NovelToon NovelToon
Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Komedi
Popularitas:660
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Introgasi Bu Kos

BAB 14

Suasana di dalam kamar nomor empat mendadak berubah sepanas tungku pembakaran. Tiga lembar uang kertas pecahan besar yang baru saja berpindah tangan kini berada di dalam genggaman erat Bu Ratna. Perempuan paruh baya pemilik kos itu tidak langsung memasukkan uang tersebut ke dalam buku sampul cokelatnya, melainkan terus memicingkan mata sipitnya ke arah Raka, Bayu, dan Dimas secara bergantian. Tatapannya begitu tajam, seolah mampu menembus isi kepala tiga pemuda yang sedang berdiri kaku di hadapannya.

Bayu menelan ludah dengan bunyi gluk yang cukup keras. Ia menarik ujung kaus oblongnya sambil menggeser posisi berdirinya sedikit ke belakang badan Raka, berusaha menjadikan temannya itu sebagai perisai hidup jika sewaktu-waktu Bu Ratna mengamuk hebat.

"Kok malah diam?!" sergah Bu Ratna dengan suara melengkingnya yang khas, membuat debu tipis di ambang pintu seolah bergetar. "Ditanya malah pada bisu kayak ikan mas koki! Jawab jujur kalian! Kemarin sore muka kalian pucat pasi mirip mayat hidup karena ngaku bokek nggak punya pegangan sepeser pun.

Sekarang, tiba-tiba ngasih uang tunai pecahan besar tanpa ada sisa kembalian. Kalian dapat durian runtuh dari mana, hah? Jangan bilang kalian habis ngepet di tugu perempatan desa?!"

Raka membasahi bibirnya yang mendadak kering. Ia harus memutar otak secepat kilat untuk menyusun kalimat pembelaan yang logis sebelum Bu Ratna semakin curiga dan membongkar rahasia kamar mereka.

"Bukannya ngepet, Bu..." jawab Raka dengan nada setenang mungkin, meskipun telapak tangannya sudah basah oleh keringat dingin. "Kami ini anak baik-baik, mana mungkin berani melihara babi ngepet.

Aslinya... kemarin sore itu kami dapat tawaran kerja tambahan yang lumayan mendadak dari pengepul gabah di seberang desa."

Bu Ratna mengangkat sebelah alisnya, tampak tidak langsung percaya begitu saja. "Kerja tambahan apa? Angkut gabah sampai malam buta? Emangnya tenaga kalian sekuat banteng penarik bajak?"

"Betul, Bu! Angkut karung gabah seberat seratus kilo semalaman suntuk," sahut Bayu buru-buru menyambar ucapan Raka dengan penuh penghayatan, bahkan ia sengaja memasang ekspresi muka paling tersiksa sedunia.

"Sumpah badan pegal-pegal semua rasanya mau rontok, Bu. Pundak saya biru-biru sebelah kanan gara-gara nahan karung beras. Tapi demi bayar kos ke Ibu, kami rela kerja rodi semalaman tanpa tidur."

Dimas yang berdiri di samping Bayu hanya bisa melirik sekilas dengan ekor matanya, nyaris tidak percaya dengan bakat akting dadakan temannya itu yang terlihat begitu natural.

Bu Ratna menatap Bayu dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu beralih menatap Raka. Ia mendengus pelan sambil menepuk-nepukan buku sampul cokelat ke telapak tangannya.

Plak, plak.

"Alasan kalian masuk akal, tapi gestur tubuh kalian mencurigakan," komentar Bu Ratna tajam. Namun, ia tidak memperpanjang interogasi soal asal-usul uang tersebut karena pada akhirnya, lembar-lembar uang di tangannya memang asli dan sah untuk melunasi tunggakan sewa. Bu Ratna membuka buku catatan cokelatnya, mencatat pelunasan kamar nomor empat dengan goresan pensil yang cukup kasar, lalu merobek secarik kecil kertas tanda lunas dan menyerahkannya kepada Raka.

"Nih, tanda terimanya!" ujar Bu Ratna ketus. "Ingat ya! Bulan depan jangan bikin ulah telat bayar lagi kayak orang linglung. Kalau sampai tanggal sepuluh bulan depan kalian telat sehari saja, kasur busa tipis itu fix saya angkut tanpa peringatan kedua!"

"Siap, Bu! Laksanakan!" ucap Bayu sigap sambil memberikan gestur hormat ala tentara, membuat Bu Ratna mendengus sinis sekali lagi sebelum akhirnya memutar tubuh dan melangkah pergi meninggalkan kamar nomor empat sambil mengibaskan daster hijau lumutnya dengan penuh wibawa.

Brak!

Pintu kayu ditutup rapat dari luar. Suara langkah sandal jepit Bu Ratna berangsur-angsur menjauh menuruni tangga lantai dua, meninggalkan helaan napas lega yang sangat panjang di dalam kamar sempit tersebut.

Bayu langsung merosot terduduk di lantai, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Ya ampun... Jantung saya hampir copot keluar dari tenggorokan. Kirain kita bakal digelandang ke kantor polisi gara-gara uang sihir."

Raka menutup pintu rapat-rapat lalu menguncinya kembali. Ia menyandarkan punggungnya di daun pintu sambil menatap secarik kertas tanda lunas dari Bu Ratna. Meskipun masalah pembayaran kos hari ini sudah beres, Raka tahu betul bahwa ketenangan ini sifatnya hanya sementara.

