Bumi dan Bulan bukanlah sebuah nama planet dan satelit dalam tata surya melainkan nama seorang pria dan wanita yang saling membenci tapi dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Perjodohan mereka telah direncanakan sejak mereka kecil oleh kedua orang tua mereka. Bagaimana kisah selanjutnya? Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvani Rosita Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Bumi
"Bumi... kenapa duduk sendirian disitu? Bulan mana?" Ucap mama Rida masuk kedalam rumah yang kebetulan pintunya terbuka lebar. Tasya dan papa Bagas juga ikut masuk bersamaan dengan mamanya.
"Eh, mama dan papa sudah pulang." Bumi berdiri menyalami kedua orang tua Bulan.
"Iya, mana Bulan? Kok dia nggak nemenin kamu? Nggak buatkan kopi juga buat kamu. Bulan masih saja bertindak seenaknya terhadap suaminya. Nanti mama akan marahin dia karena tidak mengurus suaminya dengan baik."
"Jangan ma, Bumi memang lagi ingin sendiri dan tidak ingin minum kopi sekarang."
"Oh ya sudah. Mama dan papa mau masuk kamar dulu."
"Ma, pa, Bumi mau bicara kepada kalian."
"Bicara apa?" Ucap mama Rida dan kemudian mereka duduk di sofa bersama Bumi.
"Tasya juga mau dengar ma." Ucap Tasya juga duduk disamping mamanya.
"Nggak sopan Tasya, sana masuk kedalam kamarmu...!"
"Iya ma." Tasya pergi dengan rasa kecewa.
"Ma, maaf, Bumi mau ajak Bulan pindah kerumah baru Bumi. Bumi bukannya nggak suka tinggal disini tapi Bumi ingin kami lebih mandiri dalam menjalani rumah tangga."
"Papa setuju."
"Mama juga setuju, sudah sepatutnya kalian belajar mandiri dalam menjalankan kehidupan rumah tangga."
"Tapi Bulan belum mau pindah, dia masih ingin tinggal disini." kata Bumi.
"Nanti mama yang akan bicara dengannya, kamu tenang saja. Bulan pasti akan mau ikut bersamamu."
"Oke, terima kasih ma."
"Mama tinggal yah, mama mau kekamar Bulan dulu."
"Iya ma."
Papa Bagas dan Bumi akhirnya duduk bersama dan mengambil papan catur lalu bermain bersama di ruang tamu tersebut.
Tok..tok..tok..terdengar suara ketukan pintu.
"Bulan, mama masuk boleh nak?"
"Masuk aja ma, pintunya nggak dikunci."
"Hai nak, lagi apa? Kelihatannya kamu sedang sibuk."
"Nggak sibuk kok ma, hanya merapikan baju Bulan yang sedikit berantakan."
"Boleh mama bicara dengan kamu?"
"Pasti ma, Bumi sudah memberi tahu kalian kan?"
"Iya nak."
"Bulan nggak mau ikut Bumi ma, Bulan masih ingin tinggal bersama kalian disini. Biarkan saja dia pergi kerumah itu sendiri...!"
"Bulan, dulu mama juga seperti kamu, mama dijodohkan dengan papamu. Tapi mama selalu mengikuti perkataan papa selama itu baik dan tidak pernah membantah perkataan papa. Kamu termasuk perempuan yang beruntung menikahi Bumi. Bumi sudah mapan, punya pekerjaan bagus, bisa mempunyai rumah walaupun usianya masih sangat muda dan dia sangat sopan kepada orang tua. Waktu mama menikah dengan papamu, mama harus memulainya dari nol. Mama dan papa mengontrak rumah kecil dan beberapa kali pindah karena harus diusir pemilik kontrakan karena telat bayar kontrakan. Mama nggak pernah mengeluh apabila papa pulang tidak membawa uang. Mama selalu berdoa dan berusaha bahkan mama membantu papa mencari uang dengan berjualan kue keliling. Bulan.... ini hanya masalah waktu mama yakin Bumilah laki-laki yang terbaik untuk kamu."
Ternyata Bumi sudah mencuci otak orang tuaku dan berpura-pura menjadi suami yang baik didepan kalian. Mama, Bumi bukanlah laki-laki yang baik, jika kalian tahu dia sudah mempuyai pacar apakah kalian masih berpikir dia laki-laki yang baik? Walaupun aku mengatakan jika Bumi itu pria brengsek pasti kalian tidak akan mempercayainya dan akan tetap membelanya.
"Iya ma, aku mau ikut bersama Bumi." Bulan hanya bisa pasrah dan tidak ada cara lain untuk menghindar dari pernikahan yang penuh sandiwara ini.
"Begitu dong, ini baru anak mama." Mamanya memeluk Bulan dengan bahagia.
"Eh mama, maaf sudah mengganggu kalian."
"Ngaak apa-apa Bumi, kebetulan mama juga sudah mau keluar." Mamanya berdiri dan berjalan keluar dari dalam kamar.
"Jangan lupa kunci pintunya, dan buatkan mama cucu yang banyak." Mamanya tertawa kecil dan menutup pintu dengan pelan.
Bulan dan Bumi langsung bertatapan saat mamanya mengatakan ingin dibuatkan cucu. Setelah mamanya pergi bulan langsung melempar Bumi dengan handphonenya.
"Awww sakit Bulan, kamu mau aku mati..?"
"Ia aku ingin kamu mati sekarang, puas kamu telah telah berhasil mengambil hati orang tuaku? Dasar munafik..! Lihat saja aku akan membongkar hubunganmu dengan Sarah!" Bulan terlihat sangat marah dan nada bicaranya terdengar tinggi.
"Bongkar saja sekarang!! Kita berdua bukannya sama munafiknya? Orang tuaku pikir kamu perempuan yang polos tapi ternyata kamu juga sedang berhubungan dengan pria lain, dan pria itu adalah temanku, mama dan papaku juga mengenalnya dengan baik. Atau aku menyuruh orang tuaku untuk menanyakan langsung hubunganmu dengan Reno? Jika kamu setuju, ayo kita saling jujur kepada orang tua kita masing-masing!"
"Kau...!" Bulan menunjuk Bumi dengan wajahnya sedang menahan amarah yang terpendam.
"Kenapa? Tidak berani? Yah sudah, kita jalankan ini semulus mungkin agar orang tua kita tidak mencurigai ini."
Bulan tidak lagi berbicara dan berjalan memungut handphonenya yang terlihat retak pada layarnya.
"Lain kali lempar aku dengan barang lain, kasian kan handphonemu jadi retak seperti itu hehehe." Bumi kembali tertawa dengan penuh kemenangan.
seru kayaknya🥰
asekkk udah berubah judul lagu kita🙆🙆
iya kan thoorrt...