Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 : Pertemuan di Batas Rimba
Prasetio masi tenggelam dalam lamunannya. Di balik meja, seorang ibu paruh baya pemilik warung kopi tua beratap seng itu menatap Prasetio dan Pak Burhan dengan pandangan sarat empati. Dia memandangi dari tadi. ada rasa kagum dalam hatinya, melihat keuletan Prasetio melayani ayahnya.
Dengan gerakan yang amat lembut, wanita itu menyapu permukaan meja menggunakan kain lap basah, lalu tersenyum teduh. Ibu itu mendekat.
"Maaf ya, Nak... Kalau Ibu boleh tahu, hendak ke mana tujuan Nak bersama Bapak ini?" tanya ibu pemilik warung itu dengan nada suara yang amat santun, halus, dan menentramkan jiwa. "Ibu perhatikan dari tadi, Nak tampak bingung memegang kening sambil membopong Bapak yang sedang lelah..."
Prasetio memandang raut wajah lembut yang ada di depannya, wajah yang sangat keibuan. Kehalusan tutur kata wanita paruh baya itu sejenak mengikis rasa sesak yang ada dalam dadanya. Ia tersenyum tipis.
"Saya sebenarnya mau ke daerah Sungai Gelam, Bu. Ingin mencari sahabat masa kecil saya yang bernama Pandi," tutur Prasetio lembut, bahasanya santun dan amat merendah. "Hanya saja, saya tidak tahu medan sama sekali dan buta arah di tanah Jambi ini..."
Wanita pemilik warung itu menghentikan usapan kain lapnya. Matanya yang bening menatap Prasetio lekat-lekat, menyiratkan rasa prihatin yang amat dalam.
"Ya Allah... Sungai Gelam ya, Nak?" sahut ibu itu dengan bisikan lembut, sarat kehati-hatian agar tak mengecilkan hati anak muda di hadapannya. "Bukannya Ibu hendak menakut-nakuti, Nak... Tapi kalau jam segini mau ke Sungai Gelam, rasanya tidak ada lagi ojek atau angkutan yang bersedia mengantar. Daerah itu jauh sekali masuk ke pedalaman, melintasi jalur perkebunan dan batas rimba. Kasihan Bapak kalau harus terombang-ambing di atas motor..."
Prasetio menelan ludah yang terasa pahit, namun matanya tetap memancarkan kesetiaan seorang anak. "Jadi... apakah benar-benar tidak ada angkutan umum yang bisa kami tumpangi ke arah sana, Bu?"
Ibu warung itu terdiam sejenak, memikirkan jalan keluar. Lalu, ia mengarahkan pandangannya ke sudut lorong pangkalan pasar.
"Kalau angkutan umum resmi memang sudah tidak ada, Nak," ujar ibu itu memberi saran dengan sangat menenangkan. "Tapi... Nak lihat truk engkel hijau yang sedang parkir di seberang sana? Itu truk langganan yang biasa membawa hasil hutan dari Sungai Gelam—seperti madu rimba, jernang, dan damar—untuk dijual ke pangkalan kota. Sopirnya orang baik dan sering singgah minum di sini. Coba Nak tanyakan baik-baik pada beliau, siapa tahu beliau berkenan memberi tumpangan di bangku depan untuk Nak dan Bapak."
Mendengar petunjuk yang begitu berharga, Prasetio mengangguk penuh rasa hormat. Ia segera membayar teh manis dan menyelipkan uang lelah untuk ibu pemilik warung yang berhati mulia tersebut.
Dari sisa uang tunai tiga puluh juta rupiah hasil penjualan kalung emas di Pekanbaru—yang telah berkurang untuk ongkos travel dan perbekalan—Prasetio merapikan kembali gulungan uang tersebut di saku dalam bajunya. Sisa simpanan bersih yang ia pegang rapat-rapat kini genap berjumlah dua puluh sembilan juta seratus enam puluh ribu rupiah.
