NovelToon NovelToon
TIRAKAT 7

TIRAKAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / TKP
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.

(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Sepuluh tahun berlalu.

Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.

​Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".

​Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.

Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 (KASUS 1) PETUNJUK DI BELAKANG KEPALA

Lampu LED berintensitas tinggi pada alat kaca pembesar khusus memancarkan pendaran cahaya putih kebiruan yang sangat terang, menembus kerapatan helai-helai rambut tebal di bagian belakang kepala jasad Jonathan Nasution.

​dr. Haruma membungkukkan sedikit tubuhnya. Dengan jemarinya yang terbungkus sarung tangan karet steril, ia memegang alat pemisah halus untuk menyisir helai rambut di area tengkuk bawah, tepat di atas pangkal tulang tengkorak dan ruas tulang leher pertama.

​"Tidak ada tanda-tanda memar luar... tidak ada jejak resapan darah di kulit luar..." gumam Haruma pelan, mengecek permukaan kulit kepala korban dari jarak hanya 15 sentimeter dari wajahnya.

​Secara kasat mata, permukaan kulit kepala bagian belakang milik Jonathan tampak benar-benar mulus dan bersih.

Namun, ketika Haruma menggeser pendaran cahaya lampu LED pada sudut kemiringan 45 derajat, mata ketelitian forensiknya menangkap sebuah anomali mikroskopis!

​Tepat di balik lapisan rambut tebal di pangkal tengkuk itu, ada area kecil berdiameter kurang lebih 3 sentimeter yang tekstur kulit luarnya tampak sedikit meliuk kaku, dengan warna yang lebih pucat transparan dibandingkan permukaan kulit di sekitarnya. Seolah-olah jaringan di bawah lapisan kulit luar tersebut pernah terpanggang oleh suhu panas bertekanan tinggi yang amat terpusat.

​Haruma teringat kembali pada jeritan sukma Jonathan di dalam dimensi kelabu beberapa menit lalu.

​“---Iblis berujung cakar itu menancap di tengkuk saya... menyedot habis seluruh napas dan usia saya...!---”

​Haruma menegakkan kembali posisi punggungnya. Ia melangkah menuju meja instrumen, mematikan sakelar mic perekam suara sebentar, lalu menjangkau pisau pencukur steril dan pisau bedah nomor 15—pisau khusus bersudut kecil yang digunakan untuk pembedahan jaringan halus.

​"Penjelasan medis luar tidak akan cukup," bisik Haruma pada keheningan ruangan. "Integritas bukti ini ada di balik lapisan kulitnya."

​Haruma menyalakan kembali mic perekam suara digital di atas meja.

​"Pemeriksaan khusus lanjutan pada region sub-oksipital dan servikal superior," dikte Haruma dengan intonasi suara profesional yang jernih dan teratur. "Ditemukan anomali tekstur mikroskopis pada area tengkuk belakang. Dilakukan tindakan penyukuran rambut lokal dan insisi eksplorasi jaringan bawah kulit."

​Dengan telaten dan hati-hati, Haruma menggunakan pisau pencukur steril untuk merapikan helai rambut di area tengkuk belakang Jonathan seluas 5 x 5 sentimeter.

Setelah area tersebut bersih dari rambut, ia mengusap permukaan kulit itu menggunakan kain kassa yang dibasahi larutan antiseptik.

​Haruma memegang pisau bedah nomor 15 dengan posisi 'pencil-grip'. Jemari tangannya sangat stabil, tanpa ada getaran sedikit pun. ​Ia menempelkan mata pisau yang tajam itu pada batas atas tengkuk kepala korban.

​"Insisi lapisan kulit kepala belakang dimulai," ucap Haruma ke arah mic.

​Srettt...

​Ujung pisau bedah yang tipis dan tajam itu menggores permukaan kulit tengkuk Jonathan, membelah lapisan kulit luar (epidermis) dan lapisan kulit dalam (dermis) secara sangat presisi.

Haruma mengendalikan kedalaman sayatan agar hanya memotong jaringan kulit tanpa merusak lapisan dan pembuluh darah bawah kulit.

​Darah kental kehitaman keluar sedikit dari pinggiran sayatan. Haruma menggunakan kain kassa steril untuk mengusap sisa darah tersebut, menjaga agar area pandang pembedahan tetap bersih.

​Menggunakan dua buah pinset anatomi bersudut tumpul (tissue forceps), Haruma secara perlahan-lahan mengelupas dan menyibakkan lembaran kulit tengkuk yang baru saja disayatnya ke arah kiri dan kanan.

