Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.
Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.
Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.
Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU ATAP SERIBU DUSTA
Bau lembap dan aroma disinfektan murahan menyambut indra penciuman Dika begitu pintu sel tahanan sementara di Mapolres Metro Jakarta Selatan ditutup rapat dengan dentuman besi yang memekakkan telinga. Lampu neon di langit-langit koridor berkedip lemah, memantulkan bayangan suram di atas dinding semen yang kusam.
Dika berdiri mematung di balik teralis besi dingin. Setelan jas formal berwarna navy yang dua jam lalu melekat sangat rapi di tubuhnya kini tampak kusut dan berantakan. Dasi mahalnya sudah dilepas paksa, kancing kerahnya terbuka lebar, dan rambut klimisnya berantakan tak beraturan. Pria yang dulunya berdiri dengan penuh arogansi di atas panggung megah Grand Ballroom itu kini menjelma menjadi sosok pesakitan yang kehilangan seluruh wibawanya dalam hitungan detik.
Di sel sebelah, hanya terhalang dinding partisi semen tipis, terdengar suara isak tangis tertahan yang disusul oleh hantaman keras pada teralis besi.
"Lepaskan saya! Kalian tidak tahu siapa saya! Suami saya adalah...!" suara Sasya menjerit histeris dari dalam sel tahanan wanita, sebelum akhirnya suaranya tercekat digantikan batuk sesak akibat emosi yang meluap-luap.
Dika menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang gemetar hebat. Otaknya berputar keras, mencerna kembali kejatuhan total yang menghantam hidupnya secepat kilat. Seluruh dokumen pengalihan saham, rekening penampung rahasia, hingga rekaman audio percakapan privat mereka yang diputar di hadapan ratusan jurnalis dan dewan komisaris malam ini benar-benar tidak menyisakan celah hukum sedikit pun untuk berkelit.
Nesa telah menyiapkan jebakan maut itu dengan sangat sempurna. Istri yang selama ini ia anggap naif, lemah, dan mudah dimanipulasi, ternyata telah menombak jantung kekaisaran mereka tanpa ampun.
"Sial... Sialan!" geram Dika tertahan, meninju dinding semen selnya dengan sebelah tangan hingga buku-buku jarinya memerah dan terasa perih.
Langkah kaki tegap suara sepatu pantofel menggema di sepanjang koridor sel tahanan. Seorang petugas kepolisian paruh baya berhenti tepat di depan sel Dika, membawa sebuah map plastik transparan berisi barang-barang sitaan milik sang tahanan dompet, jam tangan mewah, dan ponsel pintar yang layarnya kini sudah mati total.
"Tahanan nomor empat puluh dua, jam kunjungan investigasi awal sudah selesai. Besok pagi pengacara yang Anda tunjuk dari firma hukum luar akan datang mendampingi proses BAP lanjutan," ucap petugas itu datar tanpa ekspresi, lalu berlalu meninggalkan area sel.
Ponsel dan dompet itu disita. Di dunia luar sana, rekening bank pribadi Dika atas nama perusahaan cangkang telah resmi dibekukan atas perintah pengadilan korporat. Semua aset yang ia kumpulkan dari hasil pengkhianatan terhadap NesAura mendadak menguap, berubah menjadi barang bukti kejahatan.
Tidak lama kemudian, suara langkah kaki kembali terdengar mendekat. Kali ini, seorang wanita dengan balutan mantel krem dan kacamata hitam besar berjalan dipandu oleh petugas menuju sekat kaca ruang kunjungan khusus tahanan.
Itu adalah pengacara senior yang disewa oleh keluarga besar merekamatau lebih tepatnya, pengacara bayaran yang diandalkan Dika untuk menyelamatkan sisa-sisa harga diri mereka.
Dika bergegas mendekati sekat kaca, menyambar gagang telepon interkom dengan tangan gemetar, sementara di sisi seberang kaca, pengacara paruh baya berwajah kaku itu mengangkat gagang interkom dengan ekspresi prihatin campur tegang.
"Pak Dika, saya pengacara yang ditunjuk untuk menangani kasus hukum Anda dan Ibu Sasya," ucap sang pengacara langsung membuka pembicaraan tanpa basa-basi begitu sambungan interkom terbuka. "Saya sudah membaca salinan berkas tuntutan dari pihak NesAura Skincare yang diwakili oleh firma hukum Miya & Associates. Dan... saya harus berkata jujur pada Anda, situasinya sangat buruk."
