Enam tahun menjadi Nyonya Bramantyo, Kirana belajar satu hal: dicintai diam-diam tak sama dengan dilihat.
Ia menikahi Rendra Bramantyo, presiden direktur yang dingin dan selalu memegang janji pada almarhum kakaknya. Di rumah besar itu Kirana hanya perabot yang rapi. Tidur di kamar terpisah, makan malam yang tak pernah ditemani, dan di mana-mana ada Laras, janda sang kakak, yang selalu lebih dulu dipilih.
Sampai pada satu malam ketika sebuah telepon dini hari mematahkan sisa kesabaran Kirana.
Ia tak lagi menunggu. Ia menyimpan, merapikan, lalu pergi, membawa putrinya Nindy, ilmunya sebagai ahli farmakologi, dan harga dirinya. Di luar rumah itu menunggu hidup yang tak pernah ia kira: perusahaan yang membutuhkan otaknya, tiga lelaki yang mulai memperhatikannya, dan dunia yang ternyata tak sedingin rumah yang ia tinggalkan.
Sementara itu, Rendra mulai menyadari apa yang ia punya, setelah semuanya terlambat. Tapi siapa yang masih mau menunggu seseorang yang baru belajar mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Autora Gabriela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
POV: Kirana
Evan mengantarku pulang setelah perayaan, dan sebelum aku turun dari mobil ia bicara, memandang setir.
"Kamu tahu apa pendapatku, Kirana? Berbulan-bulan kamu mengira dirimu sedang tenggelam. Tapi lihat baik-baik: kamu sudah sampai di tepi. Kamu sudah di daratan kokoh. Perusahaan baru, putrimu di sisimu, nenekmu, Eyang Kartika. Yang sedang tenggelam sekarang dia, bukan kamu."
Beberapa saat tanganku tertahan di gagang pintu.
"Aku memang sudah sampai di tepi," jawabku, pelan. "Tapi jangan bilang aku tidak basah di perjalanan. Aku juga kehilangan sesuatu, Evan. Aku kehilangan enam tahun. Kehilangan sebuah versi diriku yang masih memercayai beberapa hal."
Ia tidak menjawab dengan penghiburan murahan. Ia hanya mengangguk, dan itu lebih baik daripada kalimat apa pun.
Pada hari-hari terakhir tahun itu, keluarga berkumpul dalam pengajian dan tahlil mengenang Raditya, di musala keluarga. Seluruh kerabat hadir. Laras datang berbaju hitam, masih memakai tongkat untuk pergelangan kakinya, bertumpu pada Bu Wulan, menangis sebatas yang pas di dekat tempat doa.
Setelah acara doa, di ruangan sebelah, Eyang Kartika melakukan hal yang tak diduga siapa pun. Ia berdiri, meminta ketenangan, dan bicara menghadap Laras dengan suara mantap orang yang sudah memutuskan tak lagi berpura-pura.
"Raditya, cucuku, baru saja Eyang kuburkan, dan keluarga ini sudah kacau. Dan Eyang akan mengatakan di depan semua orang apa yang berminggu-minggu Eyang telan." Ia menatap Laras. "Kamu memakai kasih sayang yang diberikan keluarga ini padamu sejak kecil untuk bertahan di rumah yang bukan lagi rumahmu."
Tak seorang pun bernapas. Bu Wulan membuka mulut hendak memprotes dan sang nenek membungkamnya hanya dengan tatapan.
"Kamu bersandar pada cucuku Rendra dengan cara yang tidak patut bagi seorang ipar. Sementara itu istrinya, Kirana, didorong ke sudut, diam, seakan-akan dialah orang luar di rumah ini. Eyang tidak akan lagi menonton itu dalam diam."
Ruangan menahan napas. Laras memucat.
"Eyang Kartika, aku... ini hanya kasih sayang keluarga," ia tergagap. "Aku kehilangan suamiku. Rendra itu iparku, wajar..."
"Wajar." Sang nenek tak memberi ampun. "Kasih sayang keluarga ada waktu dan tempatnya, dan keduanya bukan ranjang sang ipar atau kursi istrinya. Kamu istri cucuku Raditya, dan janda dialah yang tetap kamu sandang. Itulah kedudukanmu di rumah ini, hanya itu. Orang yang tak menghormati tempatnya sendiri akhirnya tak punya tempat sama sekali. Ingat baik-baik, Nak."
Laras bersimpuh di sisi sajadah, antara tangis dan sandiwara, dan saat bersimpuh ia memelintir lagi lututnya yang sudah cedera, mengeluarkan jerit kesakitan yang kali ini sungguhan. Bu Wulan berlari menghampirinya. Separuh ruangan berlari menghampirinya. Aku tetap di tempatku, dengan Nindy tertidur di pangkuanku, mengamati.
Saat itulah Rendra menyeberangi ruangan. Ia tidak memandang neneknya, tidak memandangku. Ia langsung menuju Laras, mengangkatnya dari lantai, dan berbalik menghadap Eyang Kartika dengan kedinginan yang belum pernah kulihat ia tunjukkan pada sang matriark.
