Menikahi Majikan Ibu — Season 2
Genre : Komedi Romantis
Perjalanan rumah tangga Barata Wirayudha, pemilik BW Group yang menikahi putri dari pembantunya sendiri, Bella Cantika.
Perbedaan umur, latar belakang dan karakter membuat rumah tangga keduanya menjadi berwarna.
Bara yang temperamen, arogan dan mudah terpancing emosi, tetapi ia seorang yang penyayang keluarga dan daddy terbaik untuk putra-putrinya.
Bella yang lemah lembut dan dewasa, terkadang suka ketus pada suaminya berusaha menjadi ibu terbaik untuk anak-anaknya di usia yang masih muda.
Keduanya tidak romantis tetapi bercita -cita memiliki kehidupan rumah tangga yang romantis. Apakah rumah tangga mereka tetap berjalan mulus di tengah perbedaan?
Ikuti kisah rumah tangga Bara dan Bella bersama putra putrinya, Rania Wirayudha, Issabell Wirayudha dan The Real Wirayudha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Kumpulan Sampah
Tamu tidak diundang itu masih betah duduk di sofa ruang tamu. Memandang secangkir teh yang sudah kosong sejak satu jam lalu. Seperti orang kebingungan, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Memaksa datang ke Jakarta dengan harapan bisa bertemu dengan tante dan kakaknya, namun harapan itu tinggal harapan. Berujung sia-sia, bahkan ia harus pulang dengan tangan kosong .
Bella yang sudah mulai bosan terlihat tidak sabar. Berulang kali melirik ke arah dalam rumah. Ia memikirkan ketiga anaknya yang diminta menunggu di kamar. Hari sudah di penghujung petang, putra-putrinya entah sudah mandi atau belum. Sebentar lagi, Bara juga akan menyusul pulang ke rumah.
“Mbak, kalau sudah tidak ada urusan ... apa boleh aku tinggal?” tanya Bella. Akhirnya ia membuka suara. Terserah mau dicap tidak sopan, dilabel tidak ramah. Toh, ia juga tidak terlalu mengenal siapa Rikka. Yang terpenting saat ini, ia harus menemui Rania, Issabell dan Real. Ketiganya pasti membutuhkannya.
Memilih untuk pamit ke dalam rumah jauh lebih baik dibanding harus mengusir secara terang-terangan. Bukankah ini juga termasuk mengusir dengan cara terselubung dan halus. Harusnya Rikka cukup tahu diri dan paham akan kode yang disampaikannya.
Rikka bergeming, mengangkat pandangannya sekilas. Sorot mata itu tampak sedih dan terluka. “Maaf, apa aku bisa menumpang duduk sebentar di sini? Sambil berpikir bagaimana aku melewatkan malam ini.” Rikka bicara dengan ragu, menatap Bella seakan memohon belas kasihan.
Deg—
Ada iba yang menyusup di relung hati saat mendengar kata-kata Rikka. Bella jadi tidak tega sendiri. Membayangkan dirinya dulu juga seperti ini saat menemui Rissa di Jakarta. Sama seperti Rikka, ia juga diterima di ruang tamu ini. Hanya saja ia jauh lebih beruntung dibanding Rikka saat ini.
"Ya, Mbak. Silakan. Aku harus ke dalam untuk mengurus putra-putriku dulu." Bella akhirnya menjawab.
"Nanti aku akan membahasnya dengan suamiku,” lanjut Bella tersenyum. Beranjak pergi meninggalkan Rikka sendirian. Sebelumnya, Bella masih sempat berpesan pada asisten rumah untuk mengawasi tamu mereka. Meskipun Rikka mengaku kenal dengan Rissa dan ibunya, tetap saja ia tidak bisa percaya begitu saja.
Ditinggalkan begitu saja, tentu saja membuat Rikka canggung. Duduk dengan kedua tangan meremas di atas pangkuan, ia hanya bisa menahan malu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, selain mengharapkan belas kasihan si pemilik rumah.
Menguatkan tekad, ia memutuskan ke Jakarta untuk menemui Rissa dan tante Rosma-nya. Bahkan ia harus meminta izin dari pekerjaannya untuk bisa sampai ke Jakarta demi sang mama yang sakit dan merindukan Rissa, kakaknya.
Sekian lama mencari di tengah keadaan ekonomi mereka yang pas-pasan. Setelah hampir 13 tahun kehilangan jejak, baru sebulan belakangan Rikka berhasil mendapatkan informasi tentang kakaknya.
Ketika almarhum papanya masih ada, kehidupan mereka tidak semengenaskan sekarang. Meskipun sudah bercerai, papanya yang termasuk orang berada masih membiayai kehidupan mereka. Namun semua berubah dalam hitungan detik.
Semenjak papa meninggal dunia, kehidupan mulai carut-marut. Rissa pun ikut menghilang. Rumah mewah yang tadinya ditempati papa, Rissa dan keluarga barunya disita pihak bank karena hutang perusahaan. Kabarnya aset yang lain pun tidak bersisa.
Deru mobil di halaman mengalihkan perhatian Rikka, membuatnya tersadar dari lamunan. Tak lama setelah itu, ia bisa mendengar derap langkah kaki memasuki rumah. Sesosok pria tampan dengan setelan rapi, membuatnya terkejut sekaligus terpana dalam waktu bersamaan.
"Kamu siapa? Ada keperluan apa?" Pria yang tak lain adalah Bara, si tuan rumah itu menyapa. Masih menenteng jas berdiri di ambang pintu, ia keheranan melihat tamu asing yang mengisi kekosongan ruang tamu rumahnya.