​Dan tepat pada detik saat lapisan dalam kulit kepala itu terbuka lebar di bawah pendaran lampu LED...

Mata dr. Haruma seketika membelalak lebar!

​Napas Haruma terhenti kaku di balik masker medisnya.

​"Astagfirullahal'adzim..." bisik Haruma lirih.

​Di atas permukaan jaringan bawah kulit dan selaput pelapis tulang tengkorak (periosteum) belakang milik Jonathan Nasution, terukir sebuah tanda fisik yang sungguh di luar nalar manusia biasa!

​Di sana...

Tercetak sebuah cap luka bakar mikroskopis berbentuk pecahan pola geometris yang amat rumit!

​Pola luka bakar itu sama sekali tidak membakar atau merusak lapisan kulit luar. Sihir pencuri usia itu rupanya bekerja menembus kulit luar tanpa meninggalkan jejak, namun mencapkan stempel panasnya tepat di atas jaringan fasia dalam dan pembuluh darah utama yang menempel pada tulang tengkorak!

​Haruma mendekatkan kaca pembesar khusus, meneliti setiap lekukan dari cap luka bakar geometris tersebut.

​Bentuknya menyerupai garis-garis busur lingkaran yang saling bersilang dengan sudut-sudut segitiga lancip di bagian tengahnya.

Di sela-sela garis geometris itu, terdapat ukiran-ukiran garis tipis yang mirip dengan huruf kuno berukuran sangat kecil. Jaringan daging di sekitar cap luka bakar itu tampak mengeras dan menghitam kaku akibat terpanggang oleh hawa panas sihir gaib.

​Yang paling mengejutkan Haruma adalah bentuk keseluruhan dari cap tersebut. Pola garis geometris itu tidak tertutup sempurna—garis lingkaran bagian luar terputus di sudut kanan bawah, seolah-olah cap luka bakar ini hanyalah sebuah pecahan dari satu pola stempel lingkaran besar yang utuh!

​Haruma menarik napas dalam-dalam, merasakan detak jantungnya berdebar kencang oleh sensasi keharuan dan kemenangan ilmiah yang luar biasa.

​"Temuan fisik mayor pada pembedahan sub-oksipital," dikte Haruma dengan nada suara yang bergetar penuh ketegasan ke arah mic perekam. "Pada lapisan fasia subkutan dan periosteum oksipital, ditemukan trauma termal terlokalisasi berupa pola luka bakar geometris berukuran diameter 2,5 sentimeter. Pola berupa pecahan busur lingkaran dan kisi segitiga simetris. Terdapat destruksi jaringan akibat pembakaran tingkat tinggi di bawah kulit tanpa kerusakan pada epidermis luar."

​Haruma meletakkan pisau bedahnya. Ia merogoh kamera medis makro beresolusi tinggi yang terhubung ke komputer laboratorium.

​Dengan ketelitian tingkat tinggi, Haruma mengambil belasan foto makro dari jarak sangat dekat mengenai cap luka bakar geometris tersebut.

Foto-foto itu secara jelas memperlihatkan perbedaan antara jaringan daging merah yang normal dengan pola luka bakar hitam geometris yang terukir di atas tulang tengkorak Jonathan.

​Setelah dokumentasi foto selesai, Haruma memotong sedikit sampel jaringan fasia yang terbakar itu menggunakan gunting mikro, lalu memasukannya ke dalam botol sampel steril bernomor registrasi khusus untuk uji histopatologi.

​Haruma meletakkan kamera makro, menyunggingkan senyuman lega di balik maskernya.

​Bukti medis paling mutakhir dari kejahatan gaib ini telah berhasil ditemukan!

Cap luka bakar geometris di balik kulit tengkuk ini adalah Puzzle Pertama—stempel fisik otentik yang membuktikan bahwa kematian Jonathan Nasution adalah aksi pembunuhan berencana menggunakan sihir pencuri usia!

​Haruma melepaskan sarung tangan karet lapis luarnya, lalu meraih ponsel pintarnya di atas meja nakas. Jemarinya yang lincah langsung mendial nomor Ipda Harumi.

​Hanya dalam satu kali nada dering, suara Harumi langsung menyahut antusias dari balik telepon.

​"Halo, Kak Haruma?! Gimana, Kak?! Ada perkembangan baru lagi dari jasad Jonathan?!" panggil Harumi.

​Haruma terkekeh pelan, menyandarkan pinggulnya di tepi meja bedah. "Rumi... kamu gak bakal percaya sama apa yang baru aja Kakak temukan di balik kulit tengkuk belakangnya Jonathan!"