Di sudut ruangan, Zahmira melangkah pelan mendekati mereka dengan dagu terangkat tinggi. Perempuan bergaun ungu itu menatap tiga pemuda di depannya dengan sorot mata dingin penuh keheranan.

"Kalian benar-benar makhluk pengecut," ucap Zahmira tanpa ragu. "Hanya karena pertanyaan remeh dari pemilik kos berdaster hijau, kalian harus bersandiwara sedemikian rupa layaknya pencuri yang tertangkap basah."

"Bukannya pengecut, Mbak," balas Raka letih, berjalan menghampiri meja dan menjatuhkan diri di kursi patah. "Itu namanya strategi bertahan hidup di dunia manusia. Kalau tadi kita jujur, bukan cuma rahasia Mbak yang terbongkar, tapi kita semua bisa diusir dari desa ini."

Zahmira mendengus pelan, membuang muka ke arah jendela. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa manusia harus hidup dengan penuh ketakutan dan kebohongan kecil semacam itu.

Namun di sisi lain, ia juga mulai menyadari bahwa kehadirannya di tempat sempit ini telah mengubah dinamika hidup tiga pemuda buruh harian tersebut secara drastis.

"Sudahlah, yang penting masalah kos kita aman untuk bulan ini," kata Dimas menengahi sambil menatap kotak kayu tempat keping emas di simpan di sudut meja. "Tapi ke depannya, kita harus lebih hati-hati menggunakan sihir semacam itu. Kita nggak boleh sembarangan menciptakan uang dari udara kosong kalau nggak mau bikin warga curiga."

Mendengar ucapan Dimas, Raka mengangguk setuju. Ia menoleh ke arah Zahmira. "Betul kata Dimas, Mbak. Maksud kami, kalau bukan dalam keadaan benar-benar darurat seperti tadi, sebaiknya kita hindari cara-cara instan supaya identitas Mbak tetap aman."

Zahmira mengerutkan keningnya, tampak sedikit terusik mendengar batasan tersebut. "Jadi, kalian menolak bantuanku setelah aku menyelamatkan kalian dari pengusiran?"

"Bukannya menolak, Mbak," ralat Raka sabar. "Kami cuma tidak ingin terlalu bergantung pada sihir untuk hal-hal yang bisa kami usahakan sendiri, sekaligus menjaga agar rahasia Mbak tidak terbongkar."

Zahmira terdiam sejenak. Alisnya yang terbentuk sempurna berkedip pelan, mencerna kalimat yang diucapkan oleh pemuda di hadapannya. Meskipun ia terbiasa dilayani dan dihormati sebagai seorang bangsawan di alam asalnya, ada secercah rasa asing yang bergeming di dalam dadanya sebuah pengakuan tulus dari manusia fana yang tidak semata-mata memanfaatkan kekuatannya demi keuntungan pribadi.

"Terserah kalian," jawab Zahmira akhirnya dengan nada dingin yang dibuat-buat, berusaha menutupi rasa canggung yang tiba-tiba melintas di benaknya. "Kalian memang sekumpulan manusia yang keras kepala dan menyusahkan."

Suasana di dalam kamar nomor empat kembali mereda menjelang malam hari. Setelah drama ketegangan bersama Bu Ratna selesai, perut Bayu kembali mengeluarkan bunyi keroncongan yang cukup nyaring, memecah keheningan malam yang mulai merayap turun di Desa Kertajaya.

"Nah, sekarang masalah kos beres..." ucap Bayu sambil memegang perutnya yang kempis, menatap Raka dan Dimas dengan cengiran lebar.

"Tapi urusan lambung kita malam ini gimana? Uang sisanya kan masih disimpan buat cadangan besok. Kita mau makan apa nih? Nggak mungkin kan malam ini kita cuma makan angin malam sambil meluk tembok?"

Raka mengecek sisa uang hasil sihir Zahmira yang masih tersimpan di dalam saku celananya.

"Tenang, sisanya masih cukup buat beli tiga porsi nasi bungkus di warung depan," kata Raka sambil berdiri merapikan jaket kusamnya. "Biar gue yang keluar beli, sekaligus cari udara segar setelah seharian bikin pusing."

"Wah, mantap! Tolong tambahin gorengan lima biji ya, Ka, jangan dikurangin!" serbu Bayu bersemangat, wajahnya langsung berbinar-binar begitu mendengar kata nasi bungkus.

Dimas menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya itu yang tidak pernah berubah, selalu kembali ceria begitu urusan perut mulai menemui titik terang.

Raka berjalan menuju pintu kamar, lalu berbalik sebentar menatap Zahmira. "Mbak Zahmira mau dibawakan sesuatu dari luar? Maksudnya... makanan manusia, kalau Mbak berkenan mencicipinya."

Zahmira menatap Raka dengan tatapan jijik yang langsung terpancar jelas di wajah cantiknya.

"Makanan manusia? Aku tidak memakan benda-benda kotor hasil olahan dapur kalian yang penuh asap itu."

"Oke, berarti nggak usah ya," balas Raka tersenyum tipis, lalu membuka pintu kamar dan melangkah keluar menuju malam yang mulai senyap, meninggalkan kamar nomor empat dengan segala keunikan dan dinamika absurd yang baru saja dimulai.

1
falea sezi
lanjut🤣 q kirim bunga
Putri Pinrang: Baik terimah kasih sudah koment😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!