Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.
Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.
Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua jiwa dua dunia dibalik batas
Di atas tebing utara yang dipayungi pepohonan lebat, Revan merayap tanpa suara di atas tanah basah. Pandangan mata elangnya terkunci pada kamp darurat musuh lewat teropong night vision. Seperti dugaan awal, jumlah mereka jauh melampaui perkiraan intelijen awal—lebih dari empat puluh milisi bersenjata lengkap berkumpul di sekeliling api unggun kecil yang tertutup bebatuan.
"Serang..." bisik Revan amat pelan ke dalam mikrofon tactical headset-nya, memberikan komando penyergapan senyap.
Pasukan gabungan Elang bergerak presisi seperti bayangan malam. Namun, tepat ketika jarak mereka tinggal belasan meter dan operasi hampir berhasil sepenuhnya, sebuah kecelakaan tak terduga terjadi di perimeter barat. Seorang prajurit muda dari Elang 3 yang merayap terlalu terburu-buru menginjak pemicu jebakan binatang berbahan tali kawat yang dipasang musuh.
KLAK! BRAMM!
Suara benturan bambu dan bongkahan batu yang meluncur deras merobek kesunyian hutan.
"Musuh datang! Tembak!" jerit salah satu penjaga kamp dalam bahasa asing.
Seketika pertempuran pecah dalam sekejap mata. Kilatan moncong senjata (muzzle flash) menerangi kegelapan rimba secara beruntun.
DAK-DAK-DAK-DAK! DOR! DOR!
Darah Revan berdesir hebat. Keadaan yang tadinya senyap berubah menjadi ladang pembantaian yang memekakkan telinga. Namun, Revan tidak panik sedikit pun. Aura kepemimpinannya justru kian tajam di tengah kekacauan.
"Elang 1, ambil posisi tempur atas! Tahan poros tengah! Elang 2, tekan dari lambung kiri sekarang!"
teriak Revan mantap menembus deru letusan amunisi.
Dengan manuver taktis yang sangat matang, Revan memimpin pembantaian terukur. Satu per satu anggota pemberontak berhasil dilumpuhkan dan dipaksa menyerah. Hutan yang tadinya riuh perlahan kembali tenang seiring berjatuhannya pihak musuh yang terkepung rapat. Sebagian besar pemberontak berhasil ditangkap hidup-hidup dalam kondisi terluka.
Sayangnya, fokus Revan yang terbagi untuk mengendalikan tiga tim sekaligus memunculkan celah sempit. Di tengah kepulan asap amunisi dan kekacauan sektor barat, anak dari pimpinan pemberontak,seorang pria bertubuh tegap dengan luka tembak di lengan,berhasil meloloskan diri ke celah jurang dibantu oleh dua orang pengawal pribadinya.
Revan baru saja selesai mengamankan tawanan utama saat seorang prajurit dari Elang 1 berlari kencang mendekatinya dengan napas berburu.
"Lapor, Komandan!"
seru prajurit itu dengan raut wajah tegang, melakukan penghormatan cepat di tengah asap mesiu.
"Area kamp berhasil kita kuasai sepenuhnya! Dua puluh lima orang tertangkap, delapan tewas di tempat!"
Revan mengusap noda jelaga di pipinya, matanya menyapu sekeliling.
"Pimpinan mereka dan anaknya mana?"
Prajurit itu menunduk panik.
"Izin, Komandan... pimpinan utama berhasil kita lumpuhkan. Tapi anak pimpinan dan dua pengawal utamanya meloloskan diri lewat jalur celah bawah bukit... arah pelarian mereka lurus menuju pemukiman desa... tepat ke area belakang Polindes!"
Mata Revan seketika membelalak tajam. Jantung sang komandan elit terasa berhenti berdetak saat membayangkan Nara dan Polindes kini berada tepat di jalur pelarian tiga buronan bersenjata yang terdesak itu.
****
Rahang Revan mengeras seketika. Amarah, kepanikan, dan ketakutan yang luar biasa membakar dadanya.
campuran emosi yang tak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun memimpin misi pertempuran. Bayangan wajah Nara yang tersenyum di sore hari, membuat Revan belari Tampa henti...
