Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Brak.
Rio melempar map itu kembali ke atas meja dengan tatapan merendahkan.
"Tolak proposalnya, aku tidak mau membuang uang perusahaanku untuk perusahaan tidak jelas seperti mereka," tolak Rio mentah-mentah.
"Baik Tuan, saya akan segera membuat surat penolakan resminya hari ini juga," angguk Nadia patuh.
Nadia bersiap untuk membalikkan badan dan keluar dari ruangan sebelum Rio kembali bersuara.
"Tunggu Nadia, apa mereka memberikan jaminan yang sepadan untuk uang lima puluh miliar itu?" tanya Rio menghentikan langkah asistennya.
"Mereka berjanji akan memberikan saham perusahaan sebesar dua puluh persen sebagai jaminan Tuan," jawab Nadia membalikkan badan.
"Selain itu Tuan Wijaya sang pemilik Grup Makmur juga menjadikan acara pernikahan putri bungsunya sebagai ajang pamer kekayaan," tambah Nadia lagi.
Rio mengangkat sebelah alisnya merasa tertarik dengan informasi terakhir yang disebutkan oleh Nadia.
"Pernikahan putri bungsu? Maksudmu mereka sedang mencari dana untuk membiayai pesta pernikahan?" tebak Rio tajam.
"Tepat sekali Tuan, mereka mengundang banyak kolega bisnis penting minggu depan di Hotel Diamond," jelas Nadia mengkonfirmasi tebakan bosnya.
Rio mendengus sinis mendengar betapa bodohnya jalan pikiran pemilik Grup Makmur tersebut.
"Perusahaan yang menghamburkan uang untuk pesta mewah saat butuh modal adalah perusahaan yang sangat bodoh," cemooh Rio tajam.
"Mereka pikir dengan terlihat kaya di pesta pernikahan, investor akan percaya untuk menanamkan modal?" lanjut Rio menggelengkan kepalanya.
"Memang begitulah kelakuan Tuan Wijaya Tuan, beliau sangat menjunjung tinggi gengsi keluarganya," tanggap Nadia tersenyum tipis.
Rio kembali mengambil map merah itu dan membolak-balik halamannya tanpa minat.
"Siapa pria bodoh yang mau menikahi putri dari keluarga gila gengsi seperti itu?" tanya Rio iseng sekadar ingin tahu.
Nadia membuka catatan kecil di tabletnya untuk mencari informasi yang diminta oleh bosnya.
"Menurut informasi dari tim lapangan, calon menantu Grup Makmur adalah seorang pengusaha muda yang misterius," baca Nadia dari tabletnya.
"Misterius bagaimana maksudmu?" potong Rio menatap tajam asistennya.
"Keluarga Wijaya menyembunyikan identitas asli pria itu dan hanya menyebarkan rumor bahwa dia adalah anak konglomerat dari luar negeri," jelas Nadia rinci.
Rio tersenyum sinis merasa ada yang tidak beres dengan cerita dari keluarga Wijaya tersebut.
"Orang kaya asli tidak pernah menyembunyikan identitasnya, mereka pasti sedang menutupi sesuatu," tebak Rio dengan insting bisnisnya yang tajam.
"Apakah tim kita sudah mengetahui nama pria misterius itu?" tanya Rio lagi semakin penasaran.
Nadia menggeser layar tabletnya lalu menatap wajah Rio dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Namanya Rizky Tuan, kebetulan namanya sama persis dengan adik kandung yang sedang Anda cari," jawab Nadia pelan.
Deg.
Jantung Rio seolah berhenti berdetak sesaat mendengar nama yang sangat familiar itu.
Nama yang selalu dia sebut dalam setiap doanya selama lima belas tahun terakhir.
"Rizky? Hanya Rizky? Apa kamu sudah menemukan nama belakangnya?" cecar Rio bangkit berdiri dari kursi kebesarannya.
Raut wajah Rio yang biasanya tenang dan sedingin es kini berubah menjadi tegang.
"Maaf Tuan, keluarga Wijaya sangat rapat menyimpan informasi pribadinya," sesal Nadia menundukkan kepalanya.
"Mereka hanya menyebutnya Tuan Muda Rizky dalam undangan pernikahan yang tersebar," lanjut Nadia memberikan informasi seadanya.