Dika mengepalkan tangannya di balik kaca, rahangnya mengeras. "Buruk bagaimana maksud Anda? Bukankah kita masih bisa mengajukan banding atau memutarbalikkan narasi bahwa ini adalah perselisihan internal keluarga?."
Sang pengacara menghela napas panjang, menggelengkan kepalanya pelan. "Pak Dika, Anda tidak mengerti. Bukti digital yang dikantongi pihak Nesa Mahardika bukan sekadar bukti administratif biasa. Rekaman transaksi, otorisasi tanda tangan digital, hingga rekaman audio-visual percakapan Anda dengan Ibu Sasya di restoran beberapa minggu lalu memiliki keabsahan hukum yang sangat kuat di bawah Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Hakim di pengadilan korporat tidak akan melihat ini sebagai perselisihan keluarga, melainkan sebagai white collar crime tindak pidana pencucian uang dan penggelapan aset berencana."
Deg!
Jantung Dika serasa berhenti berdetak. "Lalu... apa jalan keluar kita? Berapa pun biaya yang Anda minta untuk menyuap penyidik atau meringankan tuntutan, akan saya bayar."
"Bayar dengan apa, Pak Dika?" potong sang pengacara tajam, mematahkan sisa-sisa halusinasi Dika. "Seluruh rekening pribadi dan perusahaan cangkang Anda sudah dibekukan oleh pengadilan atas permintaan dewan komisaris NesAura. Anda saat ini berada dalam posisi pailit total secara finansial. Tanpa dana likuid, tidak ada pengacara di kota ini yang bisa membalikkan fakta hukum sekuat itu."
Gagang interkom di tangan Dika nyaris terlepas. Pria itu merosot pelan, bersandar pada dinding kaca ruang kunjungan dengan tatapan kosong nan nanar. Kebanggaan, jabatan mentereng sebagai Direktur Operasional, dan impian hidup bergelimang harta bersama Sasya musnah dalam waktu semalam.
Sementara itu, di sel tahanan wanita di ujung lorong yang berbeda, situasi tidak kalah panas dan penuh dengan ledakan emosi.
Sasya mondar-mandir di dalam ruang selnya yang berukuran sempit seperti singa yang terjebak di dalam sangkar. Rambut panjangnya yang semula tersanggul rapi kini terurai kusut, menutupi sebagian wajahnya yang sembab akibat menangis semalaman tanpa henti.
Pintu selnya berderit terbuka, bukan untuk dipindahkan, melainkan karena seorang petugas wanita mengizinkan seorang tamu khusus masuk ke dalam ruang konseling tahanan pintu penghubung tempat Sasya bisa berbicara dengan Dika melalui sekat kaca pembatas.
Begitu melihat sosok Dika berjalan lunglai dari ujung lorong dan duduk di seberang kaca, amarah yang sejak semalam ia pendam akhirnya meledak begitu saja.
Sasya menyambar gagang interkom dengan kasar, matanya melotot tajam penuh kebencian. "Dika! Kamu ke mana saja dari tadi?! Kenapa pengacara bayaran itu bilang posisi kita sudah hancur lebur?." teriak Sasya melalui interkom, suaranya melengking tinggi penuh histeris.
Dika, yang baru saja duduk dengan kepala pusing, menempelkan gagang interkom ke telinganya dengan gerakan lambat. Ia menatap Sasya di seberang kaca dengan sorot mata yang tak kalah tajam dan penuh tuduhan.
"Berhenti berteriak, Sasya!" bentak Dika balik melalui interkom, suaranya parau penuh frustrasi. "Kamu pikir aku tidak stres? Kamu pikir semua kekacauan ini bukan karena kecerobohanmu sendiri?."
"Kecerobohanku?!" Sasya mendelik tak percaya, dadanya naik-turun menahan amarah yang membakar ubun-ubun. "Jangan coba-coba membalikkan fakta, Dika! Kamu yang meyakinkanku bahwa sistem keamanan server NesAura sudah kita retas habis dan Nesa tidak akan pernah bisa melacak aliran dana itu! Kamu yang berjanji kalau kita akan aman-aman saja di malam peluncuran."
"Aku merencanakan semuanya dengan rapi!" balas Dika dengan gigi kertak. "Tapi kita berdua meremehkan Nesa! Perempuan itu sengaja memasang perangkap, membiarkan kita merasa menang, lalu menghantam kita di panggung utama di hadapan ratusan media! Dan sekarang, kamu malah menyalahkanku?."
