menyesal telah menahannya agar tidak pulang menerjang hujan. Kalau mengingat kelakuannya barusan.
"Sepertinya hujannya bakal lama deh. Kamu yakin nggak papa kalau saya di sini?"
"Ya terserah kamu. Kalau mau pulang dan berakhir demam di esok hari, ya silahkan, pulang sekarang," kataku sambil meletakkan secangkir teh hangat untuknya.
Reynand meringis sambil menggeleng tak setuju, baru kemudian mengucapkan terima kasih untuk tehya.
Aku mengangguk. "Saya tinggal mandi sebentar, ya," pamitku langsung meninggalkan Reynand menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan mengganti pakaianku dengan piyama, aku pun bergegas keluar dari kamar mandi dan menghampiri Reynand yang ternyata ketiduran.
Sebenarnya hujannya sudah reda. Tapi aku tidak tega untuk membangunkan Reynand yang terlihat sangat kelelahan ini. Jadi aku memutuskan membiarkannya tidur untuk sementara, setelah tadi sempat mengambil selimut untuk menyelimutinya agar tidak kedinginan.
Dan dengan setengah kewarasan yang ku miliki saat ini. Aku memutuskan untuk duduk diam, sambil mengamati tidurnya. Tanpa sadar aku tersenyum. Mengamati wajah polosnya saat tidur, entah kenapa membuatku merasa lebih baik. Heh? Merasa lebih baik? Ngomong apa aku barusan?
"Astaghfirullah! Saya ketiduran."
Dengan gerakan tiba-tiba, Reynand menurunkan kedua kakinya dan mengganti posisinya menjadi duduk. Kedua matanya masih terlihat memerah dan menatapku tak enak.
"Hujannya sudah reda," kataku, setelah menetralkan kegugupanku. Takut ketahuan kalau tadi sempat mengamati tidurnya.
Reynand mengangguk sambil ber'oh'ria. "Kalau begitu saya langsung pulang saja," ujarnya langsung berdiri dan memakai jaketnya kembali. "Takut nanti malah hujan lagi."
Aku hanya mengangguk. Pura-pura sibuk dengan ponselku.
"Terima kasih untuk tumpangan, teh dan juga selimutnya. Tidur saya sangat nyenyak lho, ngomong- ngomong. Bisa dibilang tidur singkat yang berkualitas," ucapnya sambil tersenyum aneh di akhir kalimatnya.
Dan sukses membuat kedua pipiku memanas.
Astaghfirullah. Mikir apaan aku barusan.
"Saya permisi," pamitnya sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket dan meraih kunci motornya.
"Ya. Hati-hati, nggak usah ngebut. Jalanan licin," pesanku yang hanya dijawab Reynand dengan anggukan kepala. Meski masih dihiasi senyum anehnya tadi.
Ada apa dengannya?
Aneh.
Tbc,
sayangnya baru nemu di penghujung tahun ini..
gemes banget sama Qila.cowok sebaik sesabar itu kok ditolak nikah.
Kenzo juga,kayak nggak ada cewek lain aja yg mau dinikahin
Di profil ya namanya?
atau apalah namanya🤔pokoknya intinya tau novel ini karena liat mom Shanti yg promosiin.
maciw mom Shanti