Rio berjalan memutari meja kerjanya dan menatap pemandangan kota Jakarta dari balik kaca jendela.
"Banyak orang yang bernama Rizky di negara ini Rio, jangan terlalu banyak berharap," batin Rio menenangkan dirinya sendiri.
Tapi insting persaudaraan di dalam darahnya mengatakan hal yang berbeda.
Ada sebuah dorongan kuat di dalam dadanya yang menyuruhnya untuk mencari tahu lebih lanjut tentang pria bernama Rizky itu.
"Nadia, kerahkan tim intelijen terbaik kita untuk menyelidiki latar belakang calon menantu Grup Makmur itu," perintah Rio tanpa menoleh.
"Cari tahu siapa orang tuanya, di mana dia tinggal sebelumnya, dan apa pekerjaan aslinya," tambah Rio dengan nada suara yang menuntut.
"Baik Tuan Rio, saya akan segera memerintahkan tim untuk membongkar identitasnya," jawab Nadia sigap menerima perintah.
"Satu lagi Nadia," potong Rio membalikkan badannya menatap asisten kepercayaannya itu.
"Kosongkan jadwalku minggu depan, aku akan hadir secara pribadi di acara pernikahan putri Grup Makmur itu," putus Rio membuat Nadia terkejut.
"Tapi Tuan, Anda sebelumnya bilang tidak sudi membuang waktu untuk perusahaan kelas menengah seperti mereka," protes Nadia bingung.
"Itu sebelumnya, sekarang aku punya urusan pribadi yang harus aku pastikan sendiri kebenarannya," jawab Rio dingin.
"Jika pria bernama Rizky itu adalah orang lain, maka aku hanya akan datang untuk menertawakan kehancuran Grup Makmur," seringai Rio kejam.
"Tapi jika dia benar-benar adik kandungku..." kalimat Rio menggantung di udara.
Sorot mata Rio berubah menjadi sangat tajam dan berbahaya seperti seekor singa yang siap menerkam mangsanya.
"Maka aku akan memberikan kejutan pernikahan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya," ancam Rio dengan suara baritonnya yang menggelegar.
Nadia merinding mendengar nada ancaman yang keluar dari mulut bosnya tersebut.
Dia tahu persis bahwa Rio Dirgantara bukanlah pria yang bisa diajak bermain-main.
"Saya mengerti Tuan, saya akan menyiapkan hadiah pernikahan terbaik atas nama Grup Sentosa," kata Nadia membungkuk hormat lalu keluar dari ruangan.
Setelah Nadia pergi, Rio kembali duduk di kursinya dan membuka dompetnya.
Dia menatap foto ibunya dan adiknya yang sudah mulai memudar dimakan usia.
"Rizky, apa itu benar-benar kamu?" bisik Rio mengusap foto adik kecilnya itu.
"Jika benar kamu akan menikah, lalu di mana Ibu sekarang? Kenapa kamu menyembunyikan identitasmu?" gumam Rio penuh tanda tanya.
Berbagai pertanyaan mulai berkecamuk di dalam kepala CEO muda tersebut.
Rio menutup dompetnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku jas mahalnya.
"Aku akan mencari tahu semuanya minggu depan, tunggu saja permainanku keluarga Wijaya," tekad Rio menatap tajam ke arah pintu ruangannya.
Di sisi lain kota, Santi baru saja menutup warung mi ayamnya karena hari sudah beranjak sore.
Dia berjalan tertatih pulang ke rumah petaknya dengan perasaan kosong dan sedih.
Uang tabungannya sudah habis dibawa oleh Rizky dan dia tidak punya sisa modal untuk berjualan besok.
"Aku harus cari kerja tambahan buat makan besok, mungkin aku bisa tanya ke tetangga," pikir Santi menyeka keringat di dahinya.
Santi tidak tahu bahwa kebohongan anak bungsunya akan membawanya pada sebuah tragedi besar di sebuah hotel mewah beberapa hari lagi.
Dan dia juga tidak tahu bahwa anak sulung yang selama ini dia tangisi sedang menyusun rencana untuk datang ke tempat yang sama.
Takdir sedang merajut benang-benangnya untuk mempertemukan mereka bertiga dalam sebuah konflik yang akan meledak dahsyat.