Prasetio melangkah perlahan menghampiri truk engkel hijau yang bak belakangnya tercium aroma manis madu hutan dan getah kayu. Seorang pria bertubuh kekar dengan kaos kusam dan wajah berdebu jalanan tampak sedang memeriksa tekanan ban depan.
"Permisi, Bang..." tegur Prasetio sangat santun, merendahkan badannya. "Maaf mengganggu waktunya..."
Pria itu menyapu keringat di dahi dengan punggung tangan, lalu menoleh. Pandangannya yang keras perlahan melunak saat mendapati Prasetio berdiri dengan raut wajah penuh letih, membopong seorang pria tua lumpuh terbungkus sarung katun di punggungnya.
"Iya, Mas. Ada yang bisa dibantu?" sahut pria itu dengan nada suara hangat, tanpa guratan keangkuhan.
"Saya dan Ayah mau ke arah Sungai Gelam, Bang... Kata Ibu warung kopi di seberang, Abang mau jalan kembali ke sana. Kalau boleh... bolehkah kami menumpang di bangku depan? Saya ada sedikit uang untuk pengganti minyak, Bang..." Prasetio menyampaikan tujuannya apa adanya, tanpa rasa gengsi.
Sopir itu menatap Pak Burhan sejenak, lalu beralih menatap Prasetio. Ia menghela napas panjang dan tersenyum tulus.
"Aduh, Mas... Tak usah bicara soal uang minyak dulu. Masuklah, kasihan Bapak itu kelamaan berdiri di luar, angin sore sudah mulai dingin. Ayo, saya bantu angkat Bapak," jawab sopir itu spontan.
Dengan cekatan dan penuh kehati-hatian, sang sopir membantu Prasetio menaikkan Pak Burhan ke bangku kabin depan. Prasetio menyelipkan uang seratus ribu rupiah ke atas dasbor sebagai bentuk rasa tahu diri, walau sopir itu sempat menolak.
Truk engkel hijau itu pun perlahan bergerak meninggalkan hiruk-pikuk pangkalan Kota Jambi, merayap membelah jalanan aspal yang makin lama makin menyempit, berganti menjadi jalur tanah merah bergelombang.
Deru mesin truk yang berat mengisi rongga kabin. Di bangku tengah, Pak Burhan menyandar pasrah. Saban kali roda truk menerjang lubang perkebunan dan mengocok badan mobil, tidak ada sedikit pun keluhan keluar dari bibirnya. Wajah pria tua itu tenang.
Di dalam jiwanya, Pak Burhan telah benar-benar berdamai dengan rasa sakit. Kelumpuhan dan perjalanan merayap di atas tanah ini diterimanya sebagai bagian dari penebusan dosa atas pengkhianatan besarnya di masa lalu terhadap almarhum Pak Hendra dan Ibu Pratiwi—sahabat-sahabat terbaik yang dulu pernah ia khianati demi harta.
Sang sopir merengkuh kemudi dengan tenang sembari sesekali melirik Prasetio yang menatap kosong ke luar jendela.
"Mau mencari keluarga di Sungai Gelam, Mas?" tanya sopir itu membuka percakapan, mengalir begitu alami.
"Bukan keluarga, Bang..." jawab Prasetio lirih, suaranya sarat akan beban jiwa yang dalam. "Saya mau mencari sahabat masa kecil saya. Kami akrab sekali waktu kecil dulu, tapi begitu beranjak remaja dia pergi merantau. Setahun lalu dia sempat menghubungi saya, bilang kalau dia tinggal di Sungai Gelam dan punya usaha kecil-kecilan di sana..."
Prasetio menarik napas panjang, tatapannya menyapu hamparan pohon sawit yang remang.
"Tapi belakangan nomor teleponnya sudah tidak aktif lagi pas saya coba hubungi... Saya cuma modal nekat ke sini membawa Ayah, Bang. Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi, dan cuma sahabat saya itu harapan saya..."