​Di seberang sana, suara Harumi terdengar kaget bercampur penasaran setengah mati. "Demi apa, Kak?! Ada apa di tengkuknya?! Jangan bikin Rumi penasaran dong!"

​"Kakak baru aja nyayat kulit kepala bagian belakangnya, Dek," cerita Haruma dengan nada suara penuh kepuasan profesional. "Pas kulit dalam di atas tulang tengkoraknya terbuka... di sana ada cap luka bakar geometris mikroskopis, Rumi!"

​"Hah?! Cap luka bakar di balik kulit kepala?!" seru Harumi terbelalak dari balik telepon. "Tapi kulit luarnya mulus kan, Kak?"

​"Mulus total! Sihir itu nembus kulit luar tanpa ngerusak permukaan, tapi nancapin stempel panasnya tepat di jaringan dalam di atas tulang tengkorak!" terang Haruma detail. "Bentuknya rumit banget, Rumi... ada garis busur lingkaran, segitiga lancip, sama ukiran garis mikroskopis yang mirip huruf kuno!"

​Di seberang telepon, suara Harumi mendadak bersorak gembira. "Alhamdulillah! Ya Allah! Kak Haruma pinter banget! Itu fix cap stempel sihir pencuri usia, Kak!"

​"Iya, Dek! Dan yang paling menarik..." Haruma memotong pelan, intonasi suaranya berubah misterius. "...pola garis geometris ini bentuknya terputus di sudut kanan bawah. Ini cuma pecahan dari satu gambar stempel lingkaran besar yang utuh!"

​Harumi yang mendengar hal itu langsung menangkap maksud kakaknya dengan kecerdasan analisisnya. "Petunjuk pertama itu, Kak! Itu pecahan puzzle pertama!"

​"Tepat sekali!" puji Haruma tertawa senang. "Ini pecahan puzzle pertama kita. Kalau ada korban-korban lain berikutnya dari sihir ini, pasti mereka punya pecahan garis geometris lainnya yang kalau digabung bakal ngebentuk stempel utama milik sekte mereka!"

​"Luar biasa... ini bukti materiil yang jenius banget!" seru Harumi penuh semangat. "Kakak udah foto kan pakai kamera makro?"

​"Udah Kakak foto belasan kali dari berbagai sudut, Dek. Hasil gambarnya tajam banget!" jawab Haruma mantap. "Malam ini Kakak cetak foto makronya berukuran besar, terus Kakak lampirkan di dokumen resmi Visum. Besok pagi berkas fisiknya siap kamu bawa ke meja rapat!"

​Harumi tertawa puas dari balik telepon. "Sip! Biar besok pagi Rumi skakmat itu pengacara Budiarto sama para petinggi Polda! Mereka mau ngeles pakai alasan penyakit alami atau kelelahan kerja apa lagi kalau udah ada foto cap luka bakar geometris di dalam tengkorak korban?!"

​"Pasti kicep mereka semua, Dek," timpal Haruma tertawa renyah. "Kamu gimana di kantor? Masih bongkar berkas transaksi 50 miliar itu?"

​"Ini Aipda Rudi lagi minta data rekening koran resmi dari bank sentral, Kak," cerita Harumi. "Besok pagi data aliran dana sama foto bukti otopsi Kakak bakal jadi dua pukulan maut buat nyudutin direksi perusahaan itu!"

​"Mantap, Adekku yang paling berani," puji Haruma hangat. "Ya udah, Kakak mau jahit kembali luka sayatan di tengkuk dan dada Jonathan dulu, terus mau manggil Bowo buat mindahin jasadnya ke lemari pendingin."

​"Sip! Makasih banyak ya, Kak Haruma tersayang! Kakak emang dokter forensik paling jenius se-Indonesia!" puji Harumi penuh kasih sayang.

​"Bisa aja kamu, Dek... Ya udah, kamu jangan lupa makan ya."

​"Siap, Kak! Dahhh... Kak Haruma!"

​"Dahhh... Rumi."

​Klik.

​Sambungan telepon terputus.

Haruma meletakkan ponselnya kembali ke atas meja nakas dengan perasaan lega dan puas yang membuncah di dalam dadanya.

​Haruma merapikan kembali apron hijau dan sarung tangan steril yang baru.

​Dengan ketelitian dan rasa hormat yang tinggi pada jasad korban, dr. Haruma mengambil benang bedah tebal dan jarum jahit berbentuk kurva (cutting needle). Ia mulai menjahit rapi setiap senti luka sayatan Y-Cut di dada Jonathan serta sayatan kecil di tengkuk belakang kepala korban.

