DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Sifat Asli Caren Terbongkar
Kabar tentang Vino yang mengamuk dan memutus hubungan dengan Caren di dalam kelas pagi tadi langsung menyebar cepat ke seluruh penjuru SMA Nusa Bangsa. Di kantin belakang yang sepi, Caren duduk bersama dua kawan terdekatnya, memoles ulang riasan wajahnya yang sempat luntur karena menangis.
Caren menatap cermin lipatnya dengan kekesalan yang masih membara di dada.
"Vino beneran udah gila ya!" sungut Caren seraya menghempaskan cerminnya ke meja. "Cuma gara-gara cewek babu itu, dia berani bentak dan permaluin aku di depan umum?!"
Salah satu temannya menyahut pelan. "Tapi Ren... kamu tadi emang agak berlebihan sih, pake meludahi barang orang segala. Lagian, bukannya Vino dari dulu emang ketat banget kalau soal barang peninggalan atau pemberian keluarga?"
"Buset dah, kamu malah ngebela dia?!" potong Caren dengan nada melengking. Ia menyenderkan punggungnya ke kursi dengan wajah sinis. "Lagian aku juga udah muak berpura-pura baik sama Vino! Kalau bukan karena kartu kredit papanya yang gak ada limitnya sama koneksi bisnis keluarganya di Pradipta Group, aku juga gak bakal sudi tahan-tahan sama cowok pemarah kayak dia!"
Temannya yang satu lagi membelalak. "Jadi kamu... gak beneran suka sama Vino?"
Caren tertawa meremehkan. "Suka? Please deh. Di mata aku, Vino itu cuma ATM berjalan yang gampang dimanipulasi pakai kepura-puraan aku. Papaku aja bilang, selama aku bisa pegang Vino, proyek keluarga kita aman. Kalau bukan karena duit dan status Pradipta, ogah banget aku pacaran sama cowok gengsian kayak gitu."
Tanpa Caren sadari, di balik dinding pembatas kantin belakang yang tertutup rindang pohon beringin, seseorang berdiri mematung.
Vino.
Vino sebenarnya berniat menemui Caren di area kantin belakang untuk menyelesaikan pembicaraan mereka secara dingin dan dewasa—untuk memastikan Caren tidak mengganggu Aira lagi. Namun, setiap kata yang keluar dari bibir Caren barusan menghantam telinganya dengan sangat jelas.
Wajah Vino mengeras. Kepalan tangannya di dalam saku jaket makin mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.
Bukan rasa sakit hati akibat patah cinta yang dirasakan Vino, melainkan rasa muak yang mendalam pada dirinya sendiri. Selama ini, ia dibutakan oleh gengsi dan anggapan bahwa Caren adalah sosok cewek sederajat yang pantas mendampinginya, sampai-sampai ia sering kali mengorbankan dan menindas Aira demi menjaga perasaan cewek licik itu.
Vino melangkah keluar dari balik dinding pembatas. Langkah kakinya yang berat seketika membuat obrolan di meja Caren terhenti.
Caren tersentak kaget, wajahnya seketika pucat pasi saat melihat Vino berdiri hanya beberapa langkah di hadapannya dengan tatapan mata yang dingin membeku.
"Vi—Vino?" suara Caren mendadak bergetar hebat. "Kamu... kamu sejak kapan di situ?"
Vino menyunggingkan senyum sinis—sebuah senyuman penuh penghinaan yang belum pernah ia tunjukkan pada Caren.
"Cukup lama buat dengar kalau gue ini cuma ATM berjalan buat lu dan bokap lu," kata Vino dengan suara rendah namun sangat menekan.
"Vin, enggak! Kamu salah paham! Itu... aku cuma emosi tadi, aku enggak maksud—" Caren panik, berdiri dan hendak memegang lengan Vino.
"Jangan sentuh gue," potong Vino tajam, menepis tangan Caren sebelum sempat hinggap di bajunya.
Vino menatap Caren dari atas ke bawah dengan pandangan jijik. "Ternyata lu jauh lebih murah dibanding apa yang gue bayangkan, Ren. Lu cuma memanfaatkan kekayaan keluarga gue demi gengsi dan bisnis bokap lu yang gak seberapa itu."
"Vino, tolong... maafin aku..." Caren mulai menangis ketakutan, menyadari kekuasaan dan akses kemewahan yang selama ini ia nikmati terancam lenyap dalam sekejap.
"Hubungan kita benar-benar selesai," ucap Vino mutlak, tidak memberi celah sedikit pun untuk negosiasi. "Dan ingat satu hal: kalau sampai gue lihat lu sentuh, bentak, atau ganggu Aira lagi seujung kuku pun... gue bakal pastikan proyek bokap lu di Pradipta Group diputus hari ini juga."
Vino memutar badannya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Caren yang histeris dan tertunduk malu di hadapan kawan-kawannya.
Sore harinya di lorong rumah Pradipta, Vino berjalan pelan menuju kamarnya di lantai dua. Pikirannya terasa melayang. Pengkhianatan Caren membuatnya makin tersadar betapa tulus dan polosnya Aira—cewek yang selama ini ia tindas, namun tetap diam dan menerima perlakuan kasarnya tanpa pernah memanfaatkan status atau kekayaan keluarganya.
Saat melewati lorong belakang menuju dapur, Vino melihat Aira sedang duduk di meja makan kecil, merapikan kotak kayu pemberian ibunya yang sudah dilem rapi.
Vino menghentikan langkahnya. Di bawah remang lampu dapur, Aira tampak begitu rapuh namun tenang.
Vino mengepalkan tangannya, membuang sisa-sisa gengsi yang selama ini membelenggunya. Ia berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan membiarkan siapa pun melukai Aira lagi—termasuk Darel, yang kini ia curigai memiliki niat yang jauh lebih berbahaya dibanding Caren.