"Satuan tugas Elang 2 dan Elang 3, amankan seluruh tawanan dan area kamp! Kumpulkan semua barang bukti!"
teriak Revan penuh penekanan, suaranya menggelegar menembus sisa-sisa kepulan asap mesiu.
Revan berbalik cepat menatap tiga anggota Elang 1 yang tersisa di dekatnya. Matanya membara, benar-benar memancarkan aura membunuh yang dingin.
"Elang 1, ikuti saya sekarang! Bergerak cepat, potong jalur pelarian mereka sebelum masuk ke pekarangan Polindes!"
perintah Revan kencang, menggenggam erat senjatanya lalu melompat melintasi celah jurang tanpa ragu.
"Siap, Komandan!"
seru para prajurit seru para prajurit Elang 1 yang langsung melesat mengekor di belakangnya.
******
Sementara itu, di pekarangan belakang Polindes yang gelap gulita...
Suara langkah kaki yang berat, tergesa-gesa, dan liar terdengar menabrak semak-semak. Tiga bayangan pria berbadan tegap muncul dari kegelapan hutan. Salah satu dari mereka
sang anak pimpinan pemberontak berjalan pincang sambil meringis memegangi lengannya yang terserempet peluru.
"Cepat! Kita harus masuk ke bangunan depan itu! Cari obat-obatan dan sandera seseorang!"
bisik sang pengawal dengan napas memburu, bahasa mereka terdengar asing dan kasar.
"Tentara-tentara itu tidak akan berani menembak kalau kita pegang warga lokal"
Brok ! ,Brok ! Brok !
"Buka pintunya! Buka atau kami bakar tempat ini!" teriak anak pimpinan pemberontak itu dari luar, suaranya parau dan penuh amarah.....
Nara mendekatkan dirinya sedikit ke pintu, lalu berseru dengan nada yang sangat dingin dan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
"Di dalam sini hanya ada fasilitas medis dan pasien yang terluka! Kalau kalian melangkah satu senti lagi mencoba merusak pintu ini, kalian tidak akan keluar dari desa ini hidup-hidup!"
gertak Nara mantap.
"berani kau...!" jerit sang pengawal dari luar.
"Dobrak jendela depan , Cepat!"
Door!!!!
PRANGGG!
Suara pecahan kaca jendela Polindes menggema dahsyat, merobek malam yang mencekam. Bingkai kayu hancur berantakan disusul dentuman boot tebal yang melompati ambang jendela.
Tiga pria berbadan tegap, berkulit gelap, dan berpakaian lusuh menerobos masuk. Tubuh mereka dipenuhi lumpur, noda darah, dan bau mesiu yang menyengat. Dua di antaranya menggenggam erat senapan serbu yang siap meletup, sementara satu lainnya mencengkeram parang sabit yang berkilat tajam di bawah remang lampu lorong.
Dalam hitungan detik, insting bertahan hidup Nara bekerja. Tanpa membuang waktu, Nara mendorong perawat dan para pasien masuk ke dalam satu kamar rawat inap paling sudut.
"Kunci dari dalam! Dan Jangan bersuara!"
perintah Nara lewat gerak lipat bibir dan isyarat tangan yang sangat tegas.
CKLEK!
Pintu kayu kamar rawat inap berhasil terkunci rapat dari dalam tepat sebelum kelompok itu mendekati lorong utama.
Nara berdiri sendirian di lorong yang remang, membelakangi kamar rawat. Jubah putihnya sedikit tersibak, memperlihatkan kaus dan celana kargo hitam yang melekat siap tempur di tubuhnya.
"Selamatkan kami ! atau kubunuh kau "
bentak salah satu pengawal dengan bahasa asing yang kaku dan parau. Moncong senapan teracung lurus ke arah dada Nara,
sementara temannya menimang parang sabit dengan raut wajah haus darah.
"segera lakukan, cepat.....!"
Atmosfer di dalam Polindes mendadak membeku. Udara terasa sangat berat, pekat oleh aura kematian.....
Nara dengan tenang, mengangkat tangan sambil memperhatikan.
Mata jernihnya bertransisi menjadi luar biasa dingin. Naluri bertahan hidup yang tajam, inderanya bergerak cepat menganalisis kondisi ketiga pria di depannya untuk mencari celah perlawanan
Moncong tembak Laras panjang itu bealih ke kepalaa Nara....
(akankah Nara selamat........)