​Jahitan tangannya sangat konstan, rapi, dan rapat, mengembalikan bentuk luar jasad Jonathan seperti semula sebelum diserahkan kepada pihak keluarga esok hari.

​Setelah proses penjahitan usai, Haruma mematikan mic perekam suara digital, merapikan alat-alat bedah ke dalam wadah sterilisasi, lalu melangkah menuju pintu ganda laboratorium.

​Klak!

​Haruma membuka selot besi manual pintu ganda tersebut, lalu mendesak pintunya terbuka.

​Di koridor luar yang terang, Bripda Bowo yang sedang berdiri siaga langsung berbalik dan membungkuk sopan. "Dokter Haruma! Proses pembedahan sudah selesai, Dok?"

​"Sudah selesai, Bowo," jawab Haruma dengan senyuman hangat dan profesional. "Pembedahan berjalan sangat lancar. Tolong bantu saya merapikan ruangan, bersihkan jasad korban, lalu pindahkan ke lemari pendingin nomor 4."

​"Siap, Dokter Haruma!" jawab Bowo sigap. "Laporan visumnya perlu dicetak malam ini juga?"

​"Iya, Bowo. Kertas Laporan Otopsi Visum 104 beserta lampiran foto makro jaringan sudah saya siapkan di meja komputer. Tolong dicetak dua rangkap dan beri stempel basah," pesan Haruma tegas.

​"Baik, Dok! Segera saya laksanakan!"

​Haruma melangkah keluar menuju ruang kerjanya untuk melepas apron dan membersihkan diri.

Rasa lelah fisik akibat pembedahan marathon dan penembusan dimensi batin selama berturut-turut seketika terbayar tuntas oleh keberhasilan mereka mengunci bukti pertama.

​Sementara itu, di dalam ruangan laboratorium yang kini mulai dirapikan oleh Bowo, foto cetakan makro berukuran besar mengenai Puzzle Pertama—cap luka bakar geometris di atas tulang tengkorak Jonathan Nasution—terbaring anggun di atas meja cetak.

​Kepingan petunjuk pertama dari gurita kejahatan sekte iblis "THE ONE" telah resmi terungkap di atas meja forensik.

Dan esok pagi, berkas bukti tersebut akan menjadi senjata utama bagi Ipda Harumi untuk melancarkan serangan hukum perdana yang akan mengguncang stabilitas kerajaan bisnis para taipan di Tanah Jawa.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti apa coba keluarga Taipan itu?

intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyakah medium ship spiritual ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Jadi efek sihir nya nggak ada luka fisik dari luar seperti sihir pada umumnya tapi yg diserang organ dalam nya.

berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Penasaran seperti apa Sakte the one, sihir pengambil usia ini bwt apa? entintas apa yg akan di bangkit kan
Sri Jumiati
bagus ceritanya .👍👍
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seenggaknya klo terbuka, misal mereka ada apa-apa Nisa bisa membantu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
NiZa putri atw Putra sih ?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Knp kek yg Mama ku omongin sihh? bwt orang tua ya seperti itu sedewasa apapun, sesukses apapun, bwt mereka anaknya adalah tetep anak kecil mereka.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Definisi rezeki tak kemana
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nah iya bener itu ide atasan Rumi, pura-pura tutup kasus dulu, kematian Jonathan dgn tersangka suroto, tapi dibelakang msh diselidiki. masuk logika sih...
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
pastinya sakte the one ini di backup orang penting, klo nggak ada backingan yg kuat nggak mungkin trs bertahan bertahun-tahun
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
RIP KiSuroto sadis ya cara mati nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Hanya sampe disitu ki Suroto? kek nya msh ada yg lebih dari dia ya di sekte the one ini
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sehebat apakah KiSuroto?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
perantara sihir nya udah elit ya di T7 ini, bukan bangsa lelembut lgi tapi manusia setengah jin mungkin wkwkwk sihir nya udah di darah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga suroto kek nggak ada nama lain
penampilan nya udah elit kok nama nya itu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
seperti itu ya ruang outopsi baru tau aku, detail betul penggambarannya berasa ada di rumah sakit dokpol wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
waduhh serem, dibungkam dari jauh... penasaran the one ini sapa
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Karier udah oke tinggal jodoh ya ruma rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Mereka tidak perlu orang lain lgi bwt jadi partner diskusi Mereka, kna berdua pun Mereka udah saling melengkapi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!