Sopir itu mengangguk-angguk pelan, rokok kretek di selipan jarinya menghembuskan asap tipis. "Maklum, Mas... Di pedalaman sini sinyal susah, nomor HP sering hangus atau ganti kalau HP hilang. Ditambah usia seumuran kita kan sudah kepala tiga, sudah belasan tahun berpisah dari zaman remaja tentu tidak gampang mencarinya. Tampang dan perawakan sudah banyak berubah. Kadang kalau bertemu di jalan pun belum tentu saling kenal... tapi semoga cepat bertemu ya, Mas."
"Iya, Bang... Benar sekali," gumam Prasetio mengiyakan.
Sopir itu menghela napas panjang. "Dari kota ya, Mas? Kehidupan di kota pasti sangat menyenangkan ya, Mas... meski sering kudengar keras dan kejam?"
Prasetio tersenyum getir. "Bukan kotanya yang keras, Bang, tapi orang-orangnya yang kadang banyak salah jalan, termasuk saya yang dulu salah melangkah. Saya membutakan mata demi wanita dan harta yang salah, sampai saya kehilangan segalanya. Rumah, usaha, bahkan anak-anak saya... Sekarang saya cuma mau merayap dari bawah. Saya mau belajar jadi manusia yang jujur."
Mendengar ucapan Prasetio yang begitu jujur dan tanpa kepalsuan, sopir truk itu terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke jalanan tanah merah yang diapit benteng rimba dan kebun sawit.
"Kejujuran itu mahal di zaman sekarang, Mas," tutur sopir itu tenang, suaranya dalam dan teduh. "Dulu saya juga pernah mengejar rupiah sampai lupa napas. Tapi di sini, di pedalaman ini, saya belajar dari warga Suku Anak Dalam. Mereka tidak punya harta melimpah, tapi mereka tidak pernah bohong. Kalau bilang satu, ya satu. Tidak kurang, tidak lebih. Makanya saya betah bawa madu dan jernang mereka ke kota. Saya jaga timbangan mereka, mereka jaga kepercayaan saya."
Prasetio menoleh, mengamati profil wajah sang sopir dari samping. Wajah kekar berkulit gelap dihantam panas dan debu, dengan kumis tipis dan garis pipi yang tegas.
Malam semakin larut, Jalur tanah berubah makin pekat tanpa ada cahaya lampu jalan sedikit pun. Di kanan-kiri mereka, pohon besar menjulang tinggi.
"Dahulu pastinya..." gumam Prasetio menatap kegelapan hutan di luar, "negeri ini dibanggakan sebagai salah satu paru-paru dunia. Hutan Jambi ini dulu lebat sekali, ya Bang?"
Sopir itu menghela napas berat, menggenggam kemudi lebih erat. "Iya, Mas. Dulu sewaktu saya pertama kali sampai di sini rimbanya masih perawan. Sekarang... sudah banyak yang gundul ditelan kebun sawit besar. Kasihan warga Suku Anak Dalam. Rumah mereka tergerus, mereka makin terdesak ke pinggiran. Padahal merekalah penjaga hutan yang sebenarnya."
Truk engkel hijau itu akhirnya berhenti di sebuah pangkalan kayu di tepi anak sungai—titik perhentian terakhir jalur mobil.
"Nah, kita sudah sampai di batas jalur, Mas," ujar sopir itu seraya mematikan mesin. "Di seberang sana ada sudung (pondok singgah) warga Suku Anak Dalam. Malam ini Mas dan Bapak menginap di sana saja dulu. Mereka kawan-kawan saya, mereka sangat terbuka pada orang terang (orang luar/pendatang) yang niatnya bersih."
Dengan bantuan sang sopir, Prasetio membopong kembali Pak Burhan menyeberangi jembatan kayu kecil menuju sebuah pondok kayu beralaskan terpal dan beratap daun rumbia. Tiga orang warga Suku Anak Dalam menyambut mereka dengan obor bambu. Melihat sopir truk itu yang datang, raut tegang warga Suku Anak Dalam seketika mencair hangat. Mereka menyapa sang sopir dengan bahasa daerah yang sangat akrab dan penuh rasa hormat.
