Cerita tentang gadis yang meninggal di usia muda namun hidup kembali di dunia yang berbeda. Bagaimanakah kisah kehidupan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
"Bagaimana? Apa sudah kau pelajari?"
"Sudah Tuan. Tapi... mereka yang sudah bekerja sama dengan Kley rata-rata enggan untuk bekerja sama dengan pihak lain"
"Jadi kau tidak berhasil? Dasar bodoh!!"
"Maafkan saya tuan, mereka menawarkan harga yang tinggi jauh di atas kita"
"Pakai cara kekerasan dan ancam mereka. Apa gunanya aku memiliki organisasi pembunuh bayaran?!"
"Baik tuan"
Lelaki itu menunduk hormat kepada tuannya. Ia lalu meninggalkan ruangan itu dan mengajak beberapa orang anak buahnya untuk ikut pergi menjalankan tugasnya.
*****
Waktu yang dijanjikan telah tiba. Nazyela mengajak Nakuna, Sir. Afik dan Sir. Yukil untuk pergi ke daerah terpencil di Brilane. Tempat yang ia tuju ialah sebuah kafe yang katanya sangat indah. Nazyela ingin Sir.Afik melihat bagaimana peluang bisnis disana.
Didalam kereta mereka mengbrol sambil menghabiskan waktu perjalanan menuju kesana.
"Apa nona akan membuka toko baru disana?"
Tanya Sir. Afik ia pun mengeluarkan kertas dan pena. Ia telah terbiasa bicara sambil mengeluarkan dua benda itu. Karena terkadang nonanya berbicara tentang keinginan dan idenya cukup bagus jika terlewatkan olehnya.
"Rencananya, aku ingin membuka toko makanan. Seperti kafe kecil yang kita buka di Kota Pelabuhan waktu itu. Aku membayangkan sebuah tempat terpencil begitu bagaimana jika dibangun Villa. Villa tempat orang-orang menginap. Mereka yang bepergian jauh akan butuh tempat untuk beristirahat. Dan mereka yang butuh penyegaran diri dari kesibukan ibu kota pasti juga butuh tempat itu untuk merefleksikan diri. Bagaimana menurut mu Sir. Afik?"
Dari hasil negosiasi dengan Thomas Edison waktu itu. Nazyela membangun sebuah resort kecil di pinggir pelabuhan. Resort yang dikelilingi Lampu-lampu hias menjadi daya tarik pengunjung. Resort itu juga dilengkapi hotel, restauran kecil dan taman hiburan kecil kini menjadi tempat yang sangat ramai dikunjungi wisatawan. Bisa dibilang ide bisnisnya waktu itu berhasil.
"Sepertinya itu ide yang bagus nona"
"Lalu kita lihat dulu kafe yang kita datangi ini. Katanya tempat ini unik dan indah"
Nazyela membayangkan tempat yang ia maksud. Ia sedikit percaya dengan perkataan Lelaki yang bernama Jongya itu padanya.
Waktu berlalu akhirnya mereka menemukan tempat itu.
"Sepertinya ini tempatnya. Hanya bangunan ini satu-satunya kafe disini. Apa tidak apa-apa nona, tempat ini terlalu sederhana"
Sir. Yukil mencoba melihat keamanan tempat itu.
Nazyela turun dari kereta. Begitu ia turun seorang pria bergegas keluar menyambutnya.
"Selamat datang Lady Estelle, mari silahkan masuk"
Sapa lelaki yang mengajak temu janji kepada Nazyela yang tak lain adalah Jongya.
"Tidak, sepetinya duduk disni lebih baik. Pemandangan diluar ini akan lebih indah dilihat langsung"
"Oh... baiklah"
Lelaki itu duduk di kursi yang ada bersama Nazyela. Beberapa pelayan tampak mempersiapkan segala sesuatunya.
Nakuna Sir. Yukil, dan Sir. Afik duduk di meja yang berbeda, selang beberapa meja dari nonanya dan pemuda itu.
" Bangunan disini tidak begitu mewah, namun indah. Terlebih lagi rumah yang ada di depan itu, aku suka sekali melihatnya"
Lelaki itu tersenyum mendengar perkataan Nazyela.
"Itu kediaman saya lady"
"Oh... maaf aku sudah tidak sopan. Apa tidak apa-apa kita disini?"
Nazyela tampak bingung. Didepan adalah rumah kediaman lelaki itu, bukankah berarti keluarganya ada didalam. Sangat tidak sopan bila berkunjung tapi tidak menyapa anggota keluarga.
Lelaki itu paham apa yang menjadi pikiran Nazyela.
" Saya tinggal sendiri dirumah itu"
Sambil menyeruput minuman yang telah disajikan.
Mereka mengobrol dengan santai. Bercerita panjang lebar tanpa memperhatikan mata-mata yang menatap mereka.
Para pengikut Nazyela mencium bau-bau yang samar-samar terlihat jelas.
"Apa nona sedang jatuh cinta? Lihat lah senyum yang ceria itu dan pipi yang merona itu"
Sir. Yukil berkata dengan suara rendah.
"Sstt... kecilkan suara mu, Sir, Afik bisa mendengarnya"
Ujar Nakuna terhadap Sir. Yukil
"Ehem..!"
Deheman Sir. Afik yang sedang membaca buku catatannya menandakan sebenarnya suara mereka cukup nyaring ditelinga, tentu saja karena mereka duduk semeja bertiga. Nakuna dan Sir. Yukil melirik ke arah Sir. Afik dan tersenyum tidak enak.