"Eyang baru saja mempermalukan seorang perempuan yang sedang berduka di acara doa untuk kakakku," katanya. "Aku akan membawanya ke rumah sakit. Dan dengan segala hormat, Eyang, Eyang sudah keterlaluan."
Ia membawa Laras pergi dalam gendongannya, di depan seluruh keluarga, menantang terang-terangan perempuan yang berkuasa di rumah itu selama empat puluh tahun. Ruangan hening oleh skandal. Eyang Kartika tetap berdiri, sangat tegak, sangat pucat, dan kulihat tangannya bergetar sedikit sebelum jari-jarinya menyentuh pelipis.
Dari semua orang, justru Bu Wulan yang menghampiriku.
"Kirana," katanya, dan suaranya yang biasanya begitu tegas terdengar goyah kali ini. "Eyang tidak sehat. Tekanan darahnya naik karena stres begini, dan migrennya... Kamu paham hal-hal seperti ini, soal jamu, soal jarum. Bisakah kamu melihatnya? Para dokter sudah pulang."
Kubaringkan Nindy di sofa, kuselimuti dengan mantelku, dan aku pergi.
Kurawat Eyang Kartika sampai fajar, di kamarnya. Kuseduh teh penurun tekanan darah, kupasang jarum akupunktur di titik-titik yang tepat di pelipis dan tengkuk, kuredupkan lampu dan kubiarkan sunyi menetap.
"Kamu punya tangan nenekmu," gumam Eyang Kartika dengan mata terpejam sementara sakitnya mereda. "Eyang kenal Sumirah. Perempuan serius, tak pernah menjilat siapa pun. Kamu sama."
"Terima kasih, Eyang. Istirahatlah."
"Rendra menentang Eyang hari ini, di depan semua orang." Suaranya berat oleh lelah. "Demi perempuan itu. Belum pernah dalam empat puluh tahun seorang cucu Eyang melakukan itu. Dia meracuni akal sehatnya, Kirana. Dan yang terburuk, dia bahkan tidak menyadarinya."
Aku tidak menjawab. Aku hanya mengganti kompres di dahinya. Perempuan tua itu, yang tak pernah memperlihatkan kelemahan, membiarkan aku merawatnya semalaman, dan itu, datang darinya, adalah bentuk kepercayaan yang tak ia berikan pada hampir siapa pun.
Pagi harinya, setelah sakitnya reda, ia memintaku mengantarnya ke taman kaca. Ia duduk di kursi rotan di antara pakis, memandang matahari terbit lewat kaca, dan bicara tanpa basa-basi, dengan caranya.
"Kamu merawat Eyang semalaman, tanpa mengeluh, sementara putrimu tidur di sofa." Ia menatapku. "Cucuku tidak pantas untukmu, Kirana. Eyang tahu itu. Dan Eyang akan mengajukan tawaran yang belum pernah Eyang ajukan pada siapa pun."
Aku menunggu.
"Lima persen saham Grup. Atas namamu, benar-benar milikmu, bukan tiga persen pura-pura yang diberikan Rendra." Ia tak berkedip. "Lima persen, dengan satu syarat: kamu memberi keluarga Bramantyo seorang anak laki-laki. Seorang pewaris yang anakmu dan Rendra. Dengan itu, kedudukanmu di keluarga ini terkunci selamanya, dan Laras tak akan pernah lagi mendekati apa yang jadi milikmu."
Aku diam di depan perempuan yang kuhormati itu, tawarannya jatuh di antara kami seperti batu ke air tenang.
Lima persen Grup Bramantyo. Banyak perempuan di kota ini yang rela membunuh untuk yang lebih kecil. Dan harganya adalah tubuhku, waktuku, dan seorang anak lagi dari lelaki yang sudah kuputuskan untuk kutinggalkan.
Aku mengerti apa yang Eyang Kartika inginkan. Itu bukan kejahatan. Ia melihatku sebagai satu-satunya yang mampu menjaga keluarga di tangan yang tepat, dan di dunianya seorang pewaris laki-laki adalah satu-satunya jangkar yang tak bisa dicabut. Ia menawarkan kekuasaan sungguhan, jenis yang tak akan pernah kudapat dengan cara lain. Hanya saja sebagai gantinya ia meminta aku mengikat hidupku selamanya persis di tempat yang diam-diam sedang kurancang jalan keluarnya.
"Eyang," kataku, memilih setiap kata, "Eyang orang pertama di keluarga ini yang memperlakukan saya sebagai seseorang yang berharga. Karena itu saya akan jujur pada Eyang, dan tidak memberi jawaban yang manis sekarang hanya untuk menyenangkan."
Matanya menyipit, waspada.
Dari sofa ruang tengah, jauh di sana, Nindy mulai memanggilku, terbangun sendirian di tempat asing. Dan sambil memandang mata teguh Eyang Kartika yang menunggu jawabanku, aku tahu apa yang kukatakan di sana akan menentukan jauh lebih banyak dari lima persen. Itu akan menentukan apakah aku masih bagian dari rumah itu atau sudah pergi dari dalamnya, selamanya.