"Iya! Ini semua memang salahmu!" Sasya menangis histeris, air matanya tumpah membasahi pipinya yang dipenuhi sisa riasan luntur. "Kalau bukan karena ambisimu untuk merebut kursi CEO itu, aku tidak akan ikut terseret dalam kejahatan ini! Kamu pria pengecut, Dika! Kamu memanfaatkan aku, memanipulasi perasaanku, dan sekarang setelah kita jatuh miskin dan mendekam di penjara, kamu mau cuci tangan?."
Mendengar tuduhan keji dari wanita yang selama ini ia jadikan sekutu sekaligus kekasih gelapnya, tawa sinis mendadak meluncur dari bibir Dika. Pria itu menggelengkan kepalanya pelan, menatap Sasya dengan pandangan penuh jijik.
"Memanfaatkanmu? Jangan sok suci, Sasya!" cibir Dika dingin. "Dari awal kita berhubungan, kamu sendiri yang paling bersemangat menghasutku untuk menyingkirkan adik kandungmu sendiri! Kamu benci karena Nesa lebih sukses darimu, kamu iri pada posisi CEO-nya, dan kamu sendiri yang menawarkan diri untuk menjadi mata-mata di divisi humas! Jangan coba-coba mencuci tangan di atasku."
Saling lempar kesalahan, hujatan, dan caci maki terus memecah keheningan di antara sekat kaca ruang tahanan tersebut. Ikatan cinta palsu, persekongkolan busuk, dan janji-janji manis yang dulu mereka bangun di atas penderitaan Nesa kini hancur berkeping-keping menjadi permusuhan yang paling mematikan. Mereka tidak lagi saling melindungi, melainkan saling mencakar demi menyelamatkan leher masing-masing dari ancaman hukuman penjara bertahun-tahun lamanya.
Di tempat terpisah, jauh dari bau busuk dan lembapnya sel tahanan kepolisian, Nesa duduk dengan tenang di ruang kerja pribadinya di rumah mewah.
Malam semakin larut, namun lampu meja kerja Nesa masih menyala terang. Di hadapannya, secangkir teh chamomile hangat mengepulkan uap tipis. Ia menatap layar laptop yang menampilkan laporan pemantauan internal perusahaan. NesAura Skincare kini kembali berada di bawah kendali penuhnya, bersih dari segala duri dalam daging yang selama ini menghambat pertumbuhannya.
Miya dan Kara duduk di sofa seberang, baru saja melaporkan situasi terkini dari tahanan tempat Dika dan Sasya mendekam.
"Laporan dari sumber di kepolisian sudah masuk, Nes," ucap Miya sambil merapikan dokumen di atas meja. "Dika dan Sasya saat ini sedang saling menyalahkan di ruang tahanan. Pengacara mereka bahkan mengundurkan diri karena tidak sanggup membela kasus yang buktinya sudah telak."
Kara menyesap air mineralnya, lalu menatap Nesa dengan pandangan penuh kekaguman. "Kamu benar-benar membuat strategi catur yang luar biasa, Nes. Tanpa perlu mengotori tanganmu sendiri secara fisik, mereka menghancurkan satu sama lain dari dalam."
Nesa tidak langsung menjawab. Ia mengangkat cangkir tehnya perlahan, meniup permukaannya yang hangat, lalu menatap bayangan dirinya sendiri pada pantulan cairan bening di dalam cangkir tersebut.
Kehilangan bayinya dua minggu lalu adalah luka abadi yang tidak akan pernah bisa disembuhkan oleh waktu atau kemenangan apa pun. Setiap kali ia menutup matanya, rasa sakit itu masih ada di sana, menghujam ulu hatinya tanpa ampun. Namun, melihat dua orang pengkhianat itu mendekam di dalam sel kehinaan dan saling mencakar satu sama lain adalah langkah awal yang adil untuk memulai proses penyembuhan jiwanya.
"Ini baru permulaan, Miya... Kara," bisik Nesa pelan, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan ketegasan yang mutlak. "Mereka merenggut hal paling berharga dalam hidupku. Dan aku akan memastikan mereka membayar setiap tetes air mata itu hingga tuntas."
Di luar jendela, angin malam berhembus tenang membawa sisa-sisa badai yang telah berlalu. Nesa menarik napas dalam-dalam, siap menyongsong babak baru kehidupannya dengan kepala tegak sebagai perempuan yang tak lagi bisa dihancurkan oleh siapa pun.