"Hei... Afik, apa kau tahu siapa laki-laki itu?"
Sir. Yukil bertanya. Sir. Yukil dan Sir. Afik memiliki kedudukan yang setara. Mereka berdua adalah tangan kanan dan kiri Nazyela.
"Kau bertanya padaku? Aku kira kau lebih tahu dari aku karena kau yang selalu mendampingi nona kemana-mana?"
Sir. Afik tampak marah. Ia mengira Sir. Yukil tahu siapa lelaki itu dan tahu kalau nona aman bersama dengannya. Namun ternyata Sir. Yukil balik bertanya kepadanya, tentu saja ia merasa marah Sir. Yukil kali ini cukup teledor.
Sir. Yukil merasa bersalah. Ia paham yang dimaksud Sir. Afik bahwa keamanan nona sedang dipertanyakan. Ia pun memasang kesiagaannya.
Nakuna yang melihat mereka berdua terlihat tegang dan cemas lalu memperhatikan kembali nonanya dengan tuan muda itu. Ia pun berkata dalam hati.
Sepertinya benar. Nona sedang mengenal pria ini dan mereka terlihat sama-sama saling tertarik. Dari tadi aku tidak melihat hal-hal yang perlu di cemaskan. Tuan itu sangat sopan terhadap nona. Ia juga terlihat sangan elegan walau penampilan nya biasa saja tapi seperti ada karisma yang bukan dimiliki oleh orang biasa didirinya.
"Apa kalian tidak pernah melihat lelaki itu? Aku merasa tak asing dengan wajahnya"
Nakuna berbisik. Dia mulai berpikir bahwa ia merasa tak asing dengan wajah itu. Dia mencoba mengingat dimana ia bertemu lelaki itu.
"Hmmm... tidak"
Jawab Sir. Yukil sedang Sir.Afik terdiam menutup mata pertanda ia juga tidak tahu namun berusaha mengingat hal yang terlewatkan yang berhubungan mengingat wajah lelaki itu.
Tiba-tiba wajah Nakuna menjadi pucat, dan ia mulai mengeluarkan keringat dingin. Kedua telapak tangannya mulai terasa dingin dan perlahan mulai bergetar.
Sir. Yukil yang melihat keadaan kekasihnya terlihat panik pun bertanya.
"Naku, kau tak apa-apa? Wajahmu pucat sekali?"
Sir. Afik yang mendengar perkataan Sir. Yukil membuka matanya dan terkejut melihat Nakuna yang mulai terlihat lemas.
Nazyela yang mendengar kegaduhan mereka melihat kearah mereka. Ia terlihat terkejut melihat Nakuna nyaris pingsan.
"Maafkan ketidak sopanan ku, tapi sepertinya pelayaan ku sedang sakit"
Nazyela mengatakan kepada Jongya dan
bermaksud menghentikan sesaat pembicaraan mereka.
"Oh.. kebetulan aku punya dokter pribadi disini. Bill siapkan kamar tamu, untuk Lady Estelle beserta pengikutnya"
" Baik yang.... tu.. tuan?!"
Hampir saja aku keceplosan. Bisa mati aku.(Asisten)
Hah... nyaris saja ketahuan(Jongya)
"Tapi untuk apa anda mempersiapkan kamar untuk kami semua?"
Nazyela tampak bingung. Ia tidak berencana untuk menginap keluar.
"Maafkan kelancangan ku lady. Tapi sepertinya pelayan anda membutuhkan pengobatan dan tempat untuk beristirahat. Jika melihat kondisinya yang seperti itu"
Ujar Jongya memberikan saran.
Benar juga. Aku nggak mungkin ngajak balik Naku dalam keadaan begitu.
"Baiklah. Sir. Yukil bawalah Nakuna ke kamarnya"
Perintah Nazyela.
Sir. Yukil menunduk hormat. Ia pun membawa Nakuna ke kamar yang telah disediakan mengikuti arahan dari pelayan Jongya.
Tidak lama kemudian dokter datang untuk memeriksa Nakuna.
"Sepertinya anda kurang darah, tekanan darah anda rendah"
"Tapi sebelumnya dia baik-baik saja"
Ujar Nazyela pada dokter.
"Mungkin ada hal yang membuat dia terkejut. Hingga membuat dia jadi lemah. Tidak apa-apa dengan beristirahat yang cukup serta minum vitamin yang saya berikan maka ia akan baik-baik saja"
Saran dokter yang membuat Nazyela cukup lega mendengarnya.
"Baiklah.. terima kasih dokter"
"Ini sudah tugas saya nona"
Dokter menunduk hormat kepada Nazyela dan juga Jongya. Ia pun meninggalkan ruangan itu.
"Baiklah.. biar kan dia beristirahat. Sebaikanya kita meninggalkan kamar ini"
Ajak Nazyela kepada semua.
Mereka pun keluar kamar.
"Lady beristirahatlah.. pelayan aku akan menunjukkan kamar lady dan yang lain. Kita akan bertemu lagi saat makan malam nanti"
Jongya berkata dengan lembut.
"Baiklah... maafkan saya telah merepotkan anda"
Nazyela membungkuk tanda menghormati pemilik kediaman.
Dan mereka pun kembali ke kamar masing-masing.
Beri dukungan untuk aku dong😘
* Like 👍
* Komen
* favorit ❤️
*Rate⭐⭐⭐⭐⭐
*Hadiah
*Vote, Terima kasih 🤗
Baca juga Cintai Aku Seikhlasmu , bagi yang suka kisah yang menyesakkan dada 😂.
Terima kasih 🙏