Pak Burhan dibaringkan di atas bale-bale bambu yang diberi alas kain tebal. Wanita tua Suku Anak Dalam dengan penuh kasih menyeduhkan air rebusan akar hutan hangat dan singkong rebus untuk Pak Burhan. Pria tua itu meminumnya perlahan, lalu mengulas senyum ikhlas dan menangkupkan kedua tangannya di dada—sebuah ucapan terima kasih tanpa kata yang begitu menyentuh jiwa.
Di dekat perapian kayu yang berjelak hangat, Prasetio dan sopir truk itu duduk bersila menghangatkan badan.
Prasetio menatap bara api, lalu memberanikan diri bertanya, "Bang... Abang kan sudah lama di Sungai Gelam ini dan sering berhubungan dengan warga di sini. Boleh saya tanya sesuatu?"
"Tanya apa, Mas? Katakan saja," sahut sopir itu ramah sembari menyeruput kopi hitamnya.
"Apakah Abang kenal... seorang pria bernama Pandi? Dia sahabat masa kecil saya yang cerita punya usaha di sini. Kontak terakhir kami setahun lalu, setelah itu nomornya tidak aktif lagi dan dialah orang yang saya cari..."
Sopir truk itu seketika menghentikan cangkir kopinya di udara. Tangannya bergetar tipis. Ia perlahan menurunkan cangkir itu ke atas tanah, lalu menatap wajah Prasetio lekat-lekat di bawah cahaya merah api perapian.
Matanya yang tegas perlahan berkaca-kaca. Ia memperhatikan garis wajah Prasetio yang kusam, bekas luka di keningnya, dan binar mata yang kini polos tanpa keangkuhan.
"Pandi...?" bisik sopir itu dengan suara yang mendadak parau mengulang ucapan Prasetio menyapa nama itu.
Sopir itu mengusap wajahnya yang berdebu dengan kedua tangan, lalu terkekeh pelan.—sebuah tawa yang tertahan oleh air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Pras...?" panggil sopir itu lirih. "Nomor HP-mu... masih nomor lama yang akhiran 4595 itu, kan?"
Prasetio tersentak hebat. Jantungnya berdegup kencang hingga ia lupa cara bernapas sejenak. Matanya membelalak menatap pria di hadapannya.
"Kok Abang tahu nomor dan nama saya...?" suara Prasetio bergetar hebat.
Sopir itu tersenyum dengan air mata menetes membasahi pipinya yang berduri tipis. Ia merogoh saku celana kusamnya, menunjukkan ponsel jadul berlayar retak yang berada di genggamannya.
"Nomorku hilang bersama HP lama di hutan pertengahan tahun lalu, Pras... Aku mau menghubungi nomor mamamu di kampung tapi aku lupa angkanya. Cuma nomormu yang tersimpan di memori SIM-ku ini, tapi sinyal di sini mati total..."
Sopir itu mengusap matanya yang basah, lalu menatap Prasetio lurus-lurus.
"Ini aku, Pras... Pandi. Sahabat masa kecilmu..."
Bagaikan dihantam petir di tengah malam pekat, dada Prasetio bergetar hebat. Pria sopir truk bertubuh kekar dan ber debu yang sejak dari kota tadi menolongnya tanpa pamrih, yang mengajarkannya tentang kejujuran Suku Anak Dalam, dan yang membawanya sampai ke tempat aman ini... ternyata adalah Pandi, sahabat sejati yang dicarinya sepanjang jalan.
"Pandi...!" jerit Prasetio lirih.
Tanpa memedulikan sisa gengsi, Prasetio berlutut dan merangkul erat tubuh sahabat masa kecilnya itu di depan perapian sudung Suku Anak Dalam. Dua laki-laki dewasa yang telah terpisah sejak remaja dan ditempa oleh kejamnya gelombang kehidupan itu saling menangis terisak dalam diam—sebuah pertemuan takdir yang begitu murni, indah, dan menyayat jiwa.
Jangan lupa like dan komennya ya agar author makin semangat menulis, terima kasih.
(Bersambung ke Bab 18)
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