"Maaf Pak. Perkenalkan namaku Rikka," ucap Rikka, buru-buru berdiri dan mengenalkan diri. Menjaga sopannya, meski ia tidak tahu jelas siapa pria rupawan yang berdiri gagah di hadapannya
"Ada keperluan apa?" tanya Bara ketus. Meneliti perempuan asing di hadapannya. Mengabaikan sodoran tangan Rikka yang masih menggantung di udara.
"Aku mencari Kak Rissa." Rikka menggenggam kembali tangannya. Terselip kecewa saat perkenalannya pun tidak dianggap sama sekali.
"Rissa lagi. Setiap yang berhubungan dengan Rissa tidak pernah ada faedahnya. Kecuali Bella dan Ibu Rosma. Selebihnya hanya kumpulan sampah pengganggu!" Bara berbicara dalam hati.
Membiarkan Rikka yang berdiri mematung, Bara mengabaikan perempuan asing itu tanpa bicara lagi.
"Bell, kamu di mana, Sayang." Bara berteriak, memanggil ke arah dalam rumah. Bisa-bisanya sang istri meninggalkan tamu sendirian. Andai perempuan ini berniat jahat, habislah keluarganya.
"Bell!" Bara kembali berteriak. Kali ini sedikit lebih kencang.
Tak lama, Bella datang masih dengan rambut basah. Ia baru saja selesai mandi sore, tiba-tiba asisten rumah memanggilnya untuk turun dan menemui Bara yang tampak marah-marah. Bahkan belum sempat mengeringkan rambutnya sama sekali.
"Ya, Mas. Sudah pulang?" Bella segera mengambil alih jas kerja suaminya.
"Ini siapamu, Bell?" tanya Bara, menunjuk ke arah Rikka.
"Aku tidak mengenalnya Mas. Ini baru pertama kali melihatnya. Dia mengaku kalau adiknya Kak Rissa dan mengenal ibu juga." Bella menjawab.
"Lalu apa tujuannya ke sini?" tanya Bara lagi.
"Maaf Pak, aku ke sini un ...." Rikka tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, Bara sudah mengangkat tangan dan memintanya berhenti bicara.
"Rikka ingin bertemu dengan Kak Rissa, Mas. Mamanya sakit." Bella memilih menjawab setelah melihat wajah tak bersahabat suaminya.
"Lalu kenapa masih menunggu di sini? Tidakkah kamu memberitahunya di mana Rissa tinggal sekarang?" cerocos Bara, bahkan tidak mau menatap tamu istrinya itu.
"Aku belum memberitahunya, Mas." Bella meraih tangan Bara, berusaha melunakan suami yang terlihat kesal dan tidak suka.
"Silakan duduk! Aku akan menjelaskan di mana Rissa tinggal." Bara berusaha tenang, setelah menatap wajah memelas istrinya.
"Ambilkan aku kertas kosong, Sayang." Bara memandang Bella yang berdiri kaku di sebelahnya. Tersenyum sambil mengeluarkan pena hitam yang menyelip di saku kemeja putihnya.
Begitu Bella menyodorkannya selembar kertas A4, Bara menuliskan alamat rumah tahanan tempat Rissa tinggal selama 3 tahun terakhir.
"Ini! Kamu bisa mengunjunginya nanti. Tapi kamu tidak bisa setiap saat mengunjunginya seperti berkunjung ke kediamanku." Bara menyodorkan kertas berisi alamat yang baru saja digoreskan dengan tinta hitam. Ada nada menyindir terselip di kalimat Bara.
"Mas, jangan seperti ini. Kasihan. Sepertinya dia juga kebingungan." Bella berkata lirih.
"Aku tanya padamu sekarang ... apa kamu mengenalnya?" tanya Bara berbisik pelan di telinga Bella. Tidak mau suaranya terdengar.
Bella menggeleng.
"Kalau dia penipu atau ternyata komplotan penjahat. Apa kamu tidak berpikir sejauh itu, Bell?" Bara kembali berbisik.
Deg--
"Mas, aku pikir ...."
"Ssttt! Biarkan aku yang menanganinya. Masuk ke dalam. Awasi anak-anak." Bara mengusir istrinya.
"Mas, aku tetap di sini." Bella menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Duduk tepat di samping Bara. Ia tidak mungkin membiarkan suaminya berduaan dengan perempuan asing. Bisa saja Rikka juga salah satu perempuan penggoda.
"Maksudnya ini apa, ya?" tanya Rikka melihat alamat rumah tahanan yang ditulis di kertas putih dan disodorkan padanya.
"Ya, Rissa menetap di sana. Sudah tiga tahun lebih. Aku sarankan padamu, kalau tujuanmu untuk membawa Rissa pulang menemui mamamu, sebaiknya urungkan saja niat baikmu itu. Rissa masih lama tinggal di sana."
"Hah! Bagaimana bisa Kak Rissa dipenjara?" tanya Rikka. Wajahnya meredup, sedih menyerangnya. Ia memikirkan nasib mamanya yang sangat berharap sekali bisa bertemu Rissa.
***
TBC
bacaan ringan disaat wsktu luang
hiburan bukan bacaan spiritual 🙏🙏🤭
pemahaman rumahtangga bara pasca penghianatan brenda sang mantan istri membuat ruang bella terbatas. kalau bara suamiku sudah ku tukar tambah
bara masih agak jauh dari perfeksionis seorang pimpinan dan kepala keluarga.