NovelToon NovelToon
Menghempas Keluarga Benalu

Menghempas Keluarga Benalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadinachomilk

Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.

Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Maaf

Imah terdiam selama beberapa detik. Wajahnya memerah mendengar perkataan Arhan, terlebih ketika putranya itu kembali mengungkit segala bantuan yang selama ini telah diberikan kepadanya.

Bukan karena merasa bersalah, melainkan karena ia tidak terima jika harus mendengar anak yang telah dilahirkannya sendiri berbicara seolah-olah dirinya merupakan beban dalam kehidupan Arhan.

"Memangnya kenapa kalau kamu membantu ibu dan adikmu sendiri?" bentak Imah. "Itu memang sudah kewajibanmu sebagai anak laki-laki! Kamu bekerja, punya penghasilan, sementara ibu sudah tua. Memangnya ibu harus meminta-minta kepada orang lain hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup?"

Arhan menggeleng pelan. Ia mulai menyadari bahwa apa pun yang dikatakannya tidak akan pernah benar di mata perempuan itu. Sejak awal, Imah memang tidak berniat mendengarkan penjelasannya. Perempuan tersebut hanya ingin dirinya mengalah, mengeluarkan uang, lalu menuruti semua keinginannya tanpa mempertanyakan apa pun.

"Arhan tidak pernah mempermasalahkan kewajiban Arhan untuk membantu Ibu," jawabnya. "Arhan juga tidak pernah meminta Ibu mengembalikan uang yang sudah Arhan berikan. Selama ini, Arhan membantu Ibu dengan ikhlas. Arhan tidak pernah menganggap uang itu sebagai beban, apalagi menganggap Ibu sebagai orang yang merepotkan."

Ia berhenti sejenak, menatap ibunya dengan mata yang mulai memerah.

"Tapi, Bu, Arhan juga punya keluarga sendiri. Arhan punya istri dan anak yang harus Arhan nafkahi. Arhan punya tanggung jawab yang tidak bisa Arhan abaikan hanya karena Ibu ingin Arhan memenuhi semua keinginan Ibu."

"Jadi, sekarang kamu lebih mementingkan istri dan anakmu daripada ibu sendiri?" potong Imah cepat.

Arhan terdiam. Pertanyaan itu kembali dilontarkan Imah, seolah-olah segala penjelasan yang baru saja disampaikannya tidak memiliki arti apa pun. Perempuan itu selalu berhasil membalikkan keadaan, membuat dirinya seolah-olah menjadi pihak yang paling tersakiti setiap kali Arhan berusaha menetapkan batasan.

"Jawab, Han!" desak Imah. "Kamu lebih memilih Nadira daripada ibu yang sudah melahirkanmu?"

Arhan menarik napas panjang. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan sebelum kembali menatap ibunya.

"Kenapa Ibu selalu membawa-bawa Nadira setiap kali Arhan tidak menuruti keinginan Ibu?" tanyanya. "Apa Nadira pernah melarang Arhan membantu Ibu? Apa Nadira pernah meminta Arhan berhenti memberikan uang kepada Ibu? Selama ini, justru Nadira yang selalu mengingatkan Arhan supaya tetap memperhatikan Ibu dan Jordi."

Ia menggeleng, lalu melanjutkan dengan suara yang terdengar semakin berat.

"Tapi, kenapa Ibu selalu menjadikan Nadira sebagai alasan untuk marah kepada Arhan? Kenapa setiap kali Arhan menolak sesuatu, Ibu selalu menganggap Nadira yang menghasut Arhan? Apa Ibu tidak pernah berpikir bahwa Arhan juga bisa punya pendirian sendiri?"

"Karena sejak kamu menikah dengan perempuan itu, kamu berubah!" seru Imah. "Dulu kamu tidak pernah berani membantah ibu seperti ini. Sekarang, sedikit-sedikit kamu membela Nadira. Sedikit-sedikit kamu mengungkit tanggung jawabmu sebagai suami dan ayah. Seolah-olah setelah menikah, kamu tidak punya ibu lagi!"

Arhan memejamkan mata sesaat.. Lagi-lagi, pernikahannya dengan Nadira dijadikan kambing hitam. Padahal, jika Imah mau melihat semuanya dengan pikiran jernih, ia akan menyadari bahwa Arhan tidak pernah benar-benar meninggalkan ibunya.

Laki-laki itu tetap mengirimkan uang, tetap membantu ketika dibutuhkan, dan tetap berusaha hadir ketika keluarganya mengalami kesulitan. Hanya saja, sekarang Arhan tidak lagi bisa membiarkan semua orang memperlakukannya seolah-olah ia tidak memiliki kehidupan sendiri.

"Kalau ibu anggap Arhan seperti itu baiklah." Arhan segera menarik kopernya dan segera keluar dari rumah itu, lagi pula keluarga yang selalu ia bela tidak pernah memperdulikannya.

Saat Arhan pergi, semua orang disana seolah tidak peduli dengan perbuatannya. Seolah semua orang disana memang tidak pernah mengharapkan kehadiran Arhan kecuali untuk mendapatkan uang darinya.

....

Arhan menatap ke arah apartemen tempat dimana Nadira dan Naya juga tinggal, ia membuka menekan tombol itu. Dan baru saja ia melangkah masuk, suasana apartemen terlihat gelap. Arhan menghentikan langkahnya biasanya Nadira dan Naya akan menyambut kepulangannya tetapi sekarang apartemen itu benar benar terlihat sepi.

Hingga tatapannya tertuju ke lampu yang berada diatas meja, satu lampu saja yang masih menyala dan dibawahnya ada satu surat yang dituliskan oleh sang istri.

"Jika kamu lebih memilih orang tuamu dibanding aku dan Naya, lebih baik kita cerai saja Arhan. Semua harta dan apartemen yang sekarang kamu tempati akan diberikan kepada Naya. Surat cerai udah aku taruh di atas meja."

Arhan terdiam. Tangannya yang semula hendak meraih surat itu mendadak berhenti di udara. Ia menatap tulisan di atas kertas tersebut selama beberapa detik, seolah-olah berharap dirinya salah membaca setiap kata yang tertera di sana.

Namun, tidak peduli berapa kali ia membacanya, kalimat itu tetap sama. Nadira ingin bercerai. Perlahan, Arhan meletakkan kopernya di dekat pintu. Ia melangkah mendekati meja, kemudian menarik kursi dan duduk dengan tubuh yang terasa mendadak kehilangan tenaga. Surat itu diambilnya dengan tangan sedikit gemetar.

"Sayang ...." gumamnya lirih.

Matanya kembali menelusuri setiap baris tulisan Nadira. Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada ungkapan kemarahan, apalagi makian yang mungkin bisa menunjukkan betapa kecewanya perempuan itu. Hanya beberapa kalimat singkat yang justru terasa jauh lebih menyakitkan daripada pertengkaran mereka selama ini.

Arhan mengusap wajahnya kasar. Ia tahu Nadira sudah berkali-kali bersabar menghadapi keluarganya. Ia tahu istrinya itu sering kali memilih diam ketika Imah melontarkan perkataan yang menyakitkan.

Bahkan, selama ini Nadira pula yang selalu mengingatkannya agar tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang anak dan kakak. Namun, Arhan justru membiarkan istrinya terus berada dalam posisi yang sulit.

"Kenapa kamu sampai mengambil keputusan seperti ini, Nadira?" bisiknya dengan suara bergetar.

Arhan meletakkan surat tersebut di atas meja, lalu meraih ponselnya dari saku celana. Ia segera mencari nama Nadira di daftar kontak dan menekan tombol panggilan.

Satu kali. Tidak diangkat. Arhan mencoba lagi. Kali ini, panggilannya bahkan langsung terputus.

"Nadira, angkat, Sayang. Tolong ...."

Ia kembali menghubungi istrinya. Namun, hasilnya tetap sama. Perempuan itu tidak memberikan jawaban sedikit pun. Arhan kemudian membuka ruang percakapan mereka. Jarinya bergerak cepat mengetik pesan, tetapi ia beberapa kali menghapus kalimat yang sudah ditulisnya karena tidak tahu harus memulai dari mana.

Pada akhirnya, ia hanya mengirimkan satu pesan singkat.

"Sayang, kamu sama Naya di mana? Tolong jawab telepon Arhan. Kita bicarakan baik-baik, ya."

Pesan itu terkirim, tetapi tidak kunjung mendapatkan balasan. Arhan menunduk. Kedua sikunya bertumpu pada meja, sementara jemarinya saling bertaut di depan wajah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar kehilangan arah.

Ia baru saja meninggalkan rumah ibunya dengan perasaan kecewa karena merasa tidak dihargai. Namun, begitu kembali ke apartemen, ia justru mendapati kenyataan yang jauh lebih menyakitkan.

"Maaf," ujarnya, lirih.

1
Noey Aprilia
Mampooosss.....
orng2 ga tau diri ky mreka,emng pnts jd gmbel.....drpd bkin repot orng trs.....🙄🙄🙄
Noey Aprilia
Hai kk...
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡
Heny
Harus berpisah biar nggak di ganggu lg km berhak menentukan sikao
Heny
Mertua pilih kasih
Adinda
laporin aja langsung kok hak orang diambil
Adinda
mungkin Arhan cuma anak angkat makanya ibunya seperti itu
Adinda
mungkin Arhan cuma anak angkat makanya ibunya seperti itu
falea sezi
🤣🤣 arhan liat kelakuan emak mu
Adinda
tinggalin aja punya orang tua seperti itu,apalagi anakmu gak dianggap dan cuma dijadikan atm berjalan
Adinda
jadi selama nadira jadi istri gak dikasih nafkah yang layak semua gaji arhan buat keluarganya begitu thor
Adinda
suruh suamimu nikah lagi bu imah mungkin kamu punya anak kecil laki laki🤣🤣
Adinda
keluarga parasit takut kehilangan atm berjalan kalau arhan cerai